When I Meet You

When I Meet You
8 : Kisah Kelam Seorang Kaivan



Menggelengkan kepala, itulah yang dilakukan Naya saat ia tiba-tiba dikerubungi ibu-ibu saat akan menjemput Nayra di sekolahnya. Bagaimana banyaknya pasang mata yang menatapnya dengan tatapan tak percaya, menghakimi, pun dengan tatapan kagum.


"Maaf ya Ibu-ibu, saya mau menjemput Nayra dulu. Itu Nayra!" kata Naya saat bola matanya menangkap presensi Nayra yang berjalan ke arahnya.


Anak perempuan itu melambaikan satu tangannya ke udara, tak lupa juga dengan seulas senyum manis dan tatapan berbinar.


"Benar, kamu bukan mama barunya Nayra?" Naya meringis saat sudah ada tiga orang wali murid yang bertanya status dirinya.


"Bukan, Bu. Saya ini hanya—"


"Mama!" Belum sempat Naya menjawab, Nayra datang dengan berlari kecil lalu memeluk tubuhnya sembari menggumamkan kata yang membuat ibu-ibu tadi membelalak lebar.


"Nayra, ini mama baru kamu?" tanya wali murid yang lainnya. Seorang perempuan yang Naya taksir usianya tidak jauh darinya itu memandangi Naya dengan sinis saat bertanya pada Nayra.


"Iya, ini mama balu aku. Cantik, kan?" Nayra meraih tangan Naya lantas mencium punggung tangannya dengan takdzim.


"Nayla belum salim sama Mama," kata Nayra yang semakin saja membuat Naya meringis pelan. Sekarang, jika sudah begini. Menjelaskan siapa dirinya pun tidak ada gunanya, karena ibu-ibu itu lebih percaya pada perkataan Nayra dibandingkan dirinya.


"Cantik sih, tapi kucel," celetuk ibu-ibu yang menatapnya sinis tadi.


"Nanti aku minta papa buat beliin mama baju balu." Nayra membalas dengan sengit.


Melihat jika ibu-ibu itu semakin kepo dengan dirinya, Naya menarik lengan Nayra untuk membawanya pulang.


"Kita pulang ya, Sayang." Naya lantas menatap ibu-ibu tersebut dengan kedua tangan menangkup di depan dada.


"Ibu-ibu, saya mohon maaf nggak bisa lama-lama. Jadi saya sama Nayra harus pulang," pamit Naya lantas membawa serta Nayra untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil meninggalkan sekolahan Nayra, Naya meloloskan nafas kasar. Dipojokkan seperti tadi, sudah seperti dia ketahuan mencuri. Benar-benar menegangkan.


"Nayra, tadi kenapa Nayra bilang kalau Tante ini mamanya Nayra? Tante memang memperbolehkan Nayra untuk panggil Tante ini mama, tapi kalau di tempat umum kayak tadi—panggil tante aja ya, Sayang. Tante cuma nggak mau mereka mikir jelek ke Tante. Apalagi sampai bilang Tante ini pelakor karena ganggu papa sama mamanya Nayra."


"Tante Naya, papa itu dulen kalau kata om Alsa. Jadi, kalaupun Tante digosipin kayak tadi—mama Nayla nggak bakal malah. Lagian, mama Nayla udah nggak ada. Nggak tau ke mana," balas Nayra dengan suara cadelnya.


"Duren itu apa, Nayra?" tanya Naya tak mengerti.


"Jadi papanya Nayra itu duren? Alias duda keren?" tanya Naya yang langsung diangguki oleh Nayra.


Ngomong-ngomong tentang keren, Naya memang mengakui—jika majikan barunya itu sangatlah sempurna. Perempuan mana yang tidak menyukai Kaivan? Dirinya saja, saat pertama kali bertemu—kesulitan mengatur degupan jantungnya. Apalagi setelah kejadian tadi pagi.


Ah sial! Naya kembali teringat dengan kejadian tadi pagi. Kejadian yang sangat memalukan.


Sementara di sisi lainnya, Kaivan meregangkan pinggangnya setelah selesai menandatangani berkas-berkas perusahaan yang jumlahnya cukup banyak tersebut.


Laki-laki yang saat ini sendirian di ruangannya itu membuka ponsel, tepat di layar utama ponselnya adalah foto pernikahannya dulu bersama Indira. Bagaimana dalam foto tersebut dirinya merangkul pinggang sang istri, lalu kepala sedikit merendah karena sedang mengecup pipi kiri Indira.


Meski mengaku sudah move on, tapi tidak semudah itu kenangan bersama Indira hilang. Apalagi Indira tiba-tiba meninggalkannya dulu.


Dulu, saat Nayra masih bayi—dan di hari itu juga Indira pergi, Kaivan sempat kehilangan kontrol dirinya sendiri selama beberapa bulan. Sampai akhirnya Nayra pun diurus oleh sang mama.


Tapi setelah melewati masa terpuruk itu, Kaivan bangkit kembali demi sang puteri. Meski belahan jiwanya pergi, tapi masih ada belahan jiwa lain yang perlu ia bahagiakan.


"Bukan hanya aku yang terluka di sini Indira, tapi puteri kita juga. Karena keegoisan kamu, puteri kita menjadi korbannya. Andai kamu bisa bersabar sedikit lagi dan menungguku untuk sukses, mungkin Nayra bisa tumbuh dengan baik di bawah pengawasan kamu sebagai ibunya." Setiap kali mengingat jika Nayra tumbuh besar tanpa figur seorang ibu, Kaivan selalu merasa sesak di hati. Seorang anak yang seharusnya dari bayi merasakan hangatnya dekapan seorang ibu, pun dengan perhatian seorang ibu—tapi puterinya tidak mendapatkan itu semua.


Dan setelah Nayra divonis mengalami penyakit lupus, jangan salah jika dirinya sempat hampir bunuh diri—karena lelah dengan semesta yang terus mempermainkannya.


"Sekarang, aku memang nggak berharap kita bisa bersatu lagi Indira. Karena seperti prinsipku, sekali kukecewa—maka orang itu akan sulit mendapatkan kepercayaan kedua. Yang kuharapkan, kamu kembali dan menemui Nayra. Dari dulu, puteri kita selalu ingin bertemu ibunya. Dia ingin melihat langsung ibunya seperti apa, bukan lagi melihat dari foto yang 5 tahun silam aku punya." Kaivan mengusap sudut matanya yang berair, sungguh sesak rasanya menjadi Nayra. Jikalau dia dulu nekad menceburkan diri ke sungai, mungkin saja hidup Nayra jauh lebih sulit lagi.


Salah satu alasan Kaivan tak kunjung membuka hati pun karena Nayra, puterinya tersebut butuh sosok ibu yang benar-benar menyayanginya. Bukan hanya menyayangi dirinya sebagai ayah dari Nayra. Kaivan tidak ingin, ada sosok Indira di kehidupan berikutnya jika ia menjalin kasih dengan perempuan sembarangan. Demi kebahagiaan dirinya sendiri, tega meninggalkan puterinya yang masih bayi.


"****!" Kaivan memukul meja kerjanya, setiap kali mengingat tentang Indira—perasaan marah dan sedih selalu berhasil menguasai dirinya.


Bukan, dirinya tidak pernah salah dalam hubungan mereka. Semua terjadi karna keegoisan Indira yang terobsesi menjadi seorang model Internasional. Salahnya Kaivan hanya satu, terlalu buta mencintai Indira. Sehingga saat dia dimanfaatkan hanya karena mempunyai tampang tampan, dia mau-mau saja.


Ya! Kaivan dulu tidak sesukses sekarang, pun tidak sekeren sekarang. Dirinya dulu hanyalah seorang karyawan biasa yang punya nilai plus tampang yang menawan. Jauh berbeda dengan Indira yang dari dulu sudah menjadi seorang model.


Kaivan memang dari sejak lama telah menyukai Indira, karena mereka teman semasa kuliah. Tapi entah dengan Indira.


Mereka bisa menikah pun karena Indira memohon kepada Kaivan untuk menikahinya, karena calon suami yang dulu akan menikahi Indira kabur dengan selingkuhannya. Karena sudah terlanjur semua disiapkan, Indira tidak mau rugi dan akhirnya memilih Kaivan sebagai pengantin pengganti.