When I Meet You

When I Meet You
10 : Pacar Pura-pura?



Pacuan jantung Naya, tak sama sekali berdetak normal—kala Kaivan menatapnya dengan tatapan intens. Gadis itu mengerjapkan mata, sambil melipat bibirnya ke dalam guna mengatasi kegugupan.


"Papa! Bajunya bagus nggak buat Mama Naya?" Sebuah seruan dari Nayra, akhirnya membuat Kaivan tersadar lantas menoleh pada puterinya tersebut.


"Nayra bilang apa, Sayang?" Kaivan kehilangan fokus. Sial! Mendapati jika Naya sangat cantik dengan balutan dress motif bunga-bunga itu, membuat Kaivan terkesima dengan penampilan pengasuh puterinya itu.


"Baju yang dipakai Mama Naya bagus nggak?" Nayra mengulangi pertanyaannya lagi.


Kaivan kembali memutar kepala, di mana figur Naya masih berdiri dengan anggun. Kaivan melirik Naya dari ujung rambut hingga kaki, dress bunga-bunga yang dipilihkan oleh Nayra memang terlihat pas dengan kulit Naya yang seputih susu.


"Bagus," ucap Kaivan sambil menoleh lagi pada Nayra. Sontak saja, Nayra pun memekik girang karena pilihannya begitu cocok dipakai Naya.


Saat Naya dan Nayra kembali ke ruang ganti, Kaivan dibuat tertegun dengan bayangan Naya saat tadi memakai dress—terus saja terngiang-ngiang. Jika Naya sedikit saja dirubah penampilannya, dia sama sekali tidak terlihat jika berprofesi sebagai seorang pengasuh.


Di sela-sela Kaivan menilai penampilan Naya dari ujung rambut hingga kaki, tiba-tiba saja pria berusia 30 tahun itu menyeringai.


Sepertinya, dia tau cara yang bagus untuk membuat orang tuanya bungkam dan berhenti untuk menjodohkannya dengan anak dari kolega papanya.


"Mbak! Tolong pilihkan baju-baju perempuan terbaik di toko ini ya, saya tunggu!" Saat seorang pelayan terlihat sedang merapikan pakaian, Kaivan menyuruhnya untuk mencarikan baju-baju terbaik di toko tersebut.


Tak berlangsung lama, Naya pun keluar bersama Nayra. Kedua perempuan berbeda usia itu nampak persis seperti seorang ibu dan anak.


"Papa, ayo kita bayar bajunya." Nayra menarik lengan Kaivan menuju kasir.


"Tunggu sebentar! Baju yang mau dibeli Mama Naya sepertinya kurang banyak, jadi Papa mau beliin lagi baju yang bagus buat Mama Naya." Jika Nayra kembali berlompat-lompat karena ikut senang, tapi tidak dengan Naya. Perempuan berusia 25 tahun itu meringis pelan, kenapa tiba-tiba majikannya berlebihan?


"Nggak usah, Pak! Tiga baju ini udah mahal, saya nggak sanggup kalau gaji saya nanti dipotong." Kaivan dibuat tertawa kecil mendengar perkataan Naya, pemikiran Naya itu sudah berlebihan padanya.


"Memangnya siapa yang mau potong gaji kamu? Saya tidak akan memotongnya. Malah saya akan menambah fasilitas untuk kamu, tapi—saya minta bantuan kamu."


"Bantuan?" Dahi Naya berkerut dalam. "Bantuan apa?"


"Akan saya jelaskan nanti jika sudah di rumah. Sekarang, ayo kita bayar dulu baju-bajunya."


***


Sepanjang perjalanan, Naya terus saja kepikiran tentang bantuan yang dimaksud oleh Kaivan. Entah apa yang ada di pikiran pria itu, sampai-sampai mau membelikannya banyak baju mahal seperti ini.


Seumur-seumur, Naya sama sekali tidak pernah mempunyai baju yang harganya hampir sama dengan ponsel milik kepala desa yang katanya bisa dijadikan remot TV.


Ketika sampai di apartemen, Naya merentangkan tangannya untuk menghadang Kaivan.


"Jelasin sekarang aja bantuan yang Bapak maksud itu apa, soalnya daritadi saya kepikiran," jujur Naya yang membuat Kaivan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nayra, Papa sama Mama Naya mau ngobrol sebentar. Nayra pergi main dulu di kamar ya," pinta Kaivan pada Nayra.


Sepeninggal Nayra, kini di ruang keluarga tersebut hanya ada Kaivan dan Naya. Keduanya duduk di kursi yang sama, dengan jarak yang berjauhan.


"Saya bukan bermaksud tidak ikhlas memberikan kamu baju-baju itu, tapi saya saat ini memang sedang membutuhkan bantuan kamu, Naya." Kaivan memulai pembicaraan.


"Bantuan apa, Pak? Tapi tolong, jangan menyulitkan saya."


Kaivan menggelengkan kepala. "Bantuan yang saya maksud tidak sulit kok, kamu hanya perlu ikuti perintah dari saya."


"Selama 5 tahun terakhir ini, lebih tepatnya setelah kepergian mantan istri saya sekaligus ibu kandung dari Nayra. Saya selalu didesak untuk menikah lagi oleh kedua orang tua saya. Dan di malam besok, orang tua saya akan mengadakan makan malam. Yang di mana makan malam itu, diperuntukkan untuk saya lebih mengenal dekat perempuan yang sudah dipilih oleh mereka. Saya bukannya tidak mau menikah lagi, tapi saya memang masih butuh waktu. Terlebih-lebih, perempuan yang selalu dipilih oleh kedua orang tua saya adalah perempuan yang jauh dari tipe idaman saya." Kaivan nampak menjeda kalimatnya, dia melirik presensi Naya yang terdiam dengan tangan bertautan di atas paha.


"Saya meminta bantuan kamu secara sukarela, jika pun kamu keberatan—saya tidak akan memaksa." Di detik setelah Kaivan berkata seperti itu, Naya menolehkan kepala untuk memandang Kaivan.


"Saya bersedia kok, Pak. Jadi, apa yang harus saya lakukan?"


"Menjadi pacar pura-pura saya." Di detik itu juga Naya menganga lebar, dengan degupan jantung yang sudah menggila di dalam sana. Pacar pura-pura? Maksudnya bagaimana? Kenapa tiba-tiba dia disuruh menjadi pacar pura-pura dari majikannya sendiri?


"A-apa? P-pacar pura-pura?" tanya Naya dengan gugup, dia kembali memastikan. Khawatir jika telinganya salah mendengar.


"Ya, menjadi pacar pura-pura saya untuk membungkam kedua orang tua saya. Saya hanya ingin mereka berhenti menjodohkan saya dengan perempuan-perempuan pilihan mereka. Itu saja, Naya."


"Tapi, Pak? Bagaimana jika saya ketahuan berpura-pura? Saya hanya tidak ingin mempersulit hidup saya di masa depan," kata Naya.


"Tidak akan, besok saya akan bawa kamu ke salon untuk make over kamu, agar orang tua saya tidak mengenali kamu sebagai pengasuh Nayra."


"Apa trik itu bisa menjamin?" Naya khawatir, khawatir dia mendapatkan penilaian buruk dari nenek dan kakeknya Nayra.


"Tidak akan, saya yang akan bertanggungjawab semuanya. Kalaupun mereka tau kamu adalah pengasuh Nayra, saya yang akan menjelaskan pada mereka. Untuk saat ini, saya hanya membungkam mereka untuk berhenti menjodohkan saya. Dan cara membuat mereka berhenti adalah dengan saya mempunyai seorang kekasih," jelas Kaivan.


"Memangnya Bapak tidak mempunyai kekasih?" tanya Naya tiba-tiba. Melihat Kaivan menatapnya dengan tajam, Naya menggerakkan tangannya di udara.


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud meledek Bapak karena tidak mempunyai kekasih. Ya meskipun kenyataannya memang Bapak jomblo." Naya menyembunyikan tawanya dengan menggigit bibir.


"Tapi kok bisa ya, Bapak tidak mempunyai kekasih?" tanya Naya lagi yang mulai kepo.


"Kamu jangan salah menilai saya, perempuan di luar sana mengantri untuk menjadi kekasih saya. Saya hanya ...," Naya menatap Kaivan, menunggu untuk pria itu melanjutkan perkataannya.


"Hanya belum bisa move on kan, Pak?" ledek Naya dengan seulas senyum di akhir kalimatnya.


"Tidak! Kamu sok tau!" Kaivan membuang muka ke sembarang arah.


"Seorang Kaivan Pradipta ternyata gamon, ck ck ck." Naya semakin gencar menggoda Kaivan, dia mendadak lupa jika Kaivan adalah majikannya sendiri.