When The Sky Fall

When The Sky Fall
Episoden 42



Tari masih melongo dengan indahnya sementara Britanny sudah turun dari taksi.


"Uhmm nona, kita sudah sampai dan teman anda sudah turun." kata supir taksi itu.


"Hah? Oh.. Iya. Uhmm tunggu sebentar pak. Saya masih akan menggunakan taksi bapak." kata Tari. Tari ikut turun dari taksi lalu berjalan menuju Brittany yang masih celingak celinguk di depan pagar.


"Katakan padaku, siapa nama orang yang kamu cari sebenarnya?" tanya Tari pada Brittany.


"William, Renald William."


Tari hanya beroh ria lalu menganggukkan kepalanya.


"Ayo ikut aku. Renald tidak tinggal disini lagi." kata Tari.


"Benarkah?" Brittany terkejut. Dia menatap Tari.


"Ayo, aku tunjukkan." ajak Tari lalu masuk ke dalam taksi. Britanny yang bingung akhirnya mengikuti Tari.


"Kamu kenal Renald?" tanya Britanny.


"Kenal. Tenang saja. Ayo pak jalan." kata Tari lalu memberikan alamat rumahnya. Mobil melaju ke tempat yang di maksud Tari, rumah baru Renald. Tari tidak bertanya apapun pada Britanny. Hanya Britanny saja yang terus menerus berbicara tentang Renald pada Tari. Tari tidak terlalu memperhatikan apapun yang Brittany katakan. Bahkan hatinya tidak bertanya-tanya. Mungkin dia sudah terbiasa. Setelah kejadian dengan Veronica, dia tidak terlalu terganggu dengan Renald dan para wanitanya.


Mobil sampai di depan gerbang sebuah rumah mewah. Tari membayar taksi lalu mengajak Brittany turun. Mereka berjalan menuju pintu masuk.


"Ini benar rumah Renald?" tanya Brittany. Tari mengangguk.


"Hmm.. Benar." kata Tari.


"Tapi.. Ini tidak seperti Renald. Maksudku.... Renald menyukai sesuatu yang antik, klasik. Ini terlalu modern." Brittany tidak henti menatap seluruh halaman rumah itu. Tari cukup terkejut mendengar kata-kata Brittany. Bahkan Brittany tahu apa kesukaan Renald. Dia benar-benar menyukainya, gumam Tari.


Mereka masuk ke rumah dan melihat Renald duduk di ruang tamu. Renald terkejut melihat kedatangan Tari. Dia menatap jam tangannya. Seharusnya belum waktunya Tari pulang.


"Kenapa kamu sudah pulang?" tanya Renald.


"Ahh itu--"


"Ren!!" pekik Brittany lalu memeluk Renald. Renald terkejut dengan pelukan tiba-tiba.


"Bri--Brittany?"


"Astaga aku merindukanmu!" pekik Brittany. Renald mencoba melepaskan pelukan Brittany. Tapi Brittany memeluknya terlalu kuat.


"Uhmmm... Aku sebaiknya naik ke atas saja, ke kamarku." kata Tari lalu berlalu. Renald ingin mengejarnya tapi terhalang oleh pelukan Brittany.


"Lepaskan aku Brittany!" pinta Renald.


"Aku merindukanmu." Brittany mengeratkan pelukannya.


"Iya, tapi--"


Sial!


...***...


Tari sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Dia di hadapkan roti panggang bersama selai, jus, beacon panggang dan telur. Semalam dia tidak keluar kamarnya sama sekali setelah pulang. Terdengar langkah ceria dari lantai atas menuruni tangga.


"Tari!" sapa suara ceria itu. Brittany mendatangi Tari. "Morning..."


Para koki dengan cekatan memberikan piring dan makanan untuk Brittany.


"Selamat pagi juga. Bagaimana tidurmu?" tanya Tari.


"Nyenyak. Kamar Renald sungguh nyaman." kata Brittany. Tari terkejut. Dia tidur di kamarnya?


Brittany menyuap makanan ke mulutnya.


"Jadi kamu tidur sekamar dengannya?" tanya Tari.


"Tidak, aku tidur di kamar tamu. Selamat pagi, sayang." Renald mencium pucuk kepala Tari lalu duduk di sebelahnya. "Kamu akan pulang hari ini Brittany."


"Apa? Tidak! Aku tidak mau, aku ingin bersamamu..." rengek Brittany.


"Tidak. Aku tidak mau. Pokoknya kamu pergi hari ini juga. Atau aku akan memanggil kakakmu untuk menjemputmu." ancan Renald. Brittany mengendus kesal. Dia tidak suka jika kakaknya ikut campur. Kakaknya jauh lebih galak dari ayah dan ibunya. Tari yang tidak ingin terlibat pertengkaran mereka mulai turun dari kursinya dan pergi. Renald dengan cepat menahan tangannya.


"Hei, babe. Aku belum selesai sarapan. Aku akan mengantarmu." kata Renald.


"Aku akan pergi bersama supir saja." kata Tari lalu menepis tangan Renald dan pergi.


"Sial!" umpat Renald sambil melemparkan serbetnya. "Aku akan sarapan di kantor." kata Renald pada koki yang berdiri di depannya.


"Kok kamu pergi? Bukannya dia berkata ingin pakai mobil sendiri? Biarkan dia pergi? Kenapa harus mengantarkannya?" Brittany bertanya sambil berjalan mengikuti Renald ke pintu. "Ren--"


Renald berbalik dan pergi, meninggalkan Brittany yang masih diam.


......***......


Malamnya, Tari sibuk berchat ria dengan teman-temannya sampai ada ketukan di pintunya. Tari beranjak dari kursinya dan membuka pintu. Tanpa aba-aba Renald menerobos masuk dan langsung berbaring di ranjang Tari. Tari yang masih terkejut, mengerutkan keningnya.


"Ren, kamu mau apa disini?" tanya Tari.


"Tidur. Kamarku di kuasai Brittany. Aku tidak mau tidur di kamar tamu. Jadi aku tidur disini." kata Renald. Renald membuka laptopnya.


"Kamu bercanda kan?" tanya Tari. Renald menatap Tari sejenak lalu menggeleng.


"Tidak." katanya singkat lalu kembali pada laptopnya. Terlihat kekesalan di wajah Tari. Dia menghela nafas kasar. Selama ini di menghindari Renald, tapi dia disini, di kamarnya. Tari mengendus lalu pergi ke balkon. Satu ruangan dengannya membuatnya sesak nafas. Semua perlakuan Renald belakangan ini terlalu agresif, membuat jantungnya tidak karuan bahkan sesak nafas. Dia sengaja berkeliling hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya atau hanya mengenakan celana pendek dengan tubuh berkeringat sehabis berolahraga. Renald akan sengaja berjalan atau duduk di dekat Tari. Siapa yang tidak deg-degan?


Tari menarik nafas sebanyak-banyaknya. Menghirup udara segar malam hari.


"Kamu akan masuk angin jika keluar seperti itu." komentar Renald. Tari mengendus. Bahkan acara Menghirup udaranya terganggu. Tari berbalik dan terkejut. Renald sudah berdiri tepat di depannya. Keningnya hampir bertabrakan dengan dada bidang Renald. Parahnya lagi Renald semakin maju, memojokkan Tari yang sudah terhimpit antara Renald dan pagar balkon.


"Stop disana." kata Tari. "Berdiri agak jauh."


"Kenapa?"


"Kamu terlalu dekat!"


"Tidak masalah kan? Kita suami istri."


Renald semakin mendekat. Tari benar-benar terhimpit. Mereka seperti berpelukan. Renald meletakkan dagunya di pundak Tari lalu mencium kepala Tari. Tari hanya diam membeku di tempatnya.


"Berhentilah menjauh dariku. Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu." Renald menatap Tari. "Tidak akan pernah menyerah."


Renald menatap setiap inci wajah Tari lalu berhenti di bibirnya. Renald memegang tengkuk Tari lalu mencium bibirnya. Tari yang terkejut memberontak. Tapi Renald semakin memperdalam ciuman mereka.


"Ren--"


Renald terus menciumi Tari tanpa jeda. Tari yang awalnya terus menolak, akhirnya mengikuti permainan bibir Renald. Mereka berciuman dengan panas. Tari juga sudah di penuhi dengan hasratnya. Tangan Renald mulai turun dari tengkuk menuju pinggang Tari. Renald menarik tubuh Tari menuju tempat tidur dan merebahkannya tanpa melepaskan ciuman mereka. Renald membuka kaos yang membalut tubuhnya. Perut sixpack Renald terlihat jelas di depan Tari, membuatnya tersadar.


"Ren, jangan...." pinta Tari. Renald memegang pipi Tari lalu mencium Tari lagi. Renald juga melepaskan baju Tari.


"Ren, aku mohon jangan. Tidak harus seperti ini."


Renald menatap Tari dengan lembut. "Jangan menolakku, babe." kata Renald dengan lembut. Hampir seperti bisikan. Lalu kemudian dia kembali menciumi Tari. Entah kenapa Tari tidak berusaha memberontak lagi, tidak berusaha menolak lagi. Dia justru mengikuti permainan Renald. Renald melepaskan satu persatu pakaian Tari dan menciuminya dengan penuh gairah. Tari ingin menolaknya tapi anehnya tubuhnya tidak menurutinya, hingga benar-benar jatuh kedalam buaian dan pelukan Renald malam itu.


Epilog 2


Alex masuh ke dalam kamar hotel Renald di York. Dia sengaja menginap di hotel setelah pemakaman Veronica. Awalnya dia ingin langsung pulang, tapi sepertinya keluarga Veronica yang bertingkah, mencegahnya kembali.


"Ini berkasnya." Alex menyerahkan sebuah map pada Renald yang sedang duduk mengutak atik tab nya. Renald mengambil map itu lalu membacanya dengan teliti.


"Bagus, terima kasih." kata Renald.


"Apa kamu yakin ini jalan terbaik?" tanya Alex.


"Aku tidak punya pilihan. Aku tidak mau kehidupanku selanjutnya di ganggu mereka.".


"Mereka sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Kamu dengar sendiri dari teman Vero, bahwa Vero ingin melepaskan dirinya darimu, bahwa dia tidak ingin mengganggu pernikahanmu. Tapi dia melakukannya karena paksaan ibu dan kakaknya!"


"Karena itu..." Renald menatap Alex. "Karena itu, biar aku menyelesaikan semua ini. Aku tidak perduli berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk hal ini. Uang, bisa aku cari lagi. Tapi tidak dengan Tari. Aku tidak ingin suatu saat mereka akan menyakitinya dengan alasan-alasan tidak masuk akal tentang Veronica. Aku ingin hidup dengan tenang dengan Tari. Aku mencintainya. Karena itu, aku harus membereskan semua ini."


Alex menggangguk. "Aku mengerti. Jika aku menjadi kau, aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Terima kasih, Al."


"Jadi kamu menyutujui Semuanya?"


Renald membuka map itu lagi lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Renald memberikan dua tanah yang dia miliki di York pada keluarga Veronica. Dia juga memastikan kakak Veronica memiliki pekerjaan yang layak dan terbaik. Rumah yang mereka tempati yang awalnya atas nama Renald, Renald merubahnya menjadi atas nama ibu Veronica. Semua itu dengan ditukar dengan satu permintaan, apapun yang terjadi nanti, mereka tidak akan mengganggu dan datang kembali ke kehidupan Renald, istrinya dan keluarganya dan mereka menjadi orang asing sekarang.


Keluarga Veronica suka melalukan hal nekat untuk mendapatkan keinginan mereka. Bahkan menggunakan Veronica sebagai alatnya. Memaksanya untuk tetap bersama Renald. Kartu kredit yang Renald berikan untuk Veronica juga lebih banyak di gunakan oleh mereka daripada Veronica. Karena itulah selama ini Renald masih bersama Veronica. Dia tahu Veronica hanya alat dan dia berjanji pada Veronica untuk melindunginya dari ibu dan kakaknya. Sebuah janji yang tidak bisa di lupakan begitu saja.


Karena itu Renald harus menyelesaikan semua dengan keluarga Veronica, membuat mereka menandatangani sebuah perjanjian resmi. Agar tidak mengganggunya lagi. Terlebih Tari. Dia ingin membina rumah tangga dengan Tari dengan tenang. Meski harus mengorbankan semua uangnya, dia tetap akan melakukannya.


...***...


**Maaf ya adegan panas antara Tari dan Renald tidak akan aku perinci. Karena aku ingin membuat novel yang murni romance tanpa ada erotis atau subgenre erotis di dalamnya. Ya.. Karena ini novel romance bukan novel erotis.


Like, koment, rate yaa


Makasih** ^_^