Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 21



"Kak Enzo bangun! Hari sudah siang! Apa kakak lupa kalau hari ini akan menemaniku?!" suara lantang Liana terdengar, tangannya mengetuk pintu kamar Lorenzo dengan keras, atau lebih tepatnya memukul pintunya.


Pintu terbuka, menampakkan Lorenzo dengan muka bantalnya yang masih mengantuk, mata Lorenzo yang agak sipit menjadi lebih sipit.


"Bangun juga akhirnya, ayo kak, cepat mandi, ini sudah siang!!" seolah mengabaikan Liana, Lorenzo kembali masuk kedalam dan menutup pintunya.


Di dalam, Lorenzo berniat pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, tatapannya melihat kearah jendela yang masih gelap, seolah dia tengah bermimpi.


Lorenzo mendekat ke jendela, sembari menggosok matanya.


"Anak itu, sebenarnya pagi yang sebenarnya bagi dia seperti apa?" Lorenzo menghela napas, rasa kantuknya lenyap seketika, dia masuk ke kamar mandi dan mandi.


Sudah seminggu sejak kejadian di taman, dan selama seminggu itu pula Liana tak pernah absen membangunkan Lorenzo, dan bahkan Lorenzo hampir terkena serangan jantung kemarin lusa.


Liana, dia kelewat jahil, melebihi sifat jahil yang dapat Lorenzo ingat.


Sementara di luar kamar Lorenzo, Liana tengah berjongkok seperti anak hilang di sana, bermain dengan angin yang sedari awal dia bangun selalu mengikutinya.


Syuu syuu syuu~


Angin itu membentuk pusaran kecil, dan menari-nari dengan senang di atas telapak tangan Liana.


"Lucu sekali" Liana tersenyum, jari telunjuk Liana hendak menyentuh angin itu, hanya berniat jahil dengan mengganggu arah angin yang berputar, tapi ujung jarinya menyentuh sesuatu yang lembut.


Poof!


Angin kecil itu seketika menghilang, menampakkan sesosok tubuh humanoid kecil sebesar telapak tangan orang dewasa.


Rambutnya berwarna emas pirang dan matanya berwarna hijau jade, telinganya runcing yang ciri-cirinya sangat mirip dengan elf pada umumnya.


Mengenakan sebuah gaun kecil berwarna hijau yang sama dengan warna matanya, sangat pas dengan tubuh kecilnya.


"Fairy?!" Liana terkejut, ternyata angin itu adalah seorang peri (fairy), dia benar-benar tidak menyangka hal itu.


Sementara sosok kecil yang di sebut fairy oleh Liana menampilkan senyum manis.


"Halo!! Sudah kuduga, kau adalah orang yang kami cari" sosok kecil itu kemudian melayang dengan aneh, namun sebenarnya dia bisa melayang karena angin.


"Tidak sopan jika tidak memperkenalkan diri, perkenalkan namaku Jade, seperti yang kau tahu, aku seorang fairy, lebih tepatnya fairy angin" lanjut fairy itu– Jade, dia mengangkat sedikit roknya ke atas.


Tubuhnya sedikit dia bungkukkan dan juga menunduk, dengan posisi masih melayang, tentu saja.


Kriett!


"Adik, siapa yang tengah berbicara ... denganmu ...." ucapan Lorenzo mulai melambat kala melihat sosok kecil melayang di depan Liana.


Liana lantas langsung menoleh kearah kakak tersayangnya itu, dia berdiri dan merapikan roknya yang sedikit tertekuk.


"Kak Enzo, Kakak bisa melihatnya?" Liana bertanya seperti itu bukan tanpa sebab, bahkan Jade memiliki ekspresi membelalak di sana.


Hening, tidak ada jawaban dari Lorenzo, dia hanya diam termangu menatap kearah Jade yang balas menatap dirinya.


"Ekhem, maaf mengganggu acara melamunnya Kak, bagaimana kalau Kita pergi ke taman saja?" menatap Lorenzo.


"Kau ikutlah, ada hal yang ingin Aku tanyakan padamu" lanjut Liana sambil menatap Jade.


Entahlah, firasatnya mengatakan bahwa Lorenzo memiliki hubungan dengan fairy di depannya di kehidupan sebelumnya yang entah ke berapa.


...


"Kak, sebenarnya seberapa besar rasa sakit yang telah kau tanggung?" Liana bertanya tanpa menoleh, tepat saat mereka sampai di taman, di mulailah sesi cerita pengalaman Lorenzo.


Jika kalian penasaran cerita seperti apa, ini terjadi ke kehidupan ketiganya, dia kembali ke masa lalu, memiliki niat melindungi Liana seperti di kehidupan pertamanya.


Dalam upaya melindungi Liana, siapa yang tahu kalau Lorenzo bertemu dengan fairy dan berakhir menanggung beban untuk menyelamatkan dunia.


Jade, adalah salah satu fairy yang pernah membuat kontrak dengannya.


Jade terdiam, mendengar cerita Lorenzo yang seperti dibuat-buat namun menyusup hingga mengaduk-aduk isi pikirannya membuatnya berpikir dua kali.


"... Ah, kalau begitu Aku pergi dulu, Aku akan kembali beberapa hari lagi. Aku akan memberitahumu saat Aku kemari lagi, sampai jumpa" Jade melebur, menyatu dengan angin dan pergi.


"Serius aku bertanya, kenapa semuanya menjadi serumit ini? Pertama saat di kehidupan kedua, dan itu sekarang, lagi? Sebenarnya ada apa dengan takdirku ini?" batin Liana frustasi.


Liana berdiri, dia menatap matahari yang baru saja menunjukkan sinarnya.


"Sudahlah, ayo kita jalan-jalan kak, bagaimana kalau ke luar istana? Aku ingin pergi ke pasar" Liana menatap Lorenzo yang kebetulan juga menatapnya.


Lorenzo menghapus jejak air mata di sudut matanya, kemudian menampilkan senyum yang jarang dia tunjukkan untuk orang lain.


"Baiklah, ayo" Lorenzo memegang tangannya, kemudian mereka menghilang dari sana.


Di sudut gang sempit yang gelap, Lorenzo dan Liana tiba di sana, pakaian Liana telah berganti entah sejak kapan, begitu juga dengan Lorenzo.


"Kak, nanti beli roti yang banyaknya? Aku ingin pergi ke daerah kumuh di selatan kota" Liana berjalan keluar dari gang sempit itu.


"Kenapa pergi ke sana? Di sana berbahaya kau tahu" Lorenzo menjelaskan dengan wajah khawatir pada Liana.


"Kakak, Aku ini kuat tahu, aku bahkan sudah mencapai tingkat 6" bisik Liana dengan mendekatkan bibirnya di telinga Lorenzo.


"Secepat itu?!" Lorenzo bertanya tidak percaya, matanya membelalak tidak percaya.


"Iya, dan kebetulan aku bisa menggunakan formula penyembunyi mana, jadi wajar kalau kakak bahkan tidak tahu" Liana mengangkat bahunya acuh.


"Bakatmu memang selalu menakutkan" Lorenzo menggelengkan kepalanya pelan.


Lorenzo dan Liana berkeliling di pasar hampir sepanjang pagi, saat matahari mulai beranjak siang, mereka memutuskan pergi ke daerah kumuh dengan membawa sekarung besar roti.


Saat Liana baru saja menginjakkan kakinya di daerah kumuh, seorang anak kecil berlari menuju kearahnya dengan wajah senang.


"Kak Viona!!" anak itu memiliki rambut hitam arang, manik matanya berwarna dark brown yang selalu tampak berbinar.


"Halo Moran, bagaimana keadaan adikmu sekarang? Apa sudah sudah lebih baik?" Liana menunduk, dia mengelus rambut anak itu pelan.


"Uhm! Berkat obat yang kakak berikan Mira sudah jauh lebih baik, terima kasih atas bantuannya kak, aku benar-benar bersyukur" Moran membungkuk, tatapannya terlihat penuh rasa syukur dan hal lain.


Lorenzo hanya menyimak dan merasa diabaikan, dia mengusak rambutnya yang berubah warna menjadi hitam ke belakang dengan kesal.


"Ayo panggil anak-anak lain, kakak memiliki roti dan susu untuk kalian, kalian pasti lapar bukan?" Liana menampilkan senyum di wajahnya.


"Baik kak! Tunggu sebentar!!" Moran dengan semangat pergi mencari anak-anak lain dan memberitahu bahwa Viona (nama samaran Liana) telah datang dengan roti dan susu.


"Aku tidak pernah tahu ada anak kecil yang tinggal di sini" Lorenzo melihat ke sekeliling, bangunan di sini terlihat kotor dan mulai rusak.


"Kak Enzo kan tidak pernah kemari, bagaimana mungkin kakak bisa tahu?" Liana mengangkat bahunya, dia menuju ke pusat di daerah kumuh itu.


"Di sini bahkan tidak seperti rumor" Lorenzo terus menatap ke sekeliling, melihat orang-orang yang menyapa Liana dengan ramah.


Liana di kenal sebagai anak baik yang mengunjungi mereka, dia bahkan selalu membawa makanan setiap datang ke sini, yah, walau di hanya dibagikan kepada anak-anak yatim piatu di sini.


Juga, mereka pernah sekali dua kali meminta tolong Liana, dan Liana menolong mereka tanpa menunjukkan penolakan.


Itu hanya di permukaan saja, lalu, bagaimana dengan sifat mereka di sebaliknya? Biarkan saja waktu dan Liana yang menjawab, ini bagian dari rencananya.


Singkat cerita, Liana selesai membagikan roti dan susu kepada anak-anak di sana, dia kemudian pergi begitu saja dari sana.


"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, adik?" Lorenzo bertanya dengan heran, jika ada hal yang membuatnya pusing, maka jawabannya adalah Liana.


"Tidak ada, kita pulang saja kak, sebelum Ayah tahu kita menyelinap pergi" Liana tersenyum manis, dan kembali melangkahkan kakinya.


Lorenzo menghela napas, dia menggenggam tangan Liana dan pergi menghilang dari sana.