
Tari memakan sarapannya dengan cepat. Dia hampir terlambat. Hari ini sibuk di kantor sementara malam ini pesta juga di adakan. Sejujurnya Tari masih belum terbiasa dengan kehidupan disini. Pesta, pesta dan pesta. Apa mereka tidak lelah?
Tari meletakkan gelas yang telah kosong lalu melangkah dengan cepat menuju mobil.
"Tunggu." suara bariton Renald yang sangat dia kenal memanggilnya. Semenjak kejadian di mobil itu, Tari menghindarinya. Setelah pulang kantor dia langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Dia tidak ingin bertemu dengannya. Malu sekali rasanya. Dia tahu kemarin Renald mengerjainya, berkata ingin menciumnya. Sial!
"Aku--"
"Ahh benar." belum berkata apa-apa lagi, Tari sudah memotong kata-kata Renald. Tari membongkar tasnya dan mengambil black card lalu memberikannya pada Renald. "Ini."
Renald tidak mengambilnya. Hanya menatap kartu itu sejenak lalu menatap Tari.
"Aku kembalikan. Aku sudah membeli gaun, tenang saja. Dan tidak akan membuatmu malu. Jadi ini, ambilah." Tari menyodorkan kartu itu.
"Pegang saja kartu itu. Untuk kebutuhanmu. Pulanglah tepat waktu. Jam tujuh malam aku jemput." kata Renald.
"Tapi aku tidak berangkat dari rumah."
Renald mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Hari ini kantor sangat sibuk. Aku tidak akan sempat jika harus pulang terlebih dahulu. Aku akan berangkat dari kantor bersama teman-temanku." jelas Tari. Renald menghela nafas.
"Baiklah. Kalau begitu kemarikan ponselmu." kata Renald. Dia mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?"
"Aku akan memberikan nomorku padamu. Jangan telepon Alex. Telepon aku saja jika kamu sudah siap."
"Kenapa begitu?"
"Apa kamu akan menyusahkan orang terus?"
"Bukankah kamu yang selalu menyusahkannya? Kenapa jadi aku? Aku bahkan tidak pernah meneleponnya!".
Renald tidak menjawab, hanya tetap mengulurkan tangannya. Tari mendengus. Dia merogoh tasnya lagi.
"Ini." kata Tari. Dia meletakkan ponselnya ke tangan Renald. Renald mengambilnya dan terkejut. Renald menghembuskan nafasnya kasar lalu memijat keningnya.
"Apa kamu bercanda? Bagaimana bisa aku melihat dengan ponsel rusak seperti ini?" Renald mengayunkan ponsel Tari di tangannya.
"Hei, jangan menghina ponselku. Itu masih bekerja dengan baik! Kemarikan!"
Renald mengembalikan ponsel Tari.
"Seenaknya saja menghina ponselku. Dasar orang kaya." gerutu Tari sambil memasukkan ponselnya di kantong celananya. Renald memberikan ponselnya pada Tari.
"Berikan nomormu. Biar aku yang akan meneleponmu nanti saat mobil sudah siap. Aku akan mengirimkan mobil untuk mengantarmu dan teman-temanmu ke plaza. Kau tahu kan pestanya di plaza?"
"Tahu." Tari mengambil ponsel Renald dan mengetik nomornya.
"Dan pakai kartu itu untuk membeli ponsel baru." Renald mengambil ponselnya dari Tari. "Dan jangan terlambat." kata Renald lalu melangkah pergi.
Tari mengejar Renald dan memegang lengannya, membuat Renald menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Apa bisa saat pesta nanti kamu berpura-pura tidak mengenalku? Atau acuh kan saja aku! Selain ketiga temanku, tidak ada lagi yang tahu hubungan antara kita berdua. Jadi untuk menghindari momen canggung, sebaiknya kita pura-pura tidak saling mengenal." pinta Tari panjang lebar. Renald tidak mengatakan apapun, hanya menatap Tari.
"Dan satu lagi." Tari mengeluarkan tangan Renald yang di pegangnya dari kantong celana Renald dan menyerahkan black card ke atas telapak tangan Renald. "Aku tidak butuh ponsel baru. Meski ponselku seperti itu, tapi masih bekerja dengan baik."
Tari berbalik dan berlari kecil menuju mobilnya. Sementara Renald masih terdiam dia tempatnya dan posisi yang sama dengan black card yang masih di tangannya.
...***...
Malamnya, Tari masih berganti pakaian di salon kecantikan tempat Michel berlangganan. Michel seorang pria tapi dia lebih mengetahui tentang fashion dan kecantikan dari pada kebanyakan wanita. Dia selalu berpenampilan rapi dan modis. Contohnya malam ini. Dia mengenakan toksedo berwarna hitam bercorak kuning. Meski kulitnya hitam, tapi dia tampak percaya diri mengenakan warna yang cerah.
"Aku masih tidak mengerti, kenapa kamu ingin merahasiakan semua ini?" tanya Michel.
"Aku hanya tidak ingin orang lain tahu." jawab Tari dari dalam bilik ganti. Jen dan Michel sudah siap. Hanya tinggal Tari yang berganti pakaian. Lucy tidak ikut karena suaminya bekerja lembur.
"Tapi suamimu juga datang, Tari. Ke pesta itu. Semua pegawai Randy akan datang. Mereka akan tahu akhirnya." kali ini Jen yang berbicara.
"Aku sudah mengatakan pada Renald untuk berpura-pura tidak mengenalku." kata Tari. Masih di dalam kamar ganti.
"Oh astaga.. Aku benar-benar tidak mengerti hubungan kalian." Michel tampak menyerah.
"Sudah aku katakan... Hubungan kami rumit." Tari membuka pintu kamar ganti dan berjalan keluar. "So, how do i look?"
"Oh wow.... Sempurna. Kamu cantik sekali. Gaun itu terlihat sangat cocok di tubuhmu." puji Michel.
" Aku seperti melihat orang lain. Wajahmu berbeda setelah di full make up dan semakin menjadi berbeda dengan gaun itu. Kamu benar-benar cantik." puji Jen.
"Benarkah?" Tari mengayun roknya. Tari mengenakan gaun berwarna sky blue tulle dengan model atasan v neck dan silhouette A line, yang membuat belahan d**a nya tampak jelas. Bagian punggungnya yang tidak tertutup gaun cukup lebar. Rambutnya disanggul kecil ke atas. "Aku merasa tidak nyaman, rasanya seperti tidak mengenakan bra. Aku tidak terbiasa."
"Welcome to west world, baby!" pekik Michel. Jen dan Michel tertawa.
"Hei, kamu itu mengenakan bra. Lihatlah aku! Ini baru namanya tidak mengenakan bra!" Jen menyangga kedua *********** dengan tangannya dan menggoyangkan bahunya.
"Hmm.. Dan kamu akan memenangkan penghargaan wanita terseksi tahun ini." puji Michel. Tari tersenyum dan mengangguk setuju. Michel menatap Tari. "Dan kau. Ya tuhan kamu itu cantik dan cocok sekali mengenakan pakaian itu. Dan kamu itu beruntung, kau tahu? Tubuhmu kurus tapi kamu masih memiliki pay*dar* dan bokong yang menonjol. Biasanya gadis kurus sepertimu itu rata!"
"Ohh wow.. Jika para wanita itu mendengarmu, kamu akan di demo mereka." ucap Tari lalu tertawa.
"Hei hon! Aku mengatakan yang sebenarnya! Jadi bersyukurlah kamu tidak rata dan..." Michel memukul bokong Tari. Tari terkejut. "Dan godalah para pria!"
"Uhmm tidak terima kasih. Aku akan bersenang-senang saja. Para pria? Pass!" ucap Tari. "Kalian berdua saja."
"Hei! Aku masih normal, well kurasa. Tapi aku sepertinya akan berubah malam ini. Normal itu biasa. Aku akan mendapatkan terong besar malam ini, baby!" Michel dan Jen menari dengan riang.
"Oh astaga.... Aku kira aku sudah terbiasa pada kata-kata kalian tapi ternyata aku belum terbiasa." Tari menggelengkan kepalanya.
"Cepatlah terbiasa atau kau akan tertinggal. Ini New York baby!! Woo!!"
Michel dan Jen menari tanpa musik dengan semangat sementara Tari hanya tertawa geli. Tak lama Renald mengirim pesan untuk meminta agar Tari mengirim alamat mereka saat ini.
...***...
Pesta? Sangat meriah. Seperti pesta prom tapi lebih mewah dan elegan. Ruangan di hiasi warna emas dan hitam. Musik jazz live terdengar di seluruh ruangan. Mereka mengundang beberapa penyanyi kelas atas untuk bernyanyi. Tari mengalungkan tangannya ke lengan Michel, begitu juga Jen. Michel berada di tengah-tengah mereka.
Sudah cukup lama Tari berada dipesta itu. Dia selalu menolak saat pria mengajaknya berdansa. Renald tampaknya menepati ucapannya. Dia berpura-pura mengenalnya. Bahkan menoleh padanya pun tidak.
"Aku tahu kamu akan sendirian." kata Michel. Dia menyerahkan satu gelas minuman. "Tidak beralkohol. Dimana Jen."
Tari mengambil minuman itu lalu menunjuk ke arah lantai dansa, tepat di tempat Jen berdansa bersama seorang pria.
"Hmm... Setidaknya ada satu orang dari kita yang membawa pulang pria malam ini." guman Michel.
"Bagaimana denganmu? Aku kira tadi kamu bersenang-senang dengan pria yang selalu bersamamu tadi."
"Kami memang bersenang-senang. Tapi sepertinya aku tidak cukup seksi untuk membawanya ke atas ranjangku." Michel mendengus.
"Jadi kamu sudah memastikan kecenderungan seksualmu?"
"Sudah. Aku akan menyukai terong segar mulai malam ini. Donat sepertinya sudah tidak terlalu menarik lagi."
"Congratulation. Akhirnya kamu akan mencari kekasih yang kau tahu apa itu.." Tari mengangkat gelasnya. Mereka lalu bersulang.
"Tapi sayang tidak ada pria yang membuatku tertarik hari ini. Selain pria tadi tentu. Yang lainnya.. Membosankan!" keluh Michel. Tari tertawa. "Sepertinya suamimu benar-benar mengabaikanmu." Michel menunjuk ke arah Renald. "Dia bersenang-senang sendiri dan tampak sangat mesra. Kamu baik-baik saja, baby? Cemburu?"
"Tentu aku baik-baik saja. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Cemburu? Ughh aku belum gila." Tari memalingkan wajahnya dari tempat Renald berada. Michel menatap Tari.
"Kau sungguh aneh dan unik."
"Hmm... Kamu bukan orang pertama yang mengatakannya."
"Berdansalah denganku." kata Randy yang baru saja datang. Tari dan Michel menoleh.
"Tidak, terima kasih."
"Ayolah... Kamu selalu menolak berdansa denganku." Randy berdecak.
"Aku tidak ingin kecanggunganku mengganggu dansamu, tuan Smith. Mari berdansa Michel." Tari menarik tangan Michel ke tengah lantai dansa. Tari mengalungkan tangannya di leher dan pundak Michel sementara Michel memegang pinggang Tari.
"Kenapa kamu menolaknya?" tanya Michel.
"Kenapa aku harus menerimanya?" tanya Tari balik. "Aku tidak ingin ada rumor. Aku ingin tenang bekerja."
"Dan kamu pandai berdansa." puji Michel. Dia memicingkan matanya.
"Tunggu saja. Aku yakin sebentar lagi aku akan menginjak kakimu."
"Santailah, darling. Kamu terlihat gugup. Apa kamu mau pergi dari sini? Kita cari bar terdekat."
"Kamu mau? Tapi bagaimana dengan Jen?"
"Jangan khawatirkan jal*ng itu. Aku yakin dia tidak akan pulang sendiri malam ini." ucap Michel. Mereka berdua tertawa.
"Permisi." sahut seseorang. Michel dan Tari menghentikan dansa mereka dan menatap orang itu. "May i?"
Tari dan Michel saling menatap sejenak lalu Michel mengangguk. Michel melepaskan Tari lalu beranjak pergi.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tari. Dia tidak mengalungkan tangannya, hanya menyentuh sedikit pundak Renald.
"Berdansa."
"Apa kamu bercanda? Sudah aku katakan untuk berpura-pura tidak mengenalku."
"Lalu membiarkanmu berdansa dengan pria lain? Apa kamu ingin merusak namaku?"
"Astaga Ren. Lalu bagaimana denganmu? Kamu begitu mesra dengan kekasihmu itu. Lalu aku tidak boleh bersenang-senang dengan temanku? Egois sekali!"
"Apa kamu cemburu?" tanya Renald. Dia menatap Tari.
"Aku belum gila, Ren. Maksudku jangan hanya menuduhku merusak namamu sendiri sementara kamu melakukan hal yang lebih gila dariku. Kamu yang merusak namamu sendiri tapi menjadikanku kambing hitam."
"Bukankah itu fungsinya tameng? Kamu tameng, kamu ingat?"
Tari menghentikan dansanya. Dia tersenyum kecil. Dasar pria brengsek!
Tari melangkah pergi tapi lengannya di tahan Renald.
"Mau kemana?" tanya Renald.
"Bukan urusanmu." Tari mencoba melepaskan diri tapi pegangan Renald sangat kuat, membuat lengannya sakit. "Kamu menyakitiku!"
"Kalau begitu jangan memberontak!" Renald menatap tajam.
"Baiklah, aku memang tamengmu. Tapi aku bukan budakmu, Renald William. Aku tidak harus menurutimu. Lagipula kenapa denganmu?! Apa kamu mabuk? Atau kekasihmu itu meninggalkanmu?"
Renald tidak menjawab. Dia menarik pinggang Tari ke arahnya hingga tubuh mereka bersentuhan. Tari terkejut dengan gerakan Renald tiba-tiba. Nafasnya tertahan. Tari dengan cepat menyadarkan diri dari keterkejutannya lalu mendorong tubuh Renald menjauh untuk melepaskan dirinya. Tapi Renald memegang pinggangnya begitu erat.
"A-ada apa denganmu? Kamu mau apa?" tanya Tari bingung. Renald tidak menjawab. Dia hanya menatap Tari. Dia sendiri tidak tahu ada apa dengannya. Apa dia memang tertarik atau dia hanya kesal?
Sedari tadi Veronica selalu menempel padanya. Membuatnya lupa pada Tari. Tapi saat Renald lengah sebentar, Veronica sudah mendekati pria lain yang merupakan rekan bisnisnya. Dia tidak bisa menyalahkan rekan bisnisnya, tentu. Veronica yang menggodanya. Dia yakin itu. Selalu seperti itu.
Meski begitu Renald tidak begitu perduli. Tapi dia mengeraskan rahangnya dengan nafas berat dan tangan di kepal saat melihat Tari berdansa dengan seorang pria yang dia yakini sebagai temannya. Ya, dia ingat itu salah satu teman Tari. Tapi anehnya dia tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia tiba-tiba marah. Melihat Veronica dengan pria lain dia tidak perduli tapi melihat Tari dengan pria lain dia begitu kesal. Itu sangat aneh. Kenapa dia begitu kesal? Apapun alasannya Renald tidak perduli. Yang terpenting dia harus memisahkan mereka.
Sekarang yang ada di hadapannya adalah Tari. Entah apa yang dia pikirkan hingga dia mendatanginya dan memisahkan Tari yang sedang berdansa. Bahkan kini mereka begitu dekat. Renald menatap Tari lekat.
"Ren, sebaiknya lepaskan aku. Sebelum orang mengira kita memiliki hubungan." pinta Tari sambil masih mencoba melepaskan diri.
"Kita memang memiliki hubungan."
"Apa kau gila?!" Tari memekik di bisikannya. "Aku sudah katakan untuk berpura-pura tidak mengenalku!"
"Untuk apa berpura-pura? Lebih baik semua orang tahu." kata Renald membuat Tari mengerutkan keningnya.
Renald melepaskan satu tangannya dari pinggang Tari lalu memegang tengkuk Tari. Renald mendorong pelan tengkuk Tari agar wajah Tari mendekat ke wajahnya. Renald memiringkan kepalanya dan wajahnya juga ikut maju, mendekat ke wajah Tari lalu bibir mereka saling bersentuhan. Mereka berciuman. Tari membelalakkan matanya. Oh tuhan!
...***...