
Tari sudah bersiap untuk pergi, setelah masak untuk sarapan kedua adiknya.
"Kakak mau kemana pagi-pagi?" tanya Dimas yang melihat Tari sudah rapi.
"Mau ketemu om Putra. Mau minta tolong urusin penjualan rumah ini." Tari menuang air mineral ke gelasnya.
"Kakak yakin mau jual rumah ini? Banyak kenangan kita disini. Ini rumah kita sedari kecil." tanya Dimas.
Tari menghela nafas. "Kita bisa apa mas. Sudah ada perjanjian di atas kertas itu. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi."
"Licik banget sih dia. Tabungan papa dan perhiasan mama udah dikuasai, sekarang rumah juga. Lima puluh persen? Bahkan dia tidak becus ngurus papa." ucap Dimas. "Awalnya aku juga nggak mau ambil pusing tapi semakin aku pikirkan terlebih dari perkataan Adit, Dimas semakin kesal."
"Memangnya Adit bilang apa?"
"Ibu nggak pernah di rumah. Papa tidak di kasih makan secara teratur. Adit aja di larang melihat papa beberapa kali."
"Bukannya papa sudah semakin sehat dan mulai terapi?" tanya Tari.
"Itu benar kak. Saat papa di rumah sakit tentu di rawat dengan baik. Ada suster dan dokter. Tapi begitu di rumah, sudah keteteran. Maksud Aditkan, Adit bantu ibu gitu, buat rawat ayah. Tapi gimana bisa bantu, Adit aja nggak boleh ketemu papa. Bilangnya nanti papa stres lah, papa tidur lah. Lebih parahnya, papa di wajibkan terapi tiga kali dalam seminggu. Mending jika seminggu sekali masih terapi, ini sama sekali tidak terapi. Hanya seminggu pertama saat papa keluar rumah sakit. Kan stress itu namanya. Gk normal banget. Kata Adit dia juga minta uang sama kakak?"
"Benar. Alasannya untuk ayah dan kalian berdua."
"Nggak masuk akal. Aku bahkan nggak nerima sepeserpun kak! Untung aja aku ada kerjaan, jadi nggak terlalu berat. Yang aku kasiani itu Adit. Ntah makannya gimana. Adit bilang dia hanya di kasih seratus ribu perbulan. Kesel banget aku. Aku dah nahan-nahan marah ke dia tapi kalo begini caranya udah nggak bener kak. Dan kita harus beri rumah ini ke dia lima puluh persen? Nggak ikhlas aku kak. " ucap Dimas dengan menggebu. Dia terlihat marah. Tari mengelus punggungnya.
"Sekarang kakak mau nanya, kamu mau mempertahankan rumah ini tapi kamu harus terus berurusan dengannya, atau merelakan rumah ini untuk di jual tapi kita nggak perlu berurusan dengannya lagi?"
Dimas tidak menjawab. Dia hanya memijat keningnya.
"Kakak rasa lebih baik kita relakan saja rumah ini dan nggak perlu berurusan lagi dengannya. Jika kita ngotot mempertahankan rumah ini, iya kalo kita menang, kalo kita kalah? Kita akan terus berurusan dengannya dan dia kemungkinan akan minta lebih dan lebih jika kita kalah. Tidak akan ada habisnya. Aku yakin jika papa dan mama disini, mereka nggak akan mau kita habiskan hidup kita seperti itu."
Dimas menghembuskan nafasnya.
"Kakak bener. Lakuin aja yang terbaik untuk kita, kak. Kakak yang tertua, jadi kakak yang memutuskan." ucap Dimas akhirnya.
"Oke, kalau begitu kakak kerumah om Putra dulu. Kamu dirumah baik-baik ya. Itu ojek online kakak udah dateng."
"Oke."
Tari beranjak pergi.
Tari membicarakan dengan om Putra, adik Hendrawan, tentang penjualan rumah. Tari menceritakan tentang tuntutan ibu tirinya. Tentu om nya sangat marah. Tapi Tari berhasil menenangkan om Putra dan om Putra berjanji akan membantu mereka. Tari langsung pulang ke rumah sehabis dari rumah om Putra. Di pintu luar, dia mendengar suara orang berbicara dan tertawa. Tari membuka pintu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.. Udah dateng kak?" Dimas menyambutnya. Tapi disana tidak hanya ada Dimas, tapi Renald juga. Mau apa lagi dia?
"Udah beres kak masalahnya?" tanya Dimas.
"Udah. Katanya om Putra mau bantu." kata Tari langsung melenggang pergi ke kamar papanya tanpa menyapa Renald. Dimas bingung dengan sikap Tari yang cuek pada suaminya sendiri. Dia yakin pasti kakaknya sedang bermasalah dengan suaminya.
Di dalam kamar, Tari memperhatikan sekitarnya. Dia teringat mama dan papanya. Hari ini dia berencana untuk membersihkan kamar ini. Dia mengambil kantong plastik besar dan beberapa kardus yang telah dia siapkan. Tari memasukkan barang-barang seperti baju-baju dan lainnya.
Renald tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan menggulung kemejanya lalu membantu Tari.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." kata Tari. "Bukannya sudah aku katakan tidak perlu kemari?"
"Meski di atas kertas, kamu tetap istriku dan dia ayah mertuaku. Tidak ada yang bisa mengubah itu." kata Renald. Dia mulai memasukkan barang yang ada di meja rias. Tari hanya diam. Bahkan mereka melakukan semua itu tanpa berkata apapun selama satu jam penuh.
Renald membawa keluar kotak-kotak berisi barang dan menumpuknya di ruang tamu.
"Kak.." panggil Dimas di depan pintu kamar ayahnya. Tari menoleh. "Mau makan siang apa? Kita pesen aja ya?"
"Boleh. Terserah kamu aja. Kakak ngikut." jawab Tari.
"Oke.. Kalo kak Renald?"
"Dim!" panggil Tari saat Renald akan mengatakan sesuatu. Dimas terkejut. Karena kakaknya seperti berteriak memanggil namanya. Dimas menoleh. "Sini."
Dimas mendatangi kakaknya. "Kenapa?"
"Kamu pesan yang mahal aja untuk Renald. Nanti kakak yang bayar." bisik Tari.
"M-mahal?" tanya Dimas. Tari mengangguk. "Kenapa begitu? Dan kenapa kita berbisik?"
"Aku takut dia nggak terbiasa dengan makanan rakyat jelata. Jadi pesen aja yang mahal." bisik Tari.
"Oohh..." Dimas mengangguk mengerti. "Oke."
Dimas keluar dari kamar papanya dan terkejut mendapati Renald sudah di depan kamarnya.
"Oh hai kak. Bagaimana dengan steak? Aku pesankan steak daging hanwoo." ucap Dimas sambil tersenyum lalu naik ke lantai atas. Renald menghela nafas. Tari membawa satu kantong plastik besar penuh.
"Biar aku saja." kata Renald lalu membawa kantong itu.
"Ada apa sih dengannya?" gumam Tari. Tari kembali masuk ke dalam kamar.
Makan bersama sangat canggung, terlebih Tari tidak pernah satu meja dengan Renald. Sekali, saat mereka pertama kali bertemu. Setelah itu, tidak pernah. Tari selalu menghindarinya. Tari awalnya ingin makan nanti saja. Tapi Dimas memaksa. Jadi disinilah dia, duduk bersama suami dan adiknya dan begitu canggung. Tari dan Dimas makan ayam geprek dan Renald makan steak. Renald tiba-tiba menukar miliknya dengan Tari.
"Ohh tidak, tidak. Aku bisa memotongnya sendiri. Lagi pula aku akan makan menggunakan ta-- astaga, itu pedas!" pekik Tari saat melihat Renald memakan ayam geprek milik Tari. Dengan cepat wajah Renald menjadi merah. Mulutnya terbuka lebar. Dia mengusap keringat di dahinya. Dimas memberikan air minum, sementara Tari mengambil susu di kulkas, menumpahkannya di gelas dan memberikannya pada Renald. Renald langsung menghabiskannya. Tari dan Dimas tersenyum geli. Tari menutup mulutnya dengan tangannya. Dia tidak ingin kelepasan tertawa.
"Makanan apa itu? Itu bukan untuk di makan!" kata Renald sambil menunjuk ayam geprek.
"Ren, itu makanan, tentu untuk di makan."
"Bagaimana bisa orang makan makanan seperti itu?! Itu sangat pedas!" pekik Renald.
"Itu karena kamu tidak terbiasa. Lihatlah Dimas, dia kepedasan tapi dia baik-baik saja. Karena dia telah terbiasa. Ini." Tari menyodorkan steak milik Renald. "Sebaiknya makan ini saja."
"Tidak!"
"Kamu ingin melanjutkan makan ayam itu?" Tari terkejut. Renald menggeleng.
"Baik aku atau kamu, jangan memakannya lagi. Makan yang lain saja." kata Renald.
"Sayang Ren kalau tidak di makan. Jangan buang-buang makanan." Tari menarik piringnya tapi Renald menahannya.
"Tidak, jangan. Jangan makan itu! Pesan yang lain!"
"Udah kak, pesen yang lain aja. Aku pesenin ya?" tawar Dimas.
"Yahh Dim, mumpung disini makanya mau makan ini. Lah kok disuruh makan yang lain?" protes Tari.
"Pokoknya yang lain yang tidak sepedas ini. Dim, pesan yang lain."
"Oke kak."
Tari duduk di kursinya dengan kesal. Dia menghembuskan nafasnya kasar.
"Kenapa dia yang jadi atur makananku? Menyebalkan!"
...***...
"Ini sudah hampir gelap, bukannya kamu harus pulang?" kata Tari pada Renald. Dia sedang mengurus makanan untuk tahlilan hari ketiga papanya di meja makan.
"Biarkan aku disini sampai acara selesai." pinta Renald.
"Untuk apa?"
"Mungkin aku bisa membantu sesuatu."
"Tidak ada yang perlu anda bantu, tuan William. Jadi pergilah." pinta Tari. "Dan tenang saja, aku akan kembali ke New York. Aku masih memiliki hutang padamu."
"Bukan itu maksudku. Tapi karena kamu membahasnya..." Renald menarik tangan Tari ke dapur. "... Bagaimana dengan adik-adikmu?"
"Kenapa dengan mereka?" tanya Tari lalu sedetik berikutnya dia sadar. "Ahhh tenang saja, mereka tidak akan ikut denganku ke New York dan membebanimu. Mereka akan tetap disini. Jangan khawatir."
"Justru aku ingin mereka ikut ke New York."
"Hm? Untuk apa? Agar mereka mengetahui kebohongan hubungan kita? Tidak, sebaiknya tidak. Aku merahasiakan semua ini pada mereka agar mereka tidak terbebani apapun. Jadi sebaiknya jangan. Mereka baik-baik saja."
"Aku bisa mempekerjakan Dimas di perusahaanku dan Memasukan Adit ke universitas yang bagus di New York." tawar Renald.
"Untuk apa? Aku hanya sebentar di sana. Setelah hutangku lunas dan aku bercerai, aku akan kembali dan mengurus adik-adikku."
"Bercerai? Apa maksudmu bercerai?" Renald mengerutkan keningnya.
"Ren, pernikahan kita bukan sebenarnya. Ini tidak nyata."
" Apa maksudmu tidak nyata? Kita menikah sah secara agama dan hukum Indonesia."
"Ya, benar. Hanya di atas kertas, kau ingat? Kau yang mengatakannya, menegaskannya."
"Mungkin itu benar. Tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu."
Tari terkejut. "Apa katamu?!"
"Aku tidak perduli kamu membayarnya atau tidak. Tapi aku tidak akan pernah menceraikanmu." kata Renald lagi. Tari menghela nafasnya.
"Baiklah, sekarang katakan apa alasannya. Aku tahu Veronica memintamu untuk menikahinya. Kamu mencintainya, menikahlah dengannya. Setelah hutangku lunas aku tidak akan menghalangi kalian."
"Alasannya adalah semua menjadi berbeda setelah kamu datang." gumam Renald dalam hati. Entah kenapa dia tidak bisa mengucapkannya.
Tari mengerutkan keningnya. "Kamu bahkan tidak bisa mengatakan alasannya dan kamu tidak ingin bercerai? Jangan gila Ren! Kita berdua tahu pernikahan ini terjadi bukan karena cinta tapi karena uang, karena hutang!"
"Apa? Apa maksud kakak?" tanya Dimas yang sudah berada di sana. Gawat!
...***...