When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 21



Setelah kejadian semua orang berbaris rapi pagi-pagi sekali waktu itu oleh Renald, sikap semua orang menjadi berubah, drastis. Semua orang menjadi sangat sopan pada Tari. Itu aneh. Baik pelayan, koki, supir, bodyguard bahkan tukang kebun biasanya bersikap santai pada Tari dan jujur saja, Tari menyukai sikap santai itu. Sikap terlalu formal menurutnya sangat tidak nyaman. Tari juga tahu diri tentu. Dia bukan siapa-siapa. Hanya istri di atas kertas. Tidak mungkin dia mengharapkan perlakuan yang istimewa.


Tapi kali ini berbeda. Mereka membungkuk hormat, memanggilnya nyonya dengan hati-hati, bahkan tidak memperbolehkan Tari melakukan apapun meski hanya membuat bekal dirinya sendiri. Tari juga harus menggunakan sopir dan mobil pribadi jika pergi kerja dan di temani Bodyguard. Marissa yang biasanya ceria dan sering bercerita padanya, berubah menjadi kaku dan sangat sopan. Jadi pagi-pagi sebelum berangkat kerja, Tari memaksa Marissa bercerita ada apa sebenarnya.


"Apa kamu sungguh tidak ingin memberitahukanku?" desak Tari. Sedari tadi dia meminta Marissa bercerita tapi Marissa hanya diam saja. Tari mendengus. Ya, rasanya ingin bersumpah serapah. Sebenarnya ada apa sih?


"Saya takut.. Tuan akan marah nona." kata Marissa. "Nanti kami akan dipecat." Marissa menundukkan kepalanya. Tari mengangguk.


"Baiklah. Baik kalau begitu." Tari menyambar bekalnya lalu pergi. Marissa benar-benar tidak bisa bersikap seperti biasa lagi pada Tari karena dia tahu Renald bukan hanya sekedar mengancam pagi itu. Renald di kenal temperamental tapi dia selalu menepati ucapannya. Karena itu Marisol dan yang lain cukup takut.


Tari berjalan melewati pintu mobil terbuka yang menunggunya. Supir dan bodyguard yang di tugaskan untuknya terkejut dan bingung. Mereka cepat-cepat menyusul Tari dan membujuknya. Tentu Tari, dengan memasang wajah lebih galak dari Renald, menolaknya. Cukup sudah menjadi nyonya di rumah itu. Benar-benar membuat orang tidak betah!


Akhirnya supir mengalah dan Tari berangkat kerja seperti biasa, tapi diikuti oleh bodyguard. Rasanya seperti artis atau orang penting saja. Padahal jika bertanya pada orang lain di subway itu, dia yakin tidak ada satu orang pun yang mengenalnya. Benar-benar akan gila rasanya!


Tari tentu ingin meminta penjelasan pada Renald. Dia ingin mendapat jawaban dari Marissa tapi dia tidak bisa, jadi dia akan mendapat jawabannya dari Renald sendiri. Tari benci harus di hadapkan pada situasi yang tidak nyaman. Karena itu ini harus berakhir.


Tari sengaja meminta ijin pulang lebih awal di restoran maupun di bar. Agar bisa pulang lebih cepat dan bertanya pada Renald. Tapi saat membuka pintu masuk, dia di hadapkan oleh pertengkaran dua sejoli, Renald dan Victoria. Mereka berdua tampak serius dan penuh emosi sementara Alfred hanya berdiri diam di ujung ruangan. Ucapan mereka terhenti saat melihat Tari datang. Tidak mau terlibat, Tari berjalan cepat melewati mereka bahkan tanpa menatap mereka sedikitpun. Terserahlah, mereka mau bertengkar, jambak-jambakan atau bercinta disana. Asal jangan melibatkanku! Big no!


...***...


"Jadi bagaimana?" tanya Marisol keesokan malamnya di bar.


"Bagaimana apanya?" tanya Tari balik.


"Apa sudah tahu kenapa semua orang baik padamu?" tanya Marisol lagi. Tari memutuskan untuk menceritakan semuanya. Bahkan alasannya bekerja dan lainnya.


"Aku tidak tahu. Pagi-pagi sekali mereka sudah berciuman di ruang tamu. Ugghh... Menjijikkan sekali." Tari bergidik.


"Jadi... Wanita itu menginap? Lagi? Astaga... Suamimu benar-benar sudah gila." Marisol menggelengkan kepalanya cepat.


"Dia dan wanita itu. Sama saja. Karena itu. Ingin sekali aku melunasi hutang itu dan pergi."


"Aku mendukungmu, mi amor. Aku dukung seratus persen!" Marisol menepuk pelan punggung Tari.


"Maaf..." satu pria sudah berdiri di depan mereka. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan rambut pirang tersisir rapi. Wajah simetris dengan hidung bak perosotan anak-anak.


"Ya?" jawab Tari.


"Boleh aku pesan minuman?" tanya pria itu lagi.


"Tentu, tentu saja. Ingin pesan apa?" tanya Tari lagi.


"Apa yang paling enak?"


"Uhmmm kurasa itu tergantung pilihan masing-masing."


"Kalau begitu, apa yang paling laris? Maafkan aku karena terlalu bertanya, hanya baru pertama kali kesini." sahut pria itu dengan senyuman manis di wajahnya.


"Tidak masalah. Jadi yang paling biasa di pesan--"


"Tidak, tidak. Begini saja. Buatkan aku minuman yang menurutmu paling enak." pinta pria itu. Tari terdiam sejenak.


"Ahh..." hanya itu yang bisa dia katakan. "Ditunggu sebentar."


Tari mulai berkonsentrasi meracik minuman. Dia sudah berkali-kali melakukannya jadi dia sudah hapal betul cara dan racikannya. Tak lama minuman alkohol itu siap. Tari menyerahkan pada pria tadi.


"Aku tidak tahu apa minuman itu akan sesuai dengan seleramu." kata Tari. Pria itu meresap minumnya. Dia kemudian mengangguk lalu meminum satu tegukan.


"Ini enak. Sungguh!" puji pria itu. Tari tersenyum.


"Terima kasih." Tari menggigit bibir bawahnya, wajahnya tersipu.


"Aku juga mau minuman itu." kata Randy yang baru saja duduk di sana. Raut wajah Tari berubah seketika.


"Maafkan saya, pak tapi minuman ini khusus untuk tuan ini." kata Tari dengan sangat sopan.


Randy menatap heran. "Seriously? Kamu akan melakukan itu?" tanya Randy melihat perubahan sikap Tari. Tari hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aku akan membuatkan minuman untukmu, pak." kata Marisol.


"Tapi aku mau yang tadi." Randy menunjuk minuman di depan pria yang duduk di sebelahnya.


"Not Available, sorry." ucap Tari. Randy mendengus. Dia tahu Tari berbohong. Tari hanya tinggal meraciknya saja tapi Tari tidak mau meraciknya untuk Randy.


"Pilih kasih sekali." Randy berdecak.


"Sepertinya ini hari keberuntunganku. Maaf." pria itu mengangkat gelas minumannya. Randy tersenyum.


"Enjoy your lucky day." mereka berdua tertawa kecil.


"Ini minumanmu, tuan tampan." kata Marisol lalu menyerahkan minumannya.


"Terima kasih, mi amor." ucap Randy dengan nada menggoda. Marisol tersenyum lalu menepis udara di depannya.


"Kenapa kamu kemari lagi? Apa tidak bosan? Aku saja bosan melihatmu terus." kata Tari sambil membuat minuman lain.


"Aku... Hanya lelah, butuh hiburan. Mungkin sedikit tertawa. Aku tahu disini tempat paling bagus."


Tari menatap tidak percaya. "Wahh... Kamu benar-benar menganggapku seperti badut."


"Bukan badut tentu. Tapi badut cantik." Renald tersenyum manis.


"Marisol, apa kita masih memiliki racun tikus?" tanya Tari sambil menancapkan pisau untuk memotong lemon di atas talenan kecil. Dia memicingkan matanya.


"Whoaa galak sekali." kata Randy sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oh tidak, tidak... Jangan lakukan itu." kata Marisol sambil membawa pergi pisau dan talenannya. "Jangan korbankan dirimu untuk pria tampan. Tidak untuk kedua kali. Mereka gila. Abaikan saja."


Randy dan pria itu tertawa. Mereka saling memperkenalkan diri dan akhirnya terlibat percakapan tentang bisnis dan pekerjaan dan tentu.. Wanita. Dasar para pria!


Ponsel Tari bergetar. Dia membuka ponselnya. Tari terdiam menatap layar ponselnya. Dia menghela nafas panjang dan akhirnya menyimpan ponselnya di saku.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Randy yang memergokinya melamun.


"Hm? Ahh... Aku baik.," jawab Tari.


"Terlihat... Tidak begitu baik." Randy memperhatikan wajah Tari. Tari tersenyum kecil.


"Kalau begitu, jawab pertanyaanku. Apa jurusan kuliahmu? Maaf, mungkin kamu tidak kuliah. Aku minta maaf jika lancang." ucap Randy tiba-tiba.


"Tidak perlu meminta maaf. Manajemen bisnis." jawab Tari yang terlihat kebingungan.


"Good. Kalau begitu berkerjalah untukku."


"Hah??"


"Kamu perlu pekerjaan yang lebih baik. Bukan maksudku mengatakan pekerjaanmu ini tidak baik. Hanya saja, alangkah lebih baik jika kamu bekerja satu pekerjaan saja. Terlebih kamu masuk kualifikasi. Kami membutuhkanmu. Aku membutuhkanmu."


"Masih banyak yang profesional dari aku, Ran. Sebaiknya cari mereka."


"Apa kamu meremehkan dirimu sendiri?" tanya Randy.


"Tidak, aku merasa kamu perlu tenaga profesional seperti mereka."


"Jangan pikirkan mereka, pikirkan saja dirimu sendiri." Randy memberikan kartu namanya. Tari mengambil kartu nama itu. "Kita berteman, seharusnya aku tahu nomor teleponmu, tapi aku memberikanmu kartu namaku saja sebagai gantinya. Hubungi aku jika berubah pikiran. Atau mungkin... Sedang bosan. Aku pergi dulu."


"Secepat itu??" kata Marisol setengah berteriak. Tari menggelengkan kepalanya melihat Marisol. "Aku rasa dia benar. Kenapa tidak menerimanya? Maaf aku mendengar pembicaraan kalian."


"Tidak masalah, Marisol. Aku... Entahlah aku hanya tidak ingin merepotkan orang."


"Tari, dengar. Kamu mandiri, kamu kuat, itu bagus. Tapi kadang kamu harus meminta bantuan orang lain. Tidak bisa hanya berusaha sendiri. Dan ini peluang bagus. Pertama kamu bekerja di kantor yang bagus, aku yakin itu. Kedua, kamu hanya bekerja di satu tempat dan ketiga, kamu bisa dengan cepat melunasi hutangmu pada suamimu itu. Itu perlu di pertimbangkan."


"Ya, aku tahu itu."


"Jangan katakan kamu merasa tidak enak pada suamimu."


"Well... Sedikit? Dia juga menawarkan untuk bekerja di perusahaannya."


"Suamimu?" Marisol terkejut.


"Hmm.. Dia."


"What a suprise! Lalu?"


"Aku tolak tentu. Aku sudah tidak nyaman satu rumah dengannya lalu di tambah satu kantor pula? Tidak, terima kasih. Aku bisa mati muda." Tari menggeleng cepat.


"Lalu terimalah Randy. Tidak nyamanmu bisa dijadikan alasan." bujuk Marisol.


"Aku akan memikirkannya, oke?"


"Oke. Tapi aku perlu memberitahukan padamu. Aku akan berhenti disini." kata Marisol. Dia merasa tidak enak meninggalkan Tari.


"Apa? Kenapa?" Tari terkejut.


"Kamu tahu. Aku sangat into fashion. Aku sangat menyukai fashion. Karena itu sambil bekerja di butik, aku akan belajar tentang mode. Aku sudah mendaftar di sekolah fashion."


"Benarkah? Ohh itu bagus... Aku turut senang untukmu." Tari memeluk Marisol sejenak lalu melepaskannya. "Lalu.... Kapan kamu keluar?"


"Sekolahku di mulai minggu depan. Jadi... Minggu ini hari terakhirku."


"Selamat sudah melangkah maju."


"Terima kasih. Dan aku harap kamu juga. Lupakan suami brengsekmu itu. Dia berkata kamu bisa melakukan apapun bukan? Lalu bekerjalah bersama Randy. Cari pengalaman yang bagus disana. Yang paling utama, hutangmu lunas."


"Sudah aku katakan, aku mempertimbangkannya."


"Jangan terlalu lama."


Tari tersenyum dan mengangguk. "Baiklah."


...***...


Tari berpisah dengan Marisol. Marisol di jemput kekasihnya sementara Tari di jemput supirnya. Tari sebenarnya lebih memilih naik taksi. Tapi supirnya sudah menunggu di depan bar.


"Tari." panggil seseorang saat Tari akan masuk ke dalam mobil. Tari menoleh. Veronica tersenyum lalu melambaikan tangannya padanya Tari. Tari tentu terkejut. Mau apa dia disini?


Tari berjalan menuju Veronica.


"Hai..." sapa Tari dengan senyuman kikuk.


"Mau aku antar?" tanya Veronica ramah.


"Uhmm tidak." Tari menunjuk mobil yang akan di kendarainya. "Tapi terima kasih, atas tawarannya."


"Tentu. Renald. Dia terlalu protektif, ya kan?"


"Uhmmm... Entahlah.. Aku tidak tahu."


"Oh ayolah jangan berpura-pura tidak tahu. Lihatlah saja dia mengirimkan mobil beserta sopir dan bodyguard. Dia protektif padamu."


Tari tertawa kecil. "Menurutku lebih ke mengawasiku daripada protektif. Dia mengawasiku agar aku tidak melakukan hal yang mencemarkan namanya."


Veronica menatap penuh arti. "Anyway... Aku akan langsung saja. Aku mohon, jangan terlalu dekat dengannya."


"Aku? Terlalu dekat? Dengan Renald? Apa tidak salah?" Tari mengerutkan keningnya.


"Apa kamu akan berpura-pura menjadi naif juga? Dia mengadakan pesta untukmu, dia pergi ke korea untukmu, bahkan sekarang dia protektif padamu. Apa mungkin ada yang tidak aku ketahui?"


Tari menatap tidak percaya. "Tanyakan padanya. Kenapa bertanya padaku? Bukankah dia kekasihmu? Dan biar aku tegaskan padamu. Aku tidak dekat bahkan sedikitpun, padanya." tegasnya.


"Kalau begitu ceraikan dia!" Veronica menatap Tari seakan dia serangga yang menjijikkan.


"Katakan itu juga padanya. Katakan untuk menceraikanku. Aku akan dengan senang hati menceraikannya. Aku tidak perlu hartanya. Yang aku inginkan adalah bercerai darinya. Jadi aku mohon, dengan sangat, tolong pinta dia ceraikan aku. Aku akan sangat berterima kasih padamu."


Veronica tertawa mengejek. "Bukankah kau menyukainya? Ayolah jangan munafik. Dia tampan dan kaya. Ahh jangan lupakan hot nya. Semua orang menginginkannya."


"Ya, benar. Semua orang. Kecuali aku. Aku lebih senang kembali ke kehidupan ku yang lama dari pada disini. Ayolah, pernikahan ini bukan sepenuhnya salahku. Aku berhak bahagia. Lalu kamu pikir aku bahagia? Mencari uang dengan bekerja keras seperti orang gila hanya untuk membayar hutangku agar aku terbebas darinya? Itu yang kamu pikir tentang aku menyukainya? Tidak terima kasih. Aku lebih baik bercerai darinya. Dan silahkan, pinta itu padanya. Aku mohon."


Tari kembali ke mobilnya dan masuk ke dalam. Dia tidak ingin berargumen lagi terlebih jika itu tentang Renald. Dia menyukainya? Tentu saja tidak. Memang dia pernah menyukainya tapi rasa sukanya sudah mati saat dia tahu apa arti pernikahannya yang sebenarnya.


...***...