
Tidak peduli dengan Carl, aku berlari sekencang yang kubisa menuju kelas. Aku menarik nafas dalam-dalam di depan pintu lalu membukanya.
Mereka disambut dengan teriakan Bu Agnes. Guru tersebut termasuk guru yang baik, namun ia sangatlah tegas. Logat dan suaranya yang kencang dan tegas membuat banyak murid salah paham dengannya.
Ia melipat tangannya sambil bertanya mengapa aku dan Carl terlambat masuk kelas. Ia memicingkan matanya seperti bisa melihat kedalam isi kepalaku.
Entah apa yang dipikirkan oleh Carl, ia berdiri di depanku memberikan alasan mengapa kami telat masuk kelas. Tentu saja alasannya itu bohong. Ia memutarbalikkan fakta dan membuat seolah aku yang bersalah disini.
Carl, ia tahu apa yang ia lakukan. Bibirnya menyeringai, ia berekspresi seperti seorang korban yang polos. Murid lain tidak peduli dengan cerita yang sebenarnya terjadi. Mereka mulai mencibirku dan bergosip dengan teman mereka, ada juga yang sibuk mengetik di handphone mereka dibawah meja sambil tertawa kecil. Aku dapat melihat semuanya dengan jelas dari depan kelas.
Cibiran mereka yang semakin lama semakin kencang sampai ke telinga Bu Agnes. Ia segera mendiamkan kelas dan menyuruh aku dan Carl duduk.
Setelah duduk, Bu Agnes bertanya apakah ada murid yang tidak hadir di pelajarannya hari ini. Setelah mendapatkan jawaban bahwa semua murid hadir, ia mulai mengerutkan dahinya mencoba mengingat sesuatu.
Menurut Bu Agnes, hari ini ada 1 murid yang izin tidak menghadiri pelajaran karena ada sesi pemotretan majalah. Sekolah ini memang melahirkan banyak artis-artis cilik yang terkenal. Tetapi pada umumnya mereka hanya bekerja setelah sekolah, ataupun di hari libur. Hanya ada sedikit murid yang sangat sibuk sampai pekerjaannya memakan jam sekolah.
Seluruh perhatian siswa di kelas menatap ke arah Carl. Perkiraanku tadi benar, Carl seharusnya tidak hari hari ini. Kami semua disini sudah besar, tidak mungkin kami tidak tahu apa yang kami lakukan. Begitu pula dengan Carl, ia pasti memiliki rencananya sendiri.
Hal yang dilakukan Bu Agnes membuat perhatian seisi kelas berpindah dari Carl menujunya. Ia merapikan buku-bukunya dan menaruh kedua tangannya diatas meja. Pergantian tempat duduk, kegiatan itu yang akan menggantikan jam belajar kami.
Suasana kelas menjadi gaduh. Biasanya tempat duduk itu bebas dan jarang sekali ditentukan oleh sekolah. Bahkan pernah dalam setahun sama sekali tidak ada perubahan tempat duduk.
Beberapa orang lainnya menatap siswa maupun siswi yang mereka sukai. Contohnya para siswi menatap Carl dan Riley. Sedangkan para siswa menatap Aretha. Ada juga yang menatapku dengan 2 tatapan yang berkebalikan. Ada yang tidak ingin dekat-dekat denganku, ada juga yang ingin duduk disebelahku.
Bu Agnes mulai menatap seluruh murid secara keseluruhan dan tersenyum ceria. Mungkin kalau di komik romansa akan ada ada bunga bertebaran. Tetapi bagi kami ini adalah pertanda buruk. Meskipun tidak begitu mengerti, insting atau insting milik Alice berkata bahwa akan terjadi hal yang buruk.
Benar saja kataku tadi, murid yang sudah nyaman menjadi tidak nyaman sama sekali. Murid yang senang karena tidak suka tempat duduk sebelumnya menjadi lebih tidak nyaman lagi. 4 orang termasuk aku yang tadi aku bicarakan belum ada yang dipindahkan tempat duduknya.
Begitu banyak murid di kelasku membuat hal ini memakan waktu yang lama. Aku sudah mulai bosan, tetapi Bu Agnes mengejutkanku dengan memanggil namaku.
Aku yang sebelumnya tidak mendengarnya dan fokus dengan pikiranku kembali sadar. Seseorang berjalan ke arahku sambil membawa barang-barangnya. Kami berdua sekali lagi menjadi pusat perhatian.
"Hai Alice, kita ketemu lagi.."
Ia tampak cerah, tersenyum lebar seperti malaikat. Senyumnya sangat menyilaukan mata dan membuat jantung para siswi yang melihat ke arahnya berdegup kencang.
Aku terang-terangan memasang ekspresi tidak suka dan memalsukan senyum kepadanya.
"Haha, iya nih.. Carl."