Who Is The Antagonist?

Who Is The Antagonist?
Episode 04. Hari Ulang Tahun (1)



Ia tahu hal itu karena kekuatan miliknya. Sejujurnya aku sendiri juga tidak begitu yakin karena kekuatan-kekuatan pada sinetron yang kutonton waktu itu tidak dijelaskan secara menyeluruh.


Aku merasakan bahwa tempatku berada sekarang terasa sangat nyaman bagiku. Sangat berbeda dengan saat aku bertemu ayah Alice waktu itu. Tempatnya kurang lebih sama, tetapi memiliki hawa yang jauh berbeda.


Aku melihat sekeliling tempat ini dan menjadi seseorang yang muncul di depanku. Ia seperti sudah menungguku untuk waktu yang lama.


Ia adalah seorang gadis cantik dengan perkiraan umur 5 sampai 7 tahun. Gadis yang sama dengan yang kulihat pada saat kejadian perceraian orangtua Alice.


Gadis cantik itu adalah Alice. Ia memandangi diriku sambil tersenyum manis. Akhirnya hari dimana aku dapat berbicara dengan Alice asli muncul. Tetapi, sama seperti saat bertemu dengan ayahnya, aku tidak dapat membuka mulutku.


Alice menyampaikan beberapa informasi penting. Ia tidak mengatakan alasan kenapa aku ada disini sekarang, ataupun mengapa jiwanya bisa keluar dari tubuhnya.


Ia memberitahu bahwa sebenarnya ia masih hidup. Ia hanya bisa mengontrol tubuhnya di hari ulang tahunnya, yaitu tanggal 12 Oktober. Alice tidak mengatakan hal lainnya dan langsung pergi ke tempat yang tidak dapat kukejar dalam sekejap mata.


Aku membuka mataku dan mendapatkan diriku berada di ranjang UKS sekolah. Untung saja kecoa terbangnya sudah tidak ada.


Aku melihat ke arah jendela di sebelahku. Matahari sudah menaikkan dirinya keatas. Seharusnya kelas hari ini sudah selesai.


Ingin pulang, aku melihat Carl tidur tanpa penjagaan sama sekali. Ia tidur dengan lelap tepat disebelahku. Sungguh mengesalkan, bahkan saat tidur pun wajahnya masih sangat tampan.


Aku membangunkan Carl untuk pulang. Karena menurutku tidak sopan jika aku pulang tanpa memberitahunya. Aku sedikit terharu karena ia setia menungguku disini.


”Untung lu bangunnya sore Alice, gw jadi bisa bolos sekolah hahaha.”


Sebagai ketua OSIS, seharusnya ia mencontohkan hal yang baik kepada murid lainnya. Aku mengira-ngira alasan yang ia gunakan untuk bolos kegiatannya sampai saat ini.


Untuk nilai pelajaran sendiri, kami berdua termasuk anak yang lebih pintar dari rata-rata murid lainnya. Sepintar apapun aku, aku tetap harus belajar. Berbeda dengan Carl, menjadi heran mengapa aku menyibukkan diri dengan belajar dibandingkan bersosialisasi.


Carl semakin curiga denganku yang memiliki sifat berbeda dengan Alice. Merasa tersudutkan, aku segera mengalihkan pembicaraan.


Aku menyuruhnya pulang karena sekolah sudah selesai, dan aku juga sudah bangun. Carl mengecek jam tangannya itu. Ia mengatakan kalau pelajaran hari ini belum selesai.


Mengetahui fakta tersebut, aku mengajaknya kembali ke kelas untuk menghadiri kelas terakhir hari ini. Carl terlihat sangat malas. Walaupun pada akhirnya ia tetap mengikutiku kembali ke kelas.


Guru pelajaran kali ini bertanya kepada kami yang baru datang di kelasnya. Seperti biasa Carl ingin memamerkan kemampuan berbohong miliknya. Aku tidak ingin berhutang dengannya lagi. Aku yang berbicara ke guru tersebut menggantikannya.


Aku mencampurkan kebohongan dan kebenaran. Aku berkata aku sakit saat pelajaran Pak Dadang dan Carl yang menemaniku. Guru itu percaya, kami dipersilahkan duduk ke tempat duduk kami masing-masing.


Tidak lama setelah kami memulai pelajaran kembali, bel sekolah berbunyi menandakan pelajaran hari ini telah usai. Guru itu mengizinkan kami untuk pulang.


Para murid di kelasku langsung bergegas pergi keluar kelas. Ada yang pulang, ada juga yang langsung bertemu lalu bermain bersama teman-temannya. Sama seperti mereka, aku merapikan barangku lalu pergi ke mobilku untuk pulang.


Aku masih memikirkan tentang buku catatanku yang tertinggal dirumah. Meskipun ada yang membukanya tanpa izin, mereka tidak dapat mengerti apa artinya. Tetapi aku akan dianggap aneh olehnya.


Sebelum masuk ke dalam mobil, aku mendengar seseorang berbicara.