
Saat Seira berjalan menuju pintu, ia sempat melirik kearah Carl dengan tatapan sedih. Alice yang berada disebelah Carl juga terlihat oleh Seira. Alice terlihat seperti sedang senang atas kepergian Seira. Namun, Seira hanya dapat menunjukan kekesalannya dengan ekspresi wajahnya.
Guru : "Baiklah, ibu akan lanjut mengajar ya."
Bu guru pun melanjutkan pelajarannya agar tidak terlalu membuang waktu yang lama. Sedangkan disisi lain..
Seira : "Aduhh, ngapain ya? Bosen."
Seira menengok kearah Riri yang sedari tadi tidak ingin membunyikan suaranya.
Seira : "Hmm, lu Riri kan ya?"
Riri : "Eh iya."
Seira : "Lu kesal ga sih sama Alice?"
Riri : "Alice? Kenapa harus kesal?"
Seira : "Em, jadi begini.."
Di sini, Seira sedang berusaha untuk menghasut Riri agar Riri dapat menjadi rekannya untuk melawan Alice.
Seira : "Gitu Ri, gimana? Lu masi percaya sama si Alice?"
Riri : "Eh masa sih? Perasaan si Alice baik deh."
Seira : "Tck"
Ucap Seira saat melihat kenyataan bahwa Riri tidak mudah untuk dihasut. Untung saja Riri tidak mendengarnya, kalau Riri mendengarnya, kemungkinan besar rencananya akan gagal.
Seira : "Iya Ri, beneran si Alice tuh luar-nya doang keliatan baik, dalemnya busuk."
Riri : "Masa? Ini gabisa didiemin dong. Trus memangnya kamu mau ngapain?"
Seira : "Blom tau.. Oh, kalau bisa jangan kasi tau siapa-siapa ya."
Seira sudah membuat rencana yang sangat jahat di dalam pikirannya, namun ia tiba-tiba mengingat kejadian dimana Alice menolongnya tadi.
Seira : "Duh, bener-bener ya tu anak bikin gw ngerasa bersalah kan. Tapi bodo amat bisa-bisanya dia ngambil perhatian bebeb Carl."
Umpat Seira dalam hati.
Riri : "Gw juga gaboleh kasi tau ke Rara nih?"
Seira : "Hmm, mending jangan deh."
Seira dan Riri melanjutkan pembahasan rencana jahat untuk membalas Alice.
Riri : "Eh gimana kalau kita bikin dia dijauhin seangkatan? Kita kayak nyebar gosip buruk buat dia gitu, setuju ga?"
Tiba-tiba Seira menghentikan bibirnya. Pada awalnya ia langsung ingin menyetujuinya, namun lagi-lagi ia mengingat bahwa dirinya mempunyai hutang kepada Alice.
Seira : "Ah em, gimana kalau cuma sama teman terdekatnya kayak Carl, Aretha, sama Rey?"
Riri : "Rara juga! Rara gaboleh temenan sama orang yang busuk."
Seira : "Oh yaudah boleh tuh."
Seira dan juga Riri terlalu asik membuat rencana jahatnya tersebut, hingga mereka tidak menyadari bahwa kini sudah waktunya untuk pulang. Mereka langsung membenarkan posisinya dan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Guru : "Yasudah kalian boleh pulang."
Murid : "Baik bu, terima kasih."
Murid-murid yang menduduki kelas yang sama dengan Alice dan teman-temannya langsung bergegas membereskan barang-barangnya dan pulang menuju ke rumahnya masing-masing.
Carl : "Lis, pulang bareng yok."
Alice : "Hm? Sip"
Carl : "Eh? Gw cuma bercanda tau haha."
Alice : "Idihh"
Carl : "Lagian kan lu bawa mobil ngapain pulang bareng sama gw?"
Alice : "Rezeki gaboleh ditolak Carl"
Carl : "Ada-ada aja lu, yaudah gw mau pulang dlu ya, bye."
Ucap Carl yang langsung berlari menuju arah parkiran mobilnya.
Alice : "Woii! Elah tungguin kek."
Teriak Alice saat melihat Carl yang langsung berlari meninggalkan dirinya.
Carl : "Hahahaha kejar sinii"
Sesampainya di tempat parkir, Alice dan Carl kini sudah berada di depan mobilnya masing-masing. Ya, parkiran mereka bersebelahan.
Carl : "Udah ya gw pulang, bye. "
Ucap Carl sambil memasuki mobil hitam miliknya dan melambaikan tangannya sekilas.
Alice : "Bye."
Balas Alice sembari menyalakan mesin mobil merah kesayangannya.