When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 36



Tari kembali ke New York setelah memutuskan untuk tidak menjual rumah itu sementara sambil meminta penjelasan Renald. Renald tidak bisa di hubungi. Selalu tidak di angkat, begitu pula dengan Alex dan Randy, tidak tahu menahu keberadaan Renald. Jadi dia akan menanyakan langsung padanya. Tapi baru membuka sedikit pintu rumah, dia di suguhkan pemandangan Renald dan Veronica yang bertengkar hebat. Bahkan Veronica sudah melempar beberapa benda ke lantai dan dinding. Beberapa barang sudah pecah berantakan di lantai. Veronica berteriak, bersumpah serapah. Tari yang ingin masuk mengurungkan niatnya.


Tiba-tiba tangannya di tarik. Melissa dan Anne sudah ada disana.


"Anne? Mel? Sedang apa kalian di luar sini?" tanya Tari. Anne dan Marissa meletakkan jari telunjuk di mulut mereka lalu menarik Tari pergi. Tari yang bingung, mengikuti mereka ke bagian mansion paling ujung. Itu hanya terdapat kamar-kamar kosong, paviliun untuk tamu.


"Kenapa kita kemari?" tanya Tari.


"Kata tuan, dia ingin nyonya berada disini dulu." jelas Marissa.


"Tapi... Tapi kenapa?"


Anne membuka salah satu pintu kamar. Kamar itu sudah tertata rapi dan elegan. Beberapa pakaian Tari sudah berada di sana.


"Beberapa hari ini nyonya Veronica mengamuk dan meminta untuk tinggal disini." jelas Anne.


"Ahh aku mengerti." Tari mengangguk. "Aku justru senang, aku tidak perlu bertemu mereka atau mendengarkan makian dan des*h*n mereka. Disini sangat tenang." Tari duduk di atas kasur. "Tapi jika ingin ke dapur bukankah harus ke rumah utama?"


"Disini juga ada dapur. Ini adalah paviliun untuk tamu dan tersedia dapur juga. Meski tidak sebesar di rumah utama tapi tetap bisa untuk masak." jelas Anne lagi.


"Baguslah. Aku bisa masak sendiri nanti."


"Tidak nyonya. Tuan sudah mengirimkan koki untuk anda."


Tari mendengus. "Kenapa tidak masak sendiri saja? Bosan dengan masakan barat." keluhnya.


"Kami akan beritahukan pada tuan agar mengganti koki nya."


"Hah? Tidak, tidak. Untuk apa menggantinya? Lagipula Renald tidak akan mau. Mana perduli dia yang seperti itu. Sudah lupakan saja. Aku mau istirahat, besok sudah mulai kerja."


Anne dan Marissa merendahkan tubuhnya sedikit, tanda hormat lalu keluar dari kamar. Tari yang melihat itu bengong di tempatnya. Kenapa mereka jadi aneh hanya di tinggal seminggu? Tari menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia memutuskan untuk mandi sebelum akhirnya tidur.


...***...


Tari berangkat pagi-pagi sekali. Bahkan lebih pagi dari biasanya. Dia juga memberitahukan koki yang baru saja datang untuk menyiapkan sarapannya agar tidak memasak apapun karena dia akan pergi secepatnya. Alasannya hanya satu, dia tidak ingin berpasan dengan dua sejoli itu. Bisa-bisa dia terkena masalah lagi. Tari sudah meminta Anne untuk memberitahukan supir yang mengantarnya agar segera bersiap.


Tari berjalan ke mobil. Melihat Tari datang, supir itu segera membukakan pintu.


"Sudah akan pergi?"


Tari menoleh. Dia melihat Renald berjalan ke arahnya. Rencananya untuk menghindari mereka gagal total.


"Ini hanya akan sementara. Kamu tinggal di sana untuk sementara saja. Jadi bertahanlah disana." pinta Renald. Tari menatap aneh pada Renald. Tatapan mata Renald benar-benar sangat... Hangat.


"Hei, apa kamu dengar aku?" tanya Renald yang mendapati Tari bengong.


"Y-ya, aku dengar. Tapi apa aku bisa tinggal di sana saja? Sampai hutangku lunas dan kembali ke Indonesia. Disana sangat nyaman." pinta Tari.


Renald menatapnya sejenak. "Hanya sementara Tari, tidak akan lama."


"Lama juga tidak masalah. Aku suka disana. Memasak sendiri juga tidak masalah." ucap Tari. Renald menghela nafas.


"Tidak, kamu akan segera kembali ke rumah utama."


"Entah kenapa aku harus meminta ijin padamu, seperti anak kecil saja. Kamu berkata aku bebas melakukan apapun dirumah ini. Kalau begitu aku pindah tidak masalah kan? Hanya pindah kamar."


"Tidak. Tidak boleh."


"Jadi kamu melanggar ucapanmu sendiri?"


Renald menatapnya penuh arti. Tari menjadi bingung dan salah tingkah. Kenapa dia menatapku seperti itu?


"Pertama, kamu itu istriku, sudah seharusnya berada di rumah utama. Kedua, kamu hanya boleh ke Indonesia untuk berlibur, karena aku tidak akan menceraikanmu." kata Renald. Tari membuka mulut ingin protes, tapi Renald berkata lagi. "Aku akan pergi untuk beberapa hari, ada urusan bisnis. Jadi baik-baik dirumah, telepon aku jika ada sesuatu, dan kumohon, angkat jika aku meneleponmu."


"Tunggu dulu, tunggu. Aku--"


Tari tidak melanjutkan ucapannya. Tubuhnya membeku saat sebuah kecupan mendarat di kepalanya.


"Sampai jumpa beberapa hari lagi." kata Renald lalu masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.


"Astaga! Apa-apaan itu tadi? Aku sampai merinding." Tari mengusap kedua tangannya lalu masuk ke dalam mobil.


......***......


Tari masih mengusap-usap kepalanya yang tadi pagi di kecup Renald. Dia masih bertanya-tanya ada apa dengan pria itu. Dia sungguh tidak bisa di tebak. Selalu melakukan hal random yang tiba-tiba.


"Honey, ada apa dengan kepalamu sebenarnya? Apa burung membuang kotorannya di atas kepalamu atau kamu belum keramas selama seminggu?" tanya Michel. Dia sudah sedari tadi melihat Tari terus mengusap kapalanya, seakan dengan mengusap kepalanya, kecupan itu menjadi tidak pernah terjadi.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya merasa tidak nyaman saja sedari tadi." jawab Tari. "Anyway, apa aku menambah daftar gosipku?"


"Ughh jangan di tanya. Mereka seperti tidak ada bahan gosip lain." jawab Lucy.


"Mereka hanya iri padamu. Mereka tidak bisa mendapatkan sepertimu." Jen ikut menanggapi.


"Jen, benar. Tidak usah di tanggapi. Kau akan stres sendiri." ucap Lucy lagi.


"Inginnya, tapi terlalu sulit."


"Ughhh jangan terlalu di pikirkan! Kau adalah istri bilioner yang paling diminati disini! Nikmati itu, demi tuhan! Biarkan saja mereka iri!" pekik Michel. Semua orang yang ada di kantin menatap mereka saat ini.


"Okaaayy... Itu sangat berlebihan." kata Tari.


"Setuju." Lucy menganggukan kepalanya. Jen hanya tertawa geli.


"Oh ayolah, aku sudah bosan dengan semua ini. Semua gosip tentangmu yang tidak ada habisnya. Apa mereka sungguh tidak memiliki pekerjaan lain? Kenapa begitu iri dengan kehidupan orang lain. Get a life! Geez!" Michel menggelengkan kepalanya.


"Calm down cowboy! God damn!" Jen tertawa. Lucy dan Tari ikut tertawa.


Mereka semua berdiri dari kursi mereka masing-masing.


"Nyonya William." panggil Celina. Tari awalnya tidak terlalu menggubris panggilan itu mendapat senggolan dari Lucy. Tari menatap Lucy. Lucy menunjuk Celina dengan dagunya.


"Ya?"


"Anda ditunggu di ruang pak Smith di kantornya." kata Celina, cukup membuat beberapa orang menatap dan berbisik.


"Okay.." kata Tari pelan dengan anggukan. Celina berjalan lebih dulu menuju lift di ikuti Tari dari belakang.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya ayah anda." kata Celina saat mereka sudah di lift.


"Terima kasih. Ahh dan tolong, jangan panggil saya nyonya William. Panggil nama saja." pinta Tari.


"Baiklah nyo-- Tari."


Tari tersenyum. Dia benar-benar semakin tidak nyaman di kantor ini.


Celina mengetuk pintu kantor Randy.


"Masuk."


Celina membuka pintu dan mempersilahkan Tari masuk. Tari masuk kedalam ruangan Randy dan Celina menutup pintu ruangan itu. Randy berdiri dari duduknya lalu tanpa basa basi memeluk Tari erat.


"Ran... Ada apa denganmu?" Tari mencoba melepaskan diri.


"Aku turut berduka." kata Randy masih memeluk Tari.


"Oke, oke kamu ikut berduka tapi lepaskan aku. Aku tidak bisa... Bernafas."


Randy dengan cepat melepaskan pelukannya.


"Ahh... Maaf.. Aku hanya turut prihatin saja. Aku merasakan saat ibuku meninggal. Apa kamu baik-baik saja?"


"Sebelum di peluk, sangat baik. Sekarang aku benar-benar kesal!" Tari cemberut. Randy mengacak rambut Tari lalu duduk di kursi tamu.


"Duduklah."


Tari memicingkan matanya penuh curiga. Randy tertawa.


"Duduklah. Apa mau aku peluk lagi?" tanya Randy. Tari menggeleng cepat lalu duduk. "Apa keadaan disana baik-baik saja?"


"Disana?"


"Indonesia. Are you okay?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Karena aku tahu ibumu juga sudah meninggal dan hanya tersisa kedua adikmu. Karena itu aku bertanya. Apa kamu tidak membawa kedua adikmu kemari?"


Tari mengerutkan keningnya. "Kenapa harus membawa mereka?"


"Apa kamu tidak khawatir?"


"Mereka berada di negara mereka sendiri, mereka sudah dewasa terlebih mereka laki-laki dan aku percaya pada mereka." kata Tari dengan percaya diri.


"Kau yakin? Laki-laki bukan berarti tidak membuat kesalahan, terlebih mereka sudah dewasa." goda Randy.


"Hei! Mereka bukan kamu." Tari melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Oke, sebenarnya ada apa ini? Jika kamu terus memanggilku seperti ini, Mereka akan terus bergosip tentangku jika seperti ini dan aku terpaksa akan mengundurkan diri."


"Sejak kapan kamu mendengarkan ucapan orang lain?"


"Hari ini, saat ini juga. Ran, tolonglah. Menjadi istri Renald saja sudah begitu buruk, jangan menambah lagi dengan cinta segitiga!" Tari cemberut.


"Cinta segitiga?"


"Begitulah yang mereka gosipkan. Tentang kita."


"Cinta segitiga." Randy menyentuh dagunya. "Itu bagus. Bagaimana jika kita memulainya?"


"Tunggu, apa?!"


"Dari pada hanya sebuah gosip, mari kita menjadikan kenyataan."


"Dasar gila!"


"Ayolah. Kamu dan Renald menikah, aku akan membuatmu jatuh cinta."


Tari menghembuskan nafasnya kasar. "Daripada kamu melakukan hal kekanak-kanakan, sebaiknya kamu cari kekasih saja sana! Get a life!"


Tari menggeleng lalu berdiri dan beranjak pergi. Tapi tangan Tari di pegang Randy.


"Apa kamu mau?" tanya Randy.Tari mengerutkan keningnya.


"Mau apa?"


"Katamu aku harus mencari kekasih. Aku menawarkanmu menjadi kekasihku. Kamu dan Renald bukan pasangan sungguhan. Jadi tidak masalah jika kita menjadi sepasang kekasih." tawar Randy. Tari tertawa.


"Dan menjadi salah satu gadis penghiburmu itu? Apa kamu gila? Apa ada gangguan pada otakmu? Ada denganmu sebenarnya? Jangan bercanda!"


Randy menarik tangan Tari yang masih dia pegang agar mendekat denganya. Tari terkejut dengan gerakan Randy tiba-tiba. Tubuhnya berada tepat di atas tubuh Randy. Wajah mereka sangat dekat.


"Aku tidak bercanda dan aku tidak gila. So, wanna try?" ucap Randy sambil tersenyum. Oh god, senyum itu!


...***...