
Alice : ”Dih, bukannya lu liat sendiri? Carl udah berapa lama gak ngomong sama Aretha. Mana mungkin kan mereka-”
Alisya : ”Mungkin. Mungkin aja mereka ketemu diem-diem kan?”
Alice : ”Positive thinking aja, mungkin Aretha dulu dijodohin sama orangtua-nya.”
Alisya : ”Memang lu tau apa soal Aretha? Orangtuanya ninggalin dia pas masih kecil. Sekarang dia diadopsi kok.”
Alice yang tidak percaya kenyataan mengenai keluarga Aretha langsung menanyakan cerita lengkap tentang Aretha kepada Alisya.
Alice : ”Hah masa? Coba dong ceritain ceritanya, seinget lu aja.”
Alisya : ”Hm? oke. Garis besarnya aja ya.
Alisya : ”Aretha hidup di keluarga yang tidak berkecukupan. Mamanya meninggal saat Aretha baru lahir. Ayahnya mulai berubah semenjak kepergian Mama Aretha, sepertinya ia depresi. Ayahnya menjadi penkonsumsi narkoba, ganja, dan lain-lain. Akhirnya ayahnya yang tidak bisa merawat Aretha meninggalkan Aretha sendirian di panti asuhan.”
Alice : ”Duh, harusnya gw lebih bersyukur ya.. Oh iya, semua kan punya kekuatan, Kekuatan milik Aretha apa?”
Alisya : ”Aretha lebih peka dari pada orang pada umumnya. Ia dapat merasakan sesuatu seperti ’feeling’ atau perasaan khusus sebelum hal tersebut terjadi. Memang semua orang memiliki feeling, namun feeling Aretha ini berbeda. Aretha dapat membedakan antara feeling biasa atau feeling kekuatannya dari beberapa gejala. Jika feeling yang berasal kekuatan, ia akan merasakan feeling tersebut dengan kuat dan lekat, ia juga akan merasakan jantungnya berdetak cepat secara tiba-tiba. Sedangkan feeling biasa, ia tidak terlalu lekat dan jarang membuat jantung berdebar.
Setelah Alice mengetahui beberapa fakta tentang Aretha, alias remaja yang diduga disukai oleh Carl pada cerita awalnya, mereka kembali membicarakan topik semula antara ingin menerima atau menolak pernyataan cinta dari Carl.
Alisya : ”Okeoke, balik ke topik nih.”
Alice : ”Udah gw bilang terima aja.”
Alisya : ”Tapi kalo itu cuma dare? Kalau dia cuma mau mainin lu gimana?”
Alice : ”Gamungkin, gw percaya Carl bukan orang kayak gitu.”
Ucap Alisya yang kini sudah tidak dapat berkata-kata. Setelah itu mereka sedikit berdebat, namun akhirnya mereka tidak dapat memutuskan apa jawaban yang tepat untuk Carl. Karena hari sudah mulai gelap dan jam sudah mengarah kearah jam 6 sore, Alisya turun ke lantai dasar untuk makan sore.
Alice (Alisya) : ”Hai ma, makan sore udah siap?”
Mama Alice : ”Sudah nak, oh iya, kamu sudah baikan?”
Alice (Alisya) : ”Sudah ma.”
Mama Alice : ”Yaudah makan yuk.”
Alice (Alisya) : ”Hm”
Angguk Alice ( Alisya ).
Setelah selesai makan malam, seperti biasa Alice (Alisya) pergi kembali ke kamarnya. Sesampainya dikamar, Alisya kembali berdiskusi tentang jawaban yang akan ia berikan kepada Carl. Alice dan Alisya saling mempertahankan jawaban mereka masing-masing tanpa ada yang mau mengalah.
Alice : ”TERIMA WOI! INI KAN ASLINYA TUBUH GW!”
Alisya : ”KAGA, GABAKAL GW TERIMA. LAGIAN SEKARANG KAN YANG MEGANG TUBUH INI KAN GW!”
Alice : ”GW SUMPAHIN LU BALIK KE TUBUH LU YANG ASLI!”
Alisya : ”GW JUGA MAUNYA GITU KALI!”
Alice dan Alisya terus bertengkar. Namun tanpa disadari ternyata Mama Alice mendengar keributan tersebut. Ia yang hanya mendengar suara cacian yang kluar dari mulut Alice ( Alisya ) mengira anaknya yang paling disayang sedang bermain bersama teman-temannya. Mama Alice-pun mengetuk pintu kamar Alice ( Alisya ).