
Setelah adegan panas mereka, Tari merasa begitu lelah dan tertidur pulas sampai dia tidak menyadari hari sudah kembali pagi, bahkan matahari mulai tinggi. Tari yang panik karena kesiangan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia mandi dengan cepat dan segera keluar bersiap. Setelah selesai dia baru sadar Renald tidak ada di kamar.
"Kemana dia? Kenapa tidak bangunin aku?" gerutu Tari. Dia segera keluar kamar. Dia tahu waktu sarapan telah usai. Meski begitu dia tetap ke dapur. Perutnya terus mengadakan konser karena terlalu lapar. Setidaknya dia berharap ada sisa makanan yang bisa dia makan. Tapi begitu di dapur dia bertemu dengan bibi Renald dan juga sepupunya. Mereka menatapnya sinis.
"Selamat pagi." sapa Tari dengan senyuman diwajahnya.
"Lihatlah! Dia sangat menyedihkan. Tidak tahu malu. Ibu mertuanya berada di rumah sakit, berpura-pura tidak berdaya dan meninggalkan tugasnya sebagai menantu dan menantunya justru seenaknya di rumah ini. Bangun siang dan melewatkan sarapan. Entah apa yang terjadi lagi nantinya."
"Begitulah bu, jika orang miskin dan kampungan menjadi bagian dari bangsawan seperti kita. Mereka tidak akan bisa nenyesuaikan diri. Mereka justru membawa sikap kampungan mereka kemari. Menyedihkan."
Semua orang melewati Tari dengan meliriknya tajam. Tari menghela nafas. Ini yang setiap hari di lewati mertuanya. Tentu saja dia stres. Tari berjalan ke dapur dan meminta roti pada koki di sana. Dia hanya ingin makan sepotong roti. Itu cukup baginya.
Setelah makan, Tari berjalan keluar melalui pintu dapur yang menuju halaman belakang. Dia tidak ingin bertemu dengan para ratu nyinyir itu. Mereka mungkin tidak begitu saling mengenal. Tapi tetap saja, mendengar perkataan mereka itu sangat menyakitkan. Mom benar-benar luar biasa bisa bertahan dengan mereka selama ini.
"Apa hebatnya sebenarnya dengan gelar bangsawan ini? Tapi keluarga di korbankan. Sungguh miris." gumam Tari. Dia menggelengkan kepalanya. Dia mengira semua itu hanya ada di film atau novel. Dia tidak mengira hal semacam itu masih di terapkan dengan ketat di jaman seperti ini.
Langkah Tari tiba-tiba terhenti. Dari agak kejauhan dia melihat Renald sedang di peluk seorang wanita. Dia tidak tahu siapa wanita itu karena tidak bisa melihatnya, tapi dia bisa melihat jelas pria yang di peluk wanita itu adalah Renald. Renald terlihat tidak membalas pelukan wanita itu dan hanya berwajah datar. Tari terdiam di tempatnya. Serasa seperti dejavu. Dia melihat pemandangan itu saat Renald bersama Veronica. Tapi bedanya Renald tidak membalas pelukan wanita itu, hanya bermuka datar. Tak lama Renald mendorong pelan tubuh wanita itu menjauh. Barulah saat itu dia melihat siapa wanita itu. Brittany.
Terlihat Renald menyuruh bodyguard untuk membawa Brittany. Brittany terlihat enggan. Beberapa kali dia meronta, ingin tetap disana. Tapi Renald terlihat perduli. Dia menunggu mobil itu benar-benar pergi. Dia tidak ingin ada masalah lagi. Renald menghela nafas kasar lalu berbalik. Dia melihat Tari berdiri mematung menatapnya. Renald tersenyum dan berjalan mendekati Tari.
"Selamat pagi, babe." Renald memeluk Tari. Sama seperti Renald tadi, Tari tidak membalas pelukan Renald.
"Kenapa dengan Brittany?" tanya Tari. Renald melepas pelukannya.
"Memastikannya pulang. Aku tidak ingin mengurusinya lagi." kata Renald. Tari mengangguk.
"Kenapa tidak membangunkanku? Aku jadi terkena masalah karenamu." gerutu Tari. Dia mengerucutkan bibirnya. Renald tersenyum melihat Tari lebih berekspresi padanya.
"Pertama, kamu terlihat lelah. Kedua, aku tidak ingin mereka menjadikanmu pengganti mom."
"Tapi sama saja kamu membuatku dalam masalah! Mereka benar-benar mengeritikku tadi." keluh Tari. Renald terkejut.
"Mereka melakukan apa padamu?" tanya Renald. Tari tersadar. Dia tidak seharusnya mengatakan itu. Hubungan Renald dengan keluarganya sudah tidak baik. Dia tidak ingin menambahnya.
"A-aaahh.. Hahaha.. Tidak, tidak ada." kata Tari cepat.
"Katakan padaku ada apa?" tanya Renald. Tari panik.
"Tidak ada, sungguh."
"Jangan membela atau menyembunyikannya. Aku tidak suka itu. Aku tidak suka keluargaku di ganggu."
"Tapi aku pantas mendapatkan cibiran itu."
Renald mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Karena aku bangun kesiangan. Aku tidak perlu masak dan menyiapkan sarapan. Aku hanya perlu duduk dan makan bersama mereka. Tapi bukannya sarapan bersama, aku justru bangun kesiangan." gerutu Tari. Renald menghela nafas lalu memeluknya.
"Tenanglah sayang.. Semua akan baik-baik saja. Aku justru menyelamatkanmu." kata Renald. Tari mendorong tubuh Renald menjauh.
"Menyelamatkanku katamu? Dari apa?" tanya Tari.
"Dari mereka yang akan membuatmu susah. Babe, aku tahu mereka. Aku mengenal mereka dengan baik."
"Lalu kenapa membawaku tinggal disini? Bisa saja kita tinggal di hotel."
"Untuk menghormati nenekku. Nenekku memang keras dan disiplin, tapi dia bukan orang yang jahat. Ayahku, kakaknya dan juga adiknya yg terlalu kejam pada ibuku. Bahkan sepupuku!"
"Dia ayahmu Ren."
"So?" kata Renald cepat. Dia terlihat kesal. "Bisa kita tidak membicarakannya? Aku ingin mengajakmu mengunjungi ibuku."
"Baiklah, aku ganti baju dulu." kata Tari lalu berbalik. Renald menahan tangan Tari.
"Untuk apa? Pakaianmu sudah bagus."
"Tapi barangku ada di atas Renald. Tunggu saja aku di depan." Tari melepaskan tangan Renald lalu masuk ke dalam rumah.
Tari berjalan melewati ruang keluarga. Biasanya ruangan itu di pakai untuk minum teh bersama dan bersantai. Pintu ruangan itu terbuka setengah. Awalnya dia hanya ingin melewatinya. Tapi dia mendengar nama ibu mertuanya disebut. Tari berdiri bersandar didinding, dekat pintu.
"Dengar, aku sudah tidak tahan lagi. Kita harus bisa mengusirnya, no matter what."
"Dengan cara apa? Nenek tidak akan mengusirnya, apapun masalahnya."
"Hei, wanita tua itu mengusir Renald sebelumnya, apa kau lupa? Jadi kita bisa mengusir ibunya juga. Kita harus menekan Eddi lebih banyak lagi."
"Kau tahu itu tidak akan berhasil. Meski Eddi sering memarahinya, dia tetap istrinya dan dia mencintainya."
"Dari mana kamu tahu dia mencintainya?"
"Tentu saja tahu. Aku memperhatikannya. Dia selalu menjaganya dalam diam, memperhatikannya dalam diam. Kau tahu Eddi tidak suka menunjukkan perasaannya pada semua orang terlebih dengan kata-kata. Aku mengenalnya dan ya, dia masih sangat mencintainya."
"Jadi maksudmu, kita tidak akan bisa mengusirnya?"
"Apa? Apa maksudmu?"
"Kau tahu kan wanita tua itu suka minum teh buatannya? Kita buat wanita tua itu hampir keracunan."
"Apa? Bibi gila! Bibi ingin membunuh nenek?"
"Tentu saja tidak. Apa aku tidak dengar kata-kataku? Hampir keracunan, bukan keracunan sungguhan. Meski begitu, aku tidak masalah dia keracunan. Dia sudah tua, sudah waktunya pergi."
"Bibi!" "Sarah!"
"Apa? Aku benar! Jangan katakan kalian tidak setuju denganku. Kalian munafik."
"Oke, hentikan kalian semua. Jangan berdebat lagi. Setidaknya tidak disini."
Terdengar suara pintu tertutup. Untungnya Tari tidak terlihat. Tapi dia mendengar semuanya. Apa yang harus aku lakukan?
...***...
Tari berjalan menuju mobil Renald. Renald telah menunggunya sedari tadi dengan duduk di depan kap mobilnya. Renald langsung berdiri melihat Tari datang.
"Akhirnya..." kata Renald sambil berjalan ke arah Tari. "Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali?"
"Dari kamar. Ayo kita pergi." kata Tari. Tari berjalan ke arah pintu mobil. Saat dia akan membuka pintu, pintu mobilnya masih terkunci. "Ren, bukakan." pinta Tari.
"Kemarilah." pinta Renald yang masih berdiri tidak jauh dari Tari.
"Untuk apa? Aku ingin masuk mobil."
"Aku tahu, tapi kemarilah dulu." pinta Renald lagi. Tari menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan malas ke arah Renald. "Tunggu disini." Renald berjalan menuju pintu mobil lalu membuka kuncinya dan juga pintu mobilnya. "Masuklah."
Tari tertawa. Dia mendengus kesal lalu mendatangi Renald.
"Kenapa tidak dari tadi saja? Kenapa begitu merepotkan hanya untuk membuka pintu?" keluh Tari.
"Karena jika aku membuka kuncinya saat kamu di depan pintu, kamu akan membuka pintu itu sendiri."
"Lalu? Masalahnya dimana?"
"Babe, aku adalah pria dan kau adalah wanita yang aku cintai, sudah sepantasnya aku memperlakukanmu sebagai ratuku. Membuka pintu mobil adalah salah satu caraku memperlakukanmu sebagai ratuku. Aku tidak akan membiarkanmu membuka pintu sendiri. Aku yang akan melakukannya. Masuklah."
Tari terdiam menatap Renald sejenak lalu masuk ke dalam mobil. Dia kehabisan kata--kata. Renald tersenyum sambil menutup pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil juga. Sepanjang perjalanan, Tari hanya diam. Dia terus teringat kata-kata dari bibi dan sepupu Renald dan bagaimana dia bisa menyelamatkan ibu mertuanya. Dia ragu untuk mengatakan ini semua pada Renald mengingat tempramentalnya.
"Babe? Babe!!" Renald meninggikan suaranya memanggil Tari.
"Hm? Ya?" jawab Tari yang tersadar dari lamunannya.
"Ada apa denganmu? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Renald. Tari menggeleng.
"Tidak ada."
"Tentu ada. Kamu tidak mendengar aku memanggilmu sedari tadi."
"Benarkah?"
"Ya, babe! Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja. Sungguh." kata Tari mencoba meyakinkan.
"Baiklah. Jika ada masalah kamu harus mengatakannya padaku, apapun itu. Kamu mengerti?"
"Hmmm."
"Mengerti babe?" tanya Renald.
"Ay ay captain."
"Good. Aarrggghh! I'm captain Renald Sparrow!" kata Renald dengan suara keras dan menirukan suara kapten Jack Sparrow yang ada di film.
"Astaga Ren." Tari tertawa.
"Akhirnya, kamu tertawa karenaku." kata Renald yang ikut tertawa.
"Kamu gila."
"Tidak masalah. Yang penting kamu tertawa."
Tari kembali tertawa. Sejenak dia melupakan masalah yang sedari tadi ada dipikirannya.
...***...