When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 30



Tari berjuang keras agar dia bisa berjalan ke mobil yang mengantarnya ke kantor. Perlahan tapi pasti. Saat tangannya di tarik oleh Veronica, kakinya terkilir dan semalam kakinya bengkak. Pagi ini bengkaknya sudah membaik, karena dia mengkompresnya semalam dan memberikan obat pereda nyeri. Tari bimbang. Dia tidak tahu apa dia harus bekerja atau tidak hari ini. Tapi dia memutuskan untuk pergi. Dia tidak ingin bertemu ataupun melihat mereka berdua, Renald dan Veronica. Dia tahu Veronica masih disini dan menginap.


Tari menuruni anak tangga satu persatu. Meski perlahan tapi dia berhasil sampai.


"Nyonya.. Kenapa anda pergi bekerja? Kaki anda--"


"Aku baik-baik saja, Marissa. Dan jangan panggil aku nyonya. Nyonyamu ada di kamar bersama tuanmu. Aku pergi dulu." kata Tari.


"Nanti tuan akan marah melihat anda sakit tapi masih bekerja."


Tari tertawa. "Jangan bercanda! Dia tidak akan perduli! Aku pergi dulu."


Tari kembali berjalan. Pereda sakitnya mulai bekerja tapi masih terasa sedikit sakit saat berjalan. Tentu saja jalannya pincang, tapi Tari mencoba menutupinya.


"Tunggu!"


"Oh wow. Dalam sekejap dia berubah dari Tari menjadi tunggu."


Tari membalikkan tubuhnya dan menatap Renald yang baru keluar dari kamarnya. Renald mendatanginya.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan mentolerir tindakanmu pada Veronica. Aku mencoba bersikap baik padamu bukan berarti kamu bisa bertindak sesuka hatimu, yang membuatmu berhak menyakiti Veronica. Kamu harus tahu tempatmu! Tameng tapi ingin berlagak sebagai nyonya?! Jangan buat dirimu terlihat menyedihkan! Ingat tempatmu!"


Renald pergi setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu. Bahkan tanpa membiarkan Tari membela diri. Tari hanya tersenyum. Dia merasa di perlakukan tidak adil. Dia berusaha untuk menahan air matanya. Seandainya bisa, dia sudah akan bercerai darinya sedari dulu. Tapi dia tidak mengatakannya. Dia tahu diri dia masih memiliki hutang pada Renald. Dia tidak ingin karena dia tidak melunasi hutangnya, keluarganya akan dalam masalah. Dia harus bertahan.


"Lihatkan? Tidak ada tempatmu disini. Kau hanya jadi benalu. Berani-beraninya tameng berulah. Dia akan selalu menjadi milikku dan membelaku!" ejek Veronica lalu beranjak ke ruang makan.


Tari menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya. Rasanya amarahnya akan meledak seketika. Tapi dia akan menahannya. Dia tidak akan membuang waktu, emosi dan pikiran hanya untuk mereka berdua.


"Anda baik-baik saja, nyo-- tidak, nona?" tanya Marissa. Tari mengangguk mengerti. Anne meletakkan beberapa bungkus coklat di tangan Tari. Tari tersenyum. Anne tahu betul saat dia marah, kesal atau gugup, Tari akan makan coklat untuk menenangi dirinya.


"Terima kasih. Aku pergi dulu."


Tari berbalik dan pergi menuju mobilnya.


"Ya, jangan terpengaruh pada mereka. Fokus untuk lakukan yang harus kamu lakukan Tari. Mereka tidak pantas dapat semua perhatian apapun itu darimu."


...***...


Sepanjang bekerja di kantor, Tari diam saja di mejanya. Saat teman-temannya mengajaknya makan siang, dia berkata akan di meja saja karena kakinya sakit. Dia berkata kakinya terkilir, tapi tidak mengatakan itu semua karena Veronica. Veronica dan Renald tidak pantas untuk mendapat perhatiannya, jadi dia tidak akan menyebut mereka lagi, apapun itu. Tapi dia harus pasrah ketika orang-orang bergosip tentang mereka. Karena Renald akan sering ke kantor Randy, begitu juga dengan teman-teman Randy yang lain, Ted dan James.


Tari duduk di sebuah taman. Di kantor itu disediakan taman buatan dengan beberapa tempat duduk dan gazebo di atap. Mirip beberapa kantor di korea. Tidak heran karena pemiliknya setengah korea. Tari membuka tas kecil yang dia bawa dan mengoleskan krim untuk kakinya. Rasa sakitnya mulai muncul kembali. Dia tidak ingin temannya khawatir jadi dia naik ke atas. Karena jam kantor, Tari yakin tidak akan ada orang disana.


Tari memijat pelan kakinya dan merasakan rasa sakitnya. Tari menghela nafas dan menatap sekitarnya. Dia benar. Tidak ada satu orangpun disini. Rasanya ingin duduk disini terus sampai jam kantor usai lalu pergi bertemu Marisol. Marisol mengajak bertemu usai jam kantor karena hari ini kuliahnya libur. Dia sudah lama tidak bertemu, tentu di sanggupi olehnya.


"Kamu disini." sahut sebuah suara, mengagetkan Tari yang dengan lamunannya. Randy duduk di sebelahnya. "Apa yang kamu lakukan disini?"


"Ahh maafkan aku. Aku bukannya tidak ingin berkerja." Tari membereskan tas kecilnya. "Kalau begitu aku kembali dulu." Tari berdiri.


"Duduklah..." pinta Randy.


"Tidak, aku akan kembali saja."


"Duduk saja." Randy menarik tangan Tari agar Tari duduk.


"Ahhh!!" Tari meringis.


"Apa? Kenapa? Aku menyakitimu?" tanya Randy yang terkejut.


"Tidak, tidak ada apa-apa." kata Tari lalu menyembunyikan kaki yang sakit di belakang kaki lainnya. Randy melihat itu. Dia sengaja menyentuh kaki yang Tari sembunyikan dengan kakinya, membuat Tari kembali meringis.


"Kamu berbohong. Kenapa dengan kakimu?" tanya Randy. Tari mengelus kakinya yang sakit.


"Hanya terkilir."


"Sudah di beri obat?"


"Sudah. Karena itu aku kemari."


"Sudah ke dokter?"


Tari tertawa. "Aku hanya terkilir, Ran. Bukan patah tulang. Terlalu berlebihan jika harus ke dokter."


"Hei, terkilir bisa menjadi parah nanti jika tidak ada perawatan."


"Kata siapa aku tidak merawatnya? Aku baru saja mengobatinya tadi."


"Kadang aku lupa jika kamu keras kepala."


Tari tertawa lagi. "Bagaimana bisa ini di katakan keras kepala?" Tari menggelengkan kepalanya. "Aku pernah terkilir sebelumnya dan aku baik-baik saja. Yang aku takutkan justru jika aku berlama-lama disini, bosku yang menjadi pujaan banyak wanita itu akan memecatku jika aku tidak bekerja."


"Kalau begitu, aku akan menghukummu saja. Tidak boleh bekerja selama tiga hari karena berada disini terlalu lama."


Tari mengerutkan keningnya. "Apa itu sebuah hukuman?"


"Itu hukuman. Jadi istirahatlah di rumah."


Tari tertawa. "Ohhh tolong, ku mohon, dengan segenap jiwaku. Jangan melakukan itu. Aku tidak ingin dirumah."


"Apa karena Renald? Tunggu, apa dia yang melakukan ini?" wajah Randy tampak serius dan menatap Tari.


"Seandainya dia yang melakukannya, aku akan memiliki alasan untuk memakinya. Tidak, bukan dia. Aku hanya tidak ingin dirumah. Lagipula aku harus bekerja demi keluar dari pernikahan konyol ini."


"Hutang itu maksudmu? Uang saat pernikahan kalian?"


"Bagaimana kamu--"


"Tahu? Tebaklah."


"Ahhh... Aku tidak menyangka dia akan bercerita padamu tentang itu. Tapi ya, benar."


Randy terdiam. Sebenarnya dia tahu jika Renald sebenarnya tidak menganggap itu hutang. Renald tidak mengharapkan Tari memgembalikan uang itu. Hanya untuk mengendalikan Tari.


"Mau aku bantu membayar hutangmu? Kamu akan tinggal membayarnya kepadaku, kapanpun kamu mau."


"Dan berhutang padamu juga?" Tari menggeleng. "Tidak terima kasih. Aku tidak ingin berhutang pada siapapun lagi. Cukup dia."


"Baiklah, tapi tawaranku masih berlaku dan akan terus berlaku."


Tari hanya tersenyum pada Randy. Randy mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya di buka dan lengan yang telah tergulung hingga siku dengan celana kain berwarna hitam. Dia benar-benar tampan dan cocok menjadi pujaan wanita terlebih sikapnya yang sangat hangat, bahkan pada Tari.


"Hmm... Aku tahu aku tampan. Jika masih ingin menatapku, aku akan mengijinkannya. Tataplah sepuasmu." kata Randy yang memergoki Tari menatapnya.


"Ck! Percaya diri sekali."


Randy tertawa. "Katakan padaku, apa yang kau pikirkan saat menatapku?"


"Hanya memuji ketampananmu dan menyayangkan karena kamu seorang playboy."


"Jadi... Kamu akan tertarik padaku jika aku bukan seorang playboy?" tanya Randy dengan wajah jahilnya.


"Mungkin." Tari tertawa. "Tapi sekarang yang paling penting adalah aku harus kembali bekerja. Sebelum bosku yang playboy ini menghukumku untuk tidak turun tiga hari."


"Biar aku bantu." sahut Randy dengan senyuman manisnya. Tari menyambut uluran tangannya dan berdiri. Dia juga di papah menuju lift.


"Ughh seandainya kamu bukan playboy, mungkin aku akan jatuh cinta denganmu terlebih senyuman itu." ucap Tari.


"Oh kumohon, jatuh cintalah. Buatlah aku berhenti menjadi playboy."


Tari mengerutkan keningnya. "Apa menurutmu bisa? Playboy tetaplah playboy."


Randy menekan tombol lift. "Tentu bisa. Jika sang playboy jatuh cinta. Dia akan berubah."


"Tapi saat dia bosan, dia akan kembali."


"Ayolah... Aku tidak seburuk itu. Lagipula mereka yang menggodaku, bukan aku."


Pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam.


"Kalau begitu cobalah berkata tidak pada wajah cantik dan tubuh seksi itu." Tari menggelengkan kepalanya. Randy tertawa.


...***...


Brakk!!!


Marisol memukul meja, mengagetkan Tari dan beberapa pengunjung bar. Tari menceritakan tentang kakinya pada Marisol.


"Dasar wanita jal*ng!" maki Marisol. Rahangnya mengeras. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Tari tersenyum geli dan mendorong minuman milik Marisol agar lebih dekat dengan Marisol.


"Minumlah, minum. Tenanglah." kata Tari.


"Bagaimana bisa aku tenang? Dan kenapa kamu begitu tenang?!" pekik Marisol. Ini sudah kesekian kalinya mereka menjadi pusat perhatian karena Marisol meninggikan suaranya. "Dia mengejekmu, menjebakmu dan menuduhmu. Seharusnya kamu lebih marah!"


"Itu benar, seharusnya aku yang marah. Kenapa kamu lebih marah dariku? Lihatlah! Orang-orang memperhatikan kita!"


"Biarkan saja mereka, aku tidak perduli."


"Tapi aku perduli. Aku tidak ingin kita di usir dari sini." Tari menggelengkan kepalanya.


"Tapi serius. Kenapa kamu tidak marah?"


"Oh aku marah, pada awalnya. Tapi tidak lagi. Aku tidak ingin marah lagi. Aku tidak ingin membuang-buang waktu, emosiku hanya untuk orang seperti mereka. Karena mereka akan selalu seperti itu. Yang satu tukang drama dan yang satu dibutakan cinta. Tidak akan ada habisnya. Lebih baik aku fokus mencari uang."


"Benar, kamu benar. Jangan perdulikan mereka lagi. Mereka gila dan brengsek!" Marisol meminum minumannya.


"Yup! Kau benar. Sepertinya malam ini disini ramai sekali." Tari memperhatikan sekitarnya. Mereka berada di bar tempat mereka bekerja dulu.


" Kau benar." Marisol tertegun. Tari menatap bagian bar. Disana hanya ada David, sendirian.


"Dia sendirian."


"Siapa?"


"David. Ayo kita bantu. Mengenang masa lalu." Tari menaik turunkan alisnya.


"Tapi kakimu?"


"Aku baik-baik saja Marisol. Aku bisa melepas sepatuku nanti."


"Baiklah." Marisol tersenyum dan mengangguk.


Marisol dan Tari berjalan ke arah bar. Mereka menyapa David. Tari melepas blazernya dan mengikat rambutnya. Dia mulai melayani tamu, begitu juga Marisol.


...***...


"Apa nyonya-- tidak, nona memberitahu dia dimana?" tanya Marissa pada Anne yang baru saja menelepon Tari. Anne mengangguk.


"Dia berada di bar dan bekerja disana."


"Bekerja disana? Tapi bagaimana kakinya?"


"Katanya dia sudah mengobatinya. Sulit sekali berbicara karena tampaknya bar itu memang sedang ramai. Aku saja harus meneleponnya beberapa kali sebelum di angkat."


"Tapi kakinya harus di kompres lagi."


"Kamu tahu kita tidak bisa memaksa nona Tari. Biarkan saja. Setelah masalah kemarin, aku yakin dia ingin menyibukkan diri."


"Tapi kakinya pasti sakit..."


"Sakit kenapa?"


Suara bariton yang tiba-tiba terdengar membuat Anne dan Marissa tersentak dan berbalik.


"Tu-tuan.."


"Katakan, kenapa dengan kakinya?"


"A-ahh.. Itu.. Itu..."


" Apa aku harus berteriak atau memaki terlebih dahulu agar kalian menceritakannya? Jangan membuang-buang waktuku." perintah Renald.


Marissa dan Anne ragu untuk memberitahukan Renald. Terlebih ini tentang Veronica. Mereka bahkan tahu betul, Renald akan selalu melihat dan membela Veronica.


"Sebenarnya.." Anne yang berbicara. Dia tahu Marissa terlalu takut. "Saat nyonya Veronica kemari, dia menarik nona Tari saat nona menaiki tangga, membuatnya terkilir dan hampir terjatuh. Karena itu sekarang kakinya sakit."


"Lalu dimana dia?" tanya Renald lagi tanpa merubah ekspresi wajahnya.


"Nona sedang di bar tuan. Bekerja."


Renald mengerutkan Keningnya.


"Aku kira dia tidak bekerja di sana lagi."


"Baiklah kalau begitu." Renald beranjak pergi ke kamarnya.


"Tuan!" panggil Anne. Marissa mencegahnya tapi Anne tidak memperdulikannya. Renald menghentikan langkahnya dan menoleh. "Saya tahu saya lancang, tapi saya akan tetap mengatakannya. Nyonya Veronica tidak di dorong oleh nona Tari. Dia terjatuh sendiri." kata-kata Anne membuat kerutan di dahi Renald. "Kami semua menyaksikannya tuan, bahkan Alfred." Anne menatap Alfred yang masih diam. "Saya tahu, saya mengerti Alfred melindungi nyonya Veronica karena dia adalah keponakannya. Tapi saya merasa ini tidak benar. Saya tahu saya lancang, karena itu saya akan terima jika anda memecat saya. Permisi."


Anne meninggalkan Renald yang masih menatapnya. Marissa yang kebingungan mengikuti Anne. Ya, Anne tahu resikonya mengatakan itu pada Renald. Terlebih Renald yang akan selalu membela Veronica apapun yang terjadi. Tapi dia harus mengatakan yang sebenarnya.


"Apa itu benar?" tanya Renald. Dia masih diam di tempatnya. Dia tidak menatap Alfred tapi Alfred tahu Renald berbicara padanya.


"Saya... Tidak terlalu menyaksikannya tuan. Posisi saya di belakang nyonya Tari. Tapi kemungkin besar iya."


"Dan kamu diam saja?" Renald menatap Alfred tajam!


"Maafkan saya tuan, karena saya tidak terlalu melihatnya dengan jelas jadi saya--"


Renald tidak mendengar lebih ucapan Alfred. Dia pergi begitu saja menuju kamarnya.


...***...