Who Is The Antagonist?

Who Is The Antagonist?
Episode 02. Tokoh Antagonis, Alice (3)



Aku merasa kasihan dengan Alice kecil, andai saja aku bisa memeluknya pada saat itu. Sayangnya semua ini sudah terlambat. Aku juga tidak dapat melakukannya karena aku hanyalah seorang ’penonton’ disini.


Aku sedikit penasaran apa yang sedang orangtua Alice bicarakan. Jadi aku pergi menguping pembicaraan mereka. Tentu saja hal tersebut dapat kulakukan dengan mudah karena tidak ada yang bisa melihatku.


Terlihat ayah Alice yang sedang membujuk ibu Alice untuk mendengarkan penjelasannya. Tetapi ibu Alice menghiraukannya dan mengalihkan pembicaraan ke urusan surat perceraian.


Aku merasa ini merupakan kondisi pribadi keluarga Alice dan tidak seharusnya aku ikut campur dengan hal ini. Tetapi situasi sekarang sudah berubah. Aku adalah Alice Gracia Devisha yang baru.


Bercanda.. Alasan sebenarnya adalah karena aku penasaran dengan latar belakang tokoh Alice.


Ternyata ibu Alice sudah menyiapkan surat perceraian mereka dan hanya menunggu tanda tangan dari sang suami. Meskipun sudah disudutkan sedemikian rupa, ayah Alice masih bersike mengatakan bahwa hal yang dilihat oleh istrinya saat itu hanyalah kesalahpahaman. Tetapi melihat istrinya yang tidak mungkin berubah pikiran lagi, ia akhirnya menyerah. Sebelum menyetujuinya, ia memberikan 1 buah syarat kepada istrinya.


Ibu Alice yang melihat suaminya menyerah langsung berpikir bahwa suaminya telah mengakui bahwa ia telah berselingkuh dengan wanita lain. Kali ini ayah Alice yang mengabaikan perkataan ibu Alice. Ia melanjutkan perkataannya tentang 1 syarat yang jikalau ibu Alice menyetujuinya, mereka dapat secara resmi bercerai.


1 syarat dari ayah Alice berhubungan dengan kekuatannya, yaitu ’telepati’. Aku tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Tetapi ibu Alice sepertinya mengerti maksud perkataan dari suaminya itu. Setelah beberapa saat berpikir, ibu Alice menyetujui persyaratan tersebut.


Aku tidak yakin dengan arti dari pembicaraan mereka barusan. Menurut tebakanku, itu adalah perjanjian agar ayah Alice mendapatkan akses bertemu dengan Alice. Aku kurang yakin, tetapi mungkin saja yang ayah Alice maksud adalah memberikan akses supaya dapat menggunakan kekuatannya di dalam pelindung.


Sepertinya urusanku di ruangan ini sudah selesai. Akupun pergi ke kamar Alice dan mencarinya. Aku menemukan Alice memeluk boneka kelincinya dengan erat. Terlihat koper berisi pakaian dan beberapa mainan didalamnya. Alice duduk meringkuk membelakangi ranjangnya sambil bergumam-gumam.


”Alice, kamu masih kecil, yang tabah ya..” Aku tidak pintar berbicara, apalagi menyemangati orang lain. Meskipun tidak dapat dilihat, aku mengelus kepala Alice dengan lembut sambil berbicara beberapa patah kata penyemangat untuknya.


Alice sempat menengok ke arahku, ia tidak menemukan apapun dan kembali melihat ke arah boneka kelincinya. Ia mulai berbicara dengan kelincinya dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orangtuanya saat ini.


Mata Alice mulai berkaca-kaca. Ia menunduk sambil menangis tersedu-sedu. Alice membayangkan hidupnya tanpa ayahnya. Suara tangisan Alice yang semakin lama semakin kencang menarik perhatian orangtuanya. Ibu Alice segera berlari menuju kamar Alice meninggalkan ayah Alice sendirian di kamar.


Ibu Alice mulai khawatir dengan anak emasnya itu. Ia merasa bersalah karena telah membuat Alice yang masih kecil melihat kejadian tadi.


”Mommy, kenapa daddy tidak ikut kita?”


Alice menoleh ke arah ayahnya yang sudah keluar dari kamar, dan hanya berdiri didepan pintu kamar Alice. Ibunya menatap ayah Alice dengan tatapan yang mengartikan ia tidak boleh masuk ke dalam kamar. Ayah Alice tidak bisa apa-apa karena ia sudah membuat persetujuan dengan ibu Alice.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja kepalaku terasa begitu berat. Aku mendengar suara yang familiar samar-samar. Ternyata ibuku berusaha membangunkanku. Aku membuka mataku perlahan-lahan dan tampaklah wajah ibu Alice didepan mukaku.