
Tari masih berdiri diam. Dia tidak membalas pelukannya. Hanya mendengarkan nafas berat Renald dan mencium bau alkohol yang menyengat ditubuhnya.
"Ren, aku rasa cukup." kata Tari. Beberapa menit sudah berlalu dan Renald masih memeluknya. Renald bergerak dan melepaskan pelukkannya. Renald menunduk sejenak lalu menatap Tari. Ini pertama kalinya Tari menatapnya dengan jelas. Biasanya hanya dari jauh atau saat penerangan tidak memadai. Bola mata Renald berwarna biru ke abu-abuan, dengan hidung mancung, kumis tipis dan janggut tipis menutupi rahang tegasnya. Renald menatap Tari dengan tatapan sendu yang membuat Tari bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengannya?
Renald berjalan menjauh dari Tari dan masuk ke dalam mansion. Tari menatap punggung lebar Renald sampai dia hilang dari pandangannya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, pikirnya. Sedetik berikutnya dia menepis pikirannya tentang Renald. Dia tidak boleh memikirkannya.
Renald tidak keluar dari kamarnya seharian. Dan anehnya itu membuat Tari khawatir. Seandainya tadi penampilannya tidak semenyedihkan itu, mungkin Tari tidak akan khawatir. Tari menghela nafas sekian kalinya. Dia duduk di meja makan sambil memainkan makanannya.
"Nona, anda... Baik-baik saja?" tanya Marissa.
"Hm? Aku baik. Bagaimana dengan tuanmu? Apa dia baik-baik saja? Apa kalian tidak memeriksanya?" tanya Tari.
"Ada tuan Alfred yang mengurusnya nona." jawab Marissa.
"Benar, itu benar." Tari menganggukkan kepalanya. Tari menyuap makanan ke mulutnya. Entah kenapa dia jadi tidak berselera.
......***......
Paginya setelah sarapan, Tari langsung berangkat. Dia bertemu Renald yang sedang bersiap. Dia baik-baik saja, baguslah, pikir Tari. Dia hanya melihat Renald sejenak lalu pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Renald menatap kaki Tari juga tanpa mengatakan apapun.
"Marissa." panggil Renald. Marissa tergopoh-gopoh mendatangi tuannya.
"Ya tuan?"
"Apa kakinya sudah sembuh?" tanya Renald. Marissa yang mengerti siapa yang di maksud Renald, mengangguk.
"Sudah mulai sembuh tuan. Hanya sesekali saja sakitnya. Dan nona juga rutin memberinya obat." jelas Marissa.
"Nona?" Renald mengerutkan keningnya.
"A-ahh.. Ahh.. Maksud saya nyonya." Marissa menundukkan kepalanya dalam.
"Aku tidak perduli dia berkata apa, kamu harus manggilnya nyonya. Dia istriku. Kamu mengerti? Sekali lagi aku mendengarnya, kamu akan aku pecat dan bisa aku pastikan kamu tidak akan bisa mendapat pekerjaan di kota ini, apalagi di kalangan orang-orang kaya! Kamu tahu betul aku akan melakukan itu dan bisa melakukan itu. Kamu mengerti?!"
"Ba-baik p-pak..." Marissa semakin menundukkan kepala dan tubuhnya. Renald mendengus lalu segera pergi ke meja makan.
Ya, Marissa tahu betul tabiat majikannya. Majikannya tidak pernah hanya sekedar mengancam, tapi selalu melakukan apa yang dia katakan, apapun itu. Pernah satu pelayan mengacau di rumah ini dan Renald memasukkannya ke black list, yang membuatnya tidak di terima oleh semua rumah baik kalangan orang kaya maupun dibawahnya. Marissa tentu tidak ingin itu terjadi padanya.
Dering ponsel Tari terdengar. Tari melihat nama yang ada di ponselnya lalu mengerutkan keningnya. Adik bungsunya.
"Halo?"
"Assalamualaikum kak. Ini Adit."
"Iya, waalaikumsalam dit. Tumben amat kamu nelpon. Kan bisa WA aja."
"Adit mau kabari sesuatu kak. Tapi jangan kaget ya kak."
"Kabari apa? Papa sakit lagi? Sakitnya kambuh?"
"Nggak kak. Bukan itu. Papa... Papa meninggal kak."
Terasa di sambar petir, Tari membeku.
"Ja-jang bercanda, Dit. Nggak lucu." kata Tari dengan suara bergetar.
"Adit, nggak bercanda kak. Papa meninggal, kak. Papa terkena serangan jantung kak."
Tari speechless. Dia tidak tahu harus berkata apa. Kabar itu terlalu mengejutkannya.
"Adit harus apa kak?"
"Y-ya.. Ya udah Dit, kamu tenang dulu. Ibu! Ibu dimana?" tanya Tari. Suaranya semakin gemetar.
"Ibu sedang mengurus kepulangan jenazah ayah dari rumah sakit, kak."
"Hmm.. Kalau.. Kalau begitu, kamu lapor pak RT dan... Dan.. Meminta bantuan untuk... Untuk mengurus jenazah ayah. Kakak... Kakak akan kirim uang untuk... Untuk... Untuk mengurus jenazah ayah." suara Tari terbata. Air matanya mulai berjatuhan.
"Kakak nggak kesini?"
"Kesana tentu. Tapi.. Tapi butuh waktu. Kamu tahu perjalanan dari sini ke sana cukup.. Cukup lama. Jadi jangan tunggu kakak. Segera saja di makamkan. Oke? Kamu dengar kakak?"
"Denger kak."
"Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa tiba-tiba?"
"Adit juga nggak tau kak. Saat Adit pulang ibu sudah nggak ada. Adit ke kamar papa untuk mengecek keadaan papa tapi saat Adit panggil, papa nggak menjawab dan badannya dingin. Jadi Adit bawa ke rumah sakit. Kata dokter papa sudah meninggal dan penyebabnya karena serangan jantung."
"Memangnya ibu kemana?"
"Adit nggak tau kak. Ibu selalu keluar bersama teman-temannya. Seharian biasanya. Ayah selalu sendirian. Hanya sama Adit kalau Adit pulang."
Tari mengepalkan tangannya. Tega sekali Ibu tirinya.
"Ya, sudah. Kamu lakukan yang kakak suruh tadi. Jangan tunggu kakak. Kakak minta foto saja nanti. Kamu mengerti?"
"Baik kak. Aku tutup ya kak."
"Hmm... Hati-hati."
"Assalamualaikum kak."
"Waalaikumsalam."
Tari menutup ponselnya. Dia menangis di dalam mobil hingga supirnya menatapnya dari kaca. Dia tidak habis pikir, bagaimana ibunya bisa meninggalkan ayahnya sendirian. Tari memencet ponselnya. Dia mengirimkan sejumlah uang untuk adiknya agar bisa mengurus pemakaman ayahnya. Dia juga memesan tiket pesawat yang berangkat dua jam lagi. Tari juga mengirimkan uang pada adik satunya lagi yang kuliah di luar kota, agar bisa pulang ke rumah membantu Adit. Tidak perduli jika uang tabungannya habis atau dia akan bekerja keras lagi nanti. Yang terpenting dia harus pulang.
"Pak, tolong kembali ke rumah." pinta Tari pada supir dengan suara bergetar karena menangis.
"Sebentar lagi sampai nyonya. Apa ada yang tertinggal? Biar saya saja yang ambil nanti nyonya."
"Tidak! Pulang saja kerumah."
Supir memutar mobilnya lalu kembali ke rumah. Di rumah, Tari sudah tidak melihat mobil yang biasa membawa Renald ke kantor sudah tidak ada. Tari langsung masuk ke kamarnya dan membereskan pakaiannya. Pakaian apapun yang bisa dia bawa beserta barang-barang yang lain. Dia tidak ingin membuang waktu. Tidak lupa dia memberitahukan manager divisinya, Dwaine.
"Maafkan saya pak. Tapi sebelumnya saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya yang bapak berikan tempo hari. Sudah ada di meja bapak laporannya."
"Saya sudah menerimanya."
"Maafkan saya pak. Saya tahu ini dadakan dan saya belum genap satu tahun disini tapi saya sudah terlalu banyak ijin."
"Bagus jika kamu tahu."
"Karena itu saya tidak masalah jika bapak memecat saya. Karena saya yang salah."
"Tidak ada yang salah dan saya tidak perlu memecatmu karena ini musibah dadakan. Tidak direncanakan, terlebih itu adalah orang tuamu. Pergilah, biar aku yang akan memberitahukan pada Randy."
"Baik pak, terima kasih."
Tari menuntup telponnya dan menghela nafas lega. Semua sudah selesai. Dia menyeret kopernya ke lantai bawah. Dia berusaha menahan air matanya. Dia harus segera pergi dari pada hanya menangisi kematian papanya. Sebenarnya dia ingin sekali bisa melihat wajah papanya untuk terakhir kalinya. Tapi jaraknya saat ini begitu jauh dan dia tidak ingin ayahnya terlantar begitu saja untuk menunggunya. Ayahnya harus segera di makamkan.
"Nyo-nyonya... Apa yang anda lakukan?" tanya Anne yang terkejut melihat Tari membawa satu koper besar.
"Aku harus pulang ke Indonesia. Ayahku meninggal dunia."
"Oh nyonya... Saya turut berduka cita." ucap Anne. Dia juga tampak terkejut dan prihatin. "Anda baik-baik saja nona?"
"Baik. Aku... Entahlah, aku tidak baik, Anne. Aku harus pergi." Tari memeluk Anne dan Marissa bergantian.
" Apa tuan sudah tahu, nyonya?" tanya Alfred. Tari menatap Alfred sejenak. Yang di perdulikan oleh pria tua ini hanya Renald dan Renald. Menyebalkan sekali!
"Tuan saja yang memberitahukannya, saya sudah terlambat. Permisi." Tari menyeret kopernya menuju mobil. Supir Tari terkejut.
"Nyonya?"
"Tolong antar aku ke bandara. Aku harus segera naik pesawat." pinta Tari.
"Tapi... Tapi tuan--"
"Sekarang atau aku akan naik taksi!" tegas Tari.
"Ba-baik nyonya."
Supir itu memasukkan koper Tari ke bagasi lalu mengendarai mobil langsung ke bandara.
...***...
"Pembangunan sudah di mulai dan tidak ada kendala. Bahan bangunan sudah di kirim dan kualitasnya sangat bagus. Aku yang memeriksanya sendiri." kata Randy.
"Keuangan kita juga baik-baik saja sampai saat ini. Pemasukan lancar." ucap Ted. Mereka sedang rapat di ruang kerja Randy.
"Bagus. Berharap saja semua lancar sampai akhir." kata Renald.
Tok tok tok
Sebuah ketukan pintu menghentikan sejenak rapat itu.
"Masuk." ucap Randy. Dwaine masuk ke dalam ruangan itu.
"Maaf pak, ini berkas yang bapak pinta." kata Dwaine.
"Bukannya ini tugas Tari? Apa dia pergi ke lokasi lagi?" tanya Randy.
"Tidak pak. Kebetulan pekerjaannya di sana sudah selesai pak. Perlu kembali tapi beberapa hari lagi." jelas Dwaine.
"Ahh begitu. Lalu dimana dia? Kenapa bukan dia yang antar berkas?" tanya Randy. Renald mengepalkan tangannya.
"Kenapa menyuruh Tari mengantar berkasnya? Kenapa tidak yang lain?" gumam Renald dalam hati. Dia tidak ingin bertanya secara langsung, demi harga dirinya.
"Dia pulang ke Indonesia pak."
Semua orang terkejut dengan ucapan Dwaine.
"Apa maksudmu?!" tanya Renald sedikit meninggikan suaranya.
"Anda tidak tahu? Ini aneh." gumam Dwaine. "Ayah Tari meninggal pak, karena itu dia pergi ke Indonesia untuk pemakaman ayahnya."
"Apa?!" pekik Renald.
"Kamu tidak tahu, Ren?" tanya Ted.
"Kamu pikir jika aku tahu aku akan berada disini?!" tanya Renald balik.
"Mungkin saja. Kamu kan workaholic." jawab Randy santai. Renald mengeraskan Rahangnya dan menatap tajam Randy.
"Kapan dia ijin?" tanya Ted pada Dwaine
"Hmm... Sekitar dua jam lalu pak."
"Berarti dia sudah di pesawat dan kemungkinan pesawatnya telah take off."
Renald langsung berdiri dan pergi diikuti Alex.
"Siapkan pesawatku. Kita berangkat sebentar lagi." ucap Renald.
"Baik pak." kata Alex lalu mulai menelepon.
...***...
Maaf ya kemaleman up nya