When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 24



Melalui hari-hari di kantor Randy, sedikit menyenangkan tapi selalu sibuk. Terlebih Randy memang sedang mengerjakan proyek bersama G.I Coorporation, perusahaan Renald, yang membuatnya sering bertemu Renald di kantor Randy. Perfect! ironic way, of course. Dia menerima pekerjaan di kantor Randy berharap dia bisa mendapat uang lebih tanpa bekerja di dua pekerjaan sekaligus dan tentu, menjauh dari Renald sejauh mungkin. Tapi disinilah dia, bertemu dengan Renald yang menatapnya sinis.


Well.. tapi bukan Tari namanya jika dia perduli. Malah, Tari mendapatkan teman baru lagi dari bagian desain, Jennifer. Wanita dengan free spirit yang... Luar biasa. Dia melakukan segala sesuatu seperti tidak ada hari esok dan dia seorang 'badass', Tari mengakui itu. Bukan karena dia suka memukuli orang atau menyelamatkan dunia dari alien, tapi dia seorang wanita tangguh. Dia tidak akan membiarkan orang menjatuhkannya. Itu kesan pertama yang Tari dapatkan dari Jennifer.


"Dan setelah itu dia angkat kaki dari apartemenku dan tidak pernah kembali. Thank god!" Jennifer bernafas lega lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Kau gila!" ucap Michel.


"Oh thanks honey, gila adalah nama belakangku." Jen tersenyum.


"Ohh baiklah, Jennifer Craziness is on!" Michel meninggikan suaranya.


"That's me baby, that's me!" Jen menunjuk dirinya sendiri.


"Ughh...memalukan sekali!" Lucy meletakkan garpunya. "Dan itu yang keberapa?"


"Hmm.. Entahlah." Jen menggeleng. "Aku tidak menghitungnya."


"Tari aku tahu kamu tidak terbiasa, tapi cobalah bertahan selama yang kau bisa." kata Michel sambil menyentuh tangan Tari. Tari tersenyum.


"Jangan khawatir. Aku yakin aku akan segera terbiasa." jawab Tari. Mereka sedang makan malam bersama di salah satu restoran di dekat kantor mereka.


"So Tari, apa kamu memiliki pacar? Tunangan? Suami?" tanya Jen dengan raut wajah antusias, lebih tepatnya sangat penasaran.


"Kenapa? Kamu ingin merebutnya?" tuding Lucy.


"Ouch! Ayolah! aku tidak sejal*ng itu!" protes Jen. Dia mungkin berganti-ganti pria tapi dia tidak akan mengambil pria temannya sendiri.


"Hanya berasumsi." Lucy mengangkat kedua bahunya.


"Asumsi yang berbahaya, nyonya." kata Jen. Jen menatap Tari. "Jadi... Kamu belum menjawabnya. Apa itu rahasia?"


"Aku sudah... Menikah." jawab Tari akhirnya. Entah kenapa dia tidak ingin berbohong. Ketiga temannya membulatkan matanya.


"Benarkah?" Jen mengambil tangan Tari dan memeriksa jari-jarinya. "Tidak ada cincin."


"Well itu--"


"Proses bercerai?" tebak Michel. Tari menggeleng dan melambaikan tangannya.


"Tidak, bukan seperti itu. Uhmm... Kami memiliki hubungan yang... Rumit. Sangat rumit."


"Apa dia berselingkuh?" Jen mendelik. Tari tertawa kecil.


"Aku--"


"Hei, hentikanlah. Dia berkata rumit. Tidak perlu memaksanya." Lucy menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya penasaran." gumam Jen disambut anggukan kepala Michel.


"Sudahlah, hentikan. Biarlah itu menjadi rahasianya. Ayo kita bersulang. Waktuku hanya tersisa lima menit sebelum aku menjadi istri dan ibu lagi." ucap Lucy sambil mengangkat gelasnya.


"Cheeerssss!!!"


...***...


"Tari, tolong berikan berkas ini pada tuan Smith." Celina memberikan dua berkas pada Tari. "Aku akan keluar sebentar."


"Baik, bu." kata Tari.


Celina tersenyum lalu pergi. Tari berdiri dari duduknya dan mengambil berkas itu.


"Sepertinya kamu sudah di korbankan pada Randy." bisik Michel.


"Michel, hentikan. Jangan menakutinya. Pergilah, dear. Kuatkan hatimu." Lucy menepuk pelan punggung Tari.


Tari tertawa melihat kecemasan kedua temannya. Tari beranjak menuju kantor Randy yang berbeda lantai dengannya. Dia terkejut melihat Celina ada di meja kerjanya, menyambutnya sambil tersenyum manis. Jika Celine ada di sana, kenapa dia yang di suruh antar berkas? Karena kebingungan, Tari sampai lupa menanyakan ada apa.


Tari mengetuk pintu kerja Randy dan menunggu hingga kata 'masuk' terdengar. Tari membuka pintu perlahan lalu masuk ke dalamnya. Setelah menutup pintu, Tari berjalan mendekati Randy yang berdiri di dekat jendela dengan satu berkas di tangannya.


"Hai Tari, duduklah." kata Randy. Tari menatap meja yang penuh makanan.


"Whoaahh... Apa ada pesta?"


Randy tersenyum. "Tidak, tidak ada pesta. Duduklah." pinta Randy.


"Baik, pak."


"Bukan pak. Apa kamu lupa kita hanya berdua disini?" Randy duduk di kursi paling ujung, tepat di sebelah Tari dan di tengah-tengah.


"Sudah terbiasa, pak. Lebih baik tetap formal. Menjaga kebiasaan."


"Tidak. Aku tidak ingin di panggil pak olehmu. Pokoknya panggil namaku, bersikap biasa padaku saat kita hanya berdua atau di luar jam kantor. Itu sudah perjanjian, kau ingat?" Randy mengingatkan. Tari menghela nafas.


"Baiklah... Cerewet!"


"Oh itu harus. Demi melawan wanita keras kepala. Aku harus cerewet." kata Randy. Tari berdecak. "Makanlah."


"Aku boleh memakannya?" tanya Tari.


"Tentu saja. Bukankah aku baru saja memintamu memakannya?"


Tari mendelik. "Racun tikus?"


"Bukan. Sianida."


"Oh wow... Itu bagus. Aku akan mencicipinya saja."


Tari mengambil satu brownies coklat berukuran kecil yang dihiasi krim putih dan strawberry di atasnya lalu mencicipinya.


"Makan sebanyak yang kamu mau."


"Tapi sebentar lagi jam makan siang."


"Itu benar. Makan siang disini saja. Aku pesankan. Bagaimana?"


"Kau gila? Bagaimana jika mereka curiga? Lagipula aku tidak makan sendiri."


"Hmm.. tiga teman barumu itu. Lalu kenapa makannya banyak sekali? Bukannya katanya kamu hanya ingin mencicipinya?" tanya Randy yang melihat Tari mengambil banyak kue yang akan di masukkan ke dalam mulutnya.


"Sepertinya aku sudah keracunan makanan enak. Gara-gara sianidamu." Tari kembali memasukkan kue lainnya ke dalam mulutnya. Dia memejamkan matanya, merasakan enaknya kue-kue itu.


"Dasar. Aku yakin pria telanjang di depannya pun dia tidak akan perduli." gumam Randy.


"Ughh haruskah kamu berkata mesum saat aku makan? Membuat selera makanku hilang."


"Aku hanya berkata-- baiklah, baiklah... Berarti yang bisa menghilangkan nafsu makanmu adalah pria telanjang bulat." Randy mengangguk.


"Dan satu lagi. Ren--"


"Randy, aku sudah katakan untuk tidak--" Renald menerobos masuk ke ruangan Randy. Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia melihat Randy sedang bersama Tari dan begitu banyak hidangan di meja. Tari yang hendak mengatakan nama Renald, menahan nafasnya dan memalingkan wajahnya. Dia bersyukur nama pria itu belum kesebut sempurna. Sial!


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Renald masih berdiri di tempatnya.


"Makan cemilan? Mau bergabung?" tawar Randy.


"Astaga kenapa malah di ajak?" Tari menatap tajam Randy. Ingin sekali memutilasinya lalu di makan. Randy hanya menatap Tari dan mengangkat kedua bahunya.


Renald berjalan ke salah satu tempat duduk yang kosong bersama Alex. Renald duduk tepat di depan Tari. Jadi mereka saling berhadapan sekarang. Tari sama sekali tidak menatap Renald. Dia selalu mengalihkan pandangannya. Suasana di dalam ruangan itu terasa awkward, canggung sekali. Apalagi buat Tari dan Renald.


"Uhmm... Aku pergi dulu. Mau menyelesaikan pekerjaanku." kata Tari.


"Kamu punya pekerjaan?" goda Randy.


"Ha... Sangat lucu." kata Tari lalu berdiri.


"Yakin tidak mau makan lagi? Kan tidak ada pria telanjang bulat disini. Harusnya selera makanmu masih bagus." kata Randy. Renald terlihat cukup terkejut. Dia menatap Tari dan Randy bergantian.


"Ya elah pake di bahas yang itu. Astaga ngajak gelud ini orang!"


Tari menunjuk Randy lalu mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Buatku tidak berselera. Permisi." Tari mengangguk pelan pada Renald dan Alex lalu keluar ruangan itu. Di luar ruangan Tari menghela nafas lega. Kenapa harus bertemu orang itu sih?


"Jadi? Jadi bagaimana?" tanya Michel saat Tari sudah kembali duduk di kursinya. Dia dan Lucy sudah mendekati tempat duduknya.


"Jadi bagaimana apanya?" tanya Tari.


"Kenapa lama sekali disana? Apa terjadi sesuatu?" kali ini Lucy yang yang bertanya.


"Tidak, tidak terjadi apapun. Jangan bicara aneh-aneh. Randy dan aku, tidak akan pernah terjadi apapun." Tari menegaskan.


"Kita tidak tahu itu. Jangan terlalu yakin." ucap Michel. Dia kembali ke tempat duduknya. Mereka memiliki meja kerja masing-masing dan terpisah. Tapi jaraknya tidak terlalu jauh.


"Mungkin. Tapi aku yakin dengan yang satu ini." kata Tari lagi.


"Yakin tentang apa?" tanya Jen yang baru datang dari lantai atas. Meja kerja Jen ada di satu lantai lebih tinggi dari Tari sekarang.


"Tadi Tari di panggil Randy." kata Lucy memberitahukan.


"Dan lama." Michel menambahkan.


"Lalu? Maksud kalian Tari menjadi mainan Randy gitu? Kalian ini ada-ada saja. Pemikiran kalian terlalu liar!" Jen tertawa.


"Oh ayolah... Itu bisa jadi."


"Nope. Itu tidak mungkin. Benarkan Tari?" tanya Jen. Tari mengangguk. "Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Sudah, sudah. Ayo kita makan siang. Aku lapar!!"


Michel melihat jam tangannya. "Astaga benar. Sudah waktunya makan siang. Ayo pergi." Michel mengenakan jasnya. Tari dan Lucy juga ikut berdiri dan mengambil tas mereka. Pegawai lain sudah banyak yang keluar ruangan.


"Ehem!" suara deheman membuat mereka menoleh ke arah suara. Mata Tari membulat.


"Renald? Mau apa dia?"


"Kalian akan makan siang?" tanya Renald. Semua orang kecuali Tari mengangguk.


"Iya pak." kata Jen. Mereka sudah tahu siapa Renald. Teman baik bos mereka, Randy. Renald sering kemari jika memiliki kerja sama dengan perusahaan Randy. Jadi mereka hapal betul pada empat pria tampan dan kaya most wanted di New York.


"Apa tidak apa-apa jika aku meminjam Tari?" tanya Renald. "Aku ingin makan siang dengannya."


Semua orang melongo dan menatap Tari yang juga masih terdiam di tempatnya. Ini gawat!


"Apa bisa?" tanya Renald lagi melihat semua orang masih terdiam.


"Eh? Oh? Tentu saja pak. Tentu." ucap Jen dan Michel bersamaan.


"Terima kasih." ucap Renald sambil tersenyum kecil. Dia menatap Tari. "Kemarilah." pinta Renald. Tari menggeleng pelan. "Ayolah, cepat."


Semua temannya mengisyaratkan Tari untuk pergi mendekati Renald. Tari berjalan pelan menuju Renald. Ya tuhan, apa lagi ini?


Renald mengambil satu tangan Tari lalu menautkan jari-jarinya ke jari Tari dan menguncinya. Mata Tari membulat sempurna, mulutnya terbuka. Dia terkejut dengan gerakan Renald yang tiba-tiba. Dia menatap ketiga temannya yang juga tidak kalah terkejutnya dengan Tari. Tari berusaha melepaskan tangannya, Tapi Renald justru mengunci lebih kuat.


"Alex, aku akan makan siang dengan istriku. Kamu bisa kembali ke kantor terlebih dahulu atau makan siang, terserah padamu." kata Renald pada Alex. Renald benar-benar sudah membongkar siapa Tari sekarang. "Kami permisi dulu." kata Renald pada ketiga teman Tari yang masih memproses kejadian dan kata-kata tadi.


Renald menarik pelan tangan Tari agar mengikutinya. Tari masih menatap ketiga temannya dengan tatapan memelas. Apa yang harus aku lakukan sekarang?


...***...