When The Sky Fall

When The Sky Fall
Chapter 44



"Apa yang kamu lakukan?" tanya Tari saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Akan aku jelaskan nanti. Bawa kami ke taman West Bank." kata Renald pada supir pribadi keluarganya.


"Baik pak." jawab supir itu.


"Mau apa kita kesana?" tanya Tari bingung.


"Aku akan mengatakan semuanya di sana." kata Renald tanpa menatap Tari. Dia menatap keluar jendela dan tampak merenung. Membuat Tari tidak berbicara lagi.


Mobil mereka melaju dan sampai di sebuah taman yang di maksud Renald. Renald keluar lebih dahulu sementara Tari masih kebingungan. Renald membuka pintu mobil untuk Tari dan mengulurkan tangannya.


"Ayo keluar." pinta Renald. Tari menghela nafas lalu menyambut uluran tangan Renald. Renald menggenggam tangan Tari lalu mulai berjalan di taman itu. Mereka berjalan perlahan menyusuri taman dengan pemandangan pohon-pohon dan udara yang segar. Renald berjalan perlahan dengan menggenggam erat tangan Tari.


"Mau apa kita kemari?" tanya Tari setelah beberapa lama berjalan.


"Berjalan-jalan." jawab Renald. "Aku tidak akur dengan ayahku, sedari dulu. Kamu tahu nenekku adalah seorang bangsawan Inggris. Dia cukup terkenal disini. Nenek adalah bangsawan yang sangat dihormati disini dan juga salah satu yang paling mementingkan derajat dan kehormatan. Karena kegilaannya itu, ibuku menjadi korbannya. Ibu yang berasal dari keluarga sederhana, tiba-tiba menjadi seorang menantu dari keluarga bangsawan kaya raya. Berpikir akan seperti cinderlela, tapi lebih seperti penyiksaan batin dan mental. Semua harus teratur. Tata krama dan sopan santun paling utama. Mungkin mengalahkan para putri raja. Aku bisa lihat mom sangat tertekan dengan semua itu."


Renald terdiam sejenak lalu melanjutkan." Tapi masalah utamanya adalah dad. Dia bukannya membantu, membela atau minimal menyemangati, dad justru tidak perduli. Bahkan jika mom melakukan kesalahan. Dad akan paling pertama menyalahkannya. Tapi jika mom melakukan hal yang benar, jangankan memujinya, perduli saja tidak. Tentu mom menjadi stres. Dia suaminya, seharusnya mendukungnya, bukan paling pertama menyalahkannya."


Tari bisa merasakan kemarahan yang tertahan dari suara Renald. Tari tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya mom selama ini. Dia saja meski hanya tinggal kurang dari seminggu di mansion itu, rasanya sulit beradaptasi. Mom yang selalu membantunya menyesuaikan diri. Makan harus selalu bersama dan di meja makan, duduk saat makan harus tegak. Alat makan tidak boleh berbunyi saat makan. Uughhhh benar-benar sulit hanya untuk makan.


Renald masih diam, menatap lurus ke depan. Tari diam-diam mencuri pandangan pada Renald, pria tampan yang berjalan bersamanya saat ini. Dia masih tidak percaya, dia berada disini bersama Renald, berjalan bersamanya bahkan menggenggam tangannya. Hari ini dia melihat sisi lain dari keluarga Renald. Keluarga yang dia kira aman tentram, seperti keluarga kebanyakan, ternyata tidak.


"Aku sudah mencoba membawa mom keluar dengan bertingkah buruk di hadapan nenekku. Membuatku diusir beberapa tahun lalu. Aku ingin membawa mom, tapi mom menolak. Aku angkat kaki dari sana dan memulai hidup dan usahaku yang baru, dengan modal seadanya. Tapi lihatlah aku berhasil. Setelah aku berhasil, aku kembali mengajak mom, tapi dia masih mencintai Dad. Jadi dia menetap. Hingga sekarang."


Renald menghentikan langkahnya lalu menatap Tari. Cukup lama dia menatapnya membuat Tari salah tingkah.


"Ke-kenapa menatapku seperti itu? Apa... Apa ada yang aneh di wajahku?" Tari memegangi wajahnya. Renald tersenyum.


"Senang rasanya melihatmu tersipu." kata Renald.


"Enak saja! Aku tidak tersipu." elak Tari. Renald mencondongkan tubuhnya pada Tari. Wajah mereka begitu dekat. Jantung Tari tiba-tiba berdetak cepat, matanya tidak fokus, dia menelan salivanya. Senyuman usil tersungging di bibir Renald. Dia mendekatkan wajahnya. Renald menatap bibir Tari. Membuatnya ingin mencium bibir itu lagi. Belum menyentuh bibir Tari, ponselnya berbunyi. Renald mengeluarkan ponselnya dan menatap ke layar ponselnya. Dia mengerutkan keningnya lalu mengangkat telpon itu.


"Ya?"


"..."


"Apa?!" Renald memijat keningnya.


"..."


"Baiklah jika aku menemukannya, aku akan memberitahukanmu, sebaiknya kamu segera kemari."


Renald menutup ponselnya dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Brittany kabur kemari." kata Renald. Tari terkejut.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Bisa jika itu Brittany." Renald memencet satu nomor di ponselnya. "Ini aku. Aku ingin kamu cari nona Brittania Ediginar, dan bawa dia ke mansion keluarganya di Rotternham." Renald menyimpan ponselnya. "Tidak usah khawatir. Dia akan segera ditemukan. Justru bagus dia berada di inggris, banyak yang akan mengawasinya dan membantu mencari."


"Sepertinya dia sangat menyukaimu." gumam Tari.


"Biarkan saja dia, aku tidak perduli. Ayo kita pulang. Kamu pasti lelah." Renald mulai menarik pelan tangan Tari. Tapi Tari tidak beranjak. Renald menoleh. "Babe?"


"Apa tidak sebaiknya--"


"Oh tidak, tidak lagi." potong Renald cepat. "Berhentilah overthingking dan memintaku melakukan hal yang tidak aku sukai. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu. Bukan orang lain. Lagipula jika aku tidak bersamamu, aku juga tidak akan bersamanya. Dia adalah tipe gadis yang harus dan wajib aku hindari. Dia manja, tidak memiliki pendirian, semua kemauan harus selalu dituruti. Aku bisa gila jika aku bersamanya. Aku juga tidak membuatmu menjadi pengganti Veronica. Aku bahkan sudah mencintaimu saat Veronica masih ada. Aku hanya tidak tahu apa yang kamu suka. Jadi aku memberikan apa yang Veronica suka. Kalian sesama wanita, jadi aku kira mungkin selera kalian sama."


"Seriously? Selera kami sama? Apa kamu sadar cara berpakaian kami bahkan berbeda?"


"Ahhh itu.. Aku minta maaf. Wanita di hidupku hanya Veronica dan kau. Jadi aku tidak begitu--"


"Bagaimana dengan wanita-wanita selinganmu itu?"


"Wanita selingan? Ahh.. Aku bahkan tidak menganggap mereka kekasih. Justru aku rugi karena membelikan mereka barang-barang mahal."


"Dan sebagai gantinya mereka bercinta denganmu. Penukaran yang bagus. Berarti aku harus memintamu membelikanku barang mewah juga seperti para gadis itu." kata Tari lalu berjalan melewati Renald.


"Apa kamu cemburu?"


Pertanyaan itu sukses menghentikan langkah Tari dan membuatnya menoleh.


"Apa kamu sudah gila?" tanya Tari. Renald tersenyum penuh arti.


"Tidak." Renald mendekati Tari. "Tapi aku berharap kamu memang cemburu."


"Kamu memang sudah gila." Tari menggeleng lalu berjalan kembali. Tapi baru beberapa langkah dia berhenti kembali. "Tadi kita lewat mana?"


Renald tertawa kecil lalu menggandeng tangan Tari dan berjalan keluar taman.


"Sudah datang, sepupu." sapa salah satu sepupunya.


"Kamu bisa melihatnya." kata Renald tanpa menghentikan langkahnya.


"Selalu kasar, benarkan? Sikapmu sungguh kampungan. Aku yakin itu berasal dari ibumu itu."


Kata-kata itu cukup untuk menghentikan langkah Renald.


"Di tambah istrimu itu. Banyak rumor kau tidak mencintainya. Pernikahan kalian palsu! Mengingat sampai sekarang kamu tidak memiliki anak, aku rasa itu bukan sekedar rumor belaka." sepupu Renald tertawa. Renald mengepalkan tangannya. Dia berbalik dan mendatangi sepupunya itu.


"Apa katamu? Katakan lagi."


"Oh ayolah. Tidak perlu marah. Itu semua adalah benar sepupu."


Bukk!!


Satu pukulan mendarat di wajah. Semua orang terkejut, begitu pula dengan Tari. Renald menarik kerah sepupunya itu ke arahnya lalu memukulnya lagi. Dia mengulanginya beberapa kali.


"Bagaimana ini?! Jangan diam saja! Halangi dia!" pekik satu wanita paruh baya yang Tari tahu adalah ibu dari sepupu Renald yang dia pukuli saat ini. "Hentikan dia!!"


"Kau tahu dia tidak bisa di hentikan! Sekali dia memukul, dia akan memukul sampai puas! Harusnya kau jaga omongan anakmu itu!" kata keluarga Renald yang lain.


"Dia akan mati, demi tuhan!!"


Tari mendatangi Renald dan mencoba melerainya.


"Ren, hentikan. Ren!"


Renald tidak menggubris Tari sementara sepupu Renald sudah tidak berdaya. Tari menyentuh tangan Renald. Tapi dia justru terjerambab di tanah karena ayunan tangan Renald yang keras.


"Ahh!"


Renald yang mendengar suara rintihan Tari langsung menghentikan Kegiatannya dan menoleh.


"Tari? Baby?" Renald mendatangi Tari. Dia memeriksa seluruh tubuhnya. Melihat kesempatan itu, keluarga Renald langsung membawa sepupunya itu pergi. "Apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu nekat mendekatiku saat aku seperti tadi?"


"Karena aku tidak ingin kamu membunuhnya! Kau bisa saja membunuhnya jika terus memukulinya seperti itu!"


"Dan aku bisa melukaimu jika kamu mendekatiku seperti tadi. Aku tidak perduli jika aku membunuhnya tapi aku tidak akan biarkan kamu terluka sedikit pun. Ayo kita masuk. Aku ingin memeriksamu."


"Aku baik-baik saja, Ren."


"Tapi aku tidak baik-baik saja. Ayo." Renald membantu Tari berdiri dan menuju kamar mereka.


Dikamar, Renald kembali memeriksa setiap inci tubuh Tari, membuat Tari sedikit risih. Bahkan Renald sudah sedia kotak P3K.


"Sudah aku katakan, aku baik-baik saja. Aku tidak terluka." kata Tari.


"Aku hanya ingin memastikan."


"Kamu yang harus di obati." kata Tari. Dia menatap tangan Renald yang merah akibat memukuli sepupunya tadi.


"Aku baik-baik saja, babe."


"Tidak baik." Tari mengambil kotak P3K lalu mencari salep untuk memar. Tari mengoleskan salep itu dengan perlahan setelah membersihkan tangan Renald dengan alkohol.


"Selesai." gumam Tari. "Sekarang katakan, kenapa kamu melakukannya?"


"Kamu dengar sendiri dia berkata apa." kata Renald. Dia masih menundukkan Kepalanya menatap tangannya yang memar.


"Kamu bisa memukulnya sekali dua kali. Tidak perlu seperti itu."


"Aku tahu. Tapi itulah kelemahanku. Saat aku berkelahi, Saat aku mulai memukul orang, aku tidak akan berhenti. Sulit, sudah aku coba, tetap tidak bisa. Hanya kamu. Kamu yang bisa menghentikannya."


"Apa? Kenapa aku?"


Renald menatap Tari. "Kamu pikir kenapa aku berhenti memukulnya tadi? Karena aku tahu kamu terjatuh. Jika orang lain aku tidak akan perduli. Dia selamat karena suaramu."


Tari terdiam. Sekali lagi dia mengetahui sisi Renald yang tidak pernah dia tahu. Renald menggenggam tangan Tari.


"Terima kasih sudah menghentikanku."


"Aku melakukan itu karena--"


Mulut Tari di bungkam dengan sentuhan dari bibir Renald. Renald tidak melepaskan bibirnya dari bibir Tari. Dia justru memperdalam ciuman mereka. Tari sama sekali tidak menepisnya kali ini.


"Aku mohon, jangan menolakku lagi." bisik Renald di sela ciuman mereka. Tanpa sadar Tari mengangguk pelan. Dia menutup matanya dan merasakan ciuman itu. Dia bisa merasakan nafas Renald yang memburu. Renald menarik tubuh Tari agar mendekat padanya. Satu tangannya berada di pinggang Tari, satu lagi di tengkuk Tari. Mata mereka terpejam, sama-sama merasakan ciuman bergairah mereka.


......***......