
Tik tok tik tok
Tak!
Jarum panjang dan pendek menunjuk kearah yang sama, pukul 12 malam telah tiba, suasana istana begitu sunyi dan senyap.
Suara langkah kaki bergema di sepanjang lorong Kastil Utama, langkah berat yang begitu terburu-buru terdengar, suaranya memenuhi lorong.
Suara hewan malam terdengar saling bersahutan menemani malam yang sunyi, dengan semilir angin yang berhembus perlahan.
"Hah... akhirnya aku sudah menyelesaikan berkas-berkas itu, kenapa bisa lebih banyak untuk hari ini? Aku jadi harus bergadang hingga tengah malam" Aaron menggerutu.
Dia baru saja selesai mengerjakan perkejaannya, menjadi seorang Kaisar itu tidak mudah asal kalian tahu.
"Apakah putri bungsuku sudah tidur? Seharusnya dia sudah tidur daritadi, aku akan pergi mengeceknya" Aaron berpikir, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kastil tempat putri bungsunya yang dia sayangi, setidaknya itu yang ada di benak Aaron.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak angin kecil, dia berhenti melangkah dan menatap ke langit sejenak, menatap bulan purnama yang bersinar di temani oleh kelap kelip bintang.
"Rafaela..." Aaron menghela napas, setiap kali dia melihat kearah bulan purnama, dia akan selalu teringat dengan mendiang istrinya.
Suara seseorang memecah pikirannya, orang itu berjalan mendekati Aaron.
"Yang Mulia? Kenapa Anda berada di luar dan belum beristirahat?" tanya Albert dengan khawatir, di tangannya ada sebuah lentera kecil untuk menerangi jalannya melangkah, dia sepertinya tengah berpatroli.
Aaron diam tidak menjawab, dia masih menatap bulan, ada tatapan kerinduan di sana.
Albert memandang Aaron sejenak sebelum ikut terdiam, dia ingat, dulu Kaisar dan Permaisuri selalu melihat bulan bersama-sama, Kaisar pasti tengah bernostalgia sekarang.
Lama Albert menunggu dalam diam, di temani dengan suara hewan malam, Aaron akhirnya membuka suara.
"Albert" panggil Aaron pelan.
"Ada yang Anda butuhkan, Yang Mulia?" tanya Albert meraba kata-katanya.
"Awasi anak dari Kuil Suci itu, aku tidak suka dengannya" wajah Aaron menjadi dingin, tatapannya seketika menjadi tajam dan dingin, seolah tatapannya akan membuat seseorang mati saat itu juga.
"... Saya mengerti, Yang Mulia, akan Saya lakukan" Albert membungkuk hormat pada Aaron.
"Kau lanjutkan patroli mu, aku akan pergi melihat apakah Tuan Putri sudah tidur atau belum" Aaron mengatakan itu dengan tenang, kembali melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan Albert sendirian di sana.
"Yang Mulia... haih... sikapnya sama saja saat baru menikah dengan Permaisuri, dia pasti sadar akan satu dua hal" Albert bergumam sekaligus menggelengkan kepalanya.
Senyum kecil muncul di wajah Albert, dia kemudian melanjutkan langkah kakinya mengelilingi istana, kembali berpatroli.
Aaron terus berjalan hingga dia sampai di depan pintu kastil sayap kanan (ini benar, kan?) berdiri di sana.
Suasana begitu sepi, mengingat saat ini sudah tengah malam, Aaron baru saja akan membuka pintu dengan kunci cadangan, tepat saat pintu terbuka.
"... Ayah? Apa yang Ayah lakukan di sini?" tanya orang yang membuka pintu kastil, dia adalah Liana.
Aaron diam beberapa saat sebelum membuka mulutnya.
"... Aku tidak bisa tidur, Ayah..." jawab Liana jujur, dia memang tidak bisa tidur setelah terbangun setengah jam lalu, padahal dia baru tidur selama 2 jam.
Aaron diam dan berpikir sejenak, "Mau melihat sesuatu? Mungkin itu akan membantumu untuk kembali tertidur" Aaron memberikan tepukan lembut di kepala Liana lagi.
"Boleh ayah" jawab Liana dengan sedikit senyuman.
Aaron tersenyum, dia mengambil tangan kecil Liana dan menggenggamnya, perlahan membawa Liana pergi, beberapa menit, mereka menyusuri jalan.
Aaron membawa Liana ke sebuah tempat yang tidak pernah Liana lihat.
Jika Liana ingat, sepertinya ini tempat pribadi Kaisar dengan Permaisuri menghabiskan waktu, sebuah danau kecil yang tenang terlihat memantulkan sinar bulan.
Ada batu besar di dekat danau itu, dengan kunang-kunang berterbangan, membuat tempat itu seperti dalam dongeng.
Aaron membawa Liana ke batu besar, mendudukkan dirinya di batu besar dengan Liana di sampingnya.
"Dulu, ayah dan ibu sering kemari saat malam, melihat bulan" Aaron memulai cerita, dia menatap kearah bulan.
Liana menyimak ucapan Aaron, dia ikut memandang bulan yang memiliki cahaya perak kebiruan.
"Sudah lama ayah tidak kemari..." Aaron menghentikan ceritanya, perlahan cahaya perak samar mulai berkumpul di dekat batu besar yang mereka duduki.
Perlahan cahaya itu membentuk tubuh seekor serigala berbulu perak terlihat dengan ekor panjang yang melebihi tubuhnya, matanya berwarna biru dengan kristal di dahinya.
Liana menatap serigala itu dengan intens, dia langsung bisa mengenali serigala itu, nama serigala itu adalah Will, mahkluk penjaga keluarga kekaisaran.
"Salam, Aaron. Sudah lama aku tidak melihatmu di sini" suara halus selembut sutra terdengar di telinga Liana, dia memandang Will dengan tatapan penasaran.
Dia hanya sekedar tahu tentang will dan keberadaannya, tetapi tidak pernah bertemu secara langsung.
"Yah... Aku sangat sibuk, jadi aku tidak bisa kemari" ucap Aaron memberikan alasan.
Will mendengus, dia mendekati mereka, berdiri tepat di samping Liana, dia mendekatkan moncongnya ke arah Liana, seolah memintanya untuk menyentuh moncongnya.
Liana dengan hati-hati menyentuh moncong Will, sementara Aaron hanya diam melihat interaksi mereka.
"Kamu sama cantiknya dengan ibumu" Will membuka suara, mata birunya menatap Liana dengan intens, tapi juga lembut.
Setelah itu untuk beberapa saat Will membelalakkan matanya, tapi kemudian dengan cepat mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Liana, membisikkan sesuatu dan memastikan bahwa Aaron tidak mendengarnya.
Aaron menatap mereka dengan penasaran, tetapi tidak mencaritahu.
...
Ehem, maaf aku baru update lagi. Sudah dua bulan aku rasa, aku terkena writer block T^T
Kurasa itu saja, sampai jumpa lagi