When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 28



Tari menatap keluar jendela mobil yang menjemput mereka di bandara. Dia celingak celinguk, mencari tahu dimana dia sebenarnya. Anehnya dia tidak melihat bendera negara dimanapun. Tapi akhirnya mata Tari terbelalak dan mulutnya terbuka sempurna saat dia melihat menara Eiffel berdiri dengan kokohnya. Tari menatap Renald yang sedang asik dengan tabnya.


"Dia membawaku ke paris! Astaga dia sudah gila!"


Tari menyandarkan tubuh dan kepalanya di kursi. Dia masih mencoba menerima kenyataan.


Mobil itu berhenti didepan lobby sebuah hotel. Tari membaca nama hotelnya. Itu hotel Renald. Tari membuka pintu mobil dan berdiri diam menunggu Renald yang sedang berbicara bersama Alex. Alex pergi lagi menggunakan mobil tadi entah kemana. Renald mendatangi Tari, menggandeng tangannya lalu berjalan masuk ke lobby. Tari? Terkejut tentu. Dia bingung dan salah tingkah dengan tindakan Renald tiba-tiba. Sampai di depan resepsionis Renald berbicara menggunakan bahasa Perancis yang sama sekali tidak Tari ketahui.


Karena tidak tahu harus apa, Tari memutuskan untuk melihat sekitarnya. Dekorasi hotel itu benar-benar elegan. Di dominasi warna putih dan pink. Tari berjalan beberapa langkah untuk melihat lebih luas lagi. Dia benar-benar menyukai dekorasi hotel itu.


"Tari."


Tari menoleh ke arah suara. Renald sudah menatapnya dan mengisyaratkannya untuk mengikutinya. Tapi Tari bengong saja di tempat.


"Dia... Memanggil namaku? Biasanya dia akan hei, tunggu, kamu. Sekarang, Tari? Kerasukan apa dia?"


Renald menghentikan langkahnya begitu menyadari Tari tidak mengikutinya. Dia berbalik dan mendapati Tari masih diam di tempat. Renald menghebuskan nafasnya kasar lalu berjalan mendekatinya.


"Kenapa malah diam disana?" tanya Renald sambil berjalan ke arah Tari. Tari tersadar dari lamunannya.


"Ahh benar. Maaf.." Tari melangkah mendekati Renald. Renald menggandeng tangan Tari lagi lalu berhenti di depan lift. Tari melepaskan tangannya dari genggaman Renald.


"Aku bisa berjalan sendiri."


"Benarkah? Kamu bahkan tidak mengikutiku tadi." kata Renald tanpa menatapnya.


"Ahh itu aku-- pokoknya aku bisa berjalan sendiri." kata Tari cepat.


Tring!


Pintu lift terbuka. Renald kembali menggenggam tangan Tari dan membawanya masuk lift. Saat Tari ingin protes lagi, Renald semakin mengeratkan genggamannya. Membuat Tari akhirnya merelakan tangannya.


Mereka sampai di lantai paling atas. Renald membawa Tari menuju sebuah pintu. Tapi tiba-tiba Tari menghentikan langkahnya, membuat Renald ikut menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Pakaianku! Aku tidak membawa pakaian! Apa tuan Alfred tadi menbawakan bajuku juga?" tanya Tari yang terlihat panik.


"Tidak. Dia tidak membawa pakaianmu. Hanya passport dan jangan memanggilnya tuan. Dia kepala pelayan, statusmu lebih tinggi."


Kaki Tari lemas. "Lalu aku bagaimana? Apa besok kita pulang?"


Renald menghela nafas. "Kita akan pulang setelah aku selesai. Pakaian bisa di beli nanti, oke?"


"Aneh... Ini sangat aneh... Kenapa tatapannya berbeda? Dia biasa menatapku dengan dingin dan datar, tapi kali ini tatapannya berbeda."


"Kenapa kamu jadi diam saja? Ayo masuk. Aku sudah terlambat." Renald menarik pelan tangan Tari masuk ke sebuah kamar.


"Whoaahh..."gumam Tari saat mereka masuk ke ruangan itu. Tapi ekspresinya berubah melihat hanya ada satu kamar tidur. "Kenapa hanya satu?"


"Tidak ada tersisa kamar lain. Hanya ini. Aku tidak mungkin mengusir tamu lain kan? Mereka juga membayar kamar itu." jawab Renald. Dia membuka jasnya dan masuk ke kamar mandi. Tentu saja tidak ada. Ted dan James memesan kamar itu untuk membuat Renald tidur sekamar dengan Tari.


"Lalu aku harus tidur dimana?" Tari menatap sekitarnya.


Renald keluar kamar mandi dan melihat Tari masih berdiri di tempatnya.


"Sedang apa kamu disana? Aku ada pertemuan malam ini. Kamu disini saja. Pesan apa saja untuk makan lewat telepon. Kamu bisa kan?" tanya Renald. Tari mengangguk. "Bagus. Kalau begitu aku pergi."


Renald melangkah pergi meninggalkan Tari sendirian. Huft! Aku harus apa?


...***...


Pagi-pagi sekali Tari sudah bangun. Dia berdiri di balkon, menikmati suasana paris pagi hari. Dia masih tidak percaya dia berada disini. Tari tersenyum senang. Paris ada di daftar ketiga negara yang ingin dia datangi. Sejauh ini dia sudah mendatangi dua negara yang ada di posisi satu dan dua, yaitu Korea Selatan dan Inggris. Meski sebenarnya dia tidak bisa berkeliling di Inggris tapi setidaknya dia bisa menginjakkan kaki di sana. Dan sekarang dia di Paris! Meskipun dia yakin dia akan kesepian juga disini tapi tidak masalah. Dia cukup senang meski tubuhnya sakit karena tidur di sofa.


Sebuah black card diletakkan di atas pagar balkon tepat di sebelahnya. Tari menoleh. Renald sudah berdiri di belakangnya.


"Sudah aku katakan untuk menyimpan kartu itu. Aku tahu kamu akan menggunakannya lagi." kata Renald.


"Aku akan--"


"Membayarnya sendiri? Tidak. Pakai itu saja." tolak Renald.


"Sebenarnya aku bingung padamu. Seharusnya kamu senang aku bayar sendiri, jadi kamu tidak akan keluar uang."


"Sebenarnya aku bingung padamu. Seharusnya kamu senang menggunakan uangku, jadi kamu tidak akan keluar uang." balas Renald. Tari mendengus.


"Aneh... Ini sangat aneh... Aku membuatnya kesal tapi dia tetap menatapku seperti itu. Tidak biasanya. Kemana tatapan dingin itu pergi?"


Tari berdehem, menyadarkan dirinya. "Apa aku akan belanja sendiri? aku tidak bisa bahasa Perancis."


"Jika ingin pergi bersamaku, tunggu agak siangan. Pagi ini aku ada rapat, setelah itu aku bisa menemanimu."


"Menunggunya? Tidak, tidak aku tidak bisa menunggu lagi. Rasanya tubuh ini sudah gatal ingin di mandikan." Tari menggeleng cepat.


"Aku pergi." Renald beranjak pergi.


"Bagaimana dengan Alex?" kata Tari lagi. Renald berbalik. "Kamu kan bisa rapat sendiri. Biar Alex menemaniku. Aku yakin dia bisa berbahasa Perancis." usul Tari. Renald berjalan mendatangi Tari sambil melepaskan kancing jasnya. Semakin lama semakin dekat, hingga tersisa beberapa senti saja. Renald meletakkan kedua tangannya dia atas pagar balkon, disebelah kanan dan kiri Tari.


"Kamu suka sekali merepotkan orang. Apa itu hobi barumu?" tanya Randy.


"Tapi aku--" Tari menghentikan kata-katanya.


"Oh? Tatapannya dingin lagi!"


Tari teralihkan gara-gara tatapan Renald. Dia berdehem cepat, menyadarkan dirinya. Tari menghembuskan nafasnya lalu menundukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan pergi sendiri. Aku memiliki translator di ponselku." ucap Tari akhirnya. Dia tidak ingin berdebat lagi. Terlebih dengan posisi yang tidak nyaman itu.


"Tunggu saja aku disini. Setelah rapat aku akan langsung menemanimu. Hm?"


Tari tidak menjawab. Dia hanya menunduk. Dia benar-benar tidak nyaman dengan posisi itu. Terlebih suara Renald yang terdengar lembut itu. Bagaimana jika dia menciumnya lagi? Tidak! Jangan sampai!


Renald beranjak pergi. Kali ini tanpa berbalik. Tari menghela bernafas lega. Akhirnya pergi juga.


...***...


Tari menanyakan arah dan lokasi tempat ke beberapa orang melalui translator yang ada diponselnya. Dia membeli beberapa pakaian dan pakaian dalam. Di pasar tentu. Dia tidak ingin mengamburkan uang dengan berbelanja mahal. Dia tidak ingin nanti di tambahkan ke hutangnya. Ughh Bisa-bisa hutangnya bertambah banyak. Tari bergidik.


Setelah lelah berjalan, Tari memutuskan untuk duduk di salah satu cafe di depan sungai. Tari memilih tempat duduk dengan meja kecil yang menghadap ke sungai.


"Cantiknya." gumam Tari. Dia melihat sungai di depannya. Tari memesan kopi dan Croissant sebagai cemilannya menikmati suasana di tepi sungai.


Tari meresap kopinya dan terkejut. Seseorang sudah berdiri di depannya. Tari mendongakkan kepalanya. Renald dengan tatapan penuh tanyanya.


"Hm? Bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini? Apa kamu memasang alat pelacak padaku?" Tari mencari-cari sesuatu di kantong dan tasnya. Renald berdecak lalu duduk tepat di sebelah Tari.


"Memangnya kamu sepenting apa sampai aku harus meletakkan alat pelacak padamu?"


"Ahh benar juga." Tari mengangguk. Mereka duduk sangat dekat saat ini. Bahkan lengan mereka bisa saling menyentuh. Tari dengan cepat menggeser kursinya, menjauh dari Renald. Tapi Renald menarik kembali kursi Tari agar duduk dekat dengannya. Tari yang terkejut dan memiliki keseimbangan yang buruk berpegangan pada paha Renald. Sedetik berikutnya dia terkejut kembali menyadari dimana tangannya mendarat. Tari merutuki dirinya.


"Ma-maaf." ucap Tari. Dia jadi salah tingkah karena itu.


"Sudah aku katakan bukan? Tunggu aku. Kenapa kamu pergi sendiri?" Renald meletakkan tangannya di meja dan menghadapkan tubuhnya ke Tari.


"Risih dan gerah. Aku belum mandi sejak kemarin. Menunggumu terlalu lama." jawab Tari.


"Lama? Lihatlah, aku bahkan disini bersamamu saat ini. Aku rasa tidak terlalu lama."


"Ya akukan mengiranya-- ahh sudahlah. Yang terpenting aku sudah membeli keperluanku." Tari membuang wajahnya. Renald menyandarkan tubuhnya dan menghadap ke sungai lagi. Dia merogoh kantong jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia membuka ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk. Renald mengerutkan keningnya.


"Apa yang kamu beli?" tanya Renald.


"Pakaian, pakaian dalam, beberapa alat mandi dan make up." jawab Tari jujur. Renald menatap Tari.


"Kamu yakin? Coba aku lihat."


"Apa kamu sudah gila? Untuk apa melihat pakaian wanita? Apalagi pakaian dalam."


"Itu bukan hal baru bagiku."


Tari tersadar. "Ahhh... Benar juga." Tari mengangguk. "Tapi tidak. Tidak perlu lihat. Yang jelas aku sudah membelinya."


"Baiklah, baik. Memangnya kamu berbelanja dimana, menghabiskan uang segitu?" tanya Renald.


"Pasar! Tidak banyak keluar uang kan? Disini cukup murah." Tari terlihat antusias.


Renald menghela nafas panjang dan memijat pelipisnya.


"Apa? Kenapa? Apa aku memakai uangmu terlalu banyak? Kalau begitu masukkan saja ke hutangku. Aku akan menggantinya. Ahh! Pulang dari sini aku akan mentransfer uang cicilan hutangku."


"Apa kamu bercanda? Apa kamu lupa negara ini negara apa? Kota ini kota apa?" tanya Renald.


"Kota Cinta?" jawaban Tari membuat Renald menatapnya penuh arti.


"Selain itu?" tanya Renald lagi.


"Uhmm...." Tari tampak berpikir.


"Paris fashion week!"


" Ahh benar! Paris fashion week. Astaga Marisol ingin melihat itu."


"Ma-Marisol?" Renald mendengus. "Tari, disini banyak toko-toko pakaian bagus, kenapa harus di pasar?!"


"Tidak masalahkan? Yang penting bisa di kenakan." Tari membela diri. Renald mendengus. Renald dan Tari saling menatap. Renald menatap bibir Tari.


"Sial! Kenapa aku jadi ingin menciumnya?!"


Secepatnya Renald mengalihkan pandangannya. Kenapa denganku? Sial!


"Ayo kita pergi." Renald meninggalkan uang di meja lalu menggenggam tangan Tari dan pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan Renald tidak melepas genggaman tangannya. Dia memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotelnya. Dia tahu, Tari ingin berjalan-jalan menikmati kota. Jadi dia mengalah. Sepanjang perjalanan, Tari ingin melepaskan genggaman tangan Renald. Tapi Renald tidak membiarkan. Tari merasa risih. Meskipun tidak ada yang mengenal mereka tapi tetap saja, rasanya aneh dan risih.


Malamnya, sebuah gaun lengkap dengan aksesoris dan sepatu datang ke kamar beserta kartu. Tari membuka kartu itu.


"Pakai gaun itu dan turunlah. Pergi ke restoran hotel. Ada perjamuan dengan rekan bisnisku. Aku tunggu di restoran."


Tari menghela nafas. Ada acara formal lagi. Apa orang-orang bule ini tidak lelah? Sebenarnya dia hanya ingin berdiam diri kamar.


Tari segera berganti pakaian dengan dress high low berwarna coklat muda. Bagian dada dan punggung tertutup. Tari mengenakan anting panjang berbentuk bambu dan sepatu heels berwarna putih. Tari merias dirinya dan membiarkan rambutnya tergerai. Dia membawa tas yang berwarna senada dengan gaunnya.


Tari berjalan menuju restoran setelah bertanya dengan pegawai hotel. Dia tidak tahu dimana letak restoran itu. Tari masuk ke restoran yang sudah di padati orang. Dia mencari-cari keberadaan Renald.


"Tari."


Tari menoleh dan mendapati Renald berjalan ke arahnya. Dia mengenakan suit berwarna hitam. Rambut middle-partednya disisir rapi. Dia terlihat sangat.... Maskulin dan tampan. Renald berhenti tepat di depan Tari, menatapnya atas dan bawah. Ada senyuman kecil yang hampir tidak terlihat diwajahnya.


Renald menyerahkan lengannya agar Tari bisa mengalungkan lengannya. Mereka berjalan menuju meja mereka. Tari diperkenalkan oleh beberap orang. Tari bersikap profesional dengan berakting menjadi istri Renald.


Setelah makan malam, para pria mulai berdiri untuk memisahkan diri dari para wanita. Mereka akan lanjut di ruang serbaguna yang sudah di sulap menjadi kasino, biliar dan ruang rokok khusus untuk para pria. Bahkan Ted yang sudah menikah pun meninggalkan istrinya. Tapi Helena tampak mengerti tradisi itu.


"Aku akan berkumpul dengan para pria dulu. Jika masih mau disini, tidak masalah. Jika kamu lelah, kembalilah ke kamar. Hm?"


Tari mengangguk. "Hm.."


Renald menatap Tari sejenak lalu berdiri dari duduknya. Tari menghela nafas panjang.


"Tari." panggil Renald. Tari menoleh dan mendongakkan kepalanya karena Renald sudah berdiri. Renald tiba-tiba mencium bibirnya lagi sejenak lalu membelai rambut Tari. Ada senyuman kecil di wajah Renald dan Tari melihat itu. Renald langsung pergi bersama pria lain. Dia.... Tersenyum?


...***...


Note : Aku ingatin lagi. ini novel slow burn romance yaa... Jadi kisah cintanya gk bisa di cepetin. Bukan yg mentang2 ganteng atau cantik trus langsung jatuh cinta. Tp butuh proses mengenal pribadi masing2..


Please vote, like and comment dong.. Makasih ^_^