When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 41



Renald berusaha untuk menarik perhatian Tari. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang di pikirkan Tari tidak benar. Tapi Tari, dia menjauh sejauh yang dia bisa. Tentu saja, jika berdekatan dengan Renald, dia takut, perasaannya akan tergoyahkan lagi. Ya, beberapa saat sebelum Veronica meninggal, perlakuan Renald membuat perasaannya tergoyah. Dia mengakui itu. Tapi akhirnya hatinya kembali pesimis, bahwa dia tidak akan pernah bisa mengalahkan cinta pertama Renald.


Terlebih, sikap Renald yang seakan menjadikannya pengganti Veronica. Dia membelikan dan memberikan Tari semua hal yang disukai Veronica. Bahkan merek dan warna! Tentu saja Tari menolak.


"Jadi kamu akan menyerah?" tanya Ted. Mereka baru saja selesai rapat mengenai perkembangan proyek mereka di kantor Randy.


"Hell no! Tidak akan pernah. Tenang saja. Aku hanya kehabisan ide." Renald menghembuskan nafasnya kasar. James dan Ted tertawa geli.


"Dan dia bahkan tidak perduli." Renald mengusap wajahnya kasar.


"Jelas saja dia tidak perduli." kali ini Randy yang bersuara. "Kamu memperlakukannya seperti memperlakukan Veronica. Tentu dia tidak suka karena dia bukan Veronica. Kamu tidak bisa menyamakan mereka begitu saja."


"Astaga kamu melakukannya?!" pekik James.


"Haruskah kamu berteriak seperti itu?" Renald mendengus. James kembali tertawa. "Lalu aku harus apa? Aku hanya ingin membuatnya senang!"


"Jika dengan Veronica, tentu dengan uang dan barang-barang mewah dan mahal, itu cara yang bagus. Tapi tidak dengan Tari. Tari bukan wanita yang suka uang seperti Veronica." kata Randy.


"Dari mana kamu tahu itu?" tanya James.


"Bukankah Renald pernah bercerita tentang kartu kredit yang tidak pernah di gunakannya? Dari situ aku sudah tahu dia berbeda."


"Kamu benar-benar mengetahui tentang banyak wanita. Apa karena itu kamu ingin menikahinya?" tanya James lagi.


"Tentu saja."


"Apa katamu?" Renald mulai kesal.


"Hei, wanita seperti Tari itu langka. Sulit ditemukan. Kebanyakan wanita sekarang itu menyedihkan. Satu level dengan Veronica."


"Hei, Ran. Vero sudah meninggal. Jangan menyebutnya terus." kata James.


"Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya. Jika Renald tidak bisa membuatnya bahagia dengan apapun yang dia lakukan, aku yang akan maju. Aku yang akan mencobanya. Dia berhak untuk bahagia denganku atau yang lain. Apa aku salah?" Randy membela dirinya.


"Tidak, kamu tidak salah." jawab Ted. "Dia memang berhak untuk itu."


"Karena itu, aku diam saja selama ini. Karena kamu adalah temanku, Ren. Kita bersahabat sedari kecil. Tapi jika memang kamu tidak bisa membuatnya jatuh cinta, kamu harus mengalah."


Renald terdiam menatap Randy penuh arti. Tapi dia tidak terlihat kesal atau marah. Dia tahu, Randy benar. Hanya saja, dia tidak akan bisa melihat Tari berakhir dengan orang lain. Ya, dia egois, dia tahu itu.


...***...


Tari duduk termenung di subway. Seharusnya dia di jemput Renald tapi hari ini dia pulang lebih awal dari bar karena pemilik bar ingin menggunakan bar itu untuk acara pribadi. Jadi semua pegawainya di pulangkan. Karena itu disini lah Tari, duduk dalam diam.


Brakk!!


Satu gadis muda terjatuh. Dia bertabrakan dengan seorang pria berkulit hitam. Pria itu membantu gadis tadi berdiri tapi Tari melihat ada gelagat aneh dari pria itu. Diam-diam dia merobek tas yang di kenakan gadis itu. Gerakannya sangat cepat. Hampir tidak terlihat makanya tidak disadari oleh pemiliknya. Pencuri itu mengambil handphone dan dompet milik gadis itu. Tidak ada yang menyadari selain Tari. Gadis tadi dengan polosnya meminta maaf pada pria tadi.


"Tunggu." kata Tari. "Tolong kembalikan dompet dan ponsel yang anda curi."


"Apa maksudmu, lady? Jangan sembarangan!" pria itu menatap tidak suka.


"Aku melihatnya sendiri, pak. Anda merobek tas nona ini dan mengambil ponsel beserta dompet nona ini." tegas Tari.


"Dasar wanita gila!" maki pria itu lalu ingin beranjak pergi. Tari dengan cepat mencegahnya.


"Kembalikan dulu dompet dan ponselnya." desak Tari.


"Kamu ini bicara apa?! Aku tidak mencuri!" pria itu mencoba menepis tangan Tari, membuat Tari hampir terjatuh. Tapi Tari berhasil bertahan.


"Nona, periksa tas anda." kata Tari pada gadis muda yang di bantu oleh pria itu. Gadis yang bengong melihat perselisihan antara Tari dan pria itu, langsung memeriksa tasnya.


"T-tas.. Tasku..." gadis itu terkejut dengan mendapati tasnya yang robek.


"Lihatkan? Tas nona itu sudah robek. Sekarang kembalikan dompet beserta ponselnya!" pinta Tari lagi. Pria itu semakin memberontak. Dia menepis tangan Tari kasar hingga Tari terjerembab di lantai subway yang dingin.


"Hei, pak. Bukan begitu cara memperlakukan wanita." kata seorang pria muda yang mengenakan coat panjang berwarna coklat muda dan jas.


"Jangan ikut campur!" kata pria itu dengan setengah berteriak.


"Aku awalnya tidak ingin ikut campur. Tapi melihat anda mengasari gadis itu, itu tidak bisa di terima. Jika memang anda tidak salah atau tidak mengambil apapun, anda tidak perlu semarah ini." kata pria itu dengan tenang.


"Hei! Dia menuduhku. Tentu aku marah!" pria itu membelalak karena marah. Bola matanya terlihat akan keluar dari cangkangnya.


"Kalau begitu, biarkan kami memeriksa anda dulu."


"Tidak, tidak akan. Apa karena aku berkulit hitam jadi kalian mendiskriminasikanku?!" teriak pria itu semakin keras.


"Ohh tenanglah tuan. Kami hanya ingin memastikan tuduhan nona ini salah." jelas pria itu lagi.


"Tidak! Aku akan pergi!"


"Jika anda pergi, tuduhan nona ini berarti benar."


Pria itu terdiam sejenak lalu tiba-tiba mendorong tubuh pria tadi dan melarikan diri. Pria berjas itu menarik jaket yang di kenakan pria pencuri dan menariknya kebelakang. Pria pencuri itu mundur beberapa langkah lalu terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Pria berjas membalik tubuh pria pencuri, mengunci tangannya dan menahan tubuhnya.


"Dave, periksa dia!" kata pria berjas pada temannya yang sedari tadi dia mematung di tampatnya. Teman pria itu segera memeriksa tubuh pria pencuri dan benar saja. Dia menemukan beberapa ponsel dan dompet di saku jaketnya.


"Dapat Den." kata pria bernama Ed itu.


"Lihatkan? Kamu yang mencuri." kata pria berjas itu. Tak lama datang beberapa polisi dan mengamankan pria pencuri. Tari dan kedua pria yang membantunya tadi memberi kesaksian pada polisi. Polisi mengembalikan barang yang di curi pada gadis yang tadi lalu membawa pergi pencuri itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Tari pada gadis itu. "Periksalah, siapa tahu ada yang hilang."


"Bukan itu masalahnya." kata gadis itu dengan suara pelan dan kepala menunduk.


"Hm?"


"Aku tidak perduli jika dompet atau ponselku dicuri. Aku tidak masalah. Harganya tidak seberapa tapi tasku! Tasku yang berharga telah rusak!" pekik gadis itu tampak sedih.


"T-tas?"


Tari masih diam menatap gadis itu. Dia masih memproses kata-kata yang di lontarkan gadis yang terlihat lebih muda itu. Gadis itu berambut pirang dengan mata birunya yang cantik.


"Kamu... Baik-baik saja kan?" tanya Tari. "Maksudku... Apa kamu terluka?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Tapi tasku tidak!" gadis itu masih meratapi tasnya. Tari tersenyum kecil dan memijat keningnya.


"Kalian berdua baik-baik saja?" tanya pria berjas yang membantunya tadi. Tari menoleh dan menatap pria itu. Pria itu sangat tampan dengan balutan jas yang pas di tubuhnya dan rambut cokalt yang disisir rapi.


"Kami baik-baik saja. Terima kasih atas bantuannya." kata Tari.


"Tidak masalah nona." kata pria itu.


"Keretaku sudah datang, aku pergi dulu." kata Tari pada gadis itu. Tapi gadis itu menahannya.


"Mau kemana? Tolong aku."


"Tolong?"


"Bantu aku menuju kesebuah alamat. Aku tidak... Maksudku aku tahu jalannya, hanya saja... Aku tidak bisa kesana." kata gadis itu.


"Ahh begitu.. Bagaimana dengan taksi?" tanya Tari.


"Taksi?"


"Iya Taksi. Taksi bisa dengan cepat mengantarmu ketempat tujuan, langsung."


"Benarkah? Aku tidak tahu itu." gadis itu tampak berfikir.


"Dia tidak tahu taksi bisa mengantarnya? Dia ini sebenarnya hidup di jaman apa?" pikir Tari.


"Ayo, kita pergi." kata gadis itu. Dia menarik tangan Tari. Dia melihat kedua pria yang membantunya tadi masih berdiri di dekatnya.


"Maaf dan terima kasih banyak.." kata Tari di sela-sela langkahnya.


"Dave, apa kita pernah bertemu dengan gadis tadi?" tanya Aiden.


"Yang mana?"


"Yang.. Terlihat lebih dewasa dan berambut hitam."


"Tidak ingat. Tapi dia memang sangat familiar. Bisakah kita berangkat? Kereta kita sudah datang. Entah kenapa kamu memilih menggunakan kereta padahal bisa menggunakan taksi." omel Dave dan beranjak pergi.


"Hei, aku hanya ingin berjalan-jalan sesekali." Aiden menyusul Dave dengan sesekali melihat ke arah luar.


"Uhmmm kita mau kemana?" tanya Tari saat mereka sudah berada di pinggir jalan. Mereka terus berjalan entah kemana.


"Mencari taksi. Tapi aku tidak menemukannya."


"Uhmmm taksi.. Ada disana." Tari menunjuk satu taksi yang melewati mereka. Gadis itu menghentikan langkahnya tiba-tiba.


"Mana? Dimana?" gadis itu celingukan. Tari menarik tangan gadis itu ke pinggir jalan lalu memanggil taksi. Sebuah taksi berhenti di depan mereka. Tari membukakan pintu mobil.


"Masuklah." kata Tari.


"Masuk? Baiklah." gadis itu masuk ke dalam taksi. Tari membungkuk.


"Berikan saja alamat yang kamu tuju pada supir taksi. Dia akan mengantarkanmu." kata Tari pada gadis itu.


"Apa kamu tidak ikut? Ikutlah, aku mohon." pinta gadis itu. "Aku takut sendirian."


Tari menghela nafas. Mungkin dia bisa sekalian pulang dengan taksi ini, pikirnya.


"Baiklah." kata Tari lalu masuk ke dalam. Gadis itu tersenyum senang. "Berikan alamatnya pada supir taksi."


"Ahh benar. Ini. Ke alamat itu pak." kata gadis itu sambil menyerahkan selembar kertas.


"Okay." kata supir lalu menjalankan mobilnya.


"Maafkan aku, sudah merepotkan." kata gadis itu.


"Tidak masalah. Tapi bagaimana kamu mempercayaiku?" tanya Tari.


"Kenapa tidak? Kamu terlihat seperti orang baik, tidak, sangat baik. Jadi aku percaya padamu."


"Just like that?" tanya Tari tidak percaya.


"Just like that. Kamu bahkan membantuku menangkap pencuri itu. Huh! Aku masih kesal tasku di rusaknya. Ini edisi terbatas! Aku mengenakannya untuk bertemu kekasihku."


"Ahhh jadi alamat itu adalah alamat kekasihmu?"


Gadis itu mengangguk dan tersenyum lebar. "Iya, kekasihku. Aku harap."


"Kamu harap?"


"Aku sudah menyukainya sejak kecil dan aku rasa dia juga menyukaiku. Jika kami saling menyukai itu berarti kami sepasang kekasih kan?" tanya gadis itu.


"Ohh uhmm.... Mungkin?"


"Aku sudah menyukainya sedari kecil." gadis itu tampak berbinar-binar saat menceritakan tentang kekasihnya. "Ah namaku Brittany."


"Aku Tari."


Mobil melaju menuju alamat yang dituju. Tari berpikir, setelah ini, dia akan pulang menggunakan taksi ini saja.


Tapi taksi itu berhenti di depan rumah yang membuat Tari melongo dengan sukses. Rumah itu adalah mansion lama yang dulu dia tinggali bersama Renald. Tunggu, jadi kekasih yang dia maksud adalah...


......***......