
Karena jarak yang jauh, aku menghiraukannya dan masih kedalam mobil. Aku menyalakan mesin mobil, lalu menyetir kembali kerumah.
Ibuku mendengar suaraku dari kejauhan. Kebetulan ia sedang berada di taman rumah. Ia langsung menghampiriku dan menanyakan kabarku selama disekolah.
Sebenarnya aku ingin menceritakan tentang Carl dan masalah-masalahku. Tetapi aku merasa tidak perlu melakukannya.
”Sekolahku biasa saja.” Itulah yang kukatakan kepada ibuku. Aku sama sekali tidak dapat menebak pikirannya melalui ekspresi yang dibuatnya. Dunia orang elit memang berbeda denganku.
Ibuku mengajakku masuk kedalam rumah dan mandi. Ia akan menyiapkan makan sore untukku.
Dengan senang hati aku kembali ke kamarku dan mandi. Mandi berendam air hangat ditambah aroma menyegarkan dari bunga-bunga memanglah yang terbaik. Mempunyai banyak pembantu yang sudah sigap bahkan sebelum diberi perintah membuat hal-hal menjadi lebih cepat selesai.
Aku memikirkan banyak hal-hal yang bisa aku lakukan selagi berendam. Aku menutup mataku dan mengosongkan pikiranku sejenak.
Teringat akan buku catatanku yang lupa kubawa ke sekolah. Aku mencari buku catatanku di sekitar kamarku. Tidak mungkin buku catatan tersebut pergi ke tempat lain.
Sayangnya, aku tidak dapat menemukan buku tersebut. Bahkan di tempat persembunyianku. Aku sangat yakin tidak ada yang tahu tempat tersebut.
Pilihan terakhir yang kupunya hanyalah bertanya kepada ibuku. Kebetulan sekarang sudah waktunya makan sore. Aku pergi ke ruang makan dan menemukan ibuku. Kebetulan ia juga baru selesai memasak.
Tata krama dasar di meja makan, atau biasa disebut dengan ’table manner’ di ingatan Alice mulai bermunculan di pikiranku. Salah satunya adalah ”Jangan berbicara sambil mengunyah makanan.”
Hal tersebut membuatku tidak dapat bertanya kepada ibuku saat makan. Kami hanya berbicara tentang hal-hal seperti kesehatanku, keadaanku dan hal kecil lainnya.
Aku bertanya kepadanya mengenai buku catatanku yang hilang setelah selesai makan. Ternyata ia melihat bukuku terbuka di bawah meja saat membersihkan kamarku. Katanya, ia menaruh buku tersebut di laci meja.
Menurut reaksinya yang tenang, sepertinya ia tidak membaca buku tersebut.
Aku meletakkan alat makan yang sudah kugunakan di atas piring dengan arah angka 11 lurus. Sikap ini dianggap berarti menghargai makanan yang sudah diberikan.
Aku kembali ke kamarku dan membuka laci berisikan buku catatanku. Tidak ada hal yang berbeda didalamnya. Aku menambahkan informasi baru yang kudapatkan hari ini tentang Carl, Riley, juga Aretha.
[ Carl, seorang artis terkenal yang masih bersekolah. Riley dengan nama panggilan Rey bekerja sebagai manajer seorang artis terkenal, yaitu Carl.
’Cukup segini saja deh..’ Aku menyimpan kembali buku catatanku di tempat rahasia yang sama. Aku percaya ibuku memberikan privasi untukku dengan tidak membaca buku catatan milikku.
Aku tidak lupa merapikan kembali alat tulisku, juga mematikan lampu meja didepanku. Ruangan yang rapi dan bersih, sepertinya sudah mirip dengan Alice asli.
Aku kembali merebahkan tubuhku di ranjang sambil menatap langit-langit kamarku. Besok adalah ulang tahunku. Tanggal dan tahun lahir yang sama persis dengan Alice.
Aku berandai-andai kemanakah aku berada jika Alice asli kembali. Bohong jika aku bilang aku tidak gugup. Perasaan gugup dan takut yang bercampur aduk membuatku tidak tenang.
Aku terus-menerus melihat jam dinding yang digantung di dinding kamarku. Suasana rumahku yang selalu sunyi membuatku dapat mendengar suara jarum jam yang bergerak.
[23:59:58]
[23:59:59]
...----------------...
Suara ketukan pintu disertai suara halus ibuku yang membangunkanku seperti biasa. Aku memberikan izin kepadanya untuk masuk ke kamarku. Ibuku langsung memberikan ucapan selamat ulangtahun kepadaku dengan kecupan halus di dahiku.
Biasanya aku dibangunkan oleh alarm milikku, tetapi sekarang ibuku secara langsung datang ke kamarku. Ia membangunkanku 45 menit lebih cepat dari biasanya.
Ibuku menepuk tangannya dua kali. Berjajar beberapa pelayanan masuk ke kamarku membawa kue dengan lilin membentuk nomor ’15’. Karena kepintaranku yang sedikit diatas rata-rata, aku masuk sekolah lebih cepat dari murid lainnya.
...----------------...
Aku membuka mataku perlahan. ’Astaga, aku ada dimana ini! Perasaan tadi aku masih rebahan di ranjang..’
Sepertinya perkataan Alice benar. Jiwanya akan kembali pada tanggal 12 Oktober, yaitu hari ulang tahunnya yang ke-15. Jiwaku yang tidak lagi diperlukan terpental ke tempat ini. Atau mungkin jiwa Alice asli yang berada disini sebelumnya.
Sekilas terlihat bayangan seseorang di ujung mataku. Aku melangkahkan kakiku, berjalan mendekati tempat dimana bayangan tersebut terlihat. Semakin dekat, aku melihat pantulan cahaya dari tempat tersebut.
”ASTAGA!” Aku kaget tidak main, sampai-sampai tidak sengaja berteriak. Aku melihat tubuh Alice, yaitu aku sendiri di hadapanku.