WHEN MY HEART IS BROKEN

WHEN MY HEART IS BROKEN
Beristirahat untuk selamanya



Setelah memberitahukan keputusan kepada keluarga wiliam, arini saat ini duduk disamping anaknya angga "nak, inikah yang kau mau, mama sudah memberitahukan semuanya, mama harap kau bahagia saat ini, dan mama harap keputusan mama adalah keputusan yang benar" ucap arini sambil menggenggam tangan angga erat.


"tante" andreas masuk menghampiri arini.


"ya nak ada apa?" jawab arini sambil menghapus air matanya


"terimakasih... Terimakasih banyak karna tante sudah mau merelakan angga demi eve, dan maafkan sikap evelyn, saya yakin dia berbuat seperti itu karna emosi"


"ya nak, ini semua keinginan angga, tante harap setelah nanti eve akan hidup lebih baik dan bahagia" arini bangkit dari duduknya.


"tolong jaga angga sebentar tante harus berbicara dengan dokter" arini pun keluar dari kamar angga


Andreas menatap wajah angga dengan penuh simpati " terimakasih sudah mencintai eve begitu banyak, aku sangat iri padamu, bahkan kau bisa merelakan dirimu untuknya" ucap andreas...


Setelah setengah jam lamanya tante arini masuk kembali ke kamar angga. "terimakasih sudah menjaganya" ucap arini.


"ya tidak apa apa tante, kalau begitu saya pamit ke kamar eve dulu" ucap andreas.


Dikamar evelyn terlihat ada regina dan alex, andreas masuk "bagaimana nak, apa tante arini masih menangis?" tanya alex


"tentu saja dia akan terus menangis, bagaimana tidak dia harus merelakan nyawa anak sematawayangnya" jawab andreas


Tak lama dokter datang "Selamat sore, saya Dr. Andrian yang akan melakukan operasi untuk nona evelyn nanti, nona evelyn sudah mendapatkan donor untuk paru parunya dan operasi akan segera dilaksanakan besok pagi" jelas dokter


"tapi dok apakah itu sama dengan kami merebut nyawa si pendonor" tanya regina cemas


"sebenarnya dengan kasus brain death seperti tuan angga saat ini memang sudah tidak ada lagi harapan, kebanyakan pasien dengan leadaan mati otak akan dinyatakan meninggal kecuali keluarga pasien meminta untuk terus menyokong kehidupan si pasien dengan peralatan di RS namun itu tidak akan merubah keadaan. Maka dari itu sebagian kasus pun ada yang menyumbangkan organ atau memutuskan untuk memberitahukan kematiannya" jelas sang dokter


Mereka yang berada diruangan pun bersedih mendengar penuturan sang dokter.


"baiklah dok terimakasih banyak"


Keesokan harinya tiba saat evelyn dan angga dioperasi mereka semua berkumpul...


Kaki arini sudah tidak dapat lagi menopang badannya dia terjatuh dan menangis saat melihat anaknya masuk ke ruang operasi...


Setelah 4jam lamanya evelyn menyusul masuk ke ruangan tersebut, menyusul melakukan operasi untuk paru-parunya


Berjam - jam kemudian dokter yang mengoperasi angga keluar dan membungkukan badannya memberi penghormatan kepada arini, begitu pula dengan perawat lainnya disusul dengan ranjang dimana angga terbaring diatasnya...


Tangis arini kembali pecah, menatap lekat anak sematawayangnya, alex dan regina senantiasa menemani mereka.


Tak lama putri berlari "angga..." memanggil nama sahabatnya sambil menangis


"maafkan aku, maaf tidak bersama kalian saat kalian menderita... Maaf... Angga..." putri menangis menyesali apa yang terjadi...


Putri baru tau kejadian yang menimpa sahabatnya saat ditelpn oleh salah satu teman sekelasnya karena memang sudah 2 pekan putri tidak masuk sekolah dia harus pergi menemui neneknya dibogor.


Putri pun memeluk tante arini yang tengah menangis "maafkan putri tante"


Setelah itu alex, regina dan putri pun bergegas pulang mengantarkan arini untuk mempersiapkan pemakaman untuk angga...


Andreas yang berjaga menunggu evelyn di rumah sakit setelah selesai operasi...


Dirumah Duka...


Satu persatu kerbat angga dan arini berdatangan silih berganti, mengucapkan bela sungkawa kepada arini.


Wanita paruh baya itu sekarang tinggal hidup sebatang kara, tanpa suami dan anak yang dia sayangi.


Matanya menatap peti mati dengan tatapan yang hampa, dia melihat peti itu perlahan turun ke liang lahat...


Alex dan regina pun selalu ada disamping arini menguatkannya....


To be continue...