When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 46



Tari duduk diam memijat kaki Dhea, ibu mertuanya yang masih terbaring di salah satu ruangan rumah sakit.


"Tari, kenapa diam saja? Apa ada masalah?" tanya Dhea. Sedari Tari datang, dia tidak berbicara banyak. Bahkan ekspresinya terlihat tidak ceria seperti biasanya.


"Tidak ada mom, Tari baik-baik saja." jawab Tari memaksakan untuk tersenyum.


"Tidak seperti biasanya. Apa Renald nakal padamu? Kadang kenakalannya memang sungguh di luar nalar. Dia terlalu hyper."


"Renald mom? Hyper?" tanya Tari. Dia terkejut. Renald terkenal dingin ternyata hyper.


"Iya, hyper aktif. Sedari kecil. Berbeda dengan Andy yang tenang. Dia dan Frans kadang suka seenaknya, suka usil dan tidak bisa diam."


Tari melongo dengan indahnya. Itu tidak seperti Renald yang dia kenal.


"Tapi.." kata Dhea lagi. " Renald juga anak yang sensitif sedari kecil. Dengan perasaannya dan juga memiliki rasa protective yang luar biasa. Jika dia melihat yang dia cintai tersakiti, dia akan langsung turun tangan tanpa memperdulikan apapun. Karena itu dia terus bersama Veronica. Selain dia mencintainya, dia juga akan terus melindunginya. Karena itu mom terus merasa bersalah padamu, karena membawamu ketengah hubungan mereka. Mom melihat hubungan mereka sudah tidak sehat. Mom berharap kamu bisa merubah hidup Renald. Apa Renald pernah menyakitimu?"


Tari tersenyum lalu menggeleng. "Tidak mom, Renald bersikap baik pada Tari." kata Tari. Dia tahu dia berbohong. Dia hanya tidak ingin menambah kekhawatiran ibu mertuanya. Dhea tersenyum lalu membelai rambut Tari. Dhea kenal betul dengan sikap anaknya. Dia bisa menebak jika Renald pasti menyusahkan Tari. Dhea sebenarnya tidak ingin menikahkan Renald dan Tari. Tapi demi menyelamatkan anaknya dari hubungan toxic, dia harus melakukannya. Memang, alasan itu tetap tidak bisa di terima. Mengorbankan anak orang lain demi menyelamatkan anak sendiri. Dhea berencana akan menceraikan mereka jika Tari benar-benar di sakiti oleh Renald. Tapi berkat mata-mata setia yang di tanamnya di rumah Renald, dia tahu dia tidak boleh terburu-buru. Dia tahu Tari gadis yang tangguh, yang tidak akan mudah dikalahkan oleh sifat dingin Renald. Dan benar saja, justru anaknya yang jatuh cinta pada Tari.


"Mom." panggil Tari. "Apa mom tidak bisa beristirahat dulu?" tanya Tari lembut dan berhati-hati.


"Beristirahat? Apa maksudmu? Mom sudah baikan. Dokter berkata mom akan di pulangkan besok."


"Itu benar. Mungkin mom sudah baikan tapi mom masih terlihat lelah. Sangat lelah. Ikutlah dengan Tari dan Renald ke Amerika." ajak Tari.


"Dan mengganggu kalian? Tidak, tidak. Lebih baik kalian mempercepat pembuatan cucu untuk mom." kata Dhea dengan senyuman meresahkan di wajahnya, membuat Tari salah tingkah.


"M-mom ahahhaah.. Ng-nggak gitu mom.." Tari tertawa kikuk.


"Dari kamu yang tadinya berbahasa inggris tiba-tiba sekarang menjadi ngomong bahasa Indonesia, mom yakin begitu." goda Mom. Tari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi Tari serius mom. Please, istirahat."


"Mom sudah beristirahat disini, Tari. It's okay."


"Apa mom tidak mau melakukannya untul Tari? Setidaknya mom berhutang pada Tari."


"Berhutang? Apa maksudmu?"


"Karena mom sudah menjodohkan Tari dengan Renald. Tari yakin mom sudah tahu bagaimana kelakuan Renald. Tapi mom tetap melakukan itu." kata Tari. Awalnya dia enggan untuk mengungkitnya atau menjadikan semua itu sebagai alasan, tapi dia harus menyelamatkan mom, itu adalah hal utama.


"Maafkan mom, Tari. Mom hanya--"


"Ikut dengan Tari ya mom? Tari akan meminta Renald untuk meminta ijin pada nenek." bujuk Tari. Mom menghela nafas. "Mom.. Please... Demi Tari."


"Baiklah. Jika nenek setuju, mom akan ikut kalian. Tapi jika tidak, jangan paksa mom lagi, mengerti?"


Tari mengangguk. "Mengerti mom."


Tari berjalan menuju pintu keluar rumah sakit. Dia pulang sendiri kali ini karena Renald memiliki pekerjaan yang tidak bisa dia tinggal. Tapi Tari sudah memberitahukan Renald tentang Dhea. Renald tentu bersemangat untuk meminta ijin pada neneknya.


Dari kejauhan dia melihat adik ipar dhea. Tari tahu mereka akan menemui Dhea. Tari dengan cepat berjalan mengikuti mereka.


Benar saja, mereka masuk ke kamar Dhea. Dengan cepat, Tari juga masuk ke dalam kamar Dhea.


"Tari? Mom kira kamu sudah pulang." Dhea terkejut melihat Tari yang ikut masuk.


"Ah..ahahahaha.... Tari... Tari mau nunggu Renald saja mom. Lebih baik Tari disini." katanya. Dia melihat tatapan sinis dari bibi dan sepupu Renald.


"Sepertinya kamu betah disini." bibi Renald bernama Clarisse mulai dengan sindirannya. Dia menatap sinis dengan tangan terlipat di depan dadanya.


"Tentu saja dia betah, Clarisse. Dia tidak perlu melakukan tugasnya sebagai menantu paling tua. Dan lihatlah kamar ini, begitu mewah dan nyaman." sahut bibi Renald lain yang bernama Mary yang sedari tadi mengelilingi ruangan itu.


"Kau benar, Mary."


"Dokter berkata aku bisa pulang besok." kata Dhea dengan senyuman hangat.


"Bagus, jangan malas! Hanya sakit sedikit saja harus dirawat disini, manja sekali." sindir Mary.


"Eddie terlalu memanjakannya. aku yakin sakit hanya alasan agar dia tidak perlu bekerja. Sepertinya kamu perlu di latih disiplin lagi. Terlalu seenaknya."


Dhea hanya tersenyum mendengar cibiran kedua adik iparnya. Tari hanya berdiri diam di dekat pintu dan menatap mereka. Dia tidak ingin bersikap tidak sopan dan membuat Dhea semakin di benci. Jadi dia hanya bisa menatap mereka dengan tangan mengepal. Tapi yang dia heran adalah bagaimana bisa ibu mertuanya itu masih bisa tersenyum hangat dan ramah pada mereka berdua? Tari menghembuskan nafasnya.


Clarisse meletakkan kotak makan yang sedari tadi di bawanya di atas meja makan pasien lalu mendorong meja itu agar mendekat pada Dhea.


"Makan ini. Kami dengan baik hati membawa ini semua untukmu. Jadi, habiskan." kata Clarisse dengan nada memerintah. Tatapan sinisnya tidak lepas dari wajahnya. Tangan Tari mengepal semakin kuat. Dhea membuka kotak makan. Makanan mewah tersusun rapi dan terlihat elegan. Dhea mengambil alat makan dan mulai menyendokkan makanan tapi tangan Tari jauh lebih cepat dari Dhea. Dengan sekejap dia mengambil sendok dari tangan Dhea lalu mengambil tempat makan dan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Dia melahap makanan itu. Semua itu membuat bengong Dhea maupun bibi Renald. Tari melakukan itu tanpa berpikir lagi. Dia teringat dengan perkataan mereka yang akan meracuni Dhea. Tidak perduli resiko yang akan dia dapatkan. Bisa saja dia keracunan, tapi dia di rumah sakit kan? Dokter bisa dengan secepatnya menolongnya. Yang terpenting Dhea baik-baik saja. Tari melahap semua makan di dalam kota makanan itu. Dia lapar? Tentu saja tidak. Dia baru saja makan bersama Dhea sebelum pamit pulang dan sekarang dia makan lagi. Dia sudah tidak sanggup untuk makan lagi, tapi dia bertekad menahannya.


"Tari? Dear? Are you okay?" tanya Dhea yang melihat menantunya yang terlihat gila memakan makanan yang seharusnya untuknya. Tari hanya mengangguk cepat karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Apa orang dari negara kalian tidak memiliki sopan santun? Sangat menjijikkan."


"Seharusnya kamu mendidik menantumu dengan baik!"


"Menyebalkan sekali! Ayo kita pergi! Tidak memiliki sopan santun! Sungguh menjijikkan!" Clarisse berjalan keluar kamar sambil membuang wajahnya. Mary mengikuti Clarisse pergi.


"Uhuk uhuk!" Tari mulai batuk. Dhea mengambilkan segelas air mineral dan memberikan minuman itu pada Tari. Tari dengan cepat menerimanya dan meminumnya.


"Kenapa kamu melakukan itu? Mom tahu kamu sudah makan tadi dengan mom."


Tari dengan susah payah menelan makanan yang ada di mulutnya. "Mom juga sudah makan. Kalau Tari perutnya besar dan masih muda, Jadi masih muat untuk makan lagi mom."


Mom tertawa. "Kamu persis seperti Renald, hanya saja caramu jauh lebih halus. Mom tahu kamu mencoba membela mom."


Tari tersenyum kikuk. Dia hanya lelah melihat Dhea terus di bully. Mereka seperti anak remaja saja, keluh Tari.


"Sudah, hentikan makannya. Kamu sudah kenyang , dear. Mereka juga sudah tidak ada lagi disini." kata Dhea. Tari kembali tersenyum kikuk.


"Nanggung mom." Tari kembali memakan makanan itu. Dhea hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Tapi mom merasa aneh." kata Dhea lagi.


"Aneh kenapa mom?"


"Kenapa kamu sampai nekat makan makanan ini? Mom bisa saja makan makanan itu perlahan sampai mereka pergi. Apa ada masalah sweetheart?" tanya Dhea. Tari tertegun sejenak lalu menggeleng.


"Ti-tidak ada mom. Tari hanya berpikir mom sudah makan dan dua nenek lam-- maksud Tari kedua bibi Renald tidak akan pergi begitu saja." kata Tari berbohong. Dia memakan makanan itu agar mom terhindar dari racun yang di bicarakan kedua bibi Renald.


"Baiklah, bukankah seharusnya kamu sudah pulang? Bagaimana jika Renald mencarimu dan mengkhawatirkanmu?"


"Tari akan menelepon Renald nanti." kata Renald dan benar saja. ponsel Tari berbunyi. Tari melihat layar ponselnya bertuliskan nama Renald di sana. Tari menunjukkan layar ponselnya pada Dhea.


"Ya?"


"..."


"Masih di rumah sakit sama mom."


"..."


"Iya aku tahu. Jangan cerewet denganku."


"..."


"Baiklah."


Tari menyimpan ponselnya.


"Apa yang di inginkan si cerewet itu?" tanya mom.


"Hanya berkata dia akan pulang terlambat mom."


"Hmmm.. Jadi sekarang kamu mau pulang atau temanin mom tidur disini?" tanya Dhea.


"Apa mom baik-baik saja disini sendiri?"


"Tentu saja. Dad sedang dalam perjalanan kemari. Mom tidak akan sendirian."


Tari mengangguk. " Baik mom. Kalau begitu, Tari akan pergi jalan-jalan saja. Tari belum pernah jalan-jalan di kota ini."


"Okay, berhati-hatilah."


Tari mengangguk lalu mencium punggung tangan Dhea dan pamit pergi. Seperti yang dia recanakan, dia berjalan-jalan di kota York. Dia begitu mengagumi kota itu. Tata kotanya, bangunannya, semua. Dia melewati gang-gang kecil, melihat beberapa bangunan tua, pasar dan terakhir duduk di sebuah bangku di pinggir sungai. Dia menatap sungai itu dalam diam. Sebelumnya dia sudah berchat ria dengan adiknya, Dimas. Dia diberitahu bahwa mereka baik-baik saja dan wisuda Dimas sukses. Dimas masih mencari pekerjaan. Intinya, kedua adiknya sangat baik-baik saja. Tari lega tapi dia sedikit kecewa dia tidak bisa hadir di wisuda Dimas.


Ponsel Tari tiba-tiba berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan membaca nama yang tertera di layarnya.


"Aku akan pulang sebentar lagi." kata Tari.


"Aku tahu. Apa kamu baik-baik saja?"


"Tentu saja. Kanapa?"


"Lalu kenapa kamu duduk di sana sendiri dan melamun?"


Tari tersentak. Dia menoleh mencari keberadaan Renald. Setelah beberapa saat dia mencari, dia mendapati Renald berdiri di seberang jalan. Renald tersenyum lalu melambaikan tangannya. Tari berjalan menuju pinggir jalan, Entah kenapa dia terlihat senang melihatnya kali ini. Bahkan dia tidak sadar dia sedang membalas senyuman Renald. Renald mengenakan kemeja putih dimasukkan kedalam celana kain hitamnya, dengan lengan baju tergulung hingga siku.


"Tunggu disana, aku akan ke sana."


Tari mengangguk dan tersenyum. Dia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya. Tari memperhatikan Renald yang masih memperhatikan mobil dan motor lewat sambil menunggu rambu pejalan kaki. Perlahan kaki Tari ikut melangkah ke zabra cross, bersiap menyambut Renald. Lampu pejalan kaki sudah berubah menjadi hijau. Dari kejauhan dia melihat Renald berjalan ke arahnya. Sebuah rasa yang awalnya hanya desiran. Rasa yang dia tahan sekuat tenaga, rasa yang di coba gantikan dengan kebencian. Tapi semakin dia melakukan semua itu, dia justru semakin masuk ke dalam cinta itu sendiri. Bahkan saat ini, saat dia melihat Renald menuju ke arahnya, dia tidak lagi bisa menahan rasa itu lagi. Ada rasa bergejolak didalam dirinya yang ingin segera terlampiaskan, kata-kata yang ingin dia ucapkan. Tari berjalan menuju Renald yang tersenyum padanya.


Brakk!!


Tari bisa melihat tubuhnya melayang di udara sejenak lalu mendarat di tempat yang cukup keras dalam hitungan detik. Tari bisa mendengar teriakan orang-orang sejenak lalu tiba-tiba suara dengungan keras menutupi semua suara itu. Dia ingin bergerak tapi tubuhnya seperti tidak ingin bekerja sama dengannya. Matanya terus mencoba menutup dengan sendirinya. Hingga akhirnya dia melihat sosok Renald yang duduk tepat di depannya. Dia ingin memanggilnya, dia ingin berlari ke arahnya tapi justru semuanya mendadak gelap.