
Suara getar alarm dari ponsel Tari membuatnya terbangun. Dia melihat tangan Renald yang melingkar di pinggangnya. Tari mengangkat pelan-pelan tangan Renald, menyingkirkannya dari pinggangnya. Tari perlahan menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya. Di dalam kamar mandi, dia terus merutuki dirinya, menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi tadi malam. Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya dia bisa menolaknya, kalau perlu memukul, berteriak dan meronta. Tapi kenapa dia justru membiarkannya? Yang lebih parah, dia menikmatinya! Astaga, dia pasti sudah gila. Kenapa harus memperumit keadaan? Terlebih semalam mereka tidak mengenakan ****** atau pengaman lainnya. Bagaimana jika dia hamil? Astaga benar-benar kacau!
Tari keluar dari kamar mandi dan mendapati Renald tidak ada di kamar. Tari bernafas lega. Mungkin dia sudah kembali ke habitatnya. Tari duduk di depan meja riasnya, bersiap untuk melakukan rutinitas paginya di depan kaca. Tapi tiba-tiba pintu kamar terbuka membuat Tari secara otomatis menoleh. Dia melihat Renald masuk ke kamar mengenakan celana pendek saja dan membawa satu stel jas, dasi, jam tangan dan sepatu.
"Selamat pagi, baby." sapanya pada Tari dengan senyumannya. Dia meletakkan barang yang di bawanya di atas kasur lalu menuju kamar mandi.
"Uhmm Ren?" panggil Tari. Renald berhenti dan menoleh.
"Yes, baby?"
"Kamu mau kemana?"
"Ke kamar mandi. Aku mau mandi. Apa kamu mau ikut?" tanya Renald.
"Tidak, terima kasih." jawab Tari cepat mengatasi salah tingkahnya. "Bukan itu maksudku. Kenapa kamu mandi disini? Bukankah kamu memiliki kamar mandi sendiri?"
"Ini kamar istriku yang berarti kamarku juga. Tentu aku mandi disini." kata Renald lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tari menghembuskan nafasnya kasar. Sedetik berikutnya Renald keluar lagi.
"Kau yakin tidak mau ikut mandi denganku, baby?" tanya Renald lagi. Tari membalikkan tubuhnya membelakangi Renald tanpa menjawabnya.
"Dia imut sekali." gumam Renald lalu masuk kembali ke kamar mandi.
Setelah beberapa lama Tari selesai dan bersiap turun. Renald keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Tari yang akan keluar kamar.
"Tunggu, aku di bawah, oke? Aku akan segera siap."
"Apa bisa kamu tidak melakukan ini? Kita sudah melakukannya semalam seharusnya itu sudah cukup kan menutupi keinginanmu." kata Tari.
"Apa maksudmu, babe? Keinginan apa?"
"Untuk mendapatkan tubuhku, bercinta denganku. Sekarang kamu sudah merasakannya, kamu sudah melakukannya. Apa sekarang kamu bisa melepaskanku?" tanya Tari dengan suara bergetar.
"Apa?! Apa maksudmu? Aku bercinta denganmu karena kamu istriku dan aku mencintaimu!"
Tari masih diam menatapnya. Sulit menghilangkan keraguan dalam dirinya. Sulit mengakui jika Renald memang benar mencintainya. Mungkin dia hanya tidak ingin terluka.
"Baby..." Renald mencoba mendekati Tari tapi Tari langsung pergi begitu saja.
"Sial!"
***
Renald diam menatap kertas di depannya. Dia hanya mendengar Ted berbicara tanpa mengerti apa yang Ted bicarakan. Ted menyadari itu dan menghentikan kata-katanya.
"Oke, ini tidak akan berhasil." Ted meletakan berkas di meja. "Ada masalah apa?"
"Kenapa dia mengira aku bercinta dengannya hanya karena menginginkan tubuhnya?"
"Bercinta? Dengan siapa? Tunggu, Tari?! Kamu bercinta dengan Tari?!" Ted terkejut.
"Ya, semalam."
"Oh wow... Helena akan senang mendengar ini." gumam Ted.
"Tapi kenapa dia bisa menyimpulkan jika aku melakukannya hanya karena tubuhnya? Hanya karena aku ingin menidurinya?!"
"Apa kamu begitu?"
"Tentu saja tidak! Aku belum gila. Ted, aku mencintainya."
"Aku tahu itu."
"Lalu aku harus bagaimana meyakinkannya? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
"Jadi kamu mau menyerah?"
"Ayolah, kamu bercanda? Tentu saja tidak."
"Bagus. Jangan menyerah dan tetaplah di sampingnya."
"Aku tahu. Aku hanya--"
Terdengar suara ponsel Renald berbunyi. Dia membuka ponselnya dan melihat kakaknya meneleponnya.
"Ya?"
"..."
"Kenapa?"
"..."
"Apa? Kapan?"
"..."
"Apa baik-baik saja?"
"..."
"Baiklah."
Klik!
Renald menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku pergi dulu, Ted." Renald berdiri dari duduknya.
"Mau kemana? Ini belum selesai?" tanya Ted.
"Ke York. Mom masuk rumah sakit." kata Renald.
"Lagi? Astaga."
"Aku pergi."
Renald berjalan keluar kantor.
"Alex, batalkan semua rapat dan jadwalku. Aku harus ke York. Mom sakit." kata Renald pada Alex yang dia temui didepan kantornya.
"Baik pak."
Renald menuju parkiran mobil dan langsung menuju tempat Tari bekerja. Sesampai di kantor Randy, Renald langsung naik dan ke ruang kerja Tari. Tari yang sedang bekerja, terkejut dengan kedatangan Renald.
"Ayo kita pergi babe." ajak Renald.
"Apa? Kenapa?"
"Mom sakit. Ayo kita pergi."
"Mom?" Tari terkejut. "Mom sakit apa?"
"Ayo kita harus pergi." kata Renald. Tari masih diam di tempatnya. Dia tidak ingin ijin, lagi. Tapi sepertinya mom sedang dalam keadaan gawat. "Baby?"
Tari segera berdiri dari duduknya, membersihkan barangnya lalu pergi setelah berpamitan dengan Michel dan Lucy. Mereka menutuskan untuk bersiap terlebih dahulu sambil menunggu pesawatnya siap.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar Tari terdengar.
"Masuk." kata Tari. Pintu kamar terbuka, Brittany masuk ke dalam kamar.
"Hai." sapa Brittany. Tari mendongak dan tersenyum.
"Hai.." sapa Tari kembali. Brittany duduk di atas tempat tidur sementara Tari menyelesaikan packingnya.
"Mau ke York ya? Aku juga ikut."
Tari menatap Brittany. "Kamu ikut?"
"Tentu, tidak masalah." jawab Tari lalu melanjutkan packingnya.
"Apa... Apa kamu mencintainya?" tanya Brittany. Tari menatap Brittany dengan kerutan di dahinya.
"Mencintai? Siapa?"
"Renald tentu." Brittany tertawa dengan pertanyaan Tari.
"Well... Dia suamiku, Brittany."
"Iya aku tahu. Aku bertanya apa kamu mencintainya. Karena jika tidak, sebaiknya kamu mundur, biarkan aku maju. Karena tidak ada wanita yang mencintainya seperti aku." kata Brittany dengan kepercayaan diri yang tinggi. Tari hanya diam menatap Brittany. Itu hal yang aneh. Biasanya dengan Veronica dia akan langsung berkata, ambil saja dia, aku tidak perduli. Tapi dengan Brittany semua berbeda. Kata-kata itu terlihat sulit untuk diucapkan.
"Apa kamu bersedia?" tanya Brittany lagi.
"Ahh aku--"
"Baby." Renald membuka pintu kamar Tari. "Apa kamu sudah siap?" Renald menatap Brittany. "Sedang apa kamu disini?"
"Aku ingin ikut." kata Brittany berdiri dari duduknya.
"Mau ikut kemana?" tanya Renald.
"Ke York tentu." Brittany beranjak keluar kamar.
"Kamu akan langsung pulang ke rumahmu. Aku sudah meminta kakakmu menjemputmu." tegas Renald.
Brittany berbalik. "Apa?! Kenapa begitu?!"
"Apa maksudmu kenapa? Untuk apa kamu disini sementara kami akan pergi?"
"Tapi aku akan ikut." rengek Brittany.
"Tidak, kamu akan pulang."
"Itu tidak adil! Kenapa dia boleh sementara aku tidak?!" Brittany menunjuk Tari.
"Dia istriku, demi tuhan! Tentu saja dia ikut kemanapun aku pergi. Sementara kamu, kamu akan pulang."
Brittany menghembuskan nafasnya kasar lalu pergi menuju kamar Renald. Tari yang hendak mengejarnya di tahan oleh Renald.
"Apa itu tidak berlebihan?" tanya Tari.
"Aku sudah lelah berurusan dengannya, baby. Sekarang kita harus pergi. Itu kopermu? Biar aku bawa." Renald menuju koper Tari dan membawanya pergi. Tari ingin mencegahnya tapi tidak jadi.
Sudah lama menunggu mereka tidak juga pergi. Tari duduk di mobil sementara Renald berdiri di depan pintu mobil tepat di sebelah Tari.
"Kenapa kita tidak berangkat?" tanya Tari.
"Kita masih harus menunggu kakak Brittany datang, baby. Aku ingin memastikan dia pulang ke rumah sebelum dia melakukan hal aneh lagi."
"Sepertinya dia sangat menyukaimu." kata Tari. Renald menatap Tari.
"Apa kamu bercanda?" Renald menatap Tari tidak percaya.
"Dia masih muda, hanya terpaut sepuluh tahun. Tidak masalah."
"Tidak akan pernah. Kamu istriku dan aku hanya mau kamu." tegas Renald. Tari terdiam mendengar perkataan Renald. Entah kenapa ada perasaan lega di hatinya.
Tak lama satu mobil mewah datang lalu keluarlah satu pria mengenakan kaos seperti kaos golf dan celana berwarna putih. Pria itu mendatangi Renald dan menjabat tangannya.
"Dimana dia?" tanya Pria itu.
"Di dalam. Bawa saja dia." kata Renald.
"Maafkan aku bro! Aku akan mengurusnya." kata pria itu.
"Santai saja." Renald menepuk lengan pria itu.
"Ini adalah nyonya William?" pria itu menatap Tari.
"Hhmm.. Dia istriku. Babe, ini temanku Charles." kata Renald. Charles melambaikan tangannya dan Tari membalas lambaian tangannya. Charles langsung masuk ke dalam rumah.
"Ayo kita pergi sekarang." kata Renald.
Mereka sampai di bandara tak lama kemudian. Saat pesawat bersiap lepas landas, ponsel Renald berdering.
"Ya?"
"..."
"Apa?! Astaga.." Renald memijat keningnya. "Baiklah, hubungi aku jika perlu sesuatu."
Renald menutup telponnya dan mematikannya. Renald mengusap wajahnya kasar.
"A-ada apa?" tanya Tari.
"Brittany kabur. Dia tidak ada di rumah kita babe." kata Renald. Tari terkejut.
"Kabur? Kenapa?"
Renald mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, aku tidak tahu. Kita pergi saja. Ada Charles, kakaknya yang akan mencarinya."
Tari terdiam. Dia tidak menyangka Brittany akan senekat itu.
......***......
Setelah berjam-jam di udara akhirnya mereka sampai juga. Mereka langsung menuju York, tanpa mampir terlebih dahulu. Bahkan mereka tidak ke rumah, melainkan langsung ke rumah sakit. Mereka menuju lantai VVIP.
Prang!!
Klang!!
Terdengar seperti benda jatuh dan pecah di dalam ruangan. Renald dengan cepat masuk ke dalam ruangan tempat ibunya di rawat. Dia mendapat ibunya yang menangis dalam diam dan menutup matanya sementara ayahnya berkacak pinggang, menatap keluar jendela.
"Apa yang dad lakukan?!" pekik Renald saat dia melihat semua itu. Mom dan Dadnya menoleh.
"Ren, tidak. Ini tidak seperti--"
"Tidak mom! Berhenti membelanya!" pekik Renald.
"Ren, sungguh.. Ini bukan seperti yang kamu lihat." bela mom.
"Benarkah? Lalu apa? Apa mom tidak lelah bersamanya dan tetaplah berada di rumah itu?!"
"Renald! Jangan kurang ajar kamu!" pekik Dad tidak kalah keras.
"Tari, sayang... Kemarilah." pinta Mom yang melihat Tari berdiri di pintu masuk. Tari terlihat syok dan bingung. Tari yang tersadar dari lamunannya segera masuk dan mendatangi mom.
"Mom, apa kabar? Apa masih sakit?" tanya Tari.
"Mom baik-baik saja, Tari. Makasih sudah datang." kata Mom ramah. Tari memperhatikan wajah mom yang pucat. Tubuhnya terlihat lemas. Tari merasa prihatin.
"Aku tidak tahan lagi. Ayo babe, kita pergi." kata Renald lalu beranjak pergi. Tapi Tari tidak ikut, dia hanya diam di tempatnya. "Baby? Ayo pergi!"
"Pergilah nak, Renald suamimu, kamu harus ikut dengannya." kata Mom. Tari menghela nafas lalu menganggauk.
"Cepat sembuh mom." Tari memeluk mom.
"Terima kasih, sayang."
Tari melepas pelukannya lalu mengejar Renald.
...***...
Maaf ya baru update. Aku sakit beberapa hari. Baru hari ini badannya enakan jd bisa nulis. Maaf yang sudah menunggu dan makasih udah mau menunggu