When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 47



flashback


Sehari sebelum kematian Veronica


Plakk!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Veronica. Pipi putih beningnya menjadi merah memar akibat tamparan keras itu. Veronica mengemeretakkan grahamnnya dan mengepalkan kedua tangannya. Dia menahan amarahnya.


"Dasar gadis memalukan! Berani-beraninya dia melepaskan Renald!" pekik satu wanita paruh baya. Wanita itu tampak sangat cantik dan berkelas dengan rambut tertata rapi ke atas. Pakaiannya terlihat anggun di tubuhnya.


"Tenanglah mom. Vero pasti memiliki alasan." kali ini pria tampan muda yang berbicara. "Benarkan kakakku yang cantik? Lihatlah bu, kamu menamparnya terlalu kuat. Terlihat sekali bekasnya." pria muda itu menghampiri Veronica lalu mengelus pipinya yang tadi di tampar ibunya. Veronica menepis kasar tangan pria itu. Pria itu menyeringai.


"Okay, sekarang jelaskan." kata wanita paruh baya itu. Dia duduk di salah satu kursi tepat di depan Veronica yang berdiri masih menundukkan kepalanya.


"Renald sudah tidak mencintaiku lagi, apa bisaku?" kata Veronica akhirnya.


"Apa kau bodoh?! Bujuk dia! Goda dia!" pekik wanita paruh baya yang juga ibu dari Veronica, Gaynell.


"Sudah bu, semua sudah aku lakukan. Seperti kata ibu. Tapi dia tetap menolakku dan aku juga tidak mencintainya."


"Cinta katamu?!" pekik Gaynell sambil berdiri dari duduknya.


"Ohh kakakku, kau kolot sekali. Cinta? Yang benar saja. Kita sudah lupakan soal apa itu cinta semenjak ayah meninggal. Jangan mulai naif!" Eaton kembali bersuara.


"Sekarang, kembali padanya. Kalau perlu kamu bersujud di kakinya, telanjang di depannya, aku tidak perduli! Kembali padanya dan jangan kembali sampai kamu mendapatkan Renald lagi, mengerti?"


"Tapi bu--"


"Tidak ada tapi! Kamu tahu dia satu-satunya sumber uang kita yang paling banyak."


"Bagaimana dengan Eaton? Dia juga memiliki kekasih kaya!" protes Veronica.


"Jangan samakan dirimu dengan Eaton."


"Ibu!"


"Kak... Tenanglah... Ibu benar. Kekasihku meski dia sangat kaya, tapi kekayaannya tidak akan diturunkan padanya. Berbeda denganmu kakakku."


"Aku tidak akan membiarkanmu berpisah dengannya, kau dengar itu?! Semenjak ayahmu meninggal kita bangkrut! Kekayaan yang ditinggalkan ayahmu sudah habis. Yang tersisa hanyalah hutangnya."


"Kalian berdua yang menghabiskan uang ayah. Hutang ayah juga telah lunas karena Renald. Tapi dengan hidup gaya mewah kalian, kalian justru membuka hutang baru!"


"Apa katamu?!" Gaynell meninggikan suaranya.


"Ibu... Sudahlah. Vero mungkin butuh waktu untuk menenangkan diri. Dia akan melakukannya, benarkan Vero?" tanya Eaton dengan senyuman penuh arti.


"Kalian benar-benar sudah gila!" Veronica beranjak dari sana dan berjalan cepat menuju kamarnya.


"Anak itu. Lalu bagaimana jika dia tidak melakukannya Eaton?" Gaynell tampak sangat khawatir.


"Dia akan melakukannya, bu. Tenang saja. Dia tidak akan menelantarkan kita. Dia tahu kewajibannya. Tapi sebenarnya ada cara yang bisa kita lakukan jika Vero menolak." Eaton duduk di sebelah ibunya.


"Apa maksudmu?" tanya Gaynell, menatap antusias pada Eaton.


"Memalsukan kematian Veronica."


"Apa?! Kau sudah gila? Kau ingin membunuh kakakmu sendiri?!" pekik Gaynell.


"Bu, tenanglah, sudah aku katakan memalsukan kematiannya, bukan membunuhnya."


"Tapi apa maksudmu?"


"Ibu ingat perjanjian Renald dengan ayah saat ayah tidak merestui hubungan mereka?" Eaton menatap ibunya. Gaynell mengerutkan keningnya. "Ibu tahu, saat Renald bersujud di depan ayah."


"Kenapa dengan itu?"


"Renald berjanji akan menjamin hidup kita bahkan sampai Vero mati, bu."


"Itu benar, nak. Tapi tidak jika mereka berpisah, dia tidak akan membiayainya karena itu ibu berusaha keras untuk membuatnya bersatu kembali. Tidak perduli jika ibu harus memukuli dan mengurung anak itu." geram Gaynell.


"Jangan membuang tenagamu bu. Ada cara yang mudah untuk itu."


"Apa maksudmu?"


"Seperti yang ku katakan tadi, memalsukan kematiannya."


"Tapi bagaimana caranya?"


"Serahkan padaku bu." Eaton tersenyum.


......***......


Renald berjalan menuju rumah duka dengan stelan jas berwarna hitam yang terbalut rapi dan pas ditubuhnya yang ideal. Alex` berjalan di sebelahnya disusul Randy, James dan Ted. Mereka memutuskan untuk pergi bersama ke sebuah gereja di York, Inggris. Beberapa tamu terlihat berdatangan untuk melakukan doa terakhir. Renald berjalan mendekati sebuah peti yang berada di depan mimbar. Peti itu terbuka di bagian atasnya. Renald melihat ke dalam peti dan mendapati Veronica terbujur kaku dengan mengenakan pakaian favoritnya. Sebuah mawar merah berada di tangan kaku Veronica yang seakan memegang bunga itu. Renald menatap Veronica dengan tatapan penuh arti. Ya mungkin dia sudah mencintai Tari , tapi wanita yang telah tebaring kaku ini adalah cinta pertamanya, wanita yang pernah dia cintai. Disalah satu bangku ada Geynell yang menangis di temani Eaton. Eaton berdiri dan mendatangi Renald. Eaton menepuk pelan pundak Renald. Renald menoleh dan mengangguk pelan.


"Dia pergi begitu mendadak. Kami semua terkejut." kata Eaton. Renald mengangguk.


"Tentu saja." kata Renald pelan.


Eaton kembali bersama ibunya dan mencoba menenangkannya. Renald menatap mereka dalam diam.


...***...


Renald menghempaskan tubuhnya kasar di sofa. Dia mengacak rambutnya dan melonggarkan dasinya. Tak lama Alex datang dengan wajah seriusnya lalu berdiri di depan Renald dan menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar pada Renald. Renald menatap amplop itu sejenak lalu mengambil amplopnya. Renald membuka amplop itu dan membaca satu persatu kertas dengan teliti.


"Apa ini dari orang itu?" tanya Renald. Dia melempar pelan kertas-kertas itu ke meja dan menatap Alex yang masih berdiri di depan Renald.


"Benar."


"Sudah di selidiki dengan benar?"


"Tentu, kau tahu dia bagaimana. Dia tidak akan menyerahkan tanpa bukti." Alex duduk di salah satu sofa. Renald mengusap pelan dagunya. Dia tampak berpikir dengan tatapan tertuju pada kertas di atas meja yang tadi dia letakkan. "Sekarang bagaimana Ren?"


"Aku akan mengatasinya." jawab Renald.


"Dengan?"


"Siapkan saja beberapa uang dan sertifikat tanah yang aku miliki di York."


"Ap-apa?" Alex terkejut.


"Lakukan saja. Sisanya biar aku yang mengurus. Apa besok ada rapat lagi?"


"Ya, hanya satu."


"Bagus."


Renald berdiri dan beranjak menuju kamarnya meninggalkan Alex yang masih bengong menatapnya.


...***...


Prank!!


Semua barang berserakan dan beberapa barang pecah belah sudah pecah menjadi beberapa potongan kecil yang juga berserakan di lantai. Gaynell duduk di ujung kasur dan mulai menangis kembali setelah melempar semua barang di dekatnya. Eaton yang terkejut mendengar keributan itu, masuk ke dalam kamar. Dia terkejut melihat semua barang yang berantakan.


"Ibu? Ada apa ini? Apa ibu terluka?" tanya Eaton yang langsung mendatangi ibunya. Dia berlutut di depan ibunya, memeriksa apa ada luka di tubuh ibunya. Namun ibunya justru memukul pelan tubuh Eaton sambil mendorongnya.


"Kamu berkata itu semua hanya rekayasa. Kita hanya akan memalsukan kematiannya, lalu kenapa seperti ini?!" pekik Geynell. "Kakakmu sudah mati, Eaton. Dia benar-benar mati!!"


"Tenanglah bu--"


"Tenang katamu?! Apa kau sudah gila?! Veronica sudah mati!!"


"Apa kamu menghubungi kakakmu?" pertanyaan ibunya membuat Eaton mengerutkan keningnya.


"Apa maksud ibu? Bu, sadarlah. Vero telah meninggal!" Eaton meninggikan suaranya.


"Apa kau gila?!" pekik ibunya tidak kalah keras dari Eaton. "Ibu juga tahu Vero sudah meninggal. Bukan dia yang ibu maksud. Kakakmu satu lagi, Mona."


"Ahh kakak Amerika."


"Dia tetap kakakmu, Eaton."


"Ya, kakak tiri."


"Apa kamu menghubunginya?"


"Tidak dan untuk apa kita menghubunginya bu? Dia membuatku takut." Eaton bergidik.


"Eaton.."


"Itu benar bu. Dia bergaya sangat amerika sekali, dia juga tidak memiliki sopan santun dan kasar. Dia menyeramkan bu. Ibu tidak melihat tato nya?"


"Eaton, dia kakakmu. Hubungi dia."


"Ibu saja, aku tidak mau." Eaton berdiri dan melangkah pergi, tidak perduli ibunya memanggilnya.


"Anak itu."


...***...


Renald mendatangi kediaman mendiang Veronica, bertemu ibu dan adik Veronica. Dia mendatangi berkas-berkas di sana. Tidak lupa Gaynell terlihat sedih dan terpukul. Tentu Renald mengetahui semua sandiwara itu. Dia tahu betul Gaynell justru menyukai semua yang di berikan Renald saat itu.


"Apa kamu yakin dengan semua itu? Kamu masih bisa membatalkannya saat ini juga." bujuk Alex saat mereka sudah di dalam mobil.


"Tidak, aku tidak akan merubahnya. Jalan."


"Tapi Ren... Itu harta yang banyak dan mereka tidak pantas mendapatkannya, kau tahu itu."


"Jalankan mobilnya." kata Renald tanpa memperdulikan kata-kata Alex.


"Kau sangat keras kepala! Lebih baik memberikannya pada istrimu." Alex membalikkan tubunya yang semula menghadap belakang menatap Renald sekarang menghadap depan dan memasang seatbeltnya karena mobil mulai berjalan meninggalkan kediaman Veronica.


"Kita tidak akan melakukan apapun, tidak tanpa bukti. Ya, mungkin aku akan rugi tapi itu sepadan dengan waktu yang akan kita gunakan untuk mencari bukti. Mereka tidak akan curiga apapun. Kalaupun curiga, mereka tidak akan berpikir sejauh itu, bahwa aku mengetahui kecelakaan Veronica bukanlah kecelakaan biasa dan biar tetap seperti itu, agar kita bisa bergerak lebih mudah untuk mencari bukti." jelas Renald.


"Baiklah. Aku hanya merasa semua yang kamu berikan, uang, tanah dan rumah dan juga apartement, itu sangat berlebihan."


"Demi mendapatkan kebenaran dari kematian Vero, itu sepadan. Setidaknya meski aku tidak mencintainya lagi, hanya ini hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya." Renald menatap keluar jendela. Di dalam hatinya dia sangat khawatir dan gelisah karena memikirkan Tari. Dia tahu kemungkinan besar Tari membencinya dan menjauh darinya saat sini sangat besar. Sudah hampir sebulan dia tidak pulang semenjak dia mendengar Veronica meninggal. Tapi demi kedamaian hidupnya bersama Tari kedepannya, dia harus rela menyelesaikan semua ini.


...***...


Prang!!


Eaton melempar gelas ke dinding. Pecahan gelas itu berserakan di lantai.


"Aaaaarrgggghhhh!!!" Eaton berteriak keras dan mengacak rambutnya. Hanya dalam hitungan hari saja, semua polisi di Inggris mencarinya. Dia harus bersembunyi dan tidak bebas bergerak membuat Eaton frustasi dan depresi. Eaton duduk di pinggir kasur dan memegangi kepalanya. Renald mengekspos pembunuhan kakaknya yang dilakukan olehnya. Kini dia bersembuyi di salah satu penginapan kecil di Skotlandia. Satu botol bir dingin di serahkan padanya. Eaton menoleh melihat bir itu sejenak lalu mengambilnya. Dia meminum bir seperti meminum air mineral.


"Oh tenanglah. Kita tidak ingin kamu tersedak dengan bir itu." sahut satu wanita yang kini duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Wanita itu mengekana kaus tanpa lengan berwarna hitam, terlihat kedua tangannya yang penuh dengan tato. Wanita itu juga mengenakan celana kulit berwarna hitam. Rambut hitam pendek sebahunya di biarkan tergerai. Eaton menghabiskan birnya. Dia mengelap kasar mulutnya yang penuh dengan tumpahan bir. Nafasnya memburu. Bisa terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


"Aku akan membalasnya. Aku akan membunuhnya!!" pekik Eaton.


"Tidak, kamu tidak akan melakukan apapun. Tidak akan bisa. Tidak dengan situasimu." kata wanita itu santai lalu meminum birnya.


"Apa katamu?"


"Kenyataan little brother. Kenyataan. Ini semua kesalahanmu dan dia hanya mengeksposnya, itu saja."


"Kamu--"


"Lain kali." potong wanita itu cepat. "Lain kali jika ingin membunuh orang, lakukan tanpa kesalahan."


"Itu pertama kalinya aku-- ahh sudahlah, untuk apa aku berdebat denganmu. Aku tidak akan menang terlebih soal pembunuhan. Bukankah kau ahlinya? Dasar pembunuh jal*ng!"


"Hmmm yeah.. Aku memang pembunuh. Aku akui itu. Tapi dari aku membunuh pertama kali sampai yang terakhir kali, aku tidak pernah ketahuan sekalipun."


"Dasar gila!"


"Kau yang gila! Membunuh kakakmu sendiri yang telah membiayaimu selama ini! Lalu meninggalkan jejak." wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Bantu aku Mona." pinta Eaton. Dia menatap Mona dengan tatapan belas kasihan.


"Ohhh tidak, tidak. Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak akan membantumu, apapun itu. Aku berada disini karena aku berjanji pada ibu untuk menyembunyikanmu dari polisi, That's it."


"Lalu kamu akan membiarkan ibu jatuh miskin?"


"Apa maksudmu little brother?"


"Dengarkan aku, Mona. Renald akan mengambil aset yang dia berikan saat kematian Veronica, itu pasti. Dan jika itu terjadi, mom tidak akan memiliki apapun lagi, uang, harta. Kamu pikir dari mana semua uang yang kamu terima setiap bulan? Dari laki-laki brengsek itu!! Ibu akan tersiksa. Dia tidak memiliki Veronica dan aku lagi disisinya sebagain penghasil uang untuknya. Kau? Hah yang benar saja!"


"Kamu meremehkanku little brother."


"Tidak, tentu tidak. Tapi apa kamu pikir ibu akan senang tinggal bersamamu? Wanita kasar dan pembunuh. Aku yakin uangmu juga tidak akan mencukupi kehidupan mewah ibu."


"Lalu kamu mau aku melakukan apa?"


"Bunuh dia. Bunuh pria brengsek itu."


Mona menghela nafas. "Kamu adalah penyebab semua ini tapi kamu mau membunuhnya?"


"Hanya itu satu-satunya cara agar harta itu tetap berada di tangan ibu."


Mona terdiam dan tampak berpikir.


"Ayolah Mona, demi ibu." bujuk Eaton. Dia berusaha memanipulasi Mona agar mau melakukan keinginannya, membunuh Renald.


"Baiklah, berikan apapun yang kamu ketahui tentangnya."


"Tidak, jangan dalam waktu dekat."


Mona menghela nafas kasar. "Apa lagi maksudnya itu?!"


"Renald meminta harta itu di kembalikan. Akan ada batas waktunya. Kita tunggu sampai batas waktu pengembalian harta."


"Tapi kenapa? Apa bedanya?"


"Saat batas waktu, kedua pihak harus menandatangani kesepakatan resmi. Jika Renald tidak datang, itu artinya pengembalian harta akan batal dan harta itu menjadi milik ibu.


"Tunggu, tunggu, tunggu... Tunggu dulu. Lalu apa bedanya kita membunuhnya sekarang dengan nanti? Toh dia tetap tidak akan datang."


"Benar, tapi walinya akan datang. Renald adalah seorang pebisnis. Aku yakin dia sudah menunjuk seseorang sebagai walinya."


"Istrinya?"


"Mungkin, bisa jadi. Atau mungkin bisa orang lain. Jika kita membunuhnya tepat batas waktu, mereka tidak akan punya waktu untuk membawa walinya."


"Wah wah wah... karena ini ibu memanjakanmu? Kau sangat pintar little brother." puji Mona dengan sunggingan kecil di wajahnya.


"Aku ingin dia mati, kita juga bisa mengamankan harta itu untuk ibu."


...***...