When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 35



Kak? Kenapa kakak diam aja? Ada apa ini?" tanya Dimas lagi. Tari menghela nafasnya lalu menarik tangan Dimas.


"Ayo, kakak jelasin." kata Tari menarik tangan Dimas, meninggalkan Renald sendirian. Tari membawanya ke teras lantai atas. Tapi setelah sampai di sana Tari hanya diam tidak mulai menjelaskan, membuat Dimas tidak sabar.


"Kak, nggak jelasin?" tanya Dimas.


"Tapi sebelum aku jelasin semuanya, janji dulu sama aku."


Dimas mengerutkan keningnya. "Janji apa kak?"


"Janji kalo Dimas nggak akan ikut campur masalah kakak dan hanya akan mengurusi hidup kalian berdua, kamu dan Adit."


"Adit tahu semua ini?"


"Tentu aja nggak. Hanya kakak, ibu dan papa. Mau janji nggak?"


Dimas diam. Dia terlihat ragu. Tari menunggu jawabannya dari Dimas.


"Tapi kakak yakin kakak baik-baik aja?" tanya Dimas memastikan. Dimas benar-benar memiliki sifat mama. Selalu penuh kekhawatiran dan perhatian.


"Apa kamu liat kakak nggak baik sekarang? Kakak baik, kakak sehat Dim. Nggak usah khawatir. Hm?"


Dimas memperhatikan kakaknya. Dia mencari kebohongan dari wajahnya. Dia tahu kakaknya pandai menyimpan semua masalahnya.


"Oke, Dimas janji. Tapi kakak jangan sembunyikan apapun."


Tari mengangguk. "Oke."


Tari menceritakan semuanya dari awal sampai sekarang. Dia hanya mengeluarkan bagian bagaimana perlakuan Renald padanya atau betapa kerasnya dia mencari uang. Dimas tidak perlu tahu itu. Dia hanya berkata dia bekerja di kantor Randy. Bukan bar atau restoran. Semua itu mendapat tatapan prihatin dari Dimas.


"Kakak nggak apa-apa?" tanya Dimas. Tari tersenyum.


"Tentu aja. Kamu liat sendiri. Kakak hanya perlu mengembalikan uang yang kakak anggap dia pinjami untuk kita. Dia udah punya wanita yang di cintai. Nggak mungkin dong kakak terus sama dia. Kalo kakak jadi wanita itu, kakak juga nggak mau di perlakukan begitu. Karena itu kakak paham jika wanita itu marah dan kesal pada kakak."


"Tapi kan kakak nggak tau apa-apa!"


"Benar, itu benar. Tapi kakak tetap salah. Kakak nggak bertanya pada Renald terlebih dahulu. Ya meski sebenernya sih nggak ada bedanya. Kakak pasti tetap dinikahi dengannya. Anggap aja pria itu udah berbuat baik pada kita, dengan membayarkan hutang itu terlebih dahulu. Jadi kita bisa mencicilnya. Hanya aja, kalo kita nggak melunasinya, kakak yakin kita akan kehilangan rumah ini. Ayah dan Adit akan luntang lantung di jalan. Kakak baik kok, hanya tinggal melunasi hutang itu aja. Sekarang yang kamu harus pikirkan adalah, bagaimana cara kamu bertahan disini bersama Adit. Oke?"


Dimas mengangguk." Iya kak. Nanti kalo Dimas udah dapet kerja, kakak nggak perlu kirim uang lagi. Kakak fokus aja untuk melunasi hutang, bercerai, dan kembali."


"Hmm.. Kakak tau."


"Huft! Dimas kangen papa dan mama." Dimas menyandarkan tubuhnya di kursi, menatap gelapnya langit.


"Hmm... Kakak juga." Tari ikut menerawang.


"Tapi kak, memangnya hutang apa sih itu?" tanya Dimas. Tari mengangkat kedua bahunya.


"Entahlah, kakak nggak tau. Baik papa maupun ibu nggak pernah bilang apapun."


"Aneh banget. Adit pernah bilang, hidup ibu itu mewah banget. Selalu ada tas branded di rumah. Ya walau nggak tau kw berapa tapi biar kw aja, masih mahal kak."


Tari tertawa. "Tau banget kayaknya soal tas branded. Kakak aja cupu soal itu. Padahal kakak cewek loh. Kakak pake tas pasar aja udah seneng Dim."


"Ya, nggak tau-tau banget kak. Cuma tau segitu aja." Dimas terlihat gugup.


"Cewekmu ya?" tanya Tari.


"Isshh kakak. Mana punya Dimas cewek."


Tari tertawa lagi. "Punya juga nggak apa-apa, Dim. Dah kakak mau turun, mau siap-siap. Hari ini tahlilan terakhir papa."


Tari beranjak pergi kebawah. Saat dibawah, dia tidak menemukan Renald di manapun. Kemana dia?


...***...


"Ri!" panggil om nya. Tari janjian bertemu dengan om Putra di sebuah restoran membicarakan penjualan rumah. Tari mendatangi om nya yang sudah lebih dulu duduk di salah satu bangku.


"Lama nunggunya om." tanya Tari sambil mencium punggung tangan om nya.


"Nggak, baru aja om dateng."


"Jadi gimana om? Banyak yang minat kalo jual cepat?" tanya Tari setelah dia duduk.


"Minum dulu atau mau makan? Ada yang mau om bicarakan." tawar om Putra.


"Nggak om, makasih. Tari udah makan tadi." jawab Tari.


"Gini Ri sebenarnya. Om udah cari pembelinya dan dapet. Kebetulan ada orang yang baru pindah ke kota ini. Hanya aja... Aduh om ragu bilangnya."


"Ngomong aja om, nggak apa-apa. Kan om tau, sekarang Tari yang paling tua. Biar Tari udah nikah dan nggak tinggal disini, tapi Tari masih bisa ngurusin kok."


"Iya, itu om tau. Kamu itu selalu bersikap dewasa dan bertanggung jawab. Makanya saat mama dan bahkan papamu itu meninggal, kami nggak pernah mencampuri urusan kalian. Kami hanya bantu sebisa kami. Tapi Ri, ibu tiri kamu, Salina, dia berkata dia tidak ingin rumah itu lagi."


"Apa... Apa maksud om?"


"Karena kamu sudah memberikan hak penjualan rumah pada om sepenuhnya jadi om yang urus segalanya. Om menghubungi ibu tirimu untuk menanyakan rekening pembayaran. Karena keluarga yang om ceritakan tadi bersedia, membayar delapan puluh lima persen dulu. Setelah mereka sampai disini, mereka akan membayar sisanya. Tapi... Salina menolak. Dia berkata dia sudah tidak memerlukan uang itu lagi."


Tari terdiam. Dia mengerutkan keningnya. Ada apa lagi dengan wanita itu?


"Kalau begitu Tari bicarakan dulu dengan ibu ya om. Nanti Tari kasih tau hasilnya."


"Secepatnya ya, Ri. Keluarga itu minta secepatnya di kabarkan."


"Iya, om. Tari permisi dulu om. Assalamualaikum." Tari mencium punggung tangan om Putra.


"Waalaikumsalam. Hati-hati Ri."


Tari segera pergi ke rumah Salina. Salina pindah ke rumah lamanya saat dia belum menikah dengan papa. Salina menerima Tari dengan muka masam. Entah apa salahnya.


"Mau apa kamu kemari?" tanya Salina bahkan tanpa mempersilahkan Tari masuk.


"Apa Tari bisa bicara dengan ibu?"


"Mau bicara apa? Aku sibuk!"


"Ya udah, Tari bicara disini aja. Kenapa ibu menolak uang dari penjualan rumah? Bukannya ibu yang mau?" tanya Tari masih dengan nada lembut.


"Aku udah nggak mau lagi. Udah nggak perlu!" jawab Salina ketus.


"Iya tapi kenapa bu?"


"Aduh kok kamu cerewet banget sih jadi orang. Harusnya kamu tuh seneng aku nggak perlu lagi uang rumah itu. Udah sana pergi!" Salina ingin menutup pintunya tapi Tari menahannya.


"Bu, tolong kasih tau alasannya. Apa ada sesuatu?" tanya Tari lagi. Sebenarnya Tari lega Salina tidak inginkan lagi rumah itu tapi dia juga takut, jika Salina ternyata melakukan hal yang lebih. Mungkin menguasai seluruh rumahnya? Entahlah yang jelas Tari harus cari tahu.


"Apaan sih kamu?! Udah baik aku nggak minta lagi uang itu."


"Tapi aneh bu, kenapa tiba-tiba? Apa ibu merencanakan sesuatu?"


"Apa katamu?! Wahh ini bener-bener nggak bisa ditolerir lagi. Heh! Anak sialan! Udah bagus aku nolak, eh ngelunjak lagi. Rencana katamu? Cih! Tanya aja sana sama suamimu! Udah di ancam sama suamimu dan sekarang kamu nuduh aku apa? Rencana?! Keterlaluan emang. Sana pergi ke suamimu, minta dia jelasin ke kamu. Dasar anak nggak tau diri!"


Brakk!


Salina membanting pintu di depan Tari. Renald? Kenapa aku harus tanya padanya? Apa hubungannya sama Renald?


...***...