
Meskipun Alisya sudah berkata hanya sebatas teman, itu tidak bisa membuat Riley merasa lega. Ia tetap saja merasa sedih karena Alice lebih memlih Carl dari pada dirinya sendiri.
Rey : "Udah gausah cie-cie in, orang cuman temen kok."
Carl : "Hahaha iri? Bilang bosss"
Murid : "Hahahaha."
Guru : "Okeoke cukup. Kita lanjut ya, Alice mau pilih siapa?"
Alice (Alisya) : "Bebas siapa aja."
Setelah itu kami pun melanjutkan gamesnya.
Tak terasa kini sudah 2 jam Alice dan yang lainnya bermain.
Guru : "Silahkan istirahat ya anak-anak."
Murid : "Baik bu, makasih."
Murid-murid di kelas Alice mulai berhamburan pergi keluar untuk melegakan pikirannya.
Rey : "Alice makan bareng yok?"
Tiba-tiba Carl menepuk pundak Riley sambil berbisik pelan kearah telinga Riley.
Carl : "Yah, yang udah ditolak masih aja berusaha. Liat aja, hari ini gw bakal nyatain perasaan gw."
Setelah berbicara hal tersebut, Carl langsung menolehkan kepalanya menuju Alice sambil mengejarnya yang sudah berjalan keluar kelas sambil membawa bekal masakan ibunya sedari tadi.
Carl : "Woi Alice, mau makan bareng gak?"
Alice ( Alisya ) yang merasa dirinya dipanggil oleh Carl dari kejauhan langsung menengok.
Alice (Alisya) : "Huh? Boleh, gw sih ikut-ikut aja. Hmm, nih disini ada tempat duduk."
Tunjuk Alice ( Alisya ) menuju kearah salah satu tempat duduk di kantin yang kosong.
Alice (Alisya) : "Oh, yaudah lah. Oh ya, gamau ajak yang lain? Biar sekalian, rame-rame kan lebih seru."
Carl : "Jangan, kita berdua aja ya. Gw mau ngomong sesuatu."
Alice (Alisya) : "Ngomong disini aja memangnya gabisa?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang diberikan Alice ( Alisya ), Carl malah langsung menarik lengan Alice ( Alisya ) dengan kencang sambil berjalan menuju atap. Sesampainya di atap, Alice ( Alisya ) langsung mengeluarkan keluh kesahnya karena dirinya ditarik begitu saja.
Alice (Alisya) : "Woi, kenapa sih? Gw bisa jalan sendiri tau. Gw juga punya kaki."
Carl : "Ya gapapa."
Alice (Alisya) : "Yaudah serah lu, sini makan disini aja."
Ucap Alice ( Alisya ) sambil berjalan menuju tempat yang sudah ia targetkan. Saat Carl mengikuti Alice dari belakang, Carl membuka pembicaraan dengan wajah serius.
Carl : "Alice, lu sebenernya seneng ga sih punya temen kayak gw?"
Alice ( Aliaya ) sempat tertawa kecil ketika melihat wajah Carl yang serius saat mengucapkan kalimat seperti itu.
Alice (Alisya) : ”Harusnya sih seneng ya, cuman kalo lu kayak tadi ya gw ga suka lah. Soalnya siapa coba yang seneng di tarik kayak gitu? Gw punya kaki, gw bisa jalan sendiri. Oh ya, mukanya biasa aja kali, serius amat hahaha”
Carl : "Iya iya maaf. Lagian jarang-jarang kan lu ditarik sama orang cakep kek gw ahahaha.”
Ledek Carl sambil menyombongkan dirinya.
Alice (Alisya) : ”Dih lu jangan kepedean, lagian kata siapa lu ganteng, ha?”
Carl : ”Kata siapa lagi? Ya kata gw lah. Memang lu mau punya pendamping hidup yang jelek?”
Alice (Alisya) : ”Heh, gombal aja terus. Maap ya, gw udah kebal sama gombalan murahan kayak gitu. Lagian kalo lu nembak gw memang bakal gw terima?”
Carl : ”Ya mau lah, kenapa tidak? Gw cakep, pinter, baik, pokoknya boyfriendable banget deh. Ga ada yang lebih baik dari gw.”
Carl masih membanggakan dirinya sendiri dengan percaya diri. Alice ( Alisya ) yang mendengar perkataanya tidak dapat lagi menahan tawanya.