
Plak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Tari. Tari menghela nafasnya dan menutup matanya sejenak. Dia mencoba menenangkan dirinya.
"Kurang ajar! Berani sekali kamu! Seharusnya kamu itu berterima kasih sama aku tapi apa? Kamu mempertanyakan caraku merawat papamu?! Heh! Aku itu ibu tirimu! Istri dari papamu! Bukan perawat! Masa aku keluar rumah aja tidak boleh?" pekik Salina.
Tari mencoba meminta penjelasan tentang apa yang terjadi, dengan baik-baik tentu. Tari bukan gadis polos yang terima apapun di berikan dan disuruh. Tapi dia masih tahu yang namanya sopan santun. Dia menghormati Salina sebagai istri dari Hendrawan, ayahnya. Bahkan demi Hendrawan, Tari menerima pernikahan konyol itu yang dia yakini Salinalah yang menyarankan hal gila itu. Tari diam saja saat Hedrawan maupun Salina tidak menjelaskan hutang apa yang mereka miliki. Dia sudah cukup sabar. Tapi mendengar Hendrawan meninggal karena terlantar, dia tidak bisa diam lagi. Meski begitu dia masih mencoba berbicara dengan baik pada Salina tapi justru tamparan yang dia terima.
"Aku hanya bertanya bu. Apa sepenting itu hingga ibu pergi meninggalkan papa tanpa menunggu Adit terlebih dahulu?" tanya Tari. "Aku nggak melarang ibu. Aku mengerti. Mungkin ibu jenuh atau lelah, terus-terusan menjaga ayah. Karena itu aku ngerti. Hanya aja, apa nggak bisa nunggu Adit pulang dulu?"
"Iya! Lebih penting, dari papamu yang sekarat itu! Cih! Aku nggak di kasih nafkah lagi dan malah ngurus orang sakit!"
"Iya tapi apa bu? Apa yang lebih penting itu?!"
"Jadi kamu mau tau hal pribadi aku juga? Lancang sekali!!"
"Kak, sudah... Tenang." pinta adik tertua Tari, Dimas.
"Kakak hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang membuat ibu pergi bahkan tanpa bisa menunggu Adit dulu. Itu aja. Bukan untuk menyalahkan atau ingin tau masalah pribadi. Memang kematian nggak ada yang bisa menebak. Tapi kakak hanya ingin tau alasannya."
"Percuma ya, ngomong sama kamu. Bukannya berterima kasih, malah di tuduh-tuduh." Salina beranjak masuk ke kamar dan membanting pintu. Tari menghembuskan nafasnya. Salina tetap tidak menjawab.
Tari sampai di rumah sekitar jam dua belas malam. Hendrawan telah di kuburkan kemarin siang. Adit memberikan catatan medis milik ayahnya dan alasan kenapa Hendrawan meninggal dunia, paginya. Karena itu, setelah Tari dari makam Hendrawan, dia langsung bertanya pada ibunya.
"Kak.." tegur Dimas dari luar pintu kamar Tari. Tari sedang duduk di kamarnya setelah pertengkaran dengan Salina tadi.
"Masuk aja mas."
Dimas masuk ke dalam kamar Tari.
"Kakak lagi ngapain?" tanya Dimas.
"Hmm... Nggak lagi ngapa-ngapain. Kenapa?"
"Nanti malam acara pengajian gimana? Apa pakai katering lagi?" tanya Dimas.
"Hm... Kita pake katering aja. Beberapa keluarga ada yang ingin bantuin masak, tapi nggak enak ngerepotin orang lain. Kakak nggak suka. Kamu tau nomor telepon kateringnya? Pesen untuk besok sekalian."
"Tau kak. Tapi kakak nggak apa-apa kan?" tanya Dimas. Dia tampak khawatir melihat kakaknya yang penuh kekhawatiran. "Kakak ipar dimana? Padahal Dimas mau ketemu. Waktu nikahan Dimas kan nggak dateng karena nikahnya dadakan."
"Kakak nggak apa-apa, hanya kepikiran ninggalin kalian berdua, terlebih Adit, disini. Dan kakak iparmu itu sibuk. Jadi nggak usah tanya dia."
"Kakak berantem?" tanya Dimas melihat kakaknya yang terlihat tidak perduli dengan suaminya.
Tari menghela nafas. "Nggak, kami baik-baik saja. Bagaimana kuliahmu?"
"Kuliahku baik-baik aja kak. Sudah sidang, sekarang tinggal nunggu wisuda. Aku bisa disini sambil nunggu waktu wisuda. Masih ada dua minggu lagi."
"Maafin kakak ya, kayaknya kakak nggak bisa dateng saat kamu wisuda nanti." Tari merasa tidak enak. Dia pasti tidak akan memiliki uang saat Dimas wisuda. Bahkan untuk membayar hutangnya Renald bulan depan saja rasanya sulit.
"Nggak apa-apa kakak. Aku bisa sendiri kok. Setelah wisuda, aku langsung balik ke sini dan cari kerjaan disini."
"Bukannya kamu bekerja juga di sana?"
"Tapi kan jauh dari rumah. Disini aku bisa sekalian jaga Adit. Lagipula karena udah pernah bekerja sebelumnya, aku jadi punya pengalaman kerja. Insyaallah, bisa lebih cepat dapet kerja. Kakak nggak perlu khawatir lagi sama kita berdua. Kita berdua laki-laki kak, bisa jaga diri. Adit juga bekerja paruh waktu dan aku juga akan bekerja nanti. Kami akan baik-baik aja."
"Tetap aja, Mas. Rasanya sulit membiarkan kalian berdua disini tanpa kakak."
"Aduh kakaku tersayang. Kakak terlalu khawatir. Tapi kak, kenapa kakak menikahnya cepet-cepet? Apa kakak....." Dimas tidak melanjutkan kata-katanya, hanya menatap perut Tari.
"Hmmm kamu ini! Kalau kakak hamil harusnya perutnya udah gede dong Mas.." Tari menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu yang aku maksud. Apa kakak sudah ngebet mau nikah sampe maksa-maksa kakak ipar? Pasti kakak malam pertamanya ganas!"
Tari menatap tidak percaya lalu memukul Dimas.
"Kamu ini!"
...***...
"Apa makanannya udah siap, Mas?" tanya Tari. Dia sedang menyiapkan cemilan untuk peserta pengajian.
"Sudah kak. Sudah siap semuanya. Sebentar lagi isya. Mana ibu?" tanya Dimas. Tari mengangkat kedua bahunya.
"Entah. Kakak nggak ada liat. Panggil gih." pinta Tari. Dimas mengangguk lalu menuju kamar Salina. Dimas mengetuk pintunya.
"Bu... Bu..."
Tak ada jawaban. Saat Dimas mau mengetuk lagi, tiba-tiba pintu itu terbuka. Salina keluar dengan membawa dua koper besar.
"Loh ibu mau kemana?" tanya Dimas bingung. Salina tidak menjawab. Hanya menggeret kopernya menuju pintu. "Kak... Kakak!"
Tari keluar dan mendatangi mereka.
"Ibu mau kemana?" tanya Tari.
"Bukan urusan kalian! Papamu udah meninggal jadi aku nggak punya urusan lagi disini. Lagipula, siapa yang tahan dengan tuduhanmu? Daripada aku dituduh terus, mending aku pergi!" hardik Salina.
"Tapi Tari nggak nuduh ibu. Tari hanya bertanya." buju Tari.
"Aku nggak perduli. Aku udah nggak punya urusan lagi disini. Dan satu hal, jual rumah ini! Aku tau harta peninggalan papamu hanya rumah ini dan aku berhak atas pembagian harta rumah ini. Papa kalian sudah berjanji akan memberikan bagianku. Jika kalian tidak memberikannya, aku akan tuntut kalian. Aku memiliki perjanjiannya." Salina meletakkan secarik kertas di atas meja lalu pergi sambil menggeret dua koper besar bersamanya. Tari mengambil kertas itu dan melihatnya.
"Lima puluh persen dari hasil penjualan rumah?" Tari terkejut. Dia ingin menyangkalnya tapi dia melihat tanda tangan Hendrawan yang sangat dia kenal telah dibubuhkan di atas kertas bermaterai itu. Tari dan Dimas saling menatap.
Acara tahlilan terselenggara dengan lancar. Tari membereskan rumahnya, sementara Dimas dan Adit bersama-sama mengangkat sofa dan memasukkan kembali ke dalam rumah. Mereka tadi mengangkatnya keluar agar tamu bisa duduk lesehan di dalam rumah dan agar lebih luas.
"Maaf, siapa ya?" tanya Dimas tiba-tiba. Ada seseorang yang membantunya mengangkat sofa. Adit berdiri mematung sejenak.
"Kak! Ada kak Renald." panggil Adit. Tari tersentak lalu buru-buru keluar rumah. Dan benar saja. Dia melihat Renald yang hendak membantu Dimas mengangkat meja. Renald tersenyum tipis.
"Kamu pasti uhmm Dimas, benarkan?" tanya Renald. Dimas mengangguk. Renald mengulurkan tangannya. "Renald. Suami kakakmu."
Dimas menyambut uluran tangan Renald. "Ahh.. Iya. Masuk aja kak. Biar aku dan Adit yang angkat ini." kata Dimas.
"It's okay. Biar aku bantu." Renald melepas jasnya lalu meletakkannya di atas meja yang akan dia angkat bersama Dimas.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Tari pada Dimas dan Adit setelah mereka selesai.
"Sudah kak. Harusnya kakak nanya kak Renald yang baru dateng. Kita sih udah tadi." sahut Dimas.
"Oke, kalau begitu kalian istirahat aja. Sisanya kakak yang kerjakan."
"Ohhhh kakak mau berduaan ya sama kak Renald, lepas kangen." goda Dimas.
"Astaga Dimas! Sudah sana naik." Tari menggelengkan kepalanya. Dimas dan Adit tertawa lalu naik ke lantai dua.
Tari menarik tangan Renald menuju dapur, agar kedua adiknya tidak mendengar pembicaraan mereka.
" Mau apa kamu kemari?" tanya Tari saat mereka sudah di dapur.
"Kamu masih bertanya? Kenapa kamu tidak memberitahukanku? Kenapa kamu langsung pergi begitu saja tanpa memberitahukanku?" Renald menghujaninya pertanyaan. Tari menatap Renald sejenak.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak butuh kamu disini. Disini bukan di New York, dimana namamu begitu berarti. Tidak ada yang tahu tentangmu bahkan mungkin perduli, selain para orang kaya. Dan aku bisa pastikan tidak ada yang seperti itu dikeluargaku. Jadi kamu tidak perlu berpura-pura bersimpati lalu kemari untuk melakukan tugasmu sebagai suami."
"Tapi aku memang suamimu."
"Di atas kertas kau ingat. Sudah aku katakan untuk melakukan tugas masing-masing dan tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kita tidak perlu berpura-pura sebagai pasangan yang harmonis disini."
"Benarkah? Bukannya keluargamu mengetahui pernikahan kita?"
"Itu urusanku, bukan urusanmu. Sekarang pergilah." Tari membuka pintu dapur agar Renald bisa keluar. Renald menghembuskan nafasnya kasar lalu keluar rumah. Tari segera mengunci rumahnya. Cukup di New York saja dia berurusan dengan Renald. Dia sudah cukup pusing dengan urusan ibu tirinya.
...***...