When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 25



Tari dan Renald duduk di sebuah restoran mewah. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap sedari mereka pergi dari kantor Randy kecuali nama makanan yang ingin mereka makan. Setelah memesan mereka kembali terdiam dengan ponsel masing-masing.


Tak berapa lama, makanan mereka datang. Tari memesan steak, tentu. Dia sangat menyukai daging. Kapan lagi bisa makan daging enak dan mahal, gratis lagi. Kali ini steaknya berukuran lebih besar dari steak yang pernah Tari makan, dengan kentang tumbuk dan salad yang menggugah selera. Tari meletakkan ponselnya di meja lalu mengambil pisau dan garpu.


Lagi-lagi hal itu terjadi. Renald mengambil piring Tari.


"Kembalikan. Aku bisa melakukannya sendiri." pinta Tari. Tari mengulurkan tangannya


"Aku saja." kata Renald tanpa menatap Tari. Tangannya sudah memegang garpu dan pisau.


"Urus saja makanmu. Jangan urus makanan orang lain." Tari berdiri. Tangannya terulur, mencoba meraih piringnya. Renald menjauhkan piring Tari dari jangkauan Tari lalu menatapnya.


"Duduklah." pinta Renald lalu memotong steak milik Tari. Tari mendengus.


"Kenapa hanya makan saja repot sekali?!"


Tari mengambil steak Renald lalu duduk dan mulai memotongnya.


"Kamu yakin akan makan itu?" tanya Renald.


"Kamu juga memesan steak, jadi tidak masalah." kata Tari tanpa melihat Renald. Dia mengambil satu potongan kecil steak lalu mengarahkannya ke mulutnya.


"Itu medium raw. Setengah matang." kata Renald. Tari menghentikan gerakannya lalu menatap Renald. Renald masih sibuk memotong steak yang ada di hadapannya. "Bukannya kamu selalu makan yang benar-benar matang?"


Tari menatap steak di hadapannya sejenak lalu menghela nafasnya. Tari akhirnya memotong steak itu jadi potongan kecil.


"Kemarikan piring itu. Aku sudah selesai memotongnya." Renald menyerahkan piring milik Tari. Tapi Tari hanya diam dan masih memotong steak itu. Renald memiringkan kepalanya sambil menatap steak sejenak lalu menatap Tari.


"Selesai." gumam Tari dengan senyuman kecilnya. Tari menyodorkan steak milik Renald. "Kemarikan milikku." pinta Tari. Renald memberikan piring milik Tari. Mereka saling bertukar piring. "Impas. Kamu memotong miliku, aku memotong milikmu."


Tari memasukkan satu potongan daging ke mulutnya. Sambil menganggukan kepalanya, dia begitu menikmati steak itu. Renald masih menatapnya dalam diam. Sulit menebak apa yang ada di pikirannya.


Selesai makan, Renald mengantar Tari ke kantor Randy. Mobilnya berhenti di depan lobby kantor. Tari membuka pintu mobilnya.


"Tunggu." kata Renald menghentikan Tari keluar. Tari yang tidak jadi berdiri menoleh dan menatap Renald. Renald merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan satu black card dari dompetnya. "Ini."


"Untuk apa? Aku tidak memerlukannya." kata Tari.


"Untuk pesta."


"Pesta? Pesta apa?" tanya Tari bingung.


"Randy belum memberitahukanmu? Kantor Randy mengadakan pesta untuk ulang tahun perusahaannya dan kamu perlu gaun." kata Renald. Tari tampak berpikir.


"Kalau begitu aku tidak pergi saja. Toh aku pegawai baru." kata Tari lalu beranjak pergi. Renald menarik tangan Tari yang sudah setengah berdiri hingga Tari duduk lagi di tempatnya. Renald menutup pintu lalu menatap Tari. Wajah mereka sangat dekat saat ini. Hanya berjarak beberapa sentimeter saja.


"Aku akan pergi ke pesta itu. Itu sudah di pastikan. Jadi ambil saja kartunya dan belilah gaun untuk besok. Mungkin kamu tidak suka dengan gaun tempo hari karena aku yang memilihnya. Aku tidak tahu bagaimana selera gaunmu. Jadi, beli sendiri saja, agar tidak perlu mengembalikan lagi." kata Renald.


"Aku mengembalikannya karena aku tidak akan mengenakannya lagi. Aku bukan kekasihmu yang selalu pergi ke pesta denganmu."


"Tapi kamu adalah istriku dan itu adalah kewajibanmu sekarang. Semua orang juga sudah tahu."


"Temanku tadi tidak tahu apapun sampai kamu membongkar segalanya."


"Sampai kapan kamu akan merahasiakan statusmu sebagai istriku?"


"Aku justru ingin tidak ada orang yang tahu bahwa aku adalah istrimu. Jadi meskipun kita bercerai, orangpun tidak akan tahu! Dan mau sampai kapan kita akan seperti ini? Posisi ini?" tanya Tari.


"Kenapa? Apa kamu gugup?"


"Apa aku terlihat gugup?" tanya Tari balik. Ya, dia gugup tapi dia masih bisa menutupi kegugupannya. Dia masih mencoba menormalkan detak jantungnya. Renald mendekatkan wajahnya. Kali ini benar-benar sangat dekat. Tari memundurkan kepalanya tapi Renald masih mendekatinya dan sangat dekat, hingga jika Tari memajukan kepalanya lagi, bibir mereka pasti bersentuhan.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Renald dengan berbisik membuat Tari bergidik.


"Ma-mau apa kamu?" tanya Tari.


"Entahlah.. Menciummu?" ucap Renald. Mendengar itu Tari mendorong kuat tubuh Renald. Renald terdorong kebelakang tapi dia bisa menyeimbangkan tubuhnya jadi dia tidak terjatuh. Tari terkejut dengan tindakannya tadi. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Maafkan aku..." kata Tari. Dia mengambil black card yang masih di tangan Renald lalu segera membuka pintu dan pergi. Renald menatap Tari yang berlari masuk ke dalam gedung kantornya sampai hilang dari pandangannya. Renald memperbaiki duduknya.


"Jalan."


Alan, supir pribadi Renald, menjalankan mobilnya kembali. Renald menatap keluar jendela. Sikunya di letakkan di jendela mobil sementara tangannya menyentuh bibirnya. Kenapa aku tadi mau menciumnya?


...***...


Tiga teman kantor Tari, Jennifer, Michel dan Lucy menatap Tari saat Tari sudah sampai di meja kerjanya. Tari merasa tidak enak pada mereka. Dia merasa bersalah.


"Jadi kamu berbohong pada kami?" tanya Michel.


"Well aku tidak berbohong sebenarnya. Aku sudah mengatakan aku sudah menikah hanya tidak mengatakan siapa suamiku. Sudah aku katakan.. Rumit." Tari membela diri.


"Lalu kenapa kamu menutupinya?" tanya Lucy.


"Karena aku tidak ingin diperlakukan istimewa hanya karena aku adalah istri seorang bilioner tampan paling diminati. Bahkan tidak ingin masuk di berita lokal. Aku hanya ingin menjalani hidup normal." kata Tari.


"Oh honey, bukankah itu sudah resiko memilih untuk menikahi pria bilioner itu?"


"Tapi tetap saja..." Tari menundukkan kepalanya. Dia benar-benar berharap dia akan menjalani hidup normal. Terlebih jika pernikahannya hanya di atas kertas. Seharusnya dia bisa hidup normal kan? Tapi kenapa sulit sekali!


Jen mendatangi Tari dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya.


"Apa kamu pikir alasan itu di terima?" tanya Jen.


"W-well.. Aku...."


Jen memeluk Tari dan tertawa. "Astaga Tari! Seharusnya kamu bilang. Kami paham kok."


"Jangan terlalu di khawatirkan."


Tari tersenyum dan mengangguk.


"Anyway... Apa ada yang datang ke pesta besok?" tanya Jen.


"Aku tidak tahu. Tinggal menunggu keputusan suamiku. Apa dia lembur atau tidak. Jika dia lembur, aku tidak bisa datang." kata Lucy sambil berjalan ke tempat duduknya.


"Apa tidak menitipkannya saja pada pengasuhnya?" tanya Michel. Michel masih duduk disisi mejanya.


"Aku tidak mau. Sudah cukup seharian mereka bersama pengasuh. Malam waktunya dia bersama kedua orang tuanya atau salah satunya. Aku tidak mau anakku menjadi anak pengasuh."


"Kau benar. Kalau begitu berhenti bekerja saja." saran Michel.


"Kau gila? Bagaimana kebutuhan anak-anakku nanti? Biaya sekolah mereka saja cukup mahal!"


"Berhentilah menyarankannya yang tidak-tidak, Michel." kata Jen. "Kau Michel?"


"Aku? Tentu hadir. Aku sudah membeli sepasang tuksedo baru khusus untuk pesta besok."


"Astaga dasar anak orang kaya! Baru beberapa minggu lalu kamu membeli tuksedo saat gala dinner itu. Kamu sudah membelinya lagi?" Lucy berdecak.


"Hei nyonya! Aku masih single! Aku hanya akan membeli barang untuk diriku sendiri dan memanjakan diriku sendiri! Tidak sepertimu!" Michel membuang wajahnya.


"Astaga lihatlah dia. Bangga sekali jadi single."


"Sudah, sudah. Tari, tidak perlu mendengarkan mereka. Mereka selalu berdebat tidak jelas. Bagaimana denganmu?" tanya Jen pada Tari.


"Aku... Sebenarnya tidak ingin datang tapi Renald--maksudku...suamiku. Dia harus datang. Jadi... Mau tidak mau."


"Ah benar! Tentu saja suamimu harus datang. Dia adalah salah satu tamu utama."


"And already taken." Michle memutar bola matanya dan mendengus.


"Okay... Aku kira kamu normal. Kenapa reaksimu seperti itu?" tanya Tari.


"Ayolah... Dia itu tampan. Sudah aku katakan tidak hanya wanita yang tertarik padanya, tapi pria juga. Melihatnya membuatku mempertanyakan kecenderungan seksualku." jawab Michel sembari menerawang.


"Oh astaga!" Lucy menepuk jidatnya. Tari dan Jen tertawa.


"Gaun! Apa sudah ada?" tanya Jen pada Tari.


"Jen! Kenapa masih bertanya? Tentu saja ada. Suaminya seorang bilioner! Tentu saja dia ada! Aku yakin mereka sering berpesta."


"Ahh itu... Sebenarnya aku tidak memiliki gaun."


"Apa?!" ketiga temannya melongo bersamaan.


"Kami jarang ke pesta. Well aku maksudnya. Aku jarang ke pesta."


"Entah kenapa aku merasa kamu dan suamimu berada di dunia yang berbeda." ucap Michel.


"Yup! Itu dia!" kata Tari setengah berteriak. "Karena itu aku mengatakan hubungan kami rumit."


"Kalau begitu.. Kita masukkan kasus ini ke Fashion Emergency." ucap Michel. Lucy dan Jen mengangguk setuju.


"Uhmm... Apa itu maksudnya?" tanya Tari. Hanya dia yang tampak bingung.


"Jangan tanya. Ikut saja dan siapkan saja kartumu. Kita akan berbelanja, baby!" pekik Michel.


"Ohh... Okay... Entah kenapa perasaanku menjadi tidak enak tentang ini." gumam Tari melihat ketiga temannya bersorak.


Dan benar saja. Sepulang kantor, dia sudah berada di salah satu toko khusus gaun pesta langganan Jen di jalan Madison Avenue. Mereka meminta Tari mencoba gaun pesta. Tidak hanya satu, melainkan banyak. Dia benar-benar sudah menjadi manekin berjalan ketiga temannya. Setiap Tari mengenakan salah satu gaun mereka akan berkomentar.


"Tidak, jelas tidak. Aku kira roknya tidak terlalu pendek, tapi ternyata sangat pendek. Kamu lebih terlihat wanita jal*ng daripada istri seorang bilioner,. Ganti!"


Tari mengganti gaun lagi dan mereka akan berkomentar lagi.


"Astaga... aku yakin suamimu akan menceraikanmu dengan gaun itu. Itu bencana!"


"Hei! Itu pilihanku. Itu bagus! Anne Hathaway mengenakannya!"


"Ya, itu benar. Tapi dia bukan Anne Hathaway. Dia istri seorang bilioner, bukan bintang film!"


Pertengkaran itu membuat Tari berganti gaun lagi. Jika dia sudah menemukan gaun yang tepat mereka tetap akan meminta mereka untuk mencoba yang lain.


"Astaga.... Kamu cantik sekali. Gaun itu cocok sekali untukmua. Ya kan?"


"Ya, aku setuju."


"Aku juga!"


"Tapi... Sebaiknya mencoba yang lain juga. Mungkin ada yang lebih bagus."


Lalu? Tentu saja Tari berganti lagi. Jika ada gaun yang terbuka atau seksi mereka juga berkomentar.


"Oh wow. Kamu terlihat seperti jal*ng."


"Dengan gaun itu kamu tidak hanya akan membawa suamimu pulang. Tapi pria lain juga."


Tari mendengus. Dia begitu lelah. Baru kali ini dia kelelahan hanya karena mencoba gaun. Kenapa ke pesta saja begitu rumit?


...***...