When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 29



Helena dan Deborah saling menatap dan tersenyum. Ya, itu semua karena mereka berdua. Awalnya mereka ragu Renald akan move on dari Veronica, tapi ciuman kecil yang di berikan Renald saat pesta merubah segalanya. Mereka tahu Renald memiliki ketertarikan pada Tari dan mungkin, malah sudah memiliki perasaan pada Tari. Jadi mereka mengatur semuanya. Pertemuan dengan investor di paris sebenarnya adalah rencana Helena dan Deborah. Sang investor adalah sepupu Helena yang menetap di paris. Dia bersedia ke New York untuk bertemu Renald tapi Helena meminta agar sepupunya itu berpura-pura untuk tidak bisa hadir ke New York. Sebagai gantinya, diundang ke paris dan berpasangan.


Helena dan Deborah juga membujuk suami dan tunangan mereka untuk membayar kamar hotel yang memiliki dua kamar terpisah di dalamnya. Tentu kamar itu kosong saat ini, tidak ada yang menempati.


"Tari, kami ingin lanjut minum teh, apa kamu mau ikut?" tanya Helena.


"Ahh... Aku mengantuk. Apa boleh aku tidak ikut dan ke kamar saja?" pinta Tari. Helena tersenyum.


"Tentu saja. Istirahatlah." kata Helena. Tari mengangguk dan tersenyum.


"Terima kasih. Saya permisi."


Tari beranjak pergi dari sana dan langsung menuju kamarnya. Dia mengganti pakaian dan menghapus make upnya lalu menghempaskan diri di sofa. Dia benar-benar lelah.


Jam satu malam Renald baru kembali ke kamar dalam keadaan setengah mabuk. Renald menatap Tari yang sudah tidur di sofa panjang. Dia hanya berdiri dan menatap Tari beberapa detik lalu akhirnya menuju ke tempat tidur. Tanpa perduli dengan pakaian formal yang masih dia gunakan, Renald memejamkan matanya.


...***...


Tari duduk diam di meja kerjanya. Dia di tatap tiga temannya, menunggu jawaban darinya. Meski Tari sudah memberitahu mereka lewat chat grup, mereka tetap ingin mendengar langsung darinya.


"My god, Tari! Kenapa diam saja? Apa kamu tidak lihat kami sudah diam seperti anak sekolah yang mendengarkan gurunya mengajar?" protes Lucy. Dia mendengus melihat Tari hanya diam.


"Aku bingung. Aku harus bilang apa? Bukannya aku sudah katakan semuanya di grup chat?"


"Tapi kami ingin mendengarnya langsung!" kata Michel setengah berteriak.


"Okay baiklah. Aku di bawa ke paris tanpa membawa satu helaipun baju ganti. Lalu kami tidur di satu kamar dengan satu ranjang. Tapi... Tapi aku tidur di sofa, jadi jangan berpikiran aneh. Lalu aku berkeliling di paris, beli pakaian tentu, malamnya makan malam bersama investor."


Michel menghela nafas. "Kenapa jadi membosankan?"


"Hm? Apa maksudnya?"


"Tidak berciuman apalagi bercinta. Itu membosankan, honey." Michel kembali ke mejanya.


"Kenapa kamu berpikir aku akan melakukan hal itu?"


"Because you're in Paris. Itu kota cinta!"


"Dan kamu tahu betul bagaimana hubunganku dengannya." kata Tari.


"Well yeah... Seharusnya aku tidak berharap."


"Tapi kamu baik-baik saja kan? Hanya jangan mendengarkan perkataan orang lain di kantor ini, oke?" saran Jen.


"Oh tidak.. Ada rumor apa lagi disini?" tanya Tari dengan wajah memelas.


"Tenang saja. Jangan perdulikan mereka dan kau akan baik-baik saja."


Tari menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah."


"Sebenarnya kamu itu siapa sih? Beraninya mendekati Randy?!" hardik Crystal saat dia baru saja datang. Wanita itu melipat tangan di depan dadanya, menatap Tari dengan jijik. "Tidak hanya Randy, tapi Renald juga?! Cih! Dia pikir dia cantik."


"Kamu sendiri? Kamu pikir kamu cantik?" balas Jen.


"Tentu saja. Apa kau buta?!"


"Tapi kamu tidak bisa mendapatkan pria sekelas Randy? Kau yakin kau cantik? Atau hanya murahan?"


"Kau..."


"Apa? Aku tidak salahkan?"


Crystal mengeraskan rahangnya. "Aku peringatkan padamu. Berani mendekati Randy lagi, aku tidak akan tinggal diam."


"Wahhh lihatlah dia. Memangnya siapa dia? Pacar bukan, istri bukan. Jangan permalukan dirimu Crystal. Berkacalah!" Jen terus membalas perkataan Crystal.


"Ya dan kau jal*ng di klub badutmu ini." balas Crystal.


"Apa katamu?!" Lucy menahan tubuh Jen yang akan menyerang Crystal. Tari menghela nafas lalu mendekati Crystal.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak memiliki hubungan romantis bersama Randy. Ya, aku mengenalnya. Kami pernah bertemu dan berbicara beberapa kali. Tapi tidak ada hubungan apapun, kecuali teman."


Crystal tertawa mengejek. " Kamu pikir aku percaya pada omong kosongmu itu?!"


"Seharusnya kamu percaya." kata sebuah suara. Crystal berbalik dan Tari menoleh. Randy sudah berdiri di belakang Crystal.


"Ra-Randy... Sebuah kejutan!!" pekik Crystal. Matanya berbinar saat menatap Randy. Tari memutar bola matanya jengah.


"Sedang apa kamu disini? Apa kamu bekerja di divisi ini?" tanya Randy dengan wajah dinginnya. Crystal menggeleng.


"Bukan. Saya dari humas." ucap Crystal sambil memainkan rambutnya. Di depan Randy dia tampak wanita anggun dan innocent. Tari mengerutkan keningnya.


"Lalu untuk apa kamu kesini?" tanya Randy masih dengan wajah dinginnya.


"Ahhh saya... Saya hanya ingin memperingati wanita jala--maksud saya... Wanita ini agar tidak menyebarkan rumor buruk tentang.. Anda." jawab Crystal. Dia gugup. Tatapan tajam Randy mengintimidasinya.


"Bukannya dia yang menyebar rumor. Lah kenapa aku yang di tuduh." Tari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa begitu? Aku tahu Tari tidak akan menyebarkan apapun pada siapapun. Aku mengenalnya." kata Randy membuat Crystal terkejut.


"Anda... Mengenalnya?"


Randy menatap Tari. "Tentu saja. Dia istri dari teman baikku, Renald. Dan wanita yang akan aku rebut dari sahabatku sendiri."


Tari melongo dengan sukses mendengar jawaban Randy.


"Astaga Apa-apaan itu? Kenapa dia malah memperparah keadaan?"


"Ba-baik pak!" Crystal berlari kecil menuju lift.


"Apa-apaan itu tadi? Kenapa kamu berbohong? Kamu malah memperparah keadaan! Aku yakin dia pasti akan salah paham." Tari mendengus. Randy sama sekali tidak membantu!


Randy mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya mengatakan sejujurnya."


Tari menggeleng. Tentu Tari menganggap itu hanya candaan Randy " Aku kira kamu akan membelanya. Lalu berkencan."


" Aku tidak semurah itu. Aku tidak berkencan dengan semua orang. Tidak dengan wanita seperti itu." jelas Randy. Tari memicingkan matanya. "Apa? Itu benar."


"Baiklah, terserah kamu saja." Tari menyerah.


"Makan siang bersama. Deal?"


"No deal. Sana pergi! Apa kamu tidak tahu mereka sangat gugup jika ada kamu disini?" Tari menunjuk pegawai yang lain.


"Kenapa begitu? Aku tidak menggigit."


Tari mendorong tubuh Randy menuju lift. "Hush hush." usirnya lalu kembali ke mejanya.


"Wah.. Baru kali ini ada pegawai yang mengusir bosnya." Randy menggeleng lalu tertawa kecil.


...***...


Tari baru saja sampai rumah. Dia di sambut Anne dan Marissa. Tari menghembuskan nafasnya kasar. Dia sudah berkali-kali meminta Anne dan Marissa untuk tidak menyambutnya bak ibu-ibu pejabat atau ibu presiden. Risih sekali rasanya. Terlebih dia tahu diri. Dia bukan nyonya di rumah ini.


Tari masuk tanpa memperdulikan Anne dan Marissa. Dia tidak langsung ke kamarnya. Dia mampir ke dapur dulu untuk mengambil apel dan roti untuk cemilannya lalu langsung menuju kamarnya.


Saat akan naik tangga, Tari melihat Veronica masuk dengan langkah cepat dan tampak sangat marah. Tari yang tidak perduli padanya mulai menaiki tangga. Tangan Veronica memegang tangan Tari lalu menariknya turun. Tari terpeleset dan hampir terjatuh. Untung saja dia bisa menyeimbangkan tubuhnya, meski membuat kakinya terkilir. Tari berdiri dan menatap Veronica.


"Apa maksudnya itu?" tanya Tari tidak terima di perlakukan kasar.


"Berani sekali kamu!" pekik Veronica. "Berani sekali kamu merebut Renald dariku!!"


"Apa?! Apa kamu sudah gila?!"


"Gila katamu?! Sini, aku akan tunjukkan kegilaanku."


Veronica menjambak rambut Tari lalu menariknya ke kanan dan ke kiri.


"Lepaskan!" pekik Tari.


"Tidak! Nikmati saja kegilaanku, jal*ng!"


Tari mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman Veronica cukup kuat. Anne dan Marissa ingin memisahkan mereka, tapi Tari menolak.


"Jangan pisahkan kami!"


"Ooohhh... Sudah merasa hebat rupanya. Sudah merasa menjadi nyonya rumah disini, hah!!" Veronica semakin menguatkan jambakannya.


"Aku tidak akan membiarkan Veronica menyakitiku!"


Tari mengangkat satu tangannya ke atas lalu masuk dari bawah lengan Veronica ke bagian dalam tangan Veronica yang menjambaknya. Dia memutar tanganya kembali keluar. Seperti melilit tangan Veronica dengan tangannya lalu menghentaknya kesamping. Veronica berteriak kesakitan. Dia memegangi tangannya.


Tari menghembuskan nafasnya kasar dan mengatur nafasnya. Dia mengelus bagian rambut yang tadi di jambak Veronica.


"Dasar wanita gila!" umpat Tari. "Aku sudah memintamu, memohon padamu, agar membujuk Renald menceraikan aku. Tapi nyatanya, lihatlah! Tidak ada yang terjadi. Jika kamu begitu mencintainya, lakukan saja yang aku minta, agar kalian cepat menikah. Dan satu lagi! Aku hanya bersikap profesional. Aku hanya tameng, kau ingat? Tameng untuk menggantikanmu menghadapi orang-orang sebagai istri Renald. Aku hanya melakukan tugasku, demi tuhan! Jika kamu tidak terima, kamu tahu yang harus kamu lakukan. Permisi!" Tari menepis pelan, bahkan hampir tidak menyentuh tubuh Veronica yang menghalangi jalannya menaiki tangga, tapi anehnya Veronica seperti menjatuhkan dirinya ke lantai dengan keras.


"Aahhhh!!!" pekik Veronica. Tari terkejut.


"Ve!!" Renald yang baru datang langsung berhambur menuju Ve. Tari terkejut melihat Renald sudah datang, tapi sedetik berikutnya di sadar, Ve hanya berpura-pura di dorong olehnya agar dia disalahkan. Dasar ular bermuka dua!


"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Renald. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Dia menatap tajam Tari.


"Aku tidak melakukan apapun. Itu bukan kesalahanku!"


"Sakit Ren... Dia mendorongku tadi. Padahal aku hanya menunggumu pulang, tapi dia mengusirku dengan kasar."


Tari menatap tidak percaya pada kata-kata Veronica. Dia tidak menyangka dia akan terlibat drama opera sabun dengan adegan klasiknya. Tari menghembuskan nafasnya kasar. Dia benar-benar benci drama opera sabun!


"Kenapa kamu mendorongnya?!" tanya Renald.


"Sudah aku katakan, aku tidak mendorongnya. Dia terjatuh sendiri. Apa kamu begitu dibutakan oleh cinta hingga kamu tidak bisa melihat yang sebenarnya?!" pekik Tari. Dia mengangguk. "Jika kamu tidak percaya, terserah! Aku tidak perduli! Urus saja kekasihmu yang tidak masuk akal itu!" kata Tari langsung menaiki tangga.


"Apa katamu?!" Renald berdiri dan menatap Tari yang menaiki tangga tanpa menoleh.


"Ren... Aku kesakitan.." ucap Veronica dengan manja. Dia menarik-narik kecil celana Renald.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Renald yang sudah duduk di atas kakinya disisi Veronica.


"Sakit..."


"Apa kamu bisa berjalan?" tanya Renald. Veronica menggeleng pelan. Renald mengangguk. "Baiklah."


Renald mengangkat tubuh Veronica dengan kedua tangannya, ala bridal style.


"Bawa kotak obat ke ruang kerjaku!" perintah Renald lalu segera masuk ke ruang kerjanya.


"Baik tuan." Alfred berjalan menuju kota obat tersimpan. Anne dan Marissa saling menatap. Mereka tahu, Tari akan dalam masalah, Tari akan disalahkan, lagi.


...***...


Rate, like and komen biar semangat nulisnya.. Makasih ^_^


Note : Aku buat cerita baru nih. Judulnya Merried with a tomboy. Di baca, rate, like and komen yaa.. Makasih