
Hari minggu... hari yang ditunggu semua orang tentu. Biasanya sebelum menikah hari minggu itu hari bersih-bersih. Tapi disini, semenjak menikah, semua dikerjakan para asisten rumah tangga. Tari ingin mengerjakan sendiri, tapi mereka akan berkata, jika nyonya mengerjakan sendiri lalu kami bekerja apa atau tuan akan marah nanti. Huft menyebalkan. Tari terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Bayangkan betapa malunya celana dal*m dicucikan orang lain.
Tari bersiap dengan celana jeans hitamnya dan kemeja biru mudanya. Tari menyukai jeans, itu sudah jelas. Tari mengalungkan tasnya di pundak, dia sudah siap berangkat. Hari ini dia memiliki janji dengan Marisol untuk pergi berjalan-jalan sekitar kota New York untuk merayakan perubahan yang mereka alami. Marisol yang berhasil masuk ke sekolah fashion, sementara Tari akan bekerja di kantor Randy.
Renald? Sudah pasti dia marah-marah tidak jelas dan melarangnya. Tapi demi tuhan, memangnya siapa dia?! Tari tidak pernah melarangnya melakuan hal pribadi apapun, bahkan jika dia ingin bercinta di depan umum. Asal tidak menyebutkan siapa dia tidak akan ada masalah kan? Tidak ada yang tahu dia adalah istri dari bilioner muda dan kemungkinan besar juga tidak ada yang percaya.
New York city, kota besar nan megah. Kota favorit Marisol. Dia berasal dari Meksiko dan hijrah ke berbagai kota di Amerika lalu hatinya mantap di New York. New York fashion week salah satu alasannya. Impiannya adalah menghadiri paris fashion week. Tapi keluarganya miskin, hanya bekerja seadanya. Setelah lulus sekolah Marisol merantau ke New York, bekerja keras, agar bisa bersekolah fashion. Dia sudah mencapai setengah impiannya, itu perlu di rayakan kan?
Sepanjang perjalanan, Marisol terus memotret banyak hal. Kebanyakan selfi tentu. Tari menjadi korban hasil jepretannya.
"Kenapa sedari tadi memotret terus? Bukannya ini sudah seperti rumah kedua bagimu. Pasti kamu sudah sering berjalan-jalan disini." ucap Tari. Dia duduk di lantai di dekat toko sepatu. Dia sudah terlalu lelah untuk berjalan lagi jadi dia rela lesehan di lantai kotor.
"Mi amor.. Dari awal aku kemari hanya bekerja dan bekerja, agar aku bisa mengumpulkan uang untuk sekolahku. Bahkan aku baru satu kali keliling kota New York dalam lima tahun! Dan itu artinya apa? Menyedihkan!" ucap Marisol dengan dramatisasi seperti biasanya. "Aku akan memotret sebanyak yang aku mau."
Tari tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya. Dia membiarkan Marisol melakukan yang dia inginkan. Asalkan tidak membuatnya malu tentu. Dia tengah hiruk pikuk orang, dia antusias melakukan semua yang dia mau.
"Diam disana, aku ingin memotretmu. Posisimu bagus."
"Aku duduk dilantai seperti pengemis kamu bilang posisiku bagus? Astaga.."
"Itu yang aku maksud. Seperti pengemis. Nanti aku masukkan ke sosial media dengan mengatakan 'Istri pengusaha muda menjadi pengemis'."
"Ha. Ha. Ha. Sangat lucu." Tari berdiri. "Apa sudah puas? Mau kemana lagi?"
"Kita mampir beli kopi dan makanan lalu duduk di taman dekat sungai. Bagaimana?"
"Deal!"
Marisol menarik tangan Tari berjalan mencari cafe lalu membawanya ke taman dekat sungai. Disana ada beberapa bangku taman. Mereka mencari yang kosong lalu duduk di atasnya. Marisol membongkar plastik makanan yang dia bawa.
"Astwagha inyi enyak sekawi." kata Marisol dengan mulut penuh makanan.
"Habiskan dulu yang di mulutmu baru bicara. Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan." Tari memakan burgernya. Sementara Marisol sibuk kembali memotret dirinya makan burger.
"Anyway..." Marisol meletakkan burgernya. "Jadi kamu akan tetap bekerja di perusahaan Randy?" tanya Marisol. Dia menggigit burgernya lagi.
"Yup! Aku bahkan sudah mengatakan pada Randy kemarin dan dia mengatakan besok aku harus sudah masuk kantor." Tari mengelap bibirnya yang terkena saus.
"Lalu bagaimana dengan pria brengsek itu?"
Tari mengangkat kedua bahunya. "Entah. Aku tidak pernah berbicara lagi dengannya setelah kejadian malam itu. Dia juga tampak marah padaku. Tapi apa perduliku? Yang terpenting adalah melunasi hutangku dan menjauh darinya."
"Tapi aku salut padamu. Kamu tidak jatuh cinta pada suamimu."
"Kenapa aku harus jatuh cinta padanya?"
"Dios mío.." Marisol menepuk dahinya. "Apa kamu tidak tahu jika suamimu itu tampan menawan? Seksi dan kaya?"
"Aku tahu tentu. Mungkin aku tidak menyukainya tapi aku tidak buta."
"Karena itu..." Marisol memperbaiki duduknya. Dia tampak antusias. "Karena itu aku salut padamu kamu tidak jatuh cinta pada pria seperti itu."
"Hampir. Tapi setelah itu tidak lagi." Tari meminum kopinya.
"Apa kamu tahu dia tipe pria paling di inginkan wanita? Semua wanita akan mencoba menarik perhatiannya agar bisa jadi milik mereka. Semua wanita rela saling membunuh demi mendapatkannya. Tapi kamu justru menarik perhatiannya untuk berperang melawannya. "
Tari meringis. "Ugghhh... Apa itu tidak berlebihan."
"Sangat berlebihan. Tapi itu benar."
"Baiklah itu benar. Tapi aku bukan salah satu dari para wanita itu. Aku lebih baik dengan pria biasa saja dengan kehidupan biasa saja. Pria biasa saja merepotkan, apalagi yang seperti Renald. Aku bisa tekanan batin setiap hari." Tari bergidik. Marisol tertawa.
"Jadi... Apa yang akan kamu kenakan besok?"
"Baju renang. Pertanyaan macam apa itu?" Tari menggelengkan kepalanya. Marisol tertawa lagi.
"Benar. Kau benar."
Mereka tertawa lagi. Mereka menghabiskan sore itu dengan duduk di tepi sungai.
...***...
Pagi-pagi sekali Tari sudah siap dengan celana kain berwarna blue ice, dipadankan kemeja lengan pendek putih yang di masukkan ke dalam celananya, lalu blazer berwarna navy yang panjangnya selutut. Untung saja dia membawa baju kerjanya saat pindah dari Indonesia, jika tidak entah apa yang akan di kenakan hari ini.
Tari menyambar tas tali panjangnya lalu menyangkutkannya di salah satu pundaknya. Tari mengenakan sepatu heals dengan panjang heals hanya tiga sentimeter. Dia tidak suka mengenakan heals yang terlalu tinggi.
Tari menuruni tangga dan berjalan ke luar rumah. Dia enggan sarapan. Dia sudah makan roti yang di belinya kemarin saat akan mandi tadi. Itu sudah cukup. Dia tidak ingin bertemu Renald saat di meja makan. Tapi dengan hitungan detik saja harapannya kandas. Dia melihat Renald bersama Alex sedang membahas sesuatu di depan ruang kerja Renald. Jika tahu dia akan sarapan sebentar. Tari melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun lalu segera masuk ke mobil dan pergi.
"Itu.... Istrimu? Mau kemana dia?" tanya Alex tidak percaya. Renald tidak menjawab. Dia hanya diam dan mengeraskan rahangnya. Dia masih tidak setuju Tari bekerja di perusahan Randy. Tapi jika dia protes pada Randy atau Tari, dia akan terlihat tolol. Jadi untuk sementara, dia akan diam saja.
Di kantor Tari bertemu dengan asisten Randy, Celina, Wanita cantik dengan penampilan anggun nan mempesona. Celina sangat baik padanya. Dia mengajarkan apapun yang dia bisa pada Tari. Celina juga mengenalkan Tari pada pegawai lainnya yang akan bekerja bersama Tari nantinya.
Randy datang ke kantor agak siang karena harus rapat di luar kantor. Randy melewati meja kerja Tari lalu dia berhenti. Dia berbalik dan menatap Tari. Tari dan yang lainnya berdiri melihat kedatangan Randy. Randy menatap Tari dengan senyuman mengembang di wajahnya. Dia mengagumi pakaian yang Tari kenakan hari ini dan tatanan rambut serta make upnya. Sangat natural tapi tetap menonjolkan kecantikannya. Tari menggelengkan kepalanya pelan pada Randy. Randy tersenyum lalu segera pergi ke ruangannya. Tari bernafas lega.
Tari menerima pekerjaan di kantor dengan syarat Randy harus berpura-pura tidak mengenalnya dan harus memperlakukannya sama dengan dia memperlakukan pegawai lainnya. Randy setuju tentu. Tapi baru saja dia melihat Tari, dia sudah mulai melanggarnya. Dasar!
"Hati-hati..." sahut seorang wanita yang sudah berdiri di dekat meja Tari. Tari sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu tiba-tiba. Dia bernama Lucy. "Dia playboy."
"Tapi sepertinya dia sudah ditandainya. Apa kamu tidak lihat tadi bagaimana pak Smith menatapnya?" kata satu orang. Kali ini pria bernama Michel.
"Be-berapa banyak wanita di kantor ini yang sudah dia kencani?" tanya Tari. Dia hanya penasaran.
"Hmm... Entahlah. Tapi dia hanya mengencani mereka untuk bersenang-senang dan hanya pada wanita yang mendekatinya. Jadi jika kamu tidak tertarik padanya, kamu aman. Kamu tidak tertarik kan?" Lucy menatapnya penuh harapan.
"Ohh sangat tidak tertarik. Tenang saja." kata Tari lalu tersenyum.
"Aneh.." Lucy mendelik padanya.
"A-apa yang aneh?" tanya Tari. Dia tampak waspada.
"Biasanya wanita muda sepertimu akan sangat tertarik padanya. Tuan Smith sangat menawan dan menggoda, terlebih dia kaya!" kata Lucy dengan sedikit berbisik pada Tari.
"Tidak hanya wanita. Pria pun tertarik." Michel menambahkan. Tari menatap Michel penuh arti. "Oh jangan menatapku seperti itu. Bukan aku. Aku normal. Aku menyukai wanita."
Tari dan Lucy tertawa geli. "Pokoknya jangan mendekatinya. Itu nasehatku padamu."
"Apa kamu tidak tertarik padanya, Lucy?" tanya Michel.
"Apa kau sudah gila? Aku sudah menikah dan memiliki anak!" Lucy berdecak dengan kekesalan.
"Tidak menutup kemungkinan bukan?" Michel mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak akan menghancurkan rumah tanggaku hanya demi pria yang suka bersenang-senang. Aku belum gila!"
"Uhmm... Apa yang kalian bicarakan?" tanya satu orang wanita yang baru saja datang. Wanita itu sangat cantik dengan baju terusan sampai atas lutut berwarna coklat tua, mengenakan stoking berwarna hitam dan blazer sepinggangnya berwarna coklat sedikit lebih muda dari bajunya. Rambut coklat lurus wanita itu dibiarkan tergerai indah. Dengan kulit putih dan hidung mancungnya, dia terlihat sangat cantik. Tari juga bisa melihat dia pecinta barang bermerk.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya mengenalkan orang baru pada suasana kantor." jawab Lucy.
"Kalau begitu ayo kita rapat dengan bagian marketing. Kau juga ikut orang baru." kata wanita itu lalu berbalik dan pergi.
"Dan yang tadi itu bernama Crystal. Dia salah satu club penggemar Randy. Aku yakin dia sudah jadi pemimpin clubnya." kata Lucy sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa mereka pernah--"
"Entah.. Aku rasa pernah. Tapi aku tidak pernah melihat jadi... Mungkin saja. Lihat saja pakaiannya bergitu seksi dan modis."
"Bagiku dia adalah manekin barang bermerk yang berjalan. Lihat saja dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Jika aku jadi pacarnya, aku tidak akan tahan membelikannya semua itu. Bisa-bisa aku bangkrut." sahut Michel.
"Tapi kamu menyukainya kan? Aku bisa melihatnya dari caramu menatapnya." tuding Lucy. Dia mengambil laptop dan beberapa berkas.
"Hei, hanya sekedar mengagumi wanita cantik tidak masalah kan?" Michel membela diri.
"Terserah kamu saja. Ayo Tari. Jangan lupa membawa laptop yang ada di mejamu untuk mencatat nanti."
Tari segera mengambil laptop yang ada di mejanya lalu berjalan bersama Lucy ke ruang rapat.
...***...
Celine meminta Tari untuk menyerahkan hasil keputusan rapat antara tim manajemen Tari dengan marketing pada Randy. Tari sebenarnya ingin menolak tapi dia pegawai baru disana, mana mungkin dia bisa menolak.
Tok tok tok
Tari mengetuk pintu ruangan Randy.
"Masuk." kata Randy. Tari membuka pintu perlahan lalu masuk ke dalam ruang. Dia melihat Randy sedang duduk di kursi tamu bersama... Renald? Tari terkejut, tidak, sangat terkejut. Dia bingung harus apa. Tidak mungkin dia berbalik dan melarikan diri kan? Renald hanya menatapnya sejenak lalu kembali membaca berkas di tangannya.
"Apa ada masalah?" tanya Randy melihat kegelisahan Tari.
"A-ahh iya..." Tari berjalan mendekati Randy dengan senatural mungkin. "Ini pak. Hasil rapat tadi." Tari menyerahkan satu berkas lagi. Randy mengambil berkas itu.
"Baiklah, kamu boleh pergi." kata Randy. Tari mengangguk lalu pergi dari ruangan itu. Randy dan Renald terlihat biasanya saja tapi Alex dan Ted terlihat sangat terkejut. Mereka bengong di tempatnya. Randy dan Renald tidak terlihat akan menjelaskan apapun.
...***...