
Tubuh Tari membeku sejenak tapi sedetik berikutnya dia tersadar. Terlebih orang-orang sudah menatap mereka. Tari mendorong tubuh Renald, melepaskan ciuman mereka.
"Apa kamu sudah gila?!" tanya Tari. Dari wajahnya terlihat kepanikan dan kebingungan. Dia tidak pernah menyangka Renald akan melakukan hal segila itu. Renald tidak menjawab. Hanya menatap Tari. Sulit sekali memperkirakan apa yang di pikirkannya. Tari meronta, ingin melepaskan diri. Tapi sepertinya Renald tidak ingin melepaskannya.
"Lepaskan aku!" tegas Tari.
"Tidak. Kita lanjutkan saja, bagaimana?" Renald memajukan wajahnya lagi tapi kali ini Tari sigap dan menjauhkan wajah Renald meski masih di dalam rengkuhan.
"Jangan gila, Renald William."
Ada sunggingan di bibir Renald. Dia menatap dingin pada Tari. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Tari dan berbisik.
"Kamu lupa diri lagi. Kamu itu tameng. Jadi ikut saja."
Renald kembali menatap Tari dengan senyuman kecil di wajahnya. Senyuman yang membuat Tari bergidik. Tari menatap tajam Renald. Nafasnya mulai memburu. Akhirnya dia tertawa kecil lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Renald dan berbisik.
"Kau benar. Aku memang seorang tameng. Tenang saja, aku tidak akan pernah melupakan hal itu. Tapi meskipun aku hanya tameng, bukan berarti kamu bisa seenaknya menyentuh dan menciumku."
Tari menarik wajahnya lalu.
Bukk!
Tari menendang tulang kering Renald sekuat yang dia bisa. Mulut Renald terbuka sempurna lalu terdengar rintihan kecil kesakitan dari mulutnya. Renald menunduk memegangi tulang keringnya. Tari hanya menatapnya tajam lalu beralih ke Michel yang sudah menutup mulut dengan tangannya dan menariknya pergi meninggalkan Renald yang menjadi tontonan tamu disana.
Randy yang terkejut dengan kejadian itu tertawa geli. Renald tertatih mendatangi Randy yang masih tertawa.
"Ber.. Hentilah tertawa." kata Renald. Dia masih mengelus tulang keringnya yang masih terasa nyeri. Tapi Randy semakin tertawa keras lalu menepuk punggung Renald dan pergi meninggalkan Renald. "Hei! Mau ke--astaga sakit sekali."
Tari masih menarik Michel berjalan dipinggir jalan. Entah mau kemana dia, tidak tahu. Dia hanya ingin menjauh.
"Uhmm... Apa kamu tahu tempat yang bagus?" tanya Tari akhirnya.
"Restoran atau bar?"
"Apa saja yang bisa membuatku duduk dan minum." kata Tari. Michel menghela nafas lalu tersenyum.
"Ayo ikut aku."
Kali ini Michel yang menarik tangan Tari dan pergi ke salah satu bar disana. Bar itu tidak terlalu ramai. Mereka duduk di dekat jendela. Tari menatap keluar jendela sementara Michel pergi untuk memesan sesuatu.
Satu gelas air mineral tersedia di hadapannya begitu juga Michel. Tari meminum air mineral itu sampai habis lalu mengelap mulutnya.
"Kamu baik-baik saja, honey? Apa sudah tenang?" tanya Michel. Dia tampak khawatir. Tari mengangguk.
"Ya, aku harus baik. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Dia yang seenaknya mencium orang. Apa-apaan itu?!"
Tari mengandus kesal. Ughh rasanya rasa kesalnya mau meledak!
Michel tertawa kecil melihat ekpresi Tari. "Kau seperti habis mengalahkan satu alien seperti thanos lalu berbuat kesalahan."
Tari menatap Michel. "Apa maksudnya itu?"
"Wajahmu itu tampak kacau, kelelahan dan sangat kesal."
"Ahh..." Tari menunduk. "Maaf sudah mengajakmu pergi denganku. Padahal kamu pasti ingin berpesta."
"Baby, aku justru senang kamu mengajakku. Karena aku pasti khawatir jika kamu keluar dan berjalan sendirian tidak tentu arah seperti tadi. Meski kecenderungan seksualku sudah berubah, aku masih tetap seorang pria dan kuat. Kamu masih bisa mengandalkanku sebagai temanmu. Lagipula pesta tadi sungguh sangat membosankan."
"Terima kasih." ucap Tari lalu tersenyum. Michel menyentuh tangan Tari.
"Anytime. Kita berempat adalah teman. Wajar jika kita saling mendukung. Jen sedang dalam perjalanan kemari."
"Apa? Bukannya dia ada kencan?"
"Dia juga khawatir padamu."
"Oh tidak... Aku jadi penyebabnya. Katakan padanya aku baik-baik saja. Dan suruh dia tetap bersama teman kencannya." pinta Tari. Dia merasa tidak enak Jen membatalkan kencannya gara-gara dia.
"Dia tidak akan mau, Tari. Biarkan saja. Jen tidak akan kehilangan pria. Dia selalu bersama pria berbeda. Aku yakin dia bisa segera mendapatkannya lagi. Sekarang ceritakan padaku, kenapa kamu menendangnya?"
"Uhmm... Karena dia menciumku?"
"Seriously?"
"Hmm.. Aku serius."
Michel menatap Tari sejenak lalu tertawa terbahak. Tari mengerutkan keningnya. Kenapa dia tertawa?
"Maaf... Maaf..." kata Michel yang menyadari Tari menatapnya dengan bingung. "Kamu menendangnya hanya karena dia menciummu? Suamimu menciummu? Astaga Tari.." Michel tertawa lagi. Tari menghela nafas.
"Sudah aku katakan, hubungan kami rumit."
"Kalau begitu ceritakan. Bagian mananya yang rumit." Jen datang dan membawa minuman untuk Tari.
"Jen, maafkan aku sudah membuatmu membatalkan kencanmu." lirih Tari. Dia merasa tidak enak.
"Ya, aku membatalkan kencanku untuk malam ini. Tapi besok kami akan bertemu lagi. Tidak masalah."
"Oooohhh... Lihatlah jal*ng ini. Berhasil menggaet pria rupanya. Bekerja di bagian mana?" Michel terlihat antusias.
"Itu bisa menunggu. Aku ingin mendengar cerita Tari. Aku yakin akan heboh di kantor."
"Benarkah?" Tari terkejut.
"Honey, kamu menendang salah satu pria kaya most wanted disini. Tentu saja! Mereka semua melihatmu tadi."
"Oh tidak." Tari meletakkan kepalanya di atas meja.
"Apapun alasanmu melakukan itu, jika memang itu benar untuk dilakukan, kami akan mendukungmu. Yah kami tahu kami baru beberapa minggu mengenalmu. Tidak mungkin kamu terbuka pada kami dan kami tidak akan memaksamu. Take your time." kata Michel. Tari mengangkat kepalanya dan menatap kedua temannya.
"Terima kasih." Tari meminum minumannya. Dia bukannya tidak percaya pada mereka. Dia hanya enggan menambah masalah mereka. Lagipula, dia tidak tahu apa dia akan tetap bekerja di kantor Randy atau tidak. Dia sudah memprediksikan jika dia akan terkena masalah karena dia mengenal Renald dan Randy.
"Yang perlu kalian tahu adalah... Aku hanya istri di atas kertas. Hanya tameng baginya." jelas Tari.
"Apa kalian tahu wanita yang biasa bersama Renald?"
"Tentu. Veronica." jawab Michel.
"Astaga kamu bahkan tahu namanya." Jen menggelengkan kepalanya.
"Ayolah.. Kamu sungguh-sungguh bertanya hal itu?"
"Ya, kau benar. Aku salah bertanya. Jika tentang gosip, kau adalah masternya. Lalu, kenapa dengan dia? Aku bahkan tadi melihat mereka bergandengan mesra." Jen menggelengkan kepalanya.
"Benar. Aku hanya di jadikan tameng agar kehidupan cintanya langgeng."
"Lalu kenapa kamu menikah dengannya?"
"Orang tua kami."
"Oh astaga! Memangnya ini jaman apa? abad pertengahan?! Jaman sekarang masih ada hal seperti itu?!" Michel menyandarkan tubuhnya kasar. Dia mendengus. Tari hanya mengangkat kedua bahunya.
"Dan kamu! Kenapa kamu menerimanya?! Menerima hal gila itu?!"
"Ada hal yang membuatku menerima perjodohan itu. Tapi kamu pikir aku akan menerima jika aku tahu akan menjadi tameng? aku sedang berusaha keluar dari semua ini. Wish me luck."
"Kau tahu? Seharusnya kamu menendang alat kem*lu*nnya. Pria brengsek!" maki Jen.
"Bisakah kita berhenti membicarakannya?"
"Tentu saja. Mari kita alihkan pada Jen." dukung Michel.
"Aku? Kenapa aku?"
"Darling, sudah saatnya kamu menceritakan siapa pria itu yang aku yakini akan kamu bawa ke ranjang besok."
Jen menggelengkan kepalanya. Michel masih berusaha mendesak Jen menceritakan semua tentang pria itu. Dalam hati Tari lega dia memilik teman seperti mereka. Santai dan tidak terlalu menuntut hal yang pribadi. Meski dia masih harus terbiasa dengan kata-kata mereka.
...***...
Esoknya Tari terpaksa pakai kekuatan flash saat berangkat kerja. Dengan cepat menghilang pagi-pagi buta dan sampai di kantor saat masih tidak ada orang. Yang akhirnya membuatnya terpaksa menahan lapar karena dia tidak sarapan. Dia tidak ingin menghamburkan uang untuk beli makan di luar. Selama ini minum bersama Michel dan Jen juga sudah termasuk pengeluaran dadakan. Bahkan mereka lebih sering mentraktir Tari. Dia harus segera melunasi hutangnya.
Itu membuat telpon Tari terus berdering. Renald menelponnya. Tari tidak mengangkatnya. Dia tidak ingin berbicara atau berurusan dengannya. Dia tidak merasa melakukan kesalahan.
"Ugghh... Aku kenyang sekali." Jen menepuk pelan perutnya. Mereka baru saja meninggalkan cafetaria kantor setelah makan siang.
"Aku kira kamu sedang diet untuk olahraga ranjang malam ini." Michel menggelengkan kepalanya.
"Tapi bukan berarti aku tidak akan makan apapun kan? Aku ingin diet, bukan menyiksa diriku."
"Oh katakanlah itu pada para pediet lainnya. Katakan kalian itu berdiet bukan menyiksa diri sendiri."
"Ha... Dan mereka akan langsung menceramahiku dengan tema Wanita dan siksa dirimu sendiri demi tubuh sempurna."
"Kau gila." Michel tertawa.
"Aku sungguh ingin melihat kejadian semalam. Ughh menyesal sekali tidak datang." keluh Lucy. Mereka berhenti di depan lift.
"Oke, apa harus di bahas lagi?" tanya Tari. Dia sudah seperti flash sepagian demi tidak bertemu Renald, bahkan menghindari telponnya. Dia sungguh tidak ingin membahas tentangnya. Terlebih, semua orang di kantornya sekarang menatap dan berbisik ke arahnya. Sangat tidak nyaman.
"Maafkan aku. Aku hanya penasaran. Mereka biasa dapat yang mereka mau. Terutama tentang wanita. Tapi justru diperlakukan seperti semalam. Itu kejadian yang langka!" Lucy terlihat antusias. Jen dan Michel tertawa. Sementara beberapa pegawai lain yang juga menunggu lift mulai membicarakannya dan menatapnya. Tari mulai merasa risih.
"Abaikan saja mereka. Mereka hanya tidak tahu bagaimana cerita sebenarnya dan tidak tahu hubunganmu dengannya, yang sebenarnya." bisik Jen di telinga Tari. Tari mengangguk dan tersenyum.
Tring!
Pintu lift terbuka. Semua orang mulai masuk ke dalam lift begitu juga Tari dan teman-temannya. Mereka masih saling berbicara. Saat pintu lift akan tertutup, sebuah tangan menghalanginya. Semua orang terkejut. Renald muncul dari balik pintu lift. Dia menatap Tari.
"Akhirnya." ucap Renald. Renald mengambil tangan Tari dan menariknya ke arahnya tapi Tari menahannya.
"Apa? Ada apa?"
"Aku ada pertemuan bisnis yang kebetulan harus membawa pasangan. Kamu istriku, bukannya seharusnya menemaniku? Dan kenapa kamu tidak mengangkat telponmu? Apa ponsel bututmu itu bermasalah?"
"Hah?" hanya itu yang bisa Tari ucapkan. Renald menggelengkan kepalanya lalu menarik Tari keluar dari lift. "Tu-tunggu.. Tas.... Tasku..."
"Alex akan membawakannya. Kita sudah terlambat." Renald menatap Alex. Alex mengangguk lalu masuk lift menggantikan Tari.
"Kalian teman nyonya William kan? Bisa tolong tunjukkan meja kerjanya?" tanya Alex pada Lucy, Jen dan Michel.
"Tentu. Asal kamu mau memberitahukan siapa namamu dan nomor teleponmu." kata Michel dengan senyuman manis dan ponsel terulur. Alex hanya tersenyum kikuk.
"Sudah pasti normal." bisik Jen. Michel bermuka masam dan mendengus.
"Sial!"
...***...
Renald dan Tari sama-sama tidak berbicara sampai mereka akhirnya sampai di bandara. Mobil Renald masuk ke dalam hanggar pesawat pribadi. Saat keluar mobil Tari melongo dengan sempurna. Dia di sajikan dengan pesawar privat jet milik Renald.
"Uhmm... Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Tari. Renald tidak menjawab. Dia mendatangi pilot pesawat dan menjabat tangannya. Setelah itu, pilot segera naik ke dalam pesawat beserta para kru pesawat. "Kita tidak akan naik pesawat itu kan?" tanya Tari yang masih bingung dan panik.
"Apa otakmu bermasalah? Jika kita berada disini tentu kita akan menaiki pesawat itu." jawab Renald datar.
"Tap-tapi.... Tapi..."
Sebuah mobil datang. Alfred keluar dari mobil itu dan menyerahkan passport pada Renald. Tari membulatkan matanya. Itu passportnya. Dia kenal itu. Ada lambang garuda di atasnya. Passport Renald tidak seperti itu karena dia warga negara inggris.
"Tu-tunggu.. Itu passportku!" pekik Tari. Renald hanya menatapnya sejenak lalu menarik tangan Tari dan menaiki pesawat.
"Ren, tunggu dulu. Kita mau kemana?!"
Renald tidak menjawab. Hanya terus menaiki tangga pesawat dan masuk ke dalamnya beserta Tari. Setelah semalam dia dicium, sekarang tiba-tiba dia harus menaiki pesawat yang tujuannya entah kemana, dia tidak tahu. Apa ini semacam balas dendam karena dia menendang kaki Renald semalam?
...***...