When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 40



Hari minggu, semua teman Renald datang ke rumah. Alasannya, merayakan rumah baru. Membuat Tari geleng-geleng kepala. Mereka berenang di kolam renang yang pemandangannya sangat indah. Tari? Tentu diseret ikut oleh Helena. Rencananya untuk tidur seharian gagal total.


Sementara yang lain berenang, Helena dan Tari hanya duduk dan berbicara.


"Kamu tahu kemana Veronica, malam saat aku datang?" tanya Helena tiba-tiba. Dia berbicara tentang rencana kelahiran anaknya dan berbagai barang untuk bayi tapi tiba-tiba dia Mengganti topik.


"Tidak, tentu. Aku bahkan tidak tahu kapan dia pergi."


"Kata Ted, pagi-pagi sekali. Renald mengantarnya ke bandara. Dia pulang ke kampung halamannya di York."


"Benarkah? Kenapa?"


"Karena Renald mencampakkannya."


" Mencampakkannya? Kenapa?"


"Karenamu."


Tari terkejut. "Apa?"


"Aku rasa dia sudah muak padanya. Well itu bagus. Mereka sudah tidak bersama, untuk apa terus-menerus mengurusinya. Ted menampar Renald dengan kenyataan. Dan Renald memilih untuk mencampakkan Veronica dan datang padamu."


"Tunggu dulu, tunggu. Kenapa aku?"


"Ya ampun, Tari. Kamu itu istrinya! Tentu saja dia memilihmu."


"Tapi hanya di atas kertas! Sampai hutangku lunas lalu aku bercerai. Hanya itu."


"Hutang? Ahh itu--"


"Honey, aku minta handuk." kata Ted pada Helena. Helena dengan cepat memberikan handuknya. Renald juga sudah selesai berenang. Dia mengambil handuknya di kursinya lalu berjalan ke kursi Tari. Tari dihadapkan dengan tubuh-tubuh seksi para pria bertelanjang dada yang berdiri di depannya. Tari menundukkan kepalanya. Renald duduk tepat di sebelahnya, membuat Tari secara otomatis memundurkan tubuhnya agar tidak menyentuhnya dan mengalihkan pandangannya tentu agar tidak melihat tubuh seksi yang basah itu.


Renald, Ted dan Helena mulai asik berbicara. Tari? Hanya diam di ujung kursi sambil tetap terus mengalihkan tatapannya. Tiba-tiba tubuh Renald mendekatinya, sangat dekat. Tangannya melewati tubuh Tari, berusaha mengambil sesuatu di meja di dekat Tari. Tari secara otomatis menghindari tangan itu. Tari diam ditempat, tidak bergerak, bahkan dia menahan nafasnya. Dia terpojok. Tubuh telanjang dada Renald yang berada sangat dekat dengannya dan tangan Renald. Dia seperti akan di peluk saja. Tari menelan salivanya. Entah kenapa detak jantungnya menjadi tidak karuan. Padahal Renald hanya mengambil tabnya. Tapi Renald bisa saja menyuruhnya mengambil tab itu, kenapa harus membuatnya gugup?


"Tari?" panggil Helena. Tari menoleh. "Kenapa sedari tadi diam saja?"


"Eh? Ahh... Tidak, tidak apa-apa." kata Tari dengan senyum kikuknya. "Ehm.. Sebaiknya aku kembali ke kamar." Tari berdiri dari duduknya.


"Ke kamar? Tapi kenapa?"


Renald menggenggam tangan Tari. "Duduklah. Jangan ke kamar."


"Tapi aku--"


"Duduklah, kita berbicara bersama. Sebentar lagi kami ingin bermain basket, apa kamu mau melihatnya?" tanya Ted.


"Well.. Aku.."


"Kita bermain sekarang?" tanya Renald.


"Tentu."


Semua orang berdiri untuk menuju ke lapangan basket. Randy mendatangi Tari dan ingin menyapanya tapi Renald dengan cepat menarik tangan Tari dan menjauh. Randy hanya bisa tertawa melihat kekonyolan Renald.


Mereka sampai di lapangan basket. Dua lawan dua. Renald satu tim dengan Ted. Sementara Randy dengan James. Renald memberikan handuknya pada Tari.


"Wish me luck, babe." kata Renald lalu mencium kening Tari dan berlari ke tengah lapangan. Tari mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengannya?"


"Tunggu, mereka akan bermain bertelanjang dada begitu?" tanya Tari pada Helena.


"Tentu saja. Sudah nikmati saja pemandangan indah ini." kata Helena lalu tertawa. "Jadi bagaimana jika kita melakukan perjanjian?"


"Perjanjian? Tentang?"


"Jika anak pertamamu dengan Renald adalah perempuan, kita akan jodohkan dengan anakku ini."


"Oookkkaaaayy.... Dengar Helena. Aku rasa--"


"Ayolah Ri, dia memilihmu! Jadilah pasangan yang sebenarnya."


Tari terdiam. Benarkah ini? Dia tidak bisa mempercayainya. Memang Renald jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada tatapan dinginnya lagi. Tidak ada perlakuan dan perkataan kasarnya lagi darinya. Renald benar-benar menjadi orang yang berbeda. Tapi Tari tentu tidak mau percaya begitu saja. Dia tidak ingin kembali sakit hati. Lagipula dia harus tetap fokus untuk pergi, ya fokus.


Tari fokus? Tidak, dia tidak bisa fokus. Setiap hari Renald terus saja menggodanya. Dia akan bertelanjang dada jika berada di dekatnya. Dia setiap hari meminta Tari untuk memakaikan dasi untuknya, atau tiba-tiba tidur di pangkuan Tari. Rasanya jantungnya ingin copot saja dari tempatnya.


Harusnya dia tidak seperti itu. Harusnya dia tidak boleh merasa tergoda. Tapi apa daya, hatinya terlalu lemah. Tapi Tari berusaha sekuatnya untuk tidak perduli atau bersikap biasa saja.


...***...


Renald menarik tangan Tari dari kamar menuju ruang makan. Tari tidak ingin makan malam tapi Renald memaksanya. Dia mengancam akan menggendongnya sampai ruang makan jadi dengan berat hati dia menyeret kakinya turun menuju ruang makan.


"Lihatlah! Rumah ini terlalu besar! Betapa melelahkannya hanya untuk ke ruang makan!" keluh Tari membuat Renald tertawa.


"Mau aku gendong saja?" tawar Renald.


"Tidak, aku bukan anak kecil, lagi pula kita sudah dekat." gerutu Tari.


Tari duduk di meja bar seperti biasa. Renald menawarinya duduk di meja makan, tapi dia menolak. Akhirnya Renald ikut duduk di meja bar. Tari berusaha duduk agak jauh dari Renald tapi Renald semakin mendekat. Akhirnya dia menyerah.


"Makanlah yang banyak. Kamu terlihat kurus."


Tari cemberut. "Enak saja." gumamnya.


"Bagaimana dengan adik-adikmu?" tanya Renald.


"Bagaimana apanya?" Tari mengerutkan keningnya.


"Kabar mereka? Apa kamu yakin tidak ingin membawa mereka kemari?"


"Aku sudah katakan. Aku tidak ingin mereka melihat kehidupan pernikahan palsu kit--"


"Kita tidak palsu lagi, baby." potong Renald. "Kita benar-benar sepasang suami istri, sekarang."


"Apa? Tidak! Dengarkan aku--"


"Terus aku harus menurutimu?"


"Kenapa kamu tidak mau? Kita sudah sah menikah. Ya, aku tahu aku memiliki banyak salah padamu dan aku sungguh minta maaf. Karena itu aku ingin memperbaiki semuanya."


"Lalu bagaimana dengan Veronica?"


"Kenapa dengannya?"


"Ayolah Ren. Semua juga tahu bagaimana kamu dengannya. Aku tidak ingin berada di tengah-tengah hubungan seseorang."


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya lagi."


"Seriously? Kamu benar-benar mengatakan hal itu?"


"Tapi itu benar, baby."


"Ren, bahkan semua orang tahu bagaimana hubunganmu dengannya. Aku yakin sebentar lagi kalian akan bermesraan disini. Itu sudah bisa di pastikan dan aku sungguh tidak ingin terlibat hal itu. Aku tidak ingin dia menarik rambutku karena aku mendekati kekasihnya. Apa kamu begitu membenciku sampai-sampai kamu menyiksaku seperti ini? Bukan hanya aku yang setuju dengan pernikahan konyol ini. Kamu juga. Jadi tidak hanya salahku dan aku sudah bersedia untuk membayar uang yang kamu berikan padaku sewaktu kita menikah! Dan jangan panggil aku baby, i'm not your baby!"


"Itu tidak akan terjadi lagi. Aku dan dia tidak akan pernah kembali. Aku sudah memutuskan untuk--"


Suara ponsel Renald berbunyi. Renald merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya. Renald menatap layar ponselnya dengan kerutan di wajahnya.


"Ya?"


"...."


"Apa? Jangan bercanda. Aku tidak suka itu."


"...."


"Apa kamu serius?"


"...."


"Dengar, aku tidak akan biarkan jika ini adalah lelucon!"


"...."


"Baiklah, aku kesana sekarang!"


Renald menutup ponselnya. Dia beranjak pergi tanpa mengatakan apapun pada Tari, membuat Tari bingung. Tapi Tari tidak begitu perduli, Tari melanjutkan makannya. Tak lama Renald kembali dengan tas di tangannya.


"Aku akan pergi selama beberapa hari." kata Renald.


"Tidak perlu minta ijin padaku. Kamu bukan anak kecil lagi." kata Tari tanpa menatap Renald.


"See you again, baby." Renald mencium kepala Tari lalu beranjak pergi tanpa menoleh lagi.


...***...


Renald pergi sudah hampir sebulan. Tari tahu dari Helena, jika Veronica meninggal karena kecelakaan. Tari terkejut tentu. Helena tidak bisa datang kepemakamannya karena dia hamil besar dan perjalanan yang cukup jauh. Jadi dia memilih di rumah dan Tari yang menemaninya agar Helena tidak sendirian karena Ted pergi ke Inggris untuk melayat. Yang Tari bingung adalah, Renald pergi selama satu bulan lebih dan belum kembali. Dia melayat atau apa?


Tapi bukan Tari jika dia perduli itu. Dia sedikit khawatir, itu benar. Dia tidak bisa berbohong. Tapi itu tidak lama. Setidaknya dia tahu keputusan apa yang akan dia ambil. Dia akan tetap melunasi hutangnya dan pergi. Sampai meninggalpun, Veronica masih menguasai Renald. Bahkan melayat pun sampai satu bulan lebih lamanya. Tari merasa dia tidak akan menang dalam pertempuran hati Renald. Terlebih, dia tidak mau menjadi pengganti. Dia mau Renald memang menginginkannya karena mencintainya, bukan sebagai pengganti.


"Aku belum gila, Na Eun-na..." kata Tari. Dia video call dengan Na Eun. Mereka menggunakan bahasa korea agar tidak ada yang mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Awalnya mereka sedang membicarakan tentang Na Eun yang katanya akan menikah. Tapi Na Eun justru bertanya tentang Renald.


"Ya, aku tahu. Apa kamu benar yakin dia tidak menyukaimu?" tanya Na Eun.


"Yakin seratus persen. Aku tidak percaya padanya. Mana ada melayat sampai satu bulan lamanya. Aku yakin dia berduka, entah di mana. Meratapi nasibnya ditinggal kekasih. Itu sudah membuktikan bahwa dia tidak mungkin serius dalam ucapannya."


"Sepertinya aku harus setuju denganmu."


"Aku tidak mau terlibat lagi. Terlebih perasaanku. Aku tidak mau mengorbankannya. Aku berhak bahagia. Memangnya salah apa aku sampai aku harus seperti ini? Sudah cukup kan aku menjadi tameng. Aku juga membayar hutang itu. Lalu aku harus menjadi istrinya yang tidak dia cintai untuk menunggunya mencintaiku dan mengorbankan perasaan dan hidupku? Bukankah itu terlalu berlebihan?"


"Kau benar. Aku juga tidak setuju meskipun dia kaya. Kau berhak bahagia sayang. Jangan mau hanya menunggu." dukung Na Eun.


"Aku tahu. Aku sudah menutup rapat hatiku, membatasinya dengan dinding tinggi dan tebal, jadi tidak akan lagi tersakiti, terlebih aku masih disini. Tidak, aku tidak akan biarkan dia menyakitiku lagi. Sudahlah, lupakan tentangnya."


"Apa mau aku bantu bayar hutang itu? Kamu bisa membayarnya kapan saja padaku." tawar Na Eun.


"Apa kamu gila? Kamu itu mau nikah, kamu lebih perlu uang itu dariku. Aku malah mungkin tidak bisa menghadiri pernikahanmu. Uangku selalu habis untuk membayar hutang."


"Kamu tidak melakukan perawatan? Skincare? Setidaknya krim, itu wajib!"


"Astaga teman cerewetku. Tentu saja aku memakainya, hanya saja aku memakainya sepuluh kali lipat lebih sedikit dari kebanyakan orang." kata Tari. Na Eun tertawa. "Hei, jangan tertawakan aku. Aku melakukan itu untuk menghemat." Tari ikut tertawa.


"Aku ingin kamu disini, membantuku menyiapkan pernikahanku. Kau harus datang. Aku yang akan menyiapkan segalanya, hm?"


"Aku tidak bisa melakukan itu. Kamu lebih membutuhkan uang daripada aku."


"Tapi aku ingin kamu datang. Minta saja pada suami atas kertasmu itu. Kamu berhak mendapat uang darinya. Mungkin kalian hanya di atas kertas. Tapi kamu berhak mendapatkan uanya."


"Dan membuat dafatr hutangku bertambah banyak? Tidak, terima kasih. Aku harus segera melunasi hutangku dan pergi dari sini. Hidup bersama kedua adikku, mencari kerja. Agar aku bisa menikahi kedua adikku."


"Selalu saja mementingkan orang lain terlebih dahulu. Apa kamu tidak lelah? Hei, suami itu kaya. Mintalah padanya, kamu berhak itu!"


"Dia benar. Mintalah padaku."


Tari berteriak karena terkejut. Renald sudah berdiri di sampingnya. Tari memang tidak menggunakan headsetnya. Jadi pembicaraan mereka bisa di dengar semua orang. Tapi dia menggunakan bahasa korea. Jadi biar bisa di dengar semua orang, mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi tiba-tiba Renald datang.


"Kamu mengejutkanku." kata Tari yang langsung menutup laptopnya.


"Hai baby." Renald mendekat, mencoba mencium kening Tari. Tapi Tari dengan cepat menghindar.


"Mau apa kamu? Jangan mendekat!"


"Baby aku hanya--"


"Jangan panggil aku baby, i'm not your baby!" Tari mengambil laptopnya lalu beranjak pergi. Tapi belum jauh dia melangkah, dia berkata lagi. "Aku sudah pindahkan semua barangku ke salah satu kamar lain. Jadi kamu bisa bebas memakai kamar utama itu." kata Tari lalu pergi.


Renald hanya menghembuskan nafasnya kasar. Saat dia hampir meraih hatinya Tari, kini dia harus kembali ke titik awal lagi. Sial!


...***...