Who Is The Antagonist?

Who Is The Antagonist?
Episode 01. Permintaan yang Dikabulkan (3)



Baru saja aku bicarakan, handphoneku bergetar akibat notifikasi yang baru masuk. Aku segera membuka notifikasi tersebut dan menemukan seseorang tanpa nama, lebih tepatnya nomor miliknya tidak disimpan oleh Alice. Orang tersebut bertanya perihal tugas yang diberikan di sekolah.


"Yang ini kan tugasnya?" Kontak tanpa nama lainnya menjawab dan memberikan penjelasan terkait tugas tersebut.


Karena aku pelupa, aku segera mengerjakan tugas tersebut. Selagi mengerjakan, handphone ku terus bergetar karena notifikasi yang tidak kunjung berhenti. Akhirnya aku berhenti mengerjakan tugas dan melihat pelaku 'spam' yang telah menggangguku.


Notifikasi tersebut bulan berasal dari grup kelas melainkan dari grup bernama 'group kaga jelas' yang berisi 4 orang termasuk aku.


[ 264 pesan belum dibaca ]


Isinya bukanlah hal penting, melainkan huruf 'P' dan 'Alice' yang dikirim berulang kali. Aku merasa jika aku tetap diam, mereka tidak akan berhenti. Tetapi anehnya, tidak ada satupun dari mereka yang nomornya disimpan oleh Alice.


Karena aku memiliki rasa penasaran yang tinggi, aku mengecek aplikasi 'kontak'. Ternyata Alice hanya menyimpan 2 kontak. Kontak pertama bernama 'Mom' dan yang kedua 'babe'. Sudah jelas kontak pertama merupakan kontak milik ibunya. Untuk yang kedua, entah mengapa aku yakin bahwa itu adalah kontak milik Carl.


Kembali ke tadi, notifikasi yang mengganggu terus berdatangan. Aku akhirnya membalas mereka seadanya. Menurut ingatanku, Alice tidak memiliki banyak teman. Aku perlu memastikan siapakah pemilik kontak tersebut terlebih dahulu.


Tepat setelah aku menjawab, orang pertama dan kedua langsung bertanya mengapa aku tidak masuk ke sekolah, dan menyimpulkan bahwa aku bolos sekolah selama 2 hari. Untuk memperbaiki kesan Alice, aku perlu menjadi murid teladan. Aku membantah kesimpulan mereka dan menjelaskan bahwa sebenarnya aku izin sakit.


"Tuh kan, gw bilang juga apa Rara.. Alice tuh gak bolos." Aku merasa pernah mendengar nama tersebut entah dimana.


Aku segera menamakan kontak mereka. Orang pertama bernama 'Riri' dan orang kedua bernama 'Rara'.


Aku memejamkan mataku, mengingat kembali sinetron yang sering kutonton itu.


[ "Hai, kalian Riri dan Rara kan? Kenalin, gw Alice." ]


Aku membuka mataku perlahan. Aku mengingatnya, Rara dan Riri... Aku menambahkan tentang Rara dan Riri kedalam catatanku.


[ Rara dan Riri, mereka merupakan saudara kembar yang berperan sebagai pemeran tambahan. Seingat ku, mereka merupakan tokoh yang selalu membantu Aretha saat dijahili oleh Alice. Namun, mereka bekerja dibalik layar dan tidak pernah menunjukan wajah mereka dari awal sampai akhir. Tetapi anehnya, mereka tidak begitu membenci Alice. Alice, Rara, dan Riri bahkan bisa dibilang memiliki hubungan yang baik. ]


Selesai menulis, aku mengeluh karena Alice yang membuatku pusing akibat ia yang tidak menamai kontak teman-temannya. Bahkan tidak mengingat mereka.


Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki dari arah belakang. Suaranya terdengar jauh, dan semakin lama semakin dekat. Aku segera menutup buku catatanku dan menyembunyikannya.


Mendengar pintu kamar yang terbuka, aku menoleh ke arah belakang dan melihat seorang pria tua yang tampan. Ia terlihat seperti orang luar negeri karena warna rambut dan matanya berwarna cerah. Menurut ingatan Alice, orang tersebut merupakan ayahnya.


Masih di ujung pintu, ia bertanya apakah aku sedang sibuk dan bolehkah dia masuk ke kamarku. Setelah mendapat izin dariku, ia masuk ke kamarku perlahan dan duduk di ujung ranjangku. Aku bingung mengapa ia masuk ke kamarku dan mulai bertanya kepadanya. Ayah Alice menjawab dengan lembut bahwa ia hanya ingin melihatku saja.


Seseorang mengetuk pintu kamarku dan bertanya dengan siapakah aku sedang berbicara.