
"Cheeerrrsss!!!"
Tari dan pegawai bar duduk dan minum bersama setelah bar tutup. Bar telah di bersihkan dan kursi - kursi telah di balik dan di angkat ke atas meja. Hari ini pemilik bar mentraktir pegawainya untuk minum. Meski Tari tidak ikut minum alkohol tapi dia menemani mereka.
"Apa tidak masalah pulang sangat larut?" bisik Marisol. Jam sudah menunjukkan pukul satu tiga puluh pagi.
"Apa kamu lupa sekarang ada mobil yang mengantar jemputku?"
"Ahh benar." Marisol menganggukkan kepalanya.
"Jam dua kita pulang. Aku akan mengantarmu."
Marisol mengangguk.
Paginya Tari bangun kesiangan. Dia buru-buru mandi dan bersiap lalu turun ke bawah. Dengan kakinya yang masih nyeri, dia memaksakan jalan menuju mobilnya. Bertemu Renald yang baru saja keluar dari kamarnya.Tari hanya berjalan melewatinya tanpa menatapnya. Renald memegang tangan Tari, menghentikan langkahnya. Tari meringis kesakitan.
"Ahh..." dia memejamkan matanya dan menghela nafasnya. Mencoba menahan rasa sakitnya. Saat sakitnya mereda, Tari menatapnya kesal. "Mau apa kamu sebenarnya?!"
Tari melepaskan tangannya dari genggaman Renald. Renald memperhatikan kakinya.
"Sarapan dulu, lalu ke dokter." kata Renald. Tari menghembuskan nafasnya kasar.
"Tidak! Aku sudah terlambat." Tari kembali beranjak pergi. Renald berjalan dan berhenti di depan Tari. Dia terus saja menghalangi Tari berjalan dengan ponsel di telinganya.
"Ran, tolong biarkan Tari tidak masuk hari ini. Dia harus ke dokter." kata Renald. Tari terkejut.
"Ti-tidak. Tidak! Aku tidak mau." Tari berusaha mengambil ponsel Renald dengan melompat kecil. Tapi Renald menghalanginya.
"Jangan melompat atau kakimu akan semakin sakit." kata Renald. Tari mendengus. "Jadi bagaimana Ran? Oke." Renald menutup telponnya. "Sudah. Kamu tidak perlu ke kantor. Jadi sarapan dulu lalu kita ke dokter."
"Sepertinya kamu memiliki kepribadian ganda." ucap Tari. Kekesalannya sudah mulai memuncak. "Ya, aku paham. Aku paham semua perkataanmu kemarin. Baiklah, aku yang salah! Aku akan mengingat tempatku! Aku juga tidak akan lupa jika aku tameng! Puas? Jadi tolong, tinggalkan aku sendiri!!" pekik Tari.
Tari berjalan cepat menuju mobilnya. Secepat yang dia bisa.
"Baiklah, aku yang akan memaksa." gumam Renald dengan pelan. Tari masuk ke mobilnya dan Renald juga ikut masuk alih-alih supirnya lalu mengunci pintu. Tari terkejut.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Tari. Tanpa menjawab pertanyaan Tari, Renald menjalankan mobilnya. Semua orang bingung dengan yang dilakukan Renald. Renald melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
Renald memarkiran mobilnya di depan unit gawat darurat lalu memanggil beberapa perawat.
"Ren, aku sungguh baik-baik saja!" Tari frustrasi Renald tidak mendengarkannya. Perawat itu memapahnya ke masuk ke dalam.
Dokter memberikan pertanyaan dan perawatan luar biasa padanya. Dia benar-benar kesal pada Renald. Dia sudah berkata dia baik-baik saja. Kenapa dia tidak mau mendengar?
"Terima kasih dok." Renald berjabat tangan dengan dokter lalu dokter itu pergi. "Kamu dengarkan katanya, butuh satu atau dua minggu untuk sembuh total."
"Lalu? Aku tidak perduli. Aku hanya terkilir!" Tari berjalan keluar Unit gawat darurat.
"Kamu mau kemana?" tanya Renald.
"Kerja." jawab Tari tanpa menghentikan langkahnya. Renald menghembuskan nafasnya kasar lalu berlari kecil mengejar Tari.
"Bukannya kamu harus beristirahat? Kamu tidak mendengar apa yang di katakan dokter?" tanya Renald.
"Apa kamu juga tidak dengar apa kata dokter? Aku terkilir, bukan patah tulang. Jadi jangan berlebihan." kata Tari tanpa menghentikan langkahnya. Kakinya sudah di olesi krim dan di balut kain. Tari keluar dari UGD dan langsung menuju jalan besar untuk mencari taksi. Renald menahan tangannya.
"Akan aku antar."
"Tidak! Aku bisa pergi sendiri! Ada apa denganmu sebenarnya?! Apa kamu sadar dengan prilaku anehmu ini? Aku tidak butuh perhatian palsumu! Kita lakukan saja tugas kita masing-masing tanpa mencampuri urusan pribadi masing-masing. Aku sudah melakukan tugasku sebagai tameng saat pesta dan paris. Dan ya! Aku hanya tameng dan aku tahu itu, aku paham, karena itu selama ini aku tidak pernah mencampuri urusanmu. Jadi kamu tidak perlu berpura-pura perduli padaku jika sedang tidak melakukan tugas sebagai pasangan palsu! Dan aku mohon... Menjauhlah dariku!"
Tari kembali berjalan menjauhi Renald. Dia sudah tidak tahan lagi padanya. Entah apa maksud dari semua perlakuan padanya tapi semuanya harus berhenti saat ini juga.
...***...
Tari duduk di mejanya dan menghela nafas panjang.
"Beib! Aku kira kamu tidak masuk kerja? Kamu tidak membalas pesanku." Michel mendatangi Tari.
"Ahh aku pergi ke dokter dulu tadi, memeriksa kakiku." jelas Tari sambil tersenyum kikuk.
"Lalu bagaimana? Apa kata dokter?kamu baik-baik saja?" tanya Lucy.
"Tentu, aku baik. Tenang saja."
"Tari." panggil manager divisi di tempat Tari kerja. Dia menunjukkan jari telunjuknya lalu menggerakkan jari telunjuk itu maju dan mundur, yang berarti dia dipanggil. Tari menghela nafas lalu berdiri dan pergi ke ruangan menejer itu.
"Tutup pintunya."
Tari menutup pintunya.
"Kemari." pinta manager itu lagi. Tari menurut dan mendekati manager itu.
"Maaf pak saya terlambat, saya tidak bermaksud untuk terlambat. Tadi saya harus ke dokter dulu dan saya sudah ijin dengan pak Randy." jelas Tari. Kepalanya menunduk sehingga dia tidak melihat managernya mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu?" tanya manager itu. Tari mengangkat kepalanya.
"Eh?"
"Kamu ini bicara apa? Aku tidak mau tahu tentang itu. Aku ingin memberikan ini." manager itu memberikan sebuah berkas padanya. Tari mengambil berkas itu. "Hanya proyek kecil. Cocok untuk kamu tangani karena proyek kecil. Teman-temanmu yang lain tidak bisa mengurusnya karena mereka sudah jauh di atasmu. Sekalian belajar."
Tari membuka berkas itu dan membaca isinya.
"Itu hanya garis besarnya. Rinciannya akan di email. Kamu tidak ingin terus bekerja di balik meja kan? Terlebih semua teman didivisimu sudah profesional."
"Iya pak, terima kasih." Tari tersenyum. Dia senang tentu mendapat pekerjaan yang sesuai di bidang divisinya. Selama ini setiap hari dia hanya mengatur dan menyusun file dan membuat laporan. Akhirnya dia bisa melakukan kerja lapangan.
"Kerjakan dengan baik. Kamu bisa memeriksa ke lokasi besok bukan? Aku lihat kakimu sakit."
"Saya baik-baik saja, pak. Hanya terkilir."
"Bagus. Dan satu lagi. Terlambat atau ijin tidak masuk, aku harap kamu akan mulai meminta ijin pada aku saja kedepannya. Jangan pada Randy. Karena aku adalah manager bagian tempatmu bekerja, sementara Randy adalah bos paling tinggi disini. Meskipun aku tahu siapa suami kamu dan kamu mengenal Randy, tapi aku akan tetap bersikap profesional. Aku harap kamu juga begitu."
"Baik pak."
Tari mengangguk dan keluar ruangan. Dia tersenyum senang sambil memeluk berkasnya. Setidaknya setelah hal yang membuatnya meledak tadi ada yang membuatnya senang.
...***...
Tari menari kecil mengikuti irama musik sambil mengelap meja. Meskipun menari hanya di tempatnya agar dia tidak menggerakkan kakinya. David tersenyum melihatnya lalu ikut menari setelah melayani pelanggan. David seumuran dengannya. Wajahnya tampan dengan rambut pirang dan iris birunya.
"Sepertinya ada yang membuatmu senang?" tanya David. Tari tersenyum.
"Tidak ada. Biasanya aku selalu melakukan ini dengan Marisol."
"Kalau begitu mulai sekarang, lakukan denganku." pinta David.
"Deal!"
Tari dan David bernyanyi. Hari ini pelanggan tidak terlalu ramai. Awalnya Tari hanya membantu lalu akhirnya dia bekerja kembali. Dia memutuskan itu agar tidak bertemu Renald. Dia juga tidak ingin di cap sebagai tameng tidak tahu diri. Hanya tameng tapi berlagak nyonya. Tidak, tidak lagi!
...***...
Renald membuang tubuhnya di sofa lalu menuang wiski ke gelasnya. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa lalu melonggarkan dasinya.
"Ada apa denganmu?" tanya James yang sudah sedari duduk di sofa kecil bersama Randy dan James. Renald memasuki ruangan itu dengan kekesalan di wajahnya.
"Aku yakin dia bertengkar dengan Veronica, lagi." Ted yang menjawab.
"Aku kira kamu ingin bersenang-senang dengannya. Tapi sepertinya kalian lebih banyak bertengkar belakangan ini. Ada apa lagi?" tanya James. Renald tidak menjawab. Dia meminum wiskinya lagi. Sudah lama dia tidak mabuk tapi hari ini dia ingin mabuk. Benar-benar mabuk.
"Aku yakin Veronica berselingkuh lagi. Dia selalu begitu. Bersenang-senang dengan pria dan uang. Entah kenapa kamu masih mau bersamanya." Ted menggelengkan kepalanya.
"Kami sudah tidak bersama lagi."jawab Renald akhirnya. Dia meminum wiskinya lagi. Sikunya di letakkan di pegangan kursi dan tangannya memijat pelipisnya.
"Lalu? Kenapa kamu masih mengurusinya? Kenapa kamu masih memberinya segalanya? Perhatianmu, uangmu bahkan waktumu." Ted menggelengkan kepalanya. "Aku mengerti dia cinta pertamamu tapi aku rasa ini sudah cukup."
"Aku setuju dengan Ted. Aku juga memiliki cinta pertama dan sudah lupa padanya." James meminum minumannya. "Kau terlalu berlebihan. Tidak baik untukmu."
Renald tidak menjawab. Dia hanya meminum minumannya lagi.
"Bagaimana dengan Tari?" tanya Ted.
"Kenapa dengannya?"
"Setelah sekian lama, apa kamu tidak memiliki perasaan padanya?" tanya Ted. Semua menatap Renald.
"Aku belum gila." Renald menumpah minumannya ke gelas. Ted dan James saling menatap.
"Lalu kenapa menciumnya? Tidak hanya sekali, tapi dua kali."
"Kamu lupa dia siapa? Tamengku dan akan terus begitu. Itu bahkan tidak bisa di katakan sebagai ciuman. Bibirku hanya menyentuh bibirnya sedikit."
"Lalu mau sampai kapan kamu akan menjadikan tameng?" kali ini Randy yang bertanya.
"Kenapa? Kamu akan mengambilnya?" Renald balik bertanya.
"Hmm.. Ceraikan saja dia dan menikah dengan Veronica, maka dia tidak perlu menjadi tameng lagi. Lalu aku akan menikahinya." ucap Randy. Ted dan James menatap bingung.
"Tunggu, untuk apa kamu mau menikahinya? Apa kamu mau menjadikannya tameng juga?" tanya James. Randy tertawa mengejek.
"Aku belum gila. Aku juga bukan Renald. Akan aku jadikan dia istriku dan memperlakukannya dengan baik."
"Siapa kamu? Dan kemana Randy si playboy?"
"Hei, bukan aku yang menciptakan kata playboy itu." Randy membela diri.
"Jadi, semua wanita yang aku miliki ingin kamu miliki juga?" tanya Renald dingin.
"Pertama, aku tidak tidur dengan Veronica. Ya, kami pernah bersenang-senang, itu benar. Tapi tidak bercinta. Aku masih memiliki pengendalian diri dan batasan dalam hal bersenang-senang. Yang kedua, Tari bukan milikmu. Sedari awal juga bukan milikmu. Tapi akan segera aku jadikan milikku!"
Renald melempar gelasnya sembarang tempat lalu berdiri. Rahangnya mengeras. Tangannya di kepal kuat.
"Okay hentikan. Tidak perlu bertengkarkan? Kita jauh-jauh kemari bukan untuk bertengkar. Tapi untuk bersenang-senang." James ikut berdiri.
"Aku pergi saja." kata Randy. Dia berdiri dan mengambil jaketnya. "Tidak menyenangkan lagi disini. Dan kamu." Randy menatap Renald. "Jika dia hanya tameng, kamu tidak perlu semarah itu. Bukankah kamu tidak menyukainya? Jadi tidak masalah jika aku berpacaran atau menikahinya."
Randy berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Dan..." Ted berdiri. Dia mengenakan jasnya. "Aku setuju padanya. Ceraikan saja dia dan menikahlah dengan Veronica, jika kamu memang masih begitu mencintainya. Jika tidak lagi, berarti sudah waktunya kamu mencintai wanita lain."
Ted ikut pergi meninggalkan ruangan itu. Renald menghempaskan diri di sofa sementara James berdiri kikuk di tempatnya.
...***...
Sudah beberapa hari Tari tidak melihat Renald di rumah itu, baik pagi maupun malam. Dia merasa lega dan tenang tidak perlu bertemu dengannya lagi. Kakinya? Sudah hampir sembuh. Hanya sesekali terasa nyeri.
Tari duduk di halaman belakang bersama Marissa dan Anne. Mansion Renald terlihat seperti kastil. Memiliki cukup banyak kamar. Di halaman depan kastil sangat luas, memiliki air mancur berbentuk lingkaran di tengah halaman. Sementara di halaman belakang, ada kolam renang cukup besar dengan dua gazebo di dekatnya. Tidak lupa taman yang tertata rapi dan indah. Lalu pagar cukup tinggi mengelilingi mansion itu.
Tari duduk di ayunan berbentuk bulat yang di dalamnya sudah di sediakan bantal kursi bahkan selimut. Tari suka duduk disitu karena itu Marissa dan Anne menambahkan bantal kursi dan selimut, agar saat Tari duduk di sana, Tari akan merasa nyaman. Anne dan Marissa duduk di salah satu gazebo di dekat Tari. Mereka saling bercengkrama, menceritakan sesuatu dan tertawa. Mereka bahkan tidak menyadari Renald yang menatapnya dari pintu belakang mansion.
Renald tampak berantakan. Dasi yang di longgarkan, rambut berantakan, lengan baju yang sudah di lipat hingga siku. Bagian depan kemejanya keluar dari celananya sebelah. Renald mendatangi mereka. Mereka sangat terkejut dengan kedatangan Renald yang tiba-tiba, terlebih dengan penampilannya yang berantakan. Renald berdiri menghadap Tari dan menatapnya. Tari menatap Renald atas bawah secara bergantian.
" Ka-kami permisi." sahut Anne lalu menarik Marissa pergi dari sana.
"Hei, tunggu aku. Aku ikut." Tari mengenakan sendalnya lalu berdiri dan beranjak pergi. Renald dengan cepat menahannya dengan memegang lengannya. Tari mendengus.
"Apa? Ada apa lagi?" Tari benar-benar tidak ingin berurusan dengan Renald lagi. Renald berjalan mendekatinya dan lebih dekat lagi, yang membuat Tari secara otomatis melangkah mundur.
"Mau apa lagi dia? Aku bersumpah jika dia menciumku lagi, aku akan-- oh?"
Renald meletakkan kepalanya di pundak Tari. Nafasnya berat dan tercium bau alkohol di tubuhnya. Tari tertegun sejenak. Tapi dengan cepat menyadarkan dirinya. Tari mendorong tubuh Renald. Bukannya menjauh, Renald justru memeluknya. Tari yang panik mencoba melepaskan diri, tapi Renald justru semakin erat memelukanya.
"Aku mohon... Biarkan seperti ini beberapa menit. Hanya beberapa menit."
...**** ...