
Carl duduk di sebelahku dengan santainya. Aku sesekali melirik ke arahnya. Bagaimanapun juga aku juga perempuan. Carl merupakan tipe laki-laki yang tidak perlu bersusah payah untuk mencuri hati para perempuan. Bahkan ia terlihat bersinar hanya dengan bernafas.
Jauh di dalam benakku merasa kegirangan. Tetapi disisi lain aku tahu apa yang akan terjadi jika aku mencintai Carl. Aku sempat berpikir jika aku berbeda dengan Alice, mungkin aku bisa bersama dengan Carl.
Tetapi aku merupakan orang yang mencari aman. Lagipula Carl tidak suka dengan Alice, tidak mungkin ada kesempatan untukku yang hanya seorang dari kalangan orang biasa.
Tidak menghiraukan Bu Agnes yang sedang berbicara didepan kelas, Carl memulai pembicaraan denganku seolah ia belum pernah mengenalku. Aku dapat merasakan ia sedang memperhatikanku dengan teliti.
Gugup sekali rasanya duduk di sebelah lelaki tampan. Aku sadar bahwa hal yang kulakukan itu salah dan mencoba sebisa mungkin untuk memasang wajah datar. Tetapi suaraku bergetar dan sedikit gagap saat berbicara dengannya. Aku yakin rencanaku sudah gagal sekarang.
Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Aku sudah terlanjur ketahuan olehnya, tetapi ia pura-pura tidak tahu.
Ini aneh. menurut Carl, ia dan Alice belum pernah berkenalan. Tetapi jelas Alice sudah mengenal Carl, mengingat isi kontak yang disimpannya. Melihat air mukaku yang bercampur berbagai ekspresi, Carl mengajakku berkenalan.
Aku tidak tahu apakah aku yang dipermainkan oleh Carl disini, atau mereka memang belum pernah berkenalan sebelumnya. Tetapi jika mereka belum pernah berkenalan, bukankah itu berarti Alice menguntit Carl? Hal ini sangat mencurigakan!
Seolah ingin membuatku berhenti berpikir, Bu Agnes memanggil nama yang familiar di telingaku. Sekarang adalah giliran perpindahan tempat duduk Aretha. Tokoh protagonis yang ingin aku jadikan teman.
Murid yang disebelahnya.. Namanya Rey. Oh, Rey adalah nama panggilan untuk Riley. Ia merupakan tokoh utama laki-laki kedua, sekaligus manager dari Carl. Selain sebagai seorang manager artis terkenal, ia juga seorang murid SMA yang seangkatan dengan Carl. Bahkan karena kebetulan yang aneh, mereka berada di kelas yang sama.
Dikarenakan masih ada waktu, Bu Agnes memutuskan untuk bercerita tentang tokoh-tokoh yang dapat menyemangati dan memotivasi kita. Tetapi hal tersebut malah membuatku mengantuk.
Untung saja Carl mengajakku berbicara sambil berbisik. Tentu saja agar tidak ketahuan oleh Bu Agnes.
”Carsillion Kennedy”
Aku hanya mengiyakannya sambil mengingat siapa itu Carsillion Kennedy. Carl hanya memperhatikan aku dengan senyum yang terasa aneh.
Oh, pantas saja ia bangga seperti itu. Carsillion Kennedy merupakan nama panjang dari Carl. Aku sendiri juga bingung mengapa aku bisa melupakannya.
Tetapi menurut ingatanku dan Alice, Carl hanyalah seorang pekerja lepas. Jika yang ia katakan adalah kebenaran, maka ia bukanlah seorang pekerja lepas lagi.
Saat sebelum menjadi Alice, aku selalu bermimpi bertemu dengan seorang artis. Bahkan hanya dengan melihat mereka secara langsung saja aku bisa pingsan ditempat. Tetapi saat ini, keadaan mengharuskanku untuk menjauhi seorang artis. Menjauhinya termasuk salah satu hal yang mustahil untuk kulakukan.
Bu Agnes sudah selesai bercerita. Pada saat yang sama, bel tanda jam istirahat berbunyi. Beberapa murid di kelasku pergi keluar kelas untuk melakukan kegiatannya masing-masing. Ada juga murid yang masih di kelas karena tertidur saat mendengarkan cerita Bu Agnes tadi.
Aku tidak merasa lapar, sarapan tadi pagi sangat banyak. Aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan diwaktu senggang ini.
Informasi yang kudapatkan hari ini lumayan banyak. Mulai dari Riley, sampai Carl. Aku memutuskan untuk mencari buku catatanku.
Isi tasku sudah keluar semua, tetapi tidak ada tanda-tanda buku catatan didalamnya. Kemungkinan besar buku catatanku itu tertinggal di rumah. Aku hanya bisa berharap agar tidak ada yang membaca bukuku itu.
”Nyari apa sih Alice.. Mo dibantu ga?”