When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 39



Tari dihadapkan dengan beberapa pamflet rumah baru yang di jual baik di New York, Los Angeles maupun California sehabis makan malam. Dia hanya bengong menatap semua pamflet itu.


"Tunggu, apa tadi?" tanya Tari. Dia masih bingung.


"Anda diminta tuan untuk memilih rumah yang anda inginkan." jelas Anne. Tari menghembuskan nafasnya.


"Ini apa lagi sih?"


"Minta dia pilih sendiri. Dia yang punya rumah kenapa aku yang repot?"


Tari beranjak pergi dari meja makan dan menuju kamarnya. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa dengan Renald akhir-akhir ini. Renald menyukainya? Tari terus mengelak. Dia merasa tidak menemukan alasan yang tepat jika memang Renald menyukainya.


...***...


Beberapa hari kemudian, Renald sudah menunggu Tari di bawah tangga. Renald menatap Tari penuh arti dari bawah sementara Tari menghentikan langkahnya saat melihat Renald. Dia begitu gugup. Bukan karena di tatap Renald tapi dia tidak tahu apa yang akan di lakukan Renald.


"Kenapa diam saja di sana? Sini turun, aku mau bicara sesuatu." kata Renald. Tari ragu sejenak. Perasaannya mulai tidak enak. Tari melangkah pelan menuju Renald. Dia berusaha menjaga jaraknya sejauh mungkin. "Kamu berdiri terlalu jauh. Kemarilah."


"Sebaiknya disini saja." kata Tari. Renald menghela nafas.


"Kita akan pindah rumah besok." kata Renald. Tari mengangguk.


"Oke, baiklah. Aku mengerti. Aku akan bersiap nanti malam sepulang kantor." kata Tari. "Aku pergi dulu."


"Tidak sarapan? Ayo sarapan bersama." ajak Renald.


"Tidak. Aku akan sarapan dengan Michel dan Jen." Tari berjalan melewati Renald.


"Kita akan sekamar." kata Renald membuat Tari menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Apa?"


"Kamu dengar aku. Saat di rumah baru nanti kita akan sekamar." kata Renald.


"Dan kenapa harus seperti itu? Apa di rumah barumu hanya ada satu kamar?"


"Delapan. Tapi kita tetap sekamar."


Tari menghembuskan nafasnya kasar. "Alasannya?"


"Kita suami istri, sudah seharusnya kita tidur di satu kamar."


"Ahh... Hahahahha.." Tari tertawa. Dia tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. "Karena suami istri kita harus tidur bersama katamu? Omong kosong macam apa itu?!"


"Itu bukan omong kosong, itu kenyataan. Kemungkinan mom juga akan datang." kata Renald lagi.


Tari menghembuskan nafasnya. "Baiklah setelah mom pergi, kita pisah kamar lagi."


"Itu tidak akan pernah terjadi." kata Renald.


"Ren, aku sungguh tidak ingin berdebat di pagi hari, jadi aku mohon untuk tidak memulainya."


"Baiklah, ayo pergi. Hari ini aku yang antar." kata Renald lalu pergi begitu saja saat Tari akan protes.


"Astaga aku benar-benar tidak ingin berdebat tapi dia terus begitu." Tari mendengus lalu mengikuti Renald.


...***...


Ucapan Renald bukan sekedar isapan jempol semata. Besoknya setelah pulang kantor, Tari benar-benar di kejutkan dengan bajunya yang tertata rapi bersebelahan dengan baju Renald di dalam walk in closet. Semua barangnya sudah tersusun rapi di kamar itu. Tari berkeliling kamar itu. Sangat luas dan elegan. Ranjang king size di tengah dengan tv yang cukup besar. Balkon sudah terisi ayunan bulat dan sofa. Rumah itu sangat luas dan besar. Hanya saja tidak sebesar mansion lama dan bentuknya juga lebih modern.


Tari hanya bisa pasrah. Apalagi ibunya Renald akan datang. Semua harus sempurna.


Tari memutuskan mandi dan berganti pakaian sebelum makan malam. Dia selalu makan malam sendirian. Renald selalu tidak pulang. Tentu dia senang. Pasti tidak akan tenang jika ada dia di meja makan. Malam ini Tari makan masakan olahan daging. Tumis daging dan beberapa makanan lain yang mengandung daging. Koki sudah hafal kesukaan Tari dan selalu masak untuknya. Tari makan di meja bar. Dia tidak terlalu suka makan di meja makan. Lebih nyaman di bar. Kadang dia mengajak para koki berbicara. Jika di meja makan, dia akan duduk diam makan di sebuah meja makan panjang.


"Apa menu malam ini?" tanya Renald yang baru saja datang. Tari menoleh sejenak lalu kembali ke makanannya. Renald mendekat, tepat di samping Tari.


"Apa aku boleh minta makananmu?" tanya Renald. Tanpa berbicara, Tari menyodorkan piringnya. "Tidak, suapkan aku. Aku baru pulang. Tanganku kotor."


Tari mengambil piringnya lagi lalu menyuapi Renald tanpa berbicara sama sekali.


"Apa anda mau tuan?" tanya koki utama rumah itu.


"Tentu, siapkan untukku."


"Baik tuan."


"Bagaimana kamarnya? Apa kamu suka?" tanya Renald.


"Hanya sampai ibumu datang. Setelah itu aku akan cari kamar sendiri." kata Tari lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Kita akan terus sekamar. Aku mandi dulu." kata Renald lalu mencium pipi Tari dan ke atas. Tari yang di cium, membeku di tempat. Apa-apaan itu tadi?


Setelah makan malam, Renald sudah duduk di atas kasur dengan laptop dipangkuannya. Tari yang baru keluar dari kamar mandi mulai bingung. Rasanya aneh jika dia dengan santainya tidur di sebelah Renald. Bahkan saat di York saja, dia tidur di sofa. Tari menatap sofa panjang yang ada di belakangnya.


"Jangan berani berpikiran untuk tidur di sofa itu." kata Renald yang mendapati Tari sedang menatap sofa panjang. "Kasur ini besar, cukup untuk kita berdua. Kemarilah, tidur disini." kata Renald. Tari tidak bergerak dari tempatnya


Renald menghela nafas. "Kemarilah."


Tari ragu. Dia benar-benar tidak ingin berada di sana. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Harusnya dia hanya bertahan sampai hutangnya lunas. Tapi kenapa sekarang pakai acara berbagi kamar dan kasur segala?


"Kenapa masih diam di sana? Apa kamu tidak mengantuk?" tanya Renald. Tari diam saja dan masih mematung. Tari tidak ingin berada di ruangan ini, tempar tidur itu. Tari mengambil ponselnya di atas nakas lalu pergi keluar kamar. Tari memutuskan untuk berkeliling rumah saja. Dia belum berkeliling rumah. Mungkin saat dia selesai berkeliling rumah, Renald sudah tidur. Lalu dia akan tidur di sofa. Rencana sempurna.


Kamar Tari berada di lantai paling atas. Dia memutuskan untuk berkeliling lantai paling bawah dulu. Rumah itu memiliki tiga lantai dan rooftop. Di rooftop ada gazebo dan beberapa tempat duduk. Di lantai tiga adalah kamar. Kamar utama maupun kamar tamu. Lantai dua ada ruang tamu, dapur, ruang makan, satu kamar tamu dan ruang kerja Renald. Pintu masuk juga ada di lantai dua. Sementara lantai tiga ada garasi mobil yang sudah di penuhi mobil sport Renald, bioskop rumah, bar, penyimpanan wine, spa, ruang bermain golf, biliar bahkan video game. Waahh dia menghabiskan uang berapa banyak hanya untuk semua ini? Tari menggelengkan kepalanya.


Tari duduk di salah satu kursi di meja bar bioskop. Dia menatap layar yang tidak menyala sejenak lalu mengutak-atik ponselnya.


"Kenapa kamu disini bukannya tidur?" suara Renald membuat Tari terkejut. Dia hampir menjatuhkan ponselnya. "Apa kamu ingin nonton?"


"A-ahh. Tidak, tidak... Kenapa kamu belum tidur?" tanya Tari.


"Aku ingin memastikan kamu tidur di sampingku." jawab Renald. Sial!


Renald duduk di depan Tari. Dia menatap Tari lekat. Membuat Tari gugup dan salah tingkah. Tari berdehem.


"Kembali saja ke kamar. Aku hanya berjalan-jalan di sekitar rumah." kata Tari.


"Apa kamu menyukai rumah ini?" tanya Renald.


"Rumah ini dan rumah lama itu sama saja. Sama-sama besar dan luar. Jauh kalau mau kemana-mana. Capek." keluh Tari membuat Renald tertawa kecil. Tunggu, dia tertawa? Baru kali ini Tari melihat Renald tertawa. Renald yang dingin, bermuka datar, kikuk, ternyata bisa tertawa? Tari langsung menyadarkan dirinya yang terpaku menatap Renald.


"Tidurlah di kamar. Sepertinya kamu lelah. Tenang saja, tidak akan terjadi apapun." kata Renald.


"Tentu saja tidak akan. Kamu bahkan tidak akan menyentuhku. Aku bukan Veronica." gumam Tari pelan tapi terdengar di telinga Renald.


"Kenapa tidak?" Renald menggenggam tangan Tari. Tiba-tiba dia berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Tari dan semakin dekat. Renald beralih menatap bibir Tari, seakan dia akan menciumnya. Tari membulatkan matanya lalu lompat dari kursinya.


"Ka-kamu mau apa?"


Renald tersenyum lalu kembali ke posisi sebelumnya. "Duduklah.".


Tapi Tari tidak bergerak. Dia hanya diam di tempatnya.


"Aku tidak akan melakukannya lagi, duduklah." bujuk Renald. Tari kembali duduk di kursinya. "Aku bisa melakukannya. Menciummu, memelukmu bahkan bercinta denganmu. Dengan senang hati." kata Renald dengan senyuman mengembang di wajahnya. Ada apa dengannya?


"Tapi aku tidak akan melakukan itu." lanjutnya lagi. "Tidak tanpa ijinmu. Atau dalam keadaan mendesak."


"Keadaan mendesak?"


"Hmmm keadaan mendesak. Seperti.... Kamu yang menginginkannya?"


"Ahh..." hanya itu yang bisa dia katakan. Dia belum gila meminta hal seperti itu.


"Jadi, tidurlah disana. Terbiasalah disana. Aku tidak akan memaksamu bercinta atau menciumku, memelukku. Tanpa seijinmu. Tapi aku akan tetap menggodamu."


"Menggodaku?"


"Menggodamu, merayumu, dan membuatmu jatuh cinta padaku."


"Apa??"


Renald tertawa lagi. "Ayo kita tidur. Aku sudah berjanji padamu. Ayo."


Renald menarik tangan Tari yang pasrah mengikutinya. Ya, Renald telah memutuskan. Dia akan membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang sebenarnya, tidak di atas kertas lagi. Dia akan membuat gadis yang kini memenuhi hati dan pikirannya itu jatuh cinta.


Epilog 1


"Ada apa sebenarnya dengannya?" tanya Ted yang melihat Veronica sudah terbaring tidak sadarkan diri karena mabuk berat di atas sofa.


"Aku tidak tahu. Aku sudah lelah dengan semua ini. Ini sungguh kacau!"


"Karena itu Ren. Tentukan keputusanmu!"


"Keputusanku?"


"Ren, kamu bukan anak kecil lagi. Kamu harus memilih! Pilih antara Veronica dan Tari! Aku tahu kamu memiliki perasaan pada istrimu itu. Ren, dia sudah sah menjadi istrimu! Seharusnya kamu melupakannya dan bahagia dengan istrimu. Kamu berhak itu! Atau kamu lebih memilih Veronica dan terus menerus seperti ini?!" Ted meninggikan suaranya. Renald hanya diam." Dia tidak akan berubah, Ren. Tidak akan pernah. Aku tahu perasaanmu telah berubah. Aku sangat mengenalmu. Karena itu berhentilah merasa kasihan atau perduli pada Veronica! "


"Tapi dia tidak mencintaiku. Dia membenciku."


"Lalu buatlah dia jatuh cinta padamu!"


Renald terdiam. Dia menatap Veronica yang masih tidak sadarkan diri. Dia menyandari perubahan sikap dan perasaannya pada Veronica. Apapun yang di lakukan Veronica, Renald tidak mengambil pusing. Bahkan saat dia mengetahui Veronica lagi-lagi berselingkuh. Yang biasanya dia akan marah, kini dia tidak perduli. Dia juga menyadari perubahannya pada Tari. Dia begitu marah saat Randy mendekatinya. Bahkan dia begitu perduli pada Tari. Dia ingin melindunginya. Menjaganya. Terlebih saat ayah Tari meninggal. Dia ingin sekali memeluknya, melakukan apapun yang membuatnya tidak bersedih lagi.


Saat dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Tari dan Dimas tentang Salina, Renald langsung menemui Salina dan membayar berapapun yang Salina inginkan asalkan Salina melepaskan rumah beserta Tari dan adik-adiknya. Renald bahkan mengancam Salina untuk memenjarakannya.


Saat Tari terkilir, dia hampir tidak bisa tidur malamnya. Dia merasa bersalah telah menuduh Tari. Bahkan tidak tahu jika Tari terkilir gara-gara Veronica.


Renald berdiri dan menggendong Veronica ala bridal style masuk ke dalam kamarnya. Ted hanya bisa menggelengkan kepalanya.


...***...