
Renald melajukan kendaraan entah kemana. Tari bingung dan takut tentu. Raut wajah Renald terlihat sangat marah dan menakutkan. Baru kali ini dia melihatnya seperti itu. Tari pernah melihatnya marah dan wajah datarnya. Tapi tidak yang tadi. Tari benar-benar melihat sisi lain Renald. Sepanjang perjalanan Tari hanya diam sambil memegang pergelangan tangannya yang masih terasa sakit karena ditarik kasar oleh Renald. Entah apa yang akan dia lakukan sekarang.
Renald memarkirkan mobilnya di depan suatu toko. Renald keluar tanpa mengajak Tari. Tari hanya menghela nafas lalu menatap keluar jendela. Dia memeriksa ponselnya. Beberapa misscall dari Randy dan juga Helena dan pesan dari mereka juga. Mereka bertanya dimana dia dan apa dia baik-baik saja. Tari tidak menjawab pesan mereka. Hanya menyimpan kembali ponselnya di celana jeans nya. Ya, dia mengenakan celana jeans biru mudanya dan kemeja pink yang di masukkan ke dalam celananya. Dia tidak suka mengenakan dress.
Renald masuk ke dalam mobil kembali dengan barang belanjaannya. Dia melepas jasnya dan membuka kancing kemejanya. Dua kancing paling atas telah terbuka. Renald kembali melajukan mobilnya. Tak lama mereka sampai di sebuah pantai. Renald memarkirkan mobilnya.
"Ayo turun." katanya lalu keluar dari mobil.
"Mau apa sih disini?" gumam Tari. Tari melihat jam tangannya. Sudah jam dua siang. Tapi awan sedang mendung. Tari melihat Renald duduk di atas kap mobilnya. Tari menghela nafas lalu keluar dari mobil.
"Kemarilah." Renald menepuk tempat disebelahnya. Tari ragu sejenak lalu akhirnya duduk di sebelah Renald. Renald duduk di sebelah kanan sementara Tari disebelah kiri kap mobil. Renald membuka bingkisan yang tadi dia beli. "Kemarikan tanganmu."
Tari memberikan tangan kirinya.
"Bukan, bukan itu. Yang satunya. Tadi aku menarik tangan yang satunya." kata Renald.
"Untuk apa?" tanya Tari. Tangannya masih terasa nyeri. Dia tidak mau tangannya tambah sakit. Besok dia harus kerja.
"Kemarikan saja." kata Renald lagi. Tari memberikan tangan kanannya. Renald memberikan obat oles pada pergelangan tangan Tari. "Apa masih sakit?" tanyanya tanpa menatap Tari. Dia masih sibuk mengoleskan krim.
"Sedikit." jawab Tari. Setelah mengoleskan obat oles, Renald mengeluarkan kompres instan dan meletakkannya di pergelangan tangan Tari.
"Apa perlu ke dokter?" tanya Renald dengan lembut, tidak, sangat lembut. Dari tatapannya juga terlihat khawatir. Tari tersentuh? Tidak. Dia justru bingung, takut, khawatir dan waspada, pada apa yang akan di lakukan Renald lagi. "Tari?"
"Hm? Oh tidak, tidak perlu. Aku yakin sebentar lagi hilang sakitnya." kata Tari cepat.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu." kata Renald.
"Ada apa lagi dengan orang ini?" batin Tari.
"Ren, aku tidak tahu ada apa denganmu. Apa kepalamu terbentur hingga kamu menjadi aneh?" tanya Tari. Renald hanya menatapnya penuh arti. Tari menghembuskan nafasnya. "Berhentilah bersikap aneh. Aku tidak tahu tujuanmu melakukan itu, tapi sebaiknya di hentikan. Lakukan saat kita harus berakting. Jika tidak, kembalilah pada dirimu sebenarnya, pada perlakuanmu yang biasa. Tidak perduli, acuh dan menganggapku tidak ada. Aku lebih terbiasa dengan itu daripada dengan sikap berpura-pura perhatian ini. Aku ingin pulang."
Renald menghembuskan nafasnya. Tari berjalan menuju pintu mobil. Renald memegang lengannya lembut tapi cukup untuk menghentikan langkah Tari.
"Kenapa kamu menganggap semua ini pura-pura?" tanya Renald sambil menatap Tari, menunggu jawaban.
"Bukannya seperti itu? Kamu ahli dalam melakukan itu. Kamu bahkan bisa berakting cukup lama saat kita baru pertama kali bertemu. Aku sampai mengira kamu mengambil kelas berakting." Tari menghela nafasnya tanpa menepis tangan Renald. "Dengar Ren. Sejujurnya aku sudah lelah mengulang kata-kataku. Kita lakukan saja perjanjian kita oke? Meski perjanjian ini tidak di atas kertas, setidaknya kita tahu tugas masing-masing." Tari melepaskan tangan Renald lalu masuk ke mobil.
"Sebenarnya ada apa dengannya?" gumam Tari. "Tidak mungkinkan dia menyukaiku?" dengan cepat Tari menggeleng. Dia sudah gila berpikiran seperti itu. Renald? Menyukainya? Yang ada kiamat! Huh!
Renald masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengaman dan pergi. Mereka berjalan pulang tanpa berkata apapun.
......***......
Malamnya Tari di kejutkan dengan banyaknya bodyguard di area paviliun tempatnya tinggal. Marissa berkata Veronica benar-benar mengamuk, jadi untuk kebaikan Tari, para bodyguard berjaga.
"Astaga, Renald terlalu berlebihan." kata Helena. Helena merasa terlalu khawatir, karena itu dia mengunjunginya malam-malam. Padahal Tari sudah membalas pesannya. "Harusnya dia mengusir Veronica, bukannya malah meletakkan bodyguard disini."
"Bukannya kalian berteman? Maksudku... Dengan Veronica?" tanya Tari. Dia penasaran dengan itu. Awalnya mereka menyembunyikan Veronica saat Tari pertama kali melihat Renald dengan Veronica di klub itu.
"Berteman, memang. Tapi kami tidak... Terlalu menyukainya."
"Kenapa begitu?"
Helena meresap tehnya. "Dia.. Terlalu.. Entahlah, berlebihan? Terhadap semuanya. Tapi Renald mencintainya, jadi kami bisa apa. Dia terlalu keras kepala. Mereka berkencan sejak mereka SMA. Satu sekolah yang sama. Mereka memiliki kelas yang sama. Laki-laki populer dan gadis populer, sama-sama berasal dari keluarga kaya. Semua orang tentu mendukung. Tapi kau tahu, Veronica anak perempuan satu-satunya di keluarganya dan dia sangat manja dan suka melakukan hal sesukanya. Sampai ayahnya bangkrut dan meninggal karena serangan jantung. Selama itu Renald yang membiayai hidupnya dan ibu serta kedua adik laki-lakinya. Kami tidak masalah tentu. Kami berpikir mereka sepasang kekasih dan akan menikah. Tapi sampai kami tahu bagaimana Veronica sebenarnya."
Helena meminum habis tehnya seperti air putih. Helena memberi isyarat pada Marissa untuk mengisinya lagi.
"Ahh tidak, tidak, jangan teh. Ambil susu hangat saja Marissa." pinta Tari.
"Terima kasih."
"Tidak masalah."
"Yang bodoh disini adalah Renald! Dia mengetahui segalanya. Perselingkuhan Veronica, sikapnya, maksudku.. Sikap sebenarnya. Dia itu gila! Dia menghancurkan proyek Renald hanya karena Renald tidak membalas telepon dan pesannya. Dia juga menjadi gila jika Renald dekat dengan wanita lain. Padahal dia berselingkuh bahkan dengan teman bisnis Renald. Entah ada apa dengannya. Mungkin dia bosan dengan Renald yang.. Datar. Tapi ya, Veronica memang begitu. Yang bodoh adalah Renald. Bagaimana bisa dia masih mencintainya, menginginkannya dan mengurusnya setelah semua itu?! Veronica bahkan menolak pernikahan, kau tahu apa alasannya? Dia berkata dia masih ingin bebas dan have fun. Tapi saat Renald ingin move on, dia selalu menghalangi! "
"Oke, tenanglah. Kamu sedang hamil, ingat? Jangan marah dan jangan emosi." Tari mencoba menenangkan Helena. Dia tampak menggebu-gebu bercerita. Wajahnya yang putih mulai merah, bahkan dalam penerangan lampu terlihat jelas. Helena menarik nafasnya, mencoba menenangkan dirinya.
"Maafkan aku. Aku hanya muak melihat mereka." Helena meminum susunya. "Dan juga, awalnya kami kira kamu seperti gadis yang biasa Renald manfaatkan untuk membuat Veronica kembali. Tapi ternyata kami salah."
Tari mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Aku memang membuat dua sejoli itu bersama lagi."
"Tidak, kali ini berbeda. Renald tidak kembali pada Veronica."
"Dia datang ke pestamu tadi, berdua."
"Dan dia pulang bersamamu, berdua."
"Itu hanya-- kami tinggal di satu rumah."
"Kamu akan naif seperti ini?" tanya Helena. Tari hanya diam menatap Helena. "Baiklah, benar. Kita memang tidak bisa menebak Renald. Dia benar-benar sulit ditebak. Tapi dari tatapannya, perilakunya, dia menyukaimu!"
"Apa?!" Tari tertawa. "Jangan bercanda Helena! Kamu pasti salah."
"Mungkin aku salah. Mungkin juga tidak. Tapi tindakannya saat di pestaku benar-benar menegaskan itu."
"Dengarkan aku, Helena. Dia tidak mungkin menyukaiku. Itu hal yang tidak mungkin. Dia mungkin, hanya merasa bertanggung jawab saja. Itu yang aku yakini. Dia sudah dewasa. Kami sama-sama sudah dewasa. Tentu kami mengerti tentang bertanggung jawab."
"Karena itu. Kamu berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Veronica. Wajar jika dia menyukaimu. Kamu mandiri, tidak gila uang, tidak gila. Tentu dia menyukaimu."
Tari tertawa. Pemikiran Helena benar-benar absurd. Renald menyukaiku? Itu gila!
"Dia tidak menyukaiku, Helena. Aku yakin itu." Tari menggelengkan nafasnya.
"Mau bertaruh?"
Tari menghela nafasnya. "Tidak. Berhentilah memikirkan semua ini. Kamu sedang hamil besar. Bayimu bisa stres."
"Googling. Kamu berkata bayi bisa merasakan sesuatu. Aku penasaran jadi aku cari."
"Jangan, jangan di cari. Rasakan langsung saja. Buatlah anak bersama Renald. Jika anakmu laki-laki, mereka bisa berteman baik sama seperti ayah mereka, jika anakmu perempuan, kita jodohkan saja mereka."
Tari melongo sejenak lalu tertawa geli. Imajinasi Helena benar-benar luar biasa.
"Sepertinya seru sekali." kata Ted yang baru saja datang.
"Bagaimana Renald?" tanya Helena.
"Entahlah, mereka berada di kamar." kata Ted lalu duduk disebelah Helena.
"Bersama Veronica?"
Ted mengangguk. "Iya."
Helena menatap Tari yang juga menatapnya seakan mengatakan i told you so. Tari tersenyum. Benarkan? Itu hal yang tidak mungkin terjadi.
...***...
Paginya, semua pelayan sibuk memindahkan barang milik Tari. Tari hanya menatap mereka dalam diam. Dia benar-benar ingin tinggal di paviliun itu.
"Sebaiknya aku berbicara pada Renald."
Tari berjalan menuju ke rumah utama. Dia harus berbicara dengan Renald. Dia tidak ingin pindah dari paviliun.
Tari tidak melihat Renald di manapun di rumah utama. Mungkin di kamarnya, batinnya. Tapi Tari enggan masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin melihat dua sejoli itu bermesraan. Jadi dia memutuskan untuk menunggunya.
"Nyonya? Sedang apa nyonya ada disini?" tanya Alfred yang melihat Tari berdiri di depan kamar Renald.
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun pada keponakanmu, tuan Alfred. Aku hanya ingin bertemu tuanmu." kata Tari datar. Entah kenapa dia tidak menyukainya. Mungkin karena sedari awal, Alfred memberikan kesan sangat tidak menyukainya. Dia selalu berkata dengan dingin dan dengan wajah yang terlihat jelas membencinya.
Tak lama Renald keluar dari kamarnya dan mendapati Tari berdiri di depan kamarnya.
"Kenapa kamu disini? Aku kira kamu sudah pergi kerja." kata Renald. Dia mengancingkan kancing bajunya paling atas.
"Maaf aku mengganggu pagimu. Aku tahu kamu pasti tidak ingin melihatku pagi-pagi. Kalian berdua maksudnya." kata Tari membuat Renald mengerutkan keningnya. "Tapi aku kemari hanya ingin bilang, aku tidak ingin pindah. Biarkan aku tinggal di paviliun itu."
Renald menaikkan alisnya. "Kenapa kamu ingin sekali tinggal disana?"
"Karena disana sangat tenang dan tidak perlu bertemu dengan kalian bertiga. Aku yakin kalian bertiga juga tidak ingin bertemu denganku. Jadi solusi yang menyenangkan kan? Setidaknya sampai aku benar-benar pergi dari sini." kata Tari.
"Siapa yang bilang aku tidak ingin bertemu denganmu?" tanya Renald. Dia meletakkan dasi yang belum di simpul di pundaknya.
"Tapi kau kan-- maksudku.."
"Jangan mudah menyimpulkan sesuatu. Aku senang bertemu denganmu."
"Whaaatt? Ada apa lagi dengannya?"
"Pasangkan dasiku." pinta Renald. Tari mengerutkan keningnya.
"Saya akan memasangkannya tuan." kata Alfred. Renald mengangkat satu tangannya.
"Tidak. Aku ingin istriku, yang memasangkannya." tegas Renald. Tari mengerutkan keningnya.
"Kekasihmu saja. Bukannya dia ada. Kenapa harus aku? Aku tidak mau di jambak atau di dorong lagi lalu disalahkan karena aku membela diriku." kata Tari lalu beranjak pergi. Renald menyusulnya dan menghentikan langkahnya. Renald memperlihatkan dasinya pada Tari.
"Kamu belum memasangkan dasiku." kata Renald. Tari menghembuskan nafasnya. Dia benar-benar kesal sekarang. Ingin rasanya mencekiknya dengan dasi itu.
Tari menghadap Renald lalu mengambil dasi ditangan Renald dan memasangkannya. Untung Tari pernah memasangkan papanya dan juga adiknya dasi, jadi dia bisa memasangkannya dengan cepat. Well setidaknya itu yang di pikirkan Tari. Kenyataannya, dia begitu gugup. Renald terus menatapnya dan tubuh Renald juga condong ke arahnya, karena tubuh Renald jauh lebih tinggi darinya. Wangi parfum Renald yang menyentuh hidungnya juga mengganggunya. Sangat wangi, membuatnya terbuai.
"Apa kamu gugup?" tanya Renald karena sedari tadi Tari melakukan kesalahan.
"Ti-tidak. Hanya saja sudah lama aku tidak memasangkan dasi. Lagipula, bau parfummu menggangguku. Apa kamu mengenakan satu botol prafum? Menyengat sekali!"
Renald tersenyum kecil lalu semakin mendekatkan wajahnya pada Tari.
"Bernarkah?" bisiknya.
Sekujur tubuh Tari merinding. Bukan karena takut atau merinding. Tapi ada rasa aneh yang membuatnya merinding.
"Su-sudahkan? Aku pergi."
"Tunggu." panggil Renald. Tari mengendus kesal lalu berbalik.
"Apa kamu suka dengan rumah ini?" tanya Renald. Tari mengerutkan keningnya. Pertanyaan macam apa itu?
"Rumah ini.... Sungguh menyusahkan. Terlalu luas! Kemana-mana susah, karena terlalu jauh. Tapi apa urusannya denganku?"
"Bagaimana jika kita pindah rumah saja?" tanya Renald lagi.
"Kenapa bertanya padaku?"
"Kamu istriku dan tinggal denganku. Tentu aku bertanya padamu. Apa kamu punya waktu? Kita lihat-lihat rumah dan kamu bisa memilih rumah yang kamu mau."
Tari melongo dengan sukses. Dia hanya diam dan mengedipkan matanya berkali-kali.
"Rumah, rumah dia. Kenapa aku harus repot juga?"
"Kenapa harus ajak aku? Ajak saja kekasihmu sana. Sekalian membeli rumah untuk kalian menikah nanti. Pagi-pagi sudah buat pusing!" kata Tari sambil berlalu. Kali ini Renald tidak menghentikannya. Dia hanya menatap Tari sampai hilang dari pandangannya. Ya, Mentari Senja, aku menyukaimu!
...***...
Like, rate dan subscribe ^_^