
Carl tidak terlihat ragu sama sekali dengan perkataannya. Aku menatap Carl dengan tatapan bingung. Apapun yang ia lakukan patut dicurigai motifnya. Seperti sudah merencanakan semuanya, ia menolehkan kepalanya menatapku dan berbisik mengatakan untuk percaya kepadanya.
Setelah sekian banyak permainan yang ia lakukan, sekarang ia menyuruhku percaya kepadanya. Carl memang tokoh yang aneh. Aku tidak bisa apa-apa dengan rencananya kali ini. Aku memutuskan untuk bekerja sama dengannya kali ini.
Percaya dengan perkataanku, Pak Dadang menyuruhku untuk pergi ke UKS. Sedangkan, Carl diminta untuk mengantarku ke UKS.
Carl terlihat senang karena bisa melewati pelajaran. Untuk melengkapi akting kami, mau tidak mau kami harus pergi ke UKS.
Kami sudah meninggalkan kelas, tetapi tidak ada tanda-tanda kelas yang menjadi gaduh, maupun ada yang mulai bergosip. Kamipun segera pergi menuju UKS.
Seorang artis memang seharusnya pandai berbohong. Tetapi cara Carl berbohong sangatlah unik. Ia dapat memanipulasi orang yang mendengarnya langsung percaya dan tidak curiga dengannya.
Aku memintanya mengajariku untuk berbohong. Dengan aku diajarkannya berbohong, aku dapat menggunakannya untuk berbagai hal. Salah satunya bermulut manis.
Menuruku, orang pada dasarnya menyukai mulut manis. Mereka kadang tidak peduli dengan fakta dan kenyataan yang ada. Mereka hanya ingin mendengar apa yang mereka inginkan.
Namun, Carl menatapku dengan tatapan bingung. Ia malah mengatakan bahwa aku yang lebih pintar berbohong daripadanya.
Tentu aku bingung. Bahkan di cerita aslinya, Alice tidak sepintar Carl dalam masalah berbohong. Aku tidak tahu apa jawaban yang tepat untuk pernyataannya. Aku mulai panik dan mengira bahwa Carl sudah mengetahui jati diriku yang asli yaitu Alisya, dan bukan Alice.
”Bercanda.”
Ya. Aku sangat benci dengannya. Lebih tepatnya aku benci pada diriku sendiri yang sudah tertipu berkali-kali. Carl hanya tertawa kecil seiring kami berjalan ke UKS.
Sepertinya aku sudah tidak waras. Ia yang tertawa seperti itu terlihat semakin tampan. Mukaku mulai memanas. Entah karena rasa malu ataupun kesal.
Melihat hal tersebut, ia bertanya apakah sebenarnya aku sakit atau tidak.
Warna kulit Alice yang pucat membuat aktingku semakin meyakinkan. Sayang sekali, mata aktris terkenal memang tidak dapat ditipu. Ia mengetahui kebohonganku dalam sekejap. Bahkan ia malah pura-pura tertipu, mungkin karena kasihan denganku.
Bukan hanya Carl, aku yakin orang lain juga tidak akan tertipu dengan kebohonganku. Aku tidak tega untuk berbohong bagaimanapun aku mencoba.
Carl mulai menganti topik melihat suasana sebelumnya yang tidak baik. Seperti biasa ia memberikan tatapan jahil khas miliknya. Ia mengeluarkan kalimat-kalimat gombal yang sederhana.
Walaupun hanya gombalan sederhana, tetapi gombalan tersebut mampu membuat jantungku berdegup dengan cepat. Sepertinya kini diriku benar-benar sudah gila. Aku sadar, yang kulakukan sekarang ini adalah kesalahan.
Kami sudah sampai di depan UKS, Carl berpamitan untuk kembali ke kelas. Kami berpisah disana. Carl sudah membalikkan badannya dan berjalan menjauhi pintu masuk UKS, dan aku sudah masuk ke dalam ruangan.
UKS terasa sangat sepi. Tidak ada guru pengawas, bahkan aku perlu menyalakan lampunya terlebih dahulu. Sebelum menyalakan lampu, terlihat ada makhluk hitam kecil dari kegelapan. Makhluk itu terbang!
Aku menyalakan lampu dan ia terbang ke arahku. Aku masih berada tepat di depan pintu setelah masuk. Aku segera keluar dan menutup pintu UKS dengan cepat.
Pintu UKS yang ditutup dengan kencang bergema di lorong UKS yang sepi. Carl belum terlalu jauh dari UKS menengok ke arah UKS dan berjalan ke arahku.
Aku takut kepada kecoa, apalagi yang terbang. Tidak terlihat ada orang lain yang bisa dimintai bantuan disini selain Carl. Ia sudah cukup dekat untuk mendengar suaraku.
”Carl, di dalam ada kecoa…-”
Aku belum menyelesaikan kata-kataku. Kepalaku terasa pusing dan tubuhku kehilangan tenaganya. Aku merasa seseorang memegang tubuhku, dan menutup mataku.
Aku pingsan bukan karena kecoa tersebut. Mungkin benar kata Carl kalau aku benar-benar sedang sakit.