
Dress dengan warna baby blue menjadi pilihan Kaivan untuk dipakai pada acara makan malam bersama keluarganya sebentar lagi. Siapa sangka, sekarang penampilan Naya sama sekali tidak terlihat jika dia adalah seorang pengasuh yang saat pertama kali bertemu—terlihat lusuh dan udik.
Dress yang mencapai lututnya, pun dengan cuttingan press body—begitu indah membentuk lengkungan tubuhnya. Rambut curly berwarna coklat mahoni, yang dipadukan dengan make up ala Korea—membuat Naya semakin terlihat seperti aktris Korea yang sering dilihat Kaivan di sosial media.
Kaivan meneguk salivanya kasar, jakunnya naik turun seiring mata memandang Naya yang sudah diubah habis. Kalau begini, tak hanya keluarganya yang tak akan tau siapa Naya—tapi dirinya juga yang sangat pangling melihat Naya.
"Pak! Pak Kaivan," seru gadis di depannya yang tak lain adalah Naya tersebut. Naya melambaikan tangan tepat di depan wajah Kaivan, heran saat beberapa panggilannya diabaikan oleh pria itu.
Sadar jika dirinya sendiri terpesona pada Naya, Kaivan pun berdehem kencang—mengusir canggung. Salahkan saja matanya yang tak mau memandang objek lain selain Naya, pun dengan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Saya kira tadi Bapak kesambet, soalnya dipanggil nggak nyaut." Naya berucap sambil memainkan rambut palsunya yang menjuntai di dada.
"Saya lagi mikirin rencana selanjutnya, bukan kesambet," bantah Kaivan.
Naya menganggukkan kepala sekenanya. "Ya syukur deh, kalau kesambet beneran kan serem."
"Papa, sekarang kita mau ke mana?" Percakapan Naya dan Kaivan harus terhenti sejenak karena pertanyaan Nayra. Bukan hanya yang tampil cantik, tapi juga Nayra. Anak perempuan berusia 5 tahun lebih 3 bulan itu pun sudah memakai dress dengan warna senada dengan Naya, yang semakin memperlihatkan jika mereka bagaikan seorang ibu dan anak.
Sedangkan Kaivan sendiri, sudah memakai tuxedo berwarna navy blue dengan pita kupu-kupu melingkar manis di lehernya.
"Kita akan pergi ke rumahnya oma dan opa, nanti di sana Nayra jangan nakal ya." Kaivan menjawab pertanyaan Nayra.
"Asyikkk, ketemu oma dan opa lagi." Nayra berlompat-lompat, dia berteriak heboh saat akan pergi berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya itu.
"Saya benar-benar seperti orang lain kan, Pak?" Kaivan menolehkan kepala pada Naya lagi, kala gadis itu bertanya.
Ditatapnya Naya dari ujung rambut hingga kaki, penampilan Naya kali ini benar-benar sempurna.
"Ya, kamu seperti orang lain. Bukan Naya yang saya kenal," jawab Kaivan.
"Tapi saya cantik kan, Pak?" tanya Naya dengan rasa percaya dirinya berjalan menuju Kaivan dengan sedikit berlenggak-lenggok.
Sedangkan Kaivan yang ditanyai, kembali berdehem kencang—mengusir canggung. Bisa-bisanya Naya membuat dirinya salting begini.
"Iya-iya, kamu cantik. Sekarang kita pergi!"
"Oh ya satu lagi, saya lupa mengganti nama kamu. Nama lengkap kamu ada nama Zora kan di tengahnya?" tanya Kaivan.
"Iya, Pak. Memangnya kenapa?"
"Nama baru kamu selama jadi pacar pura-pura saya adalah Zora Arsyila."
"Nanti kalau papa atau mama tanya orang tua kamu di mana, kamu bilang aja kalau orang tua kamu ada di Singapura. Kalau mereka juga tanya kamu tamatan kuliah apa, kamu tanya bisnis. Dan kalau mereka tanya bisnis keluarga kamu apa, kamu bilang kalau keluarga kamu punya perusahaan yang bergerak di bidang furniture. Sampai sini kamu paham, Naya?"
Naya meloloskan nafas kasar, ternyata banyak sekali kebohongan yang akan dia buat hari ini.
"Iya, saya ngerti Pak." Bilang tidak bisa pun percuma, apalagi menolak—Naya lebih tidak bisa melakukan itu.
"Ya sudah, kalian masuk ke mobil!" titah Kaivan pada Naya dan Nayra.
Rumah besar dua lantai dengan gaya Eropa itu menjadi objek penglihatan Naya saat ini, pun warna yang dominan putih membuat kesan dari rumah itu sangatlah mewah dan elegan.
Naya melirik presensi Kaivan yang berdiri di sebelah kiri, sedangkan sebelah kanannya—ada Nayra yang sudah digenggam lembut oleh Naya.
"Rumahnya besar banget Pak, saya baru kali ini nginjek rumah yang sebesar ini." Naya masih terkagum, dia bahkan menggelengkan kepalanya entah sudah ke berapa kalinya.
"Di dalam nanti, bersikap seolah-olah kamu adalah sosok puteri tunggal dari pengusaha furniture." Lagi-lagi Naya mendesah kasar, meski sudah diwanti-wanti—Naya khawatir dia melakukan kesalahan di sana. Yang nantinya akan berdampak pada Kaivan sendiri.
"Saya akan berusaha, Pak. Tapi jika saya melakukan kesalahan, saya minta maaf."
Selanjutnya, ketiga orang itu nampak melangkah masuk ke dalam, dengan Kaivan yang sengaja meraih tangan Naya lalu menggenggamnya. Agar terlihat chemistry antara mereka berdua.
Sedangkan Naya, tidak bisa menyembunyikan—jika dia tersipu dengan genggaman hangat di tangannya.
Begitu sampai di ruang makan, kehadiran ketiganya sudah ditunggu oleh keluarga Kaivan. Sontak saja, sang ibu dari Kaivan yang berusia 57 tahun itu menyambut kedatangan Naya lalu menuntunnya untuk duduk di meja makan.
"Cantiknya, nama kamu siapa, Nak?" Naya lebih dulu tersenyum dengan pujian dari ibunda Kaivan.
"Namaku Zora Arsyila, Tante."
"Zora?" Pandangan mata wanita tua itu berbinar. "Nama yang cantik seperti orangnya."
"Jadi, kamu sama Kaivan itu ada hubungan apa?" Ibunda dari Kaivan tersebut memandang Naya dan Kaivan bergantian.
"Dia pacar aku, Ma." Jawaban dari Kaivan tanpa diduga kembali membuat Naya tersipu. Sedangkan wanita yang dipanggil 'Mama' oleh Kaivan tersebut mengangguk.
"Padahal Mama malam ini udah undang Gisela ke sini, niatnya mau kenalin sama kamu Kaivan. Tapi ternyata, kamu sudah punya kekasih."
"Aku sama Zora udah menjalin hubungan cukup lama, Ma. Hanya saja kami baru berani ke sini hari ini. Jadi, aku harap Mama sama Papa berhenti buat kenalin aku sama cewek lain. Karena aku udah ada Zora," kata Kaivan.
"Oke, Mama sama Papa akan berhenti kalau kamu sudah punya kekasih seperti ini. Jadi, Zora—boleh saya tau usia kamu berapa, Nak?" tanya pria tua yang tak lain adalah papa dari Kaivan.
"25 tahun, Om."
"Sangat pas untuk Kaivan ya, Pa?" sahut ibunda Kaivan.
"Nayra, sini sama Oma!" panggilnya saat melihat Nayra.
"Kalian bertemu di mana?" Mengabaikan interaksi antara ibunda Kaivan dan Nayra, papa dari Kaivan kembali bertanya pada Naya.
"Emm ... kita bertemu di—" Naya melirik Kaivan, namun saat melihat sebuah anggukan dari Kaivan—Naya mengerti jika dia harus mengarang sendiri.
"Kita awalnya nggak sengaja ketemu di restoran, Om. Kebetulan waktu itu aku nggak sengaja nabrak Kaivan sampai berkasnya berceceran." Naya meringis pelan, semoga saja karangannya itu tidak dicurigai oleh papanya Kaivan.
"Di restoran mana?" Naya menggigit bibir bawahnya saat pertanyaan itu tak kunjung selesai.
"Di restoran Korea, Pa." Untung saja Kaivan dengan cepat menyahuti.