Who Is The Antagonist?

Who Is The Antagonist?
Episode 02. Tokoh Antagonis, Alice (4)



Aku yang sudah tersadar dari mimpiku langsung beranjak dari ranjang. Ibu Alice yang sudah memastikan aku sudah bangun kembali melakukan pekerjaannya. Aku mandi pagi, sedangkan ibuku kembali ke lantai bawah untuk membuat sarapan.


Seingatku di rumah ini ada kokinya, mengapa harus ibu Alice yang memasak langsung? Aku tidak begitu penasaran, jadi aku tidak menyelidiki hal tersebut lebih lanjut.


Tak memakai waktu yang lama, aku keluar dari kamar mandi. Aku mengambil seragam sekolahku yang berwarna putih. Akupun mengenakannya dengan rapi. Seperti dapat melihatku ibuku memanggilku untuk sarapan.


Aku melakukan segala sesuatu sesuai dengan ingatan Alice. Mulai dari menaiki mobil berwarna merah kesayangannya dan menyalakannya. Sampai memarkirkannya seperti biasa di sekolah.


Setelah selesai memarkirkan mobilku di sekolah, aku segera turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang sekolah. Namun perhatiannya teralihkan oleh gadis yang sedang berjalan dengan sangat anggun. Aku sangat yakin murid tersebut merupakan sang protagonis, Aretha.


Reflek aku memanggilnya sambil melambaikan tanganku. Tetapi aku langsung menutup mulutku. Aku lupa bahwa sekarang aku adalah Alice, sang tokoh antagonis yang dibenci olehnya. Jika orang yang suka menindas menyapa orang yang ditindas, itu akan menjadi sangat mencurigakan.


Aretha sudah terlebih dahulu melihatku dan mendengar sapaanku. Ia tidak menggubris sapaanku karena panik. Ia berjalan semakin cepat ke sekolah untuk menjauh dariku.


Aku ingin meminta maaf kepada Aretha. Tetapi ia berjalan begitu cepat dan mulai menghilang di antara kerumunan murid.


Aku mengingat lagi perkataan Hendy Suprapto ”Ketika nasi sudah menjadi bubur, namun jika engkau memberikan keuntungan & kebaikan buat orang lain, maka akan menjadi Bubur Ayam”.


Jika hal ini sudah terlanjur terjadi, maka aku harus memberikan yang terbaik yang bisa kulakukan. Semangatku sudah berapi-api, tetapi mulai sedikit redup karena beberapa murid yang membicarakanku setelah melihatku mengejar Arteha.


Aku melihat 2 murid yang terlihat sangat mirip. Mungkin karena sudah mengenal mereka dari lama, Alice dapat membedakan mereka. Rara, orang yang membelaku dari Riri yang menuduhku bolos. Perdebatan mereka masih dan terus berlanjut. Akhirnya aku turun tangan dan mengajak mereka masuk ke kelas supaya tidak telat masuk kelas.


Seperti yang kukatakan, bel sekolah yang mengartikan pelajaran sekolah akan dimulai telah berbunyi. Bukan hanya kami bertiga, tetapi murid-murid lainnya yang masih berada diluar kelas juga segera kembali ke kelasnya masing-masing. Aku, Rara, dan Riri segera bergegas pergi ke kelas mengikuti siswa-siswi lainnya.


Bruk!


”Sudah jatuh, tertimpa tangga pula” Mungkin itu merupakan salah satu peribahasa yang cocok untuk keadaanku saat ini. Aku tertabrak oleh seseorang, tentu saja dia yang menabrakku terlebih dahulu. Bukan hanya tertabrak, aku bahkan tergelincir dan terjatuh akibat tali sepatuku yang lepas.


Rara dan Riri kaget sambil menengok kembali ke arahku. Aku melambaikan tanganku yang berarti aku baik-baik saja dan menyuruh mereka pergi ke kelas.


Aku berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu karena tidak ada tanda-tanda orang yang menabrakku itu akan meminta maaf. Ia hanya diam seperti patung, daripada telat masuk kelas aku berdiri dan memasang wajah kesal. Bukannya minta maaf setelah menabrak, ia malah diam mematung. Bahkan setelah aku yang minta maaf karena kesalahannya, ia tetap memilih untuk diam. Penasaran dengan orang tidak tahu diri itu, aku menaikkan kepalaku untuk melihatnya.


Astaga, bagaimana aku bisa melupakannya. Orang yang menabrakku adalah Carsillion Kennedy, alias pangeran di sekolah ini. Tentu saja seorang pangeran tidak akan mau meminta maaf. Aku tidak terlalu kaget karena sudah sering melihat sifat buruknya ini di sinetron.


Beberapa langkah aku berjalan untuk menuju kelas, Carl mengikutiku dari belakang. Mengingatnya menabrakku, seharusnya ia berjalan ke arah sebaliknya, yaitu keluar sekolah. Mungkin ia berubah pikiran dan kembali ke kelas.


Aku melihat jam dinding di lorong sekolah, aku sudah terlambat 10 menit karena Carl.