
Senyuman Randy membuatnya membeku sejenak. Mata mereka saling beradu. Nafas Tari tertahan. Tapi dengan segera Tari menyadarkan dirinya. Dia kini sadar, satu tangan Randy memegang tangannya, sementara satu lagi memegang pinggangnya. Tubuhnya menempel di tubuh Randy. Tari mendorong kuat agar lepas dari Randy tapi Randy menahannya.
"Lepas." pinta Tari.
"Hmmm... Aku lebih suka begini."
"Kamu ingin aku tendang juga?" tanya Tari dengan kesal.
"Ohh apa kamu bisa melakukannya dengan posisi ini?" tanya Randy dengan nada mengejek. Tari tersenyum.
"Kaki mungkin tidak. Tapi tangan..." Tari menggenggam rambut Randy. ".. Masih bisa."
Randy tertawa. "Ohhh... Sekarang kamu mulai menjambak?"
Tari menggeleng dengan wajah yang di imut-imutin. "Aku sekalian ingin tes kekerasan kepalamu. Bagaimana? Kepalaku sangat keras, kau tahu."
Randy semakin tertawa geli lalu melepaskan tangannya dari Tari. Tari bangkit dan segera pergi. Apa-apaan itu?
...***...
Randy semakin membuat Tari gila. Bukan karena dia jatuh cinta padanya melainkan kelakuannya yang bikin geleng-geleng kepala. Pasalnya selalu saja ada yang dia lakukan agar bersama Tari. Dia memberi Tari pekerjaan banyak, membuatnya lembur dan Randy tentu menemaninya. Dia juga menyapanya di depan banyak orang dengan senyuman killernya. Padahal pada semua karyawan wanita, dia begitu dingin. Tari menjadi musuh nomor satu di kantor itu. Dan lebih parah, Randy bahkan mengajaknya bertemu dengan kliennya, Apa-apaan itu?!
Tari diam saja? Oh tentu tidak. Dia protes, tidak, demo. Dia langsung mendatangi dan mengancam Randy jika dia terus melakukan keanehan dia akan berhenti. Yang dilakukan Randy? Hanya diam menatapnya penuh arti. Menyebalkan!
Tidak hanya itu. Dia juga harus bermain kucing-kucingan dengan Veronica. Veronica masih berada di rumah itu dan selalu mabuk. Saat mabuk dia akan berteriak ke seluruh rumah, mencarinya dan mengancamnya. Jika dia bukan kekasih Renald, mungkin dia sudah menjambaknya, atau mengikat dan menyumpal mulut Veronica lalu menyeretnya keluar. Tapi dia tidak melakukan itu. Selain dia bukan pemilik rumah, dia juga tidak mau membuat masalah. Dia harus fokus dengan hutang dan segera pulang. Dia tidak boleh membuat kesalahan yang akan memperlambatnya.
Paginya seperti biasa setelah sarapan dia langsung berangkat. Hidupnya di paviliun tamu luar biasa damai dan tentram, terlebih tidak ada Renald. Meski masih ada Veronica tapi mereka berada di bagian rumah yang berbeda, jadi itu tidak terlalu membuatnya khawatir. Tari berjalan menuju mobil yang mengantarnya. Di sana supir sudah membukakan pintu. Tiba-tiba rambut Tari di tarik dengan kuat, tubuhnya mengikuti arah tarikan rambut. Tari berteriak.
"Dasar jal*ng! Sudah aku katakan untuk tidak mendekatinya. Berani sekali!" pekik Veronica.
"Lepaskan!!" teriak Tari tak kalah keras. Veronica tidak memperdulikan teriakan Tari. Tari ingin menjatuhkan Veronica agar dia terlepas dari jambakannya tapi dia pasti akan menjadi tertuduh lagi. Veronica terlalu berharga bagi Renald.
"Ve!!"
Semua orang menoleh mendengar sebuah teriakan yang cukup keras. Renald yang baru saja datang, tampak marah.
"Lepaskan dia!" pinta Renald.
"Tidak! Kau adalah milikku dan dia berani menggodamu! Tidak akan aku biarkan." timpal Veronica dan menambah kuat jambakannya. Tari sudah tidak tahan lagi. Tari menarik Veronica mendekat padanya lalu menjegal kakinya hingga Veronica kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tapi sebelum menyentuh lantai, Tari menahan tubuh Veronica dengan kakinya agar tubuh Veronica tidak langsung mengenai lantai yang keras. Tapi cara itu berhasil membuat Veronica terkejut dan melepaskan jambakannya. Melihat Veronica baik-baik saja dan melepaskan tangannya, Tari meletakkannya begitu saja di lantai.
Tari menjauh dan mengelus kepalanya yang tadi di jambak Veronica. Rasanya rambutnya rontok semua dan kulit kepalanya terkelupas.
"Itu cewek dapet kekuatan dari mana sih astaga.. Rasanya sakit banget." gumam Tari sambil mengelus kepalanya. Renald tidak menolong Veronica, dia justru mendatangi Tari dan ikut mengelus kepalanya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Renald. Tari yang terkejut langsung menjauh. Renald yang terkejut dengan tindakan Tari tiba-tiba, hanya terdiam di tempatnya menatap Tari.
"Jangan perdulikan aku. Urus saja kekasihmu itu." kata Tari lalu berjalan menuju mobilnya. Saat dia akan masuk ke dalam mobilnya, Tari berbalik lagi. "Ahh benar. Kamu lihat sendiri kan? Bukan aku yang memulainya. Aku hanya membela diriku. Jadi, jangan menuduhku lagi."
Tari masuk ke dalam mobil dan pergi. Veronica masih duduk di lantai. Dia ingin protes pada Renald kenapa dia tidak membantunya, tapi Renald justru meninggalkannya dan masuk ke rumah. Veronica berteriak keras.
...***...
"Kamu baik-baik saja?" tanya Marisol. Tari menceritakan tentang kejadian pagi tadi.
"Aku baik-baik saja, Marisol. Tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang? Dia terus mengganggumu!" pekik Marisol. Dia menandatangani Tari karena dia tidak ada kelas hari ini.
"Tidak masalah. Hei, aku kira kamu ada kencan dengan Teo?" Tari mengalihkan pembicaraan.
"Aku putus dengannya." kata Marisol. Ada raut kesedihan di wajahnya. Tari tahu Marisol sudah lama berkencan dengan Teo dan ingin menikah dengannya.
"Hah? Tiba-tiba?"
"Bukan tiba-tiba. Sepertinya dia bosan denganku."
"Bosan? Teo? Dia terlihat madly in love with you!"
Marisol menghela nafas. "Entahlah. Dia terlalu sibuk untuk bersamaku. Aku juga sibuk. Tapi aku selalu memiliki waktu untuknya. Tapi dia tidak!"
"Ohh aku turut sedih mendengarnya." Tari memegang tangan Marisol.
"Tidak apa-apa. Tidak masalah. Aku akan baik-baik saja. Ya kan?"
"Hmm pasti!!"
Mereka tertawa.
"Tari!" Helena tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Helena?"
"Hai!" sapa Helena lagi. Tak lama muncul Ted, suaminya.
"Hai, Tari." sapa Ted. Tari hanya tersenyum.
"Aku kemari untuk mengundangmu ke rumahku. Aku memiliki party kecil untuk mengetahui jenis kelamin bayiku. Apa kamu mau datang? Aku bahkan datang langsung kemari." pinta Helena.
"Uhmm... Kenapa tidak melalui Renald saja?" tanya Tari.
"Aku tahu kamu dan Renald berbeda jadi aku secara khusus menyeret suamiku untuk mengantarkanku kemari. Mau kan?" pinta Helena lagi.
"Tentu, tentu saja." kata Tari akhirnya.
"Terima kasih! Aku tunggu besok jam sepuluh pagi. Tunggu, apa kamu tahu rumahku?"
"Kemarikan ponselmu, aku akan memasukkan nomorku." pinta Tari. Dia tidak mungkin menunjukkan ponsel bututnya yang sudah retak sana sini pada Helena. Helena dengan semangat memberikan Tari ponselnya. Tari mengetik nomornya di ponsel Helena lalu mengembalikannya.
"Kamu harus datang, kamu sudah berjanji."
"Sampai jumpa besok."
Ted dan Helena berjalan keluar bar.
"Sepertinya dia benar-benar mendatangimu untuk mengundangmu." gumam Marisol.
"Hmm sepertinya."
...***...
Tari menggunakan taksi untuk kerumah Helena. Dia sudah mendapatkan alamat Helena. Sebuah rumah mewah di California. Tari melihat beberapa mobil parkir di perkarangan rumahnya yang cukup luas.
"Sebelah sini nona, pestanya di halaman belakang." kata salah satu pelayan.
"Ahh terima kasih."
Tari menuju halaman belakang lewat samping rumahnya. Rumah Helena terlihat lebih kecil dari mansion Renald dan sangat modern. Tari berjalan mendekati Helena yang juga sedang menerima tamu.
"Tari!! Terima kasih sudah datang!" Helena memeluknya. Tari bisa merasakan perut besar Helena di antara pelukan mereka. Tari menatap perut Helena. "Kamu ingin menyentuhnya?"
"Ahhh tidak terima kasih."
"Ayolah, tidak masalah."
Helena mengambil tangan Tari lalu meletakkan tangannya di atas perutnya. Tari tersenyum. Tiba-tiba dia terkejut. Bayi di dalam perut Helena bergerak dan dia bisa merasakannya.
"Kau merasakan itu?" tanya Helena antusias. Tari mengangguk dan tak kalah antusias. "Astaga dia tidak pernah bergerak saat di sentuh orang lain tapi denganmu dia bergerak! Itu luar biasa!"
"Benarkah?"
"Mungkin karena bayiku bisa merasakan kehangatanmu."
"Bayi bisa melakukan itu?"
"Kata dokter, bayi juga bisa merasakan hal-hal." jelas Helena. Tari hanya menganggukkan kepalanya. Well dia tidak mengerti tentu, dia belum pernah hamil sebelumnya. "Tapi untung saja kamu yang menyentuhnya, bukan wanita yang seperti itu."
Tari melihat ke arah yang di lihat Helena.
"Hai, Helena." sapa Veronica ramah. Dia melihat sinis Tari sejenak.
"Kamu disini juga?" tanya Renald yang terkejut melihat keberadaan Tari. Tari tahu betul Renald datang bersama Veronica.
"Aku yang mengundangnya. Dia juga temanku."
"Seharusnya kamu mengatakannya padaku." kata Renald pada Tari.
"Apa kemari harus dengan ijinmu juga?" tanya Tari yang mulai kesal.
"Bukan begitu, aku--"
"Hai Ri." sapa Randy.
"Sudah dari tadi disini?" tanya Tari. Randy menatap arlojinya.
"Hmmm.. Sudah lima belas menit." kata Randy.
"Tari, berbaurlah bersama yang lain. Sebentar lagi acara akan di mulai." kata Helena. Tari mengangguk dan berjalan bersama Randy.
Acara benar-benar meriah hanya untuk mengumumkan jenis kelamin saja. Mungkin karena anak pertama. Selama di pesta kecil itu, Tari selalu bersama Randy. Meski Randy beberapa hari ini bertingkah aneh, dia tetap orang yang paling asik di ajak berbicara. Tari sesekali tertawa dan terlihat antusias berbicara. Dengan Randy dia bisa bebas berbicara.
Dari kejauhan Renald menatap mereka. Dia begitu marah melihat kebersamaan mereka. Tatapannya tidak lepas dari mereka berdua sampai akhir acara.
"Tari, terima kasih telah datang." Helena kembali memeluknya. Tari berpamitan saat semua sudah selesai.
"Selamat atas baby boy nya." kata Tari.
"Terima kasih"
"Kamu akan naik taksi?" tanya Helena.
"Tidak, aku ikut dengan Randy." jawab Tari. Randy memang memintanya ikut dengannya. Demi harus mengumpulkan uang, dia ikut dengan Randy.
"Sebelum itu, kita harus kesana." kata Randy pada Tari saat mereka menuju mobilnya. Randy membicarakan sebuah cafe yang baru-baru ini di datanginya.
"Apa itu benar-benar bagus?" tanya Tari. Dia berjalan ke kursi penumpang di sebelah kursi supir.
"Bagus. Makanya aku mengajakmu."
"Oke." Tari membuka pintu mobil. Saat akan masuk Renald menariknya.
"Eh Ren! Mau kemana?" pekik Tari. Renald tidak menjawab. Dia menarik tangan Tari menuju mobilnya. Randy mendatangi mereka dan menarik tangan Tari yang satunya lagi. Terjadi tarik menarik Tari sekarang.
"Lepaskan!" kata Renald.
"Ren, aku tidak mentolerir kekerasan pada wanita." kata Randy.
"Aku tidak mengasarinya! Tidak akan pernah! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain!" Renald kembali menarik tangan Tari menuju mobilnya. Randy hanya bisa menatap mereka. Veronica yang ingin membuka pintu mobil, di dorong kasar ke samping, membuat Veronica hampir terjatuh. Renald mendorong tubuh Tari masuk ke dalam mobil.
"Ren, ada apa ini sayang?" tanya Veronica.
"Kamu pulang sendiri. Terserah mau pakai apa. Taksi atau ikut dia." Renald menunjuk Randy. Lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Ren... Rend???"
Mobil Renald melaju begitu saja meninggalkan orang-orang yang bengong dan masih memahami peristiwa tadi.
...****...