
"Papa!" Kaivan yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya, harus dikejutkan dengan kedatangan puteri semata wayangnya yang mendadak naik ke pangkuan.
"Ada apa, anak cantik?" Kaivan bertanya setelah ia membenarkan posisi duduk Nayra di pangkuannya.
"Aku mau kita belanja. Pokoknya besok mama Naya halus pake baju yang bagus," ujar Nayra yang sontak saja membuat Kaivan mengerutkan keningnya bingung.
"Belanja? Mama Naya? Papa nggak ngerti maksud kamu, Sayang." Kaivan mengusap surai coklat mahoni milik Nayra dengan sayang.
"Tadi pas di sekolahan, ada ibu-ibu yang bilang kalau mama Naya itu kucel. Nayla nggak suka," ujar Nayra lagi. Kali ini, kedua tangan mungilnya bersidekap di atas perut.
Mendengar itu, Kaivan mengangkat satu sudut bibirnya. Gemas sekaligus ingin tertawa saat Naya dikatakan kucel oleh wali murid di sekolahan Nayra.
"Jadi Papa harus ngapain, anak cantik?" tanya Kaivan.
"Temenin aku sama mama Naya belanja telus bayalin belanjaannya mama Naya."
"Oke." Kaivan menganggukkan kepala. "Mau kapan belanjanya?"
"Sekalang juga!"
"Tapi Papa baru dateng loh dari kantor, masa harus keluar lagi?" Kaivan mencoba bernegosiasi. "Gimana kalau belanjanya diantar supir aja? Nanti Papa kasih uang buat belanjanya."
"Nggak mau!" Nayra menggeleng tegas. "Aku maunya belanja baleng Papa."
Kaivan mendesah kasar, bagaimanapun—Nayra mewariskan sifat keras kepala Indira. Jadi dia kesulitan untuk berkata tidak pada puterinya tersebut.
"Oke, kalau begitu—Nayra siap-siap dulu sana, nanti kita belanja ke mall."
Usai dirinya mengatakan itu, dengan langkah super cepat Nayra turun dari pangkuannya lantas berlari keluar dari kamarnya. Melihat bagaimana binar di wajah Nayra yang sama sekali tidak meredup, sejak kedatangan Naya di sini—Kaivan bersyukur dalam hati. Sepertinya Naya memang dikirim Tuhan untuk benar-benar menjadi pengasuh Nayra.
"Kamu lihat Indira! Nayra, puteriku sekarang sudah besar. Beberapa hari ini dia nampak ceria dan tidak murung. Setelah ini aku yakin, Nayra dan aku akan segera bahagia tanpa diliputi masa lalu."
Sedangkan di sisi lainnya, Nayra sibuk memilih baju-baju untuk ia pakai pergi ke mall.
"Gimana kalau aku pakai yang ini aja, Ma?" tanya anak itu sambil mengangkat celana levis selutut dan kaos motif frozen berwarna biru.
"Oke, yang ini aja." Naya mengambil baju dan celana tersebut lalu memakaikannya pada Nayra.
"Pokoknya di sana kita bolong baju, holee." Naya terkekeh pelan mendengar kehebohan Nayra yang akan pergi ke mall. Belum lagi nada cadelnya yang kerapkali mengundang tawa.
Melihat bagaimana Nayra yang seceria ini, Naya bersyukur. Anak itu sudah seharusnya memang banyak tertawa dan bertingkah lucu seperti anak seusia Nayra lainnya. Bukan disibukkan dengan seorang ibu yang entah keberadaannya di mana, juga penyakit yang membuat binarnya meredup.
"Kamu harus selalu bahagia, Nayra. Ada aku, pun nggak ada aku." Naya membatin dalam hatinya, dia akan selalu mendoakan kebaikan Nayra. Sedih sekali saat melihat binar nata anak itu meredup, atau saat penyakitnya kambuh.
"Mama Naya harus pakai baju yang bagus besok, bial nggak dikatain kucel lagi sama ibu-ibu." Nayra merengut sebal usai berkata demikian, yang lantas membuat Naya gemas untuk mencubit pipinya yang gembul.
"Aku yang nggak mau Mama Naya disebut kucel, mamaku itu cantik." Naya dibuat tersenyum oleh anak berusia 5 tahun itu, bagaimana pujian yang dilontarkan darinya—terdengar begitu tulus tanpa paksaan.
"Mama Naya jadi terharu," ujar Naya lantas mengecup kilat pipi Nayra.
Tanpa kedua perempuan berbeda usia itu sadari, jika interaksi keduanya terekam jelas oleh memori seorang lelaki yang berdiri di daun pintu.
Laki-laki itu adalah Kaivan, yang hendak melihat apakah Nayra sudah selesai bersiap atau belum.Tapi pada saat dia ingin masuk ke kamar Nayra, matanya disuguhkan dengan pemandangan manis antara Naya dan Nayra. Mereka berdua, sudah seperti ibu dan anak perempuannya.
***
Salah satu toko baju perempuan dewasa menjadi pilihan Nayra saat anak itu melihat sebuah dress dengan motif bunga matahari yang terpajang di patung manekin.
Anak itu lantas menarik lengan Naya dan Kaivan bersamaan untuk masuk ke dalam toko baju tersebut.
"Aku mau Mama Naya pake baju ini besok," tunjuk Nayra pada dress bunga matahari yang dari pertama kali menyita perhatiannya.
"Yaudah, ambil aja." Naya melirik Kaivan saat pria itu berbicara demikian.
"Nggak usah, Pak. Saya barusan lihat bandrol bajunya, saya nggak punya uang sebanyak itu sekarang," tolak Naya secara halus.
"Memangnya saya meminta kamu untuk membayar? Tidak, kan? Kamu cukup nikmati saja baju-baju yang dipilihkan sama Nayra.";
"T-tapi, Pak?"
"Sudah, Naya! Hitung-hitung ini reward kamu karena sudah membuat Nayra senyum terus, ayo!" Tanpa sadar, Kaivan menarik lengan Naya dan membawanya ke tempat lain. Sedangkan Nayra sendiri, sudah melesat pergi memilihkan baju-baju untuk Naya.
"Baju yang ini bagus, pasti cocok dipake sama Mama Naya." Nayra menunjuk satu baju lainnya, kali ini—setelan rok span rajut dan blazer rajut berwarna soft menjadi pilihan Nayra.
"Gimana, Pa?" Saat Nayra bertanya dan berbalik badan, kedua matanya mengerjap. Namun tak urung senyumnya mengulas lebar, kala melihat Kaivan memegangi tangan Naya.
"Cieee gandengan tangan," celetuk Nayra yang sontak saja membuat Kaivan refleks melepaskan cekalan tangannya pada Naya. Sial, dua kali dia dipergoki oleh puterinya sendiri.
Sedangkan Naya sendiri, sudah membuang muka sembarang arah saat sadar Kaivan memegang tangannya. Belum selesai rasa malu dan gugupnya karena kejadian tadi pagi, sekarang ditambah lagi.
Bukannya apa-apa, Naya sekarang mulai kesulitan mengatur degupan jantungnya yang selalu menggila saat di dekat majikannya sendiri.
Sebisa mungkin, dirinya tidak boleh sampai menyukai majikannya sendiri. Mau dikata apakah dirinya nanti? Ah, Naya sama sekali tidak siap akan hal itu.
Pun dengan Kaivan, yang berkali-kali merutuki dirinya sendiri dalam hati. Bisa-bisanya dia refleks memegangi tangan Naya seperti mereka punya hubungan lebih saja. Tidak bisa! Jika terus-terusan ada kejadian tak terduga seperti ini, bisa-bisa hatinya berubah.
"Gue nggak boleh suka sama pengasuh anak gue sendiri. Ya kali gue suka sama Naya? Nggak boleh!" Kaivan membatin dalam hati. Semenjak kejadian tadi pagi, degupan jantungnya mendadak lebih cepat dari biasanya saat berdekatan dengan Naya seperti ini.
"Apa kata dunia kalau gue sampai suka sama Naya?" Lagi, Kaivan membatin. Belum ada seminggu mengenal Naya, kenapa dia sudah banyak berubah? Tidak mungkin kan, hatinya juga ikut berubah?