
"Mau ke dapur dulu, maaf nggak sengaja." Kaivan melengos pergi begitu saja tanpa wajah merasa bersalah pada Naya ataupun Arsa.
Jika Naya heran dengan sikap Kaivan yang mendadak seperti anak kecil tersebut, tapi tidak dengan Arsa. Lelaki itu tersenyum tipis karena dia bisa menyimpulkan apa yang tengah dirasakan oleh Kaivan.
"Naya asli orang Jawa?" tanya Arsa random.
"Bukan, saya asli orang Rajapolah Tasikmalaya."
"Saya kira gadis Jawa, ternyata mojang Tasik. Berarti kalau gitu kita cocok loh," kata Arsa.
"Cocok apaan, Mas?" tanya Naya.
"Cocok untuk berumah tangga," jawab Arsa dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Masnya bisa aja," tanggap Naya.
"Panggilnya Aa aja kalau orang Sunda mah, Neng geulis."
"Oh iya sebentar saya tinggal dulu ya, Mas Arsa. Sepertinya tadi saya lupa jika sedang memasak air." Naya pamit ke dapur, meninggalkan Arsa dengan Nayra berdua.
Sepeninggal Naya, Nayra mengajak Arsa untuk ke ruang tamu. Gadis kecil itu membisikkan sesuatu pada Arsa.
"Om, mau bantuin Nayla nggak?" tanya Nayra.
"Bantuin apa, Sayang?" Arsa balik bertanya.
"Bantuin deketin papa sama mama Naya, Om. Nayla mau mama Naya jadi mama Nayla benelan," ujar Nayra yang sontak saja langsung diangguki oleh Arsa.
"Pasti Om bakal bantuin Nayra," kata Arsa.
"Benelan ya, Om?" Nayra memastikan kembali.
"Iya, jadi rencana pertama mau ngapain?" tanya Arsa.
"Kalau kata Om gimana? Aku nulut aja apa kata Om," kata Nayra.
Arsa nampak berpikir sejenak, lantas sebuah ide langsung membuatnya berbinar.
"Ajakin papa Nayra pindah ke rumah yang ada di komplek bougenville, di sana kan ada kolam renangnya—nanti Nayra pura-pura tenggelam di kolam renang biar mama Naya tolongin. Nanti kan papa Nayra juga ikut panik, terus bisa berenang sama-sama deh." Nayra mengangguk paham dengan penjelasan Arsa.
"Jadi Nayla pula-pula tenggelam ya di sana?" tanya Nayra lagi.
"Iya, kalau udah gitu. Nayra bilang pengen tidur dipeluk sama mama Naya dan papa, nanti kalau mereka udah tidur—Nayra pindah ke kamar lain. Biarin mama Naya sama papa Nayra tidur berdua, siapa tau nanti Nayra bisa punya adik bayi." Arsa mulai meracuni otak polos Nayra dengan akal bulusnya.
"Punya adik bayi? Aku mau dong, Om. Jadi nanti, Nayla bialin mama Naya sama papa bobo balengan ya?" Arsa langsung mengangguk untuk pertanyaan Nayra.
Sedangkan di sisi lainnya, Naya tergopoh untuk mematikan kompor. Dia merutuk dalam hati, bisa-bisanya lupa mematikan kompor yang sedang memasak air. Kaivan juga, dia berada di dapur tapi tidak ngeh dengan kompor yang menyala.
"Makanya, jangan kebanyakan ngobrol sama cowok. Jadi lupa kan matiin kompor," celetuk Kaivan cukup pedas.
"Maaf, Pak. Saya akui saya teledor," ucap Naya merasa bersalah.
"Tunggu Naya!" Saat Naya akan pergi lagi, tangan Kaivan tiba-tiba mencekalnya.
"Loh?" bingung Naya.
"Kamu kucel kalau rambutnya diikat begitu, bagusan tergerai." Alasan Kaivan tidak masuk di akal bagi Naya.
"Padahal saya cuma lagi gerah aja, Pak. Bapak aneh hari ini. Kemarin Bapak minta saya ikat rambut saat masak, sekarang malah minta saya untuk gerai rambutnya." Naya menggelengkan kepala.
Kaivan berdehem canggung. "Selain terlihat kucel kalau diikat begitu, leher kamu juga dakian—nggak enak dipandang."
Kaivan melengos begitu saja setelah menghina Naya seperti itu.
"Kucel? Dakian? Kemarin aja baik-baik sama gue, eh hari ini malah hina gue habis-habisan. Emang tuh duren nggak bisa ditebak jalan pikirannya."
***
"Papa, Nayla pengen pindah lumah." Kaivan mendadak menyimpan berkasnya saat Nayra datang gelendotan padanya.
"Waktu itu Nayra yang pengen tinggal di apartemen, kenapa sekarang tiba-tiba pengen pindah, hm?" tanya Kaivan. Dulu, satu tahun yang lalu lebih tepatnya. Nayra memintanya untuk membeli sebuah apartemen, anak perempuannya itu bilang ingin tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dan dekat dari kantor Kaivan. Kenapa sekarang tiba-tiba ingin pindah?
"Di sini nggak ada kolam lenangnya, aku mau balik lagi ke lagi ke lumah yang di bougenville. Di sana aku bisa ajalin mama Naya belenang juga," jawab Nayra.
"Papa pikir-pikir dulu ya, Sayang."
"Aku nggak mau tau, aku pengen pindah ke sana ya Papa," tekan Nayra.
"Oke oke, Tuan Putri. Nanti besok kita pindah ke sana, gimana?"
Nayra lantas memeluk papanya itu dengan erat, lalu menghunjaminya dengan kecupan di pipi.
"Aku sayang Papa Kaivan," ujarnya begitu romantis. Yang sontak saja membuat Kaivan tersenyum.
"Papa juga sayang sama Nayra."
Keesokan harinya, sesuai dengan perkataan Nayra. Mereka pun pindah ke rumah lama Kaivan yang berada di komplek bougenville, komplek yang cukup jauh jaraknya dari rumah orang tuanya. Mungkin membutuhkan waktu setengah jam dari sana.
Jika dibandingkan dengan apartemen ini, selain dekat dengan kantor Kaivan—apartemen ini juga jaraknya cukup dekat dengan rumah orang tua Kaivan. Hanya cukup memakan waktu 10 menitan untuk bisa sampai ke sana.
"Kita beneran pindah, Pak?" tanya Naya.
"Iya, Nayra minta pindah."
Naya mengangguk saja, sebagai seorang pengasuh—tentu dia ikut ke mana pun Nayra pergi.
"Di sana, kita akan tetap tinggal bertiga, Pak?" tanya Naya lagi.
"Tidak, di sana sudah ada 4 orang pegawai saya. Ada 2 ART yang mengurus pekerjaan rumah, 1 satpam, dan 1 tukang kebun." Naya menganggukkan kepala lagi, syukurlah kalau begitu. Naya jadi bisa mempunyai teman mengobrol jika Nayra sedang sekolah.
"Kenapa? Kamu lebih suka tinggal di apartemen?" tanya Kaivan.
"Bukan begitu, Pak. Saya hanya seorang pengasuh, saya tentu ikut ke mana pun Nayra pergi."
"Ya sudah, ayo kita berangkat."