Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 01



Di sebuah kamar yang tampak sepi, sebuah ranjang bayi terlihat di tengah-tengah ruangan itu.


Sesosok bayi mungil dengan rambut biru gelap yang lebat terlihat tertidur lelap di ranjang itu.


Ini adalah kamar sang bayi, suasana kamar terlalu tenang dan sepi, tidak cocok dengan suasana kamar yang seharusnya terdengar beberapa celoteh kata.


Bayi itu membuka matanya, menampakkan manik matanya yang berwarna merah crimson, menatap langit-langit kamar dengan mata berkedip polos.


Si bayi mulai menggerakkan tubuhnya kesamping, terlihat dia seperti ingin membalikkan tubuhnya.


Puk...


Dia berhasil membalikkan badannya, dalam posisi tengkurap. Matanya menunjukkan binaran mata senang.


"Bagus Liana! Kau memang yang terbaik!"


Batin sang bayi kegirangan, tangannya yang mungil dan berisi mengayunkan tangannya keatas dan kebawah, suara tawa khas bayi terdengar di sana.


Bayi itu, secara alami adalah Viona, atau sekarang dia bernama Liana.


Tidak–, dari awal dia memang bernama Liana, dan Viona adalah nama di kehidupan sebelumnya.


Ingatan terakhir yang Viona miliki sebelum terlahir kembali, dia terpojok di jurang peledak mana dan mati di sana akibat anggota party nya mengkhianati dirinya.


Ingatan pada kehidupan pertamanya muncul dalam benaknya, Viona, atau bisa kita panggil Liana, dia adalah seorang Putri yang tidak dianggap di sebuah Kekaisaran.


Dia pernah mendengar dari seseorang, dia telah di pindahkan ke kastil kecil di utara, biasa di sebut dengan kastil utara.


Liana tumbuh di bawah asuhan seorang pelayan, hingga dia berusia 3 tahun.


"Aku bosan ... aku berharap setidaknya aku dapat belajar sihir mulai dari sekarang, ya tuhan, aku bosan setengah mati!"


Liana menghentak-hentakkan tangannya keatas dan ke bawah dengan frustasi, dia kemudian menarik napas dalam, dan membuangnya perlahan.


Mencoba membuat dirinya terlentang kembali, dengan banyak usaha, dia akhirnya berhasil.


"Melelahkan, inilah sebabnya bayi lebih banyak tidur, aku penasaran, apakah tubuhku di kehidupan ketiga ini lebih berbakat daripada di kehidupan kedua?"


Liana membatin, dia perlahan menutup matanya dan mulai mengatur napas menjadi ritme yang dia inginkan.


Setelah beberapa detik berlalu, saat Liana mengambil napas, dia merasakan aliran hangat mengalir masuk dari saluran hidung ke seluruh tubuh, kemudian mengitari jantungnya.


Sebagian besar lagi berpendar di seluruh bagian tubuh, tubuh bayi Liana di luar tampak bercahaya samar, sebelum semakin terang diikuti dengan suara 'boom' yang teredam.


"Oh no ... ini lebih dari berbakat, tapi tunggu, seingatku tubuh bayi tidak kuat dengan beban mana ... jadi ... ini bisa dibilang super duper berbakat!! Hahaha!! Ini akan menyenangkan!!"


Seru Liana begitu senang dan hanya terdengar celotehan bayi dari luar.


Tiga tahun telah berlalu


"Membosankan ... kupikir inilah alasan mengapa bayi tidak memiliki ingatan saat baru dilahirkan hingga tiga tahun, ini benar-benar membosankan"


Liana berpangku tangan dengan cemberut, dia mencoret-coret sebuah buku kosong di atas meja, menciptakan coretan yang membentuk pola rumit.


"Benar-benar metode terbelakang, aku harus mencari cara meningkatkan jantung mana milikku sesegera mungkin, setahuku seseorang hanya akan bisa mempelajari satu penggunaan mana, kenapa aku bisa keduanya?"


Liana mengetuk-ngetuk jarinya di meja, berpikir dengan keras, sejujurnya mana yang tersimpan di dalam tubuhnya terdapat dua aliran berbeda, jantung mana, dan tubuh mana.


Jantung mana biasanya di miliki oleh para penyihir, sedangkan tubuh mana di miliki oleh para kesatria, dengan kata lain, Liana bisa menjadi penyihir dan kesatria pada saat bersamaan.


Kemajuan tubuh mana lebih cepat dari jantung mana miliknya, tubuh mana telah menembus tingkat dua dan berada di puncaknya, dengan sedikit dorongan, dia bisa menembus tingkat tiga.


Sementara jantung mana miliknya relatif lambat, memerlukan lebih banyak mana, dan sekarang baru terbentuk dua lingkaran di sana.


Namun yang tidak di ketahui oleh Liana, kecepatan itu sudah termasuk sangat cepat, apalagi tubuh mana miliknya.


Seseorang biasanya memerlukan waktu dua sampai tiga tahun untuk menembus dari lingkaran satu ke lingkaran ke dua, sementara Liana hanya memerlukan waktu satu setengah tahun.


Apalagi dia bahkan baru berumur 3 bulan saat membentuk lingkaran pertamanya, sementara orang lain normalnya pada usia sepuluh sampai tiga belas tahun, dan kurang dari itu memiliki julukan jenius.


"Lupakan, aku harus mendapatkan beberapa buku, tapi bagaimana caranya? Apa aku diam-diam keluar dan mencari buku di perpustakaan di luar istana?"


Liana terus memikirkannya, hingga tanpa sadar rangkaian mantra yang dia coba-coba buat selesai dan mulai aktif dengan cahaya keluar dari sana.


"Eh-"


Shiing!


Celinea menutup mata, dan saat kembali membuka mata, dia melihat hal kecil berbulu berwarna kemerahan di depannya.


"Apa ini?"


Liana dengan hati-hati mulai menjauh, takut dia tidak sengaja memanggil monster berbahaya, dia juga diam-diam merasa senang, pada percobaan pertama dia berhasil membuat mantra pemanggilan.


Kyuu?


Suara kecil menggemaskan terdengar, terlihat benda berbulu itu mulai mengangkat tubuhnya, bentuknya mirip dengan musang.


Bulu berwarna merah dengan bulu di bawah sekitar perut berwarna putih, hidung kecil berwarna merah muda, dan ekor yang panjang tertutupi bulu halus.


Bola mata berwarna hijau bulat yang tampak bersinar polos.


Untuk sesaat, Celinea merasakan sesuatu menembus tepat di dadanya, seperti sebuah anak panah melesat dan mengenai jantungnya.


"I ... imutnya ... tidak, aku tidak kuat, aku selalu saja lemah dengan hal hal imut seperti ini" setengah mengeluh, Liana mengambil musang itu dan mengganggunya.


K-kyuu!


Suara protes terdengar, Liana berhenti mengganggunya dan mengangkat musang itu tinggi-tinggi.


"Jadi, kau bisa di anggap sebagai makhluk panggilanku bukan? Apa aku secara resmi akan membentuk kontrak denganmu?"


Menghadapi pertanyaan dari anak berumur tiga tahun di depannya, musang itu tampak memutar-mutar tubuhnya meminta untuk di lepaskan terlebih dahulu.


Liana paham, dan dengan enggan melepaskan musang itu dari pelukannya, si musang tampak menepuk-nepuk bulu berantakannya dan berdiri dengan dua kaki.


Kyuu kyuu!


Celoteh makhluk kecil itu, dia menunjuk kearah Liana, kemudian menunjuk dirinya sendiri, dan terakhir membuat gerak isyarat yang mengatakan kata "setara".


Liana mengangguk-angguk paham, hal kecil di depannya ingin membentuk kontrak kesetaraan daripada kontrak tuan dan pelayan.


"Aku tidak keberatan, lagipula aku sebetulnya secara tidak sengaja memanggilmu kemari, namun karena ini sudah terjadi, mari kita buat kontrak kesetaraan itu"


Kyuu kyuu kyuu


Musang kecil itu mengangguk puas, tatapan matanya lebih bersinar dari sebelumnya, dan tanpa mengatakan apapun dia melesat dan menggigit ujung jari Liana .


Suara 'shiing' pelan entah bagaimana bisa terdengar, ada cahaya menyilaukan menyelimuti mereka sebelum cahaya itu meredup meninggalkan seutas benang emas tipis sebelum ikut menghilang.


Kyuu kyuu! [Senang bertemu dengan Master!]


Suara yang dapat dipahami memasuki telinga Liana , dia mengalihkan pandangan dan menatap makhluk yang telah menjalin kontrak dengannya.


Bersamaan dengan kontrak di bentuk, pengetahuan asing memasuki isi kepalanya, makhluk kecil di depannya ini ternyata bukan musang, namun sejenis makhluk pengubah bentuk juga pemakan logam.


Nama rasnya adalah "Bulgasari", makhluk pemakan logam langka yang berasal jauh dari seberang benua yang belum di ketahui.


"Jangan memanggilku Master, namaku Liana, panggil saja aku Liana, oke? Ngomong-ngomong, siapa namamu?"


Liana menopang dagunya dengan kedua tangan dan menatap Bulgasari itu dengan tatapan berbinar, dia tertarik dengan kemampuan pengubah bentuk yang dimiliki oleh makhluk di depannya ini.


Kyuu kyuu [Baiklah Liana, aku belum memiliki nama, bagaimana jika Liana memberiku nama yang bagus dan keren?]


Mendengar penawaran Bulgasari itu, Liana tampak menimang-nimang sesuatu sejenak.


Liana memutar otaknya untuk memikirkan satu nama yang ingin dia berikan.


"Hm ... Felix, bagaimana dengan Felix?"


Mendengar nama yang ingin di berikan menggunakan bahasa asing, membuat Bulgasari itu, memiringkan kepala penasaran.


Kyuu? [Felix?]


"Benar, Felix, yang artinya keberuntungan, karena sebenarnya aku bisa memanggilmu atas dasar keberuntungan saja, dan berharap keberuntungan itu terus bertahan"


Bulgasari itu tampak menimang-nimang sejenak, sebelum melompat tinggi hingga membuat Liana kaget dan hal kecil itu berseru dengan senang.


Kyuu kyuu kyuu!! [Baiklah! Aku suka nama itu!Panggil aku Felix mulai sekarang, Felix yang hebat!!]


Rasa manis memenuhi hati Liana, dia tidak bisa menahan senyum dan memeluk Felix dengan senang.


"Ya, Felix yang hebat"


Felix hanya diam dengan pelukan Liana, yang dia tahu, Liana, partnernya mulai sekarang itu tengah senang.


Setelah sesi pelukan selesai, Liana baru menyadari bahwa mana yang mengedar di tubuhnya bergejolak lebih dari biasanya.


Segera, dia mengambil posisi duduk lotus di atas kasur dan mulai mengatur mana di dalam tubuhnya.


Felix menunggu dan melihat kearah partnernya itu dengan tatapan berbinar, dia telah bertemu dengan banyak anak-anak berbakat, namun dia belum pernah bertemu dengan anak seberbakat Liana .


"[Benar saja, pertemuan kita memang sudah di takdirkan di kehidupan ini, mereka pasti iri saat aku mendapatkan partner berbakat di benua sebrang]"


Felix mulai mengitari kamar sederhana Liana, menatap kamar dengan dinding yang terbuat dari batu dingin yang kasar, lantai semen, namun dengan sesuatu tembok itu tertutupi dan membuat hangat kamar itu.


"[Interiornya sangat asing, unik dan sederhana pada saat bersamaan, lantainya hanya semen biasa, namun begitu bersih hingga bisa di duduki secara langsung tanpa menggunakan alas]"


Komentar Felix dalam hati, dia melihat perabotan yang ada, sebuah meja besar dan kursi besar yang di tumpuk dengan kursi kecil di salah satu sudut.


Dua rak buku yang tinggi berjejer dengan sebuah tangga kecil, karpet berwarna gelap yang terbuat dari serat kain lembut, ranjang yang cukup besar.


"[Benua sebrang memiliki banyak hal menarik]"


Boom!


Suara teredam membuat Felix mengalihkan pandangan, dia melihat kearah partnernya itu yang saat ini terselimuti oleh mana berwarna biru yang bergerak dengan liar namun teratur.


Felix menunjukkan mata tertarik dan mendekat, menunggu Liana membuka matanya.


Liana membuka mata, dan segera wajahnya di penuhi kebahagiaan, tidak bisa menahan diri, dia melompat-lompat di kasurnya yang cukup besar untuk seukuran anak seusianya.


"Hahaha! Aku menerobos dua tingkatan sekaligus tubuh mana! Dan juga aku berhasil menembus lingkaran ke tiga!! Hahaha!"


Liana masih melompat-lompat kesenangan, bahkan tanpa sadar angin mulai masuk dan ikut menari-nari di kamar seolah memberi selamat pada Liana, tanaman di luar juga melakukan hal sama.


Bukan hanya angin dan tanaman, ada banyak partikel berwarna-warni mengitari Liana.


Melambai-lambai pada Liana, Felix membelalakkan matanya, sebelum tersenyum.


"[Liana, kau benar-benar sangat berbakat, jenius, bukan hanya itu, kau bahkan dicintai oleh elemen itu sendiri]"


Di benua Felix berasal, di sana memang banyak orang-orang berbakat dan jenius, namun dia baru menemukan orang seberbakat Liana.


Pada dasarnya seorang manusia hanya bisa memiliki satu jenis mana, itu berupa jantung mana atau tubuh mana.


Felix teringat dengan sejarah kuno dari benuanya berasal, bukan hanya memiliki dua jenis mana, Liana bahkan memiliki hampir seluruh elemen.


Sepertinya, kesenjangan kekuatan antar benua akan bisa di atasi segera melalui anak ini.


Saat Liana tersadar dari rasa senangnya yang berlebihan, dia melihat tatapan dari makhluk kecil itu menatap kearahnya, Liana turun dari kasur, dan mengangkat tubuh kecil Felix dan memasukkannya dalam dekapannya.


"Felix memang seperti namanya, membawa keberuntungan"


Liana mengusak bulu Felix hingga berantakan, perasaan bahagia membuncah di hatinya, dan sekarang dia perlu sesuatu untuk berbagi kebahagiaannya.


Hembusan angin lembut menyapa Liana, Liana berhenti mengusak bulu Felix dan menatap kearah jendela, matanya berkilat dengan aneh tanpa bisa dia sembunyikan.


"Sudah saatnya untuk dia datang, Felix, ayo kita sambut dia"


Liana memiliki senyum aneh, Felix yang melihat hal itu merasa setuju dengan satu opini yang tersimpan di benaknya.


Orang berbakat selalu memiliki sifat aneh yang tidak bisa di jelaskan.


Liana keluar dari kamar dengan Felix berada di gendongannya, dia harus menyambut orang ini.


Bagaimana dia bisa mengetahui hal itu? Dia masih ingat dengan jelas kejadian pada kehidupan pertama, lagipula, dia akan banyak merepotkan orang yang akan datang.


"Salam kenal Nona Liana, perkenalkan nama Saya Elena Skyfrost, mulai sekarang, Saya akan menjadi pelayan pribadi Nona"


Seorang wanita berpakaian pelayan dengan rambut coklat sebahu yang diikat dengan mata berwarna senada dengan rambutnya memberikan salam penghormatan kepada Liana.


Liana tersenyum, membalas ucapan sang wanita, Elena namanya, "Uhm, mohon bantuannya, Elena" balas Liana yang terdengar begitu lembut dan hangat.