When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 22



Perkataan Veronica malam itu membuat Tari cukup kesal. Tari bahkan tidak perduli lagi alasan semua orang bersikap sopan padanya. Dia tidak akan bertanya pada siapapun tentang itu. Dia hanya membalas bersikap sopan dan berucap formal juga pada semua orang. Dia enggan bersikap santai lagi. Dia bahkan enggan berbicara pada siapapun. Prilaku Tari tentu menjadi perhatian sendiri bagi para pelayan di rumah itu dan Tari tidak perduli. Ucapan Veronica yang menuduhnya saja sudah mengganggunya, dia tidak akan membiarkan yang lain mengganggunya. Prioritasnya adalah membayar hutang.


Semalam ibu tirinya meminta uang lagi. Dengan alasan keperluan sekolah dan ayahnya. Tari selalu menyisakan uangnya untuk keperluan adik-adiknya dan ayahnya. Dia bahkan rela tidak membeli skincare atau make upnya yang hanya tinggal tempat kosongnya saja. Dia harus berhemat. Tapi Salina meminta lagi? Harus sebanyak apa agar ibu tirinya puas?


"Tidak baik melamun terus." ucap Randy. Tari sama sekali tidak menyadari kedatangan Randy.


"Aku tidak melamun."


"Benarkah?" tanya Randy dengan tatapan menyelidik. Tari mengangguk. "Jadi.. Apa sudah kamu pertimbangkan?" tanya Randy lagi.


"Entahlah... Aku masih perlu waktu."


"Baiklah. Tidak masalah. Jangan mengambil keputusan untuk orang lain. Harus untuk dirimu. Aku pergi."


Tari bingung. "Tumben, cepat sekali."


"Apa kamu ingin aku tinggal?" goda Randy. Tari tersenyum manis.


"Aku ingin kamu tunggu aku." ucap Tari dengan nada manja.


"Tunggu kamu pulang?" tanya Randy.


Tari menggeleng. "Tunggu aku usir. Hush!"


Randy tertawa kecil. "Tidak, terima kasih. Tidak hari ini. Tapi.. Kemana gadis yang satunya lagi?"


"Dia berhenti."


"Berhenti?" Randy terkejut.


Tari mengangguk. "Dia bersekolah lagi minggu depan."


"Ahhh..." Randy menganggukan kepalanya. "Baiklah. Aku pergi." Randy melambaikan tangannya.


"Maafkan saya, mau pesan apa?"


Tari mulai melayani pelanggan lain. Dia ditemani oleh Rick, yang baru masuk kemarin menggantikan Marisol.


Malam semakin larut. Pelanggan juga semakin berkurang. Hari ini masih hari kerja, jadi pengunjung masih tidak seramai weekend. Meski tidak dipungkiri, bar tempar Tari bekerja selalu ramai. Bar itu cukup luas. Di dekorasi dengan interior serba kayu dan viking. Pemilik bar sangat menyukai Viking. Dia bahkan menghiasi beberapa hiasan pada jaman viking berkuasa. Meski pegawainya tahu semua barang-barang itu adalah palsu, tapi cukup menarik bagi pelanggan. Meja bar cukup panjang, muat untuk beberapa orang. Ada meja tunggal juga sekitar sepuluh meja. Meski agak luas, bar itu bukan bar mewah. Hanya bar biasa yang menyatu dengan restoran.


"Rick, aku akan mengambil beberapa minuman di gudang." ucap Tari. Rick mengangguk. Tari segera pergi ke gudang makanan yang letaknya ada di bawah tanah. Tari menuruni tangga. Dia mengumpulkan minuman dan diletakkan di satu tempat. Tapi dia tidak segera pergi dari sana. Dia duduk di salah satu kursi dan menghela nafas panjang.


Di ruang bawah tanah sangat tenang. Tidak berisik. Hanya ada dia dan barang-barang. Tari membuka ponselnya. Dia melihat chat Salina yang tidak dia balas atau telponnya yang dia abaikan. Tari hanya membuka chat dari adiknya. Ayahnya sudah mulai sehat dan mulai mengikuti terapi. Biaya pengobatan dan terapi ayahnya sebenarnya lebih meringankan, karena ada asuransi. Tapi masih tidak cukup?


"Selesai." ucapnya.


Tari mengirimkan uang, lagi. Dia tidak ingin Salina pergi meninggalkan keluarganya. Setidaknya tunggu saat hutangnya sudah lunas dan ayahnya benar-benar sembuh.


"Aku harus bertahan."


Tari memejamkan matanya sejenak, memantapkan hatinya dan menumbuhkan semangat di dalam dirinya. Tari kembali ke atas dengan sekotak minuman beraneka jenis dan satu rak bir. Tari meletakkan bawaannya di lantai.


"Tari." panggil Rick. Tari menoleh. "Ada yang mencarimu." Rick menunujuk seseorang di sana. Orang itu duduk di depan meja bar, dengan minuman di tangannya. Orang itu menatapnya.


"Astaga... Mau apa dia? Waktu itu kekasihnya, sekarang dia?! Apa mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain menyiksaku?!"


Tari mendengus lalu mendatangi Renald. Terlihat dari pakaian yang di kenakannya, dia baru saja pulang bekerja.


"Kenapa mencariku?" tanya Tari datar.


"Kita pulang bersama. Akan aku tunggu." kata Renald.


"Terserah kamu saja." kata Tari lalu mendatangi salah satu pelanggan. Lebih tepatnya mengambil pelanggan yang akan di layani Rick, membuat Rick terkejut dan bingung. Tari tidak ingin berlama-lama bersama Renald. Bisa-bisa dia gila.


Tari terus saja menyibukkan diri agar tidak ada kesempatan berbicara dengan Renald. Sesekali dia meliriknya, untuk melihat apa yang dilakukan pria itu. Renald selalu asik dengan ponselnya. Dan tidak sedikit wanita yang menghampirinya. Entah apa yang mereka katakan, yang jelas Renald terlihat sekali menolak bahkan kadang tidak memperdulikan mereka.


"Aku sudah menikah." kata Renald tanpa menatap gadis itu. Matanya masih fokus pada layar ponselnya.


"Hei, aku tahu kamu menghindari kami. Ayolah.. Kita bersenang-senang." bujuk gadis berambut coklat gelombang itu. Wajahnya sangat cantik dengan tubuh ramping. Renald menunjukkan cincin di jari manisnya. Tari cukup terkejut melihat itu. Dia tidak tahu Renald masih menggunakan cincin kawin mereka.


"Dia istriku." ucap Renald sambil menunjuk Tari. Tari menoleh kanan dan kiri. Semua orang di meja bar itu menatapnya. Tari tersenyum kikuk.


"Aku rasa bukan. Jangan mengada-ada. Dia tidak terlihat seperti istrimu. Dia cukup terkejut saat kamu mengatakan dia istrimu." ucap gadis itu sambil menatap teman-temannya.


Renald mendengus lalu menyimpan ponselnya. "Beib, apa masih lama?" tanya Renald pada Tari.


"Hm? Ahh..." Tari menatap jam tangannya. "Setengah jam lagi."


"Aku tunggu di mobil ya? Terlalu banyak gangguan disini. Tidak nyaman."


"Yeah.. Terserah kamu saja."


Renald segera pergi dari sana, meninggalkan para gadis dengan raut wajah kebingungan. Para gadis itu menatap Tari. Tari hanya tersenyum dan pergi melayani pelanggan lain.


...***...


Sebelum masuk ke mobil, Tari mengatur nafasnya agar lebih tenang. Jika dengan Renald dia selalu merasa kesal. Bisa-bisa dia terkena tekanan darah tinggi. Tari masuk ke dalam mobil dan melihat Renald yang sedang menatap layar ponselnya. Tari menggelengkan kepalanya. Dia yakin sebentar lagi Renald akan menikah dengan ponselnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang sementara Tari dan Renald belum juga berbicara. Tari sebenarnya penasaran, apa yang Renald mau darinya. Waktu itu kekasihnya meminta Tari menjauhi Renald dan sekarang, apa yang Renald inginkan?


"Oke, baiklah. Apa yang kamu inginkan?" tanya Tari. Dia begitu penasaran dengan keinginan Renald. Dia ingin segera menyelesaikan masalah ini. Renald menatap Tari heran. Dia memiringkan kepalanya sedikit sambil menatap Tari. "Ayo katakan apa maumu?"


" Aku tidak mengerti. Kamu bicara apa?"


Tari menghela nafas kasar. "Waktu itu kekasihmu datang dan memintaku untuk menjauhimu. Aku sebenarnya bingung, bagaimana caranya aku menjauhi orang yang bahkan tidak dekat denganku, sama sekali. Malam ini kamu yang datang. Katakan apa maumu! Setelah itu aku mohon, dengan sangat, jangan ganggu aku lagi, biarkan aku hidup tenang, bekerja dengan tenang. Aku juga ingin dengan cepat melunasi hutangku." Tari melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya lurus ke depan.


"Ve datang padamu?" tanya Renald.


"Memangnya kamu punya kekasih yang lain? Wah luar biasa." Tari tertawa mengejek.


"Apa yang dia inginkan darimu?" tanya Renald lagi.


"Tanyakan saja padanya. Sekarang apa maumu?"


"Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya baru pulang bekerja. Jadi aku menjemputmu." kata Renald langsung memalingkan wajahnya pada layar ponselnya.


Tari menatap Renald penuh menyelidik. Dia benar-benar tidak ingin bermasalah dengan pria yang duduk di sebelahnya ini.


"Aku hanya ingin memberitahu padamu, aku akan bekerja di kantor Randy." ucap Tari. Sebenarnya Tari belum memberitahukan Randy jika dia menerima tawarannya. Tapi dia ingin memberitahukan Renald terlebih dahulu agar tidak menjadi masalah nantinya. Renald langsung menatap Tari dengan tatapan penuh arti.


"Kau menolak bekerja di perusahaanku tapi kamu menerima Randy? Kamu bercanda?!" tanya Renald dengan meninggikan suara. Supir mereka menatap mereka sejenak dari kaca.


"Apa kamu harus berteriak? Aku disini, tidak perlu berteriak." kata Tari. Renald hanya menatapnya seperti menunggu jawaban darinya. Tari menghela nafas. "Kenapa aku tidak boleh menerima tawarannya?"


"Aku suamimu dan aku memiliki perusahaan besar dimana kamu bisa bekerja. Tapi kamu akan bekerja dengan Randy?"


"Hmm... Aku memilihnya." ucap Tari. Renald mengerutkan keningnya. "Aku sudah merasa sangat tidak nyaman satu rumah denganmu jadi jangan harap aku nyaman satu kantor denganmu. Lagipula dia temanmu kan? Kenapa tidak?"


"Tidak! Aku tidak akan mengijinkannya!" ucap Renald. Tari tertawa.


"Kamu siapa bisa melarangku?" tanya Tari.


"Aku sua--"


"Miku? Suamiku? Itu yang mau katakan?" Tari tertawa mengejek. "Jangan terlalu kekanak-kanakan Ren, tidak baik untukmu. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, kenapa aku tidak? Hei! Yang mengikat kita hanya hutang! Tidak lebih! Aku bebas melakukan apapun yang aku mau! Kamu urus saja kekasihmu itu. Aku setuju dengan kekasihmu itu. Kabulkan saja permintaannya. Ceraikan saja aku. Aku juga akan tetap membayar hutangku!"


Tari membuka pintu mobilnya lalu segera pergi ke kamarnya. Renald mengeraskan rahangnya. Randy? Berani sekali!


...***...