
Seorang gadis muda, menatap sendu gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang pesakitan itu setelah meloloskan nafas kasar. Sudah dua hari ini, demam Nayra—si gadis kecil yang ditatapnya itu selalu tinggi. 39-40°C membuatnya terkadang menggumam tidak enak. Di hari ini, gadis kecil yang biasanya ceria itu ... terlihat lemah tak berdaya. Cerianya, cerewetnya, seolah lenyap oleh rasa sakitnya.
Sedangkan seorang gadis muda yang tak lain adalah Naya tersebut merasa sedih, kala Nayra—gadis kecil yang ceria itu menahan rasa sakit di tubuhnya. Naya berpikir, jika saja rasa sakit di tubuh Nayra bisa ditukar dengannya—Naya lebih memilih dia saja yang sakit, Nayra jangan. Naya benar-benar tidak bisa membayangkan, seperti apa rasa sakit yang dirasakan oleh Nayra. Naya saja, jika sedang tidak enak badan—kerapkali merasakan seluruh badannya sakit. Apalagi Nayra, yang divonis mempunyai penyakit autoimun yang sulit untuk dinyatakan sembuh total.
Dan di dua hari ini pula, saat demam Nayra sedang tinggi-tingginya, gadis kecil itu selalu mengigau—menyebut 'mama' dan berkata ingin dipeluk. Maka saat kebetulan Naya berada di sisinya, gadis itu tanpa pikir panjang lagi untuk menenangkan Nayra. Memeluknya, membisikkan kata-kata sayang pada puteri dari majikannya tersebut.
Semenjak Naya tau jika kehidupan Nayra tak seberuntung anak-anak lainnya, Naya selalu berpikir bagaimana caranya untuk membuat senyum di gadis kecil itu tidak pudar. Melihat Nayra yang hampir menangis saat dia iseng di kolam renang waktu itu saja, Naya tidak sampai hati untuk menegur apalagi menyalahkan. Meski dia hampir saja meregang nyawa dikarenakan tidak bisa berenang.
Bahkan di saat Kaivan menyuruh Nayra untuk meminta maaf padanya, Naya melihat raut wajah menyesal Nayra saja membuat Naya ingin memeluknya.
"Nayra itu punya kulit yang sensitif, dan jenis dari sakit lupusnya itu adalah subacute cutaneous lupus erythematosus. Lupus jenis ini menyerah jaringan kulit, sehingga kalau Nayra terkena sinar matahari—kulitnya bisa ruam-ruam merah." Naya lagi-lagi meloloskan nafas kasar saat penjelasan dokter tentang keadaan Nayra kembali teringat lagi. Dia memang tidak paham tentang penyakit Nayra itu apa, tapi dia mengerti tentang gejala-gejala yang dirasakan oleh Nayra. Terkena sinar matahari, mungkin terdengar seperti hal sepele bagi sebagian orang, tapi bagi Nayra itu adalah hal yang fatal. Kulitnya bisa timbul ruam-ruam merah dan gatal, dan sekarang gadis kecil itu malah terserang demam tak berkesudahan.
"Nayra mau apa, Sayang?" Di detik-detik Naya sedang memikirkan Nayra, gadis kecil itu terbangun dari tidurnya. Sontak saja, Naya langsung menanyakan apa keinginan Nayra.
"Nayra mau mam? Mau pipis? Atau ada yang sakit, Sayang?" Tangannya cekatan menyentuh kening Nayra untuk mengukur suhu badan Nayra. Memang tidak bisa dijadikan tolak ukur, jika tidak dibarengi dengan termometer suhu. Tapi Naya masih bisa merasakan saat suhu badan Nayra turun atau tidak.
Usai gadis kecil itu tertegun beberapa saat, gelengan kepala lantas diberikan Nayra pada Naya, yang membuat kedua alis Naya mengerut heran.
"Terus mau apa? Bilang aja," kata Naya lagi sambil mengusap rambut Nayra.
Terlihat, Nayra nampak ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu. Jemari tangannya bertautan, gestur tubuhnya terlihat gelisah. Matanya pun berkali-kali melirik Naya dan kembali membuang pandangan ke arah lain.
"Aku mau Mama Naya peluk aku." Suara kecil itu akhirnya melontarkan keinginan, yang sontak saja membuat Naya menahan senyuman di bibir. Hanya ingin peluk saja, kenapa Nayra harus ragu?
"Kenapa harus bilang? Kalau mau peluk, tinggal peluk aja Mama Naya. Nanti juga Mama Naya peluk balik," kata Naya lantas memeluk tubuh Nayra. Pun mengusap rambut hitam Nayra dengan penuh perasaan. Bagi Naya, memeluk Nayra rasanya seperti saat dia memeluk ibunya. Ada perasaan yang tidak bisa Naya jelaskan saat memeluk Nayra.
Pria itu adalah Kaivan, bagaimana interaksi Naya dan Nayra yang terlihat begitu dekat—membuat kedua perempuan berbeda generasi itu bukan seperti puteri majikan dengan pengasuhnya. Tapi selayaknya seorang ibu dan anak perempuannya.
Kaivan bersyukur, karena dia menemukan orang yang tepat untuk Nayra. Seorang pengasuh yang benar-benar menyayangi Nayra, tanpa alasan hanya ingin dekat dengannya seperti mantan pengasuh-pengasuh Nayra lainnya. Dulu, sebelum Naya menjadi pengasuh Nayra—kebanyakan dari mereka yang mendaftarkan diri untuk menjadi pengasuh Nayra, adalah para perempuan ganjen yang ingin berusaha mendekatinya.
"Halo, anak cantik lagi ngapain?" Saat Kaivan mendorong pintu tersebut, atensi keduanya kini beralih kepadanya.
"Loh, lagi pada pelukan. Kok Papa nggak diajakin sih?" Kaivan bergurau dengan merentangkan kedua tangannya, seolah ingin ikut bergabung dengan berpelukan.
"Nggak boleh! Mama Naya cuma boleh peluk Nayla," jawab Nayra begitu posesif. Kaivan tersenyum dengan keposesifan Nayra pada Naya.
"Kok begitu? Kan Papa juga pengen dipeluk Mama Naya." Kaivan memang bermaksud bergurau, tapi Naya tiba-tiba merasakan hawa panas di ruangan tersebut. Dia mendadak ingat kembali saat Kaivan memojokkan dirinya di ruang gym waktu itu. Tanpa sadar, pipi Naya bersemu merah saat mengingat itu. Bagaimana penampilan Kaivan yang saat itu shirtless dan Naya akui terlihat tampan seperti aktor-aktor Korea yang dia lihat di drama Korea.
"Bukan begitu, Mama Naya?" Pertanyaan Kaivan barusan sontak saja membuat Naya mengerjapkan matanya. Dia terkejut, karena ucapan Naya—pun dengan kedipan mata menggoda dari pria itu.
"Eh, n-nggak kok." Kaivan menahan senyum di bibir saat Naya terlihat salah tingkah. Tidak taukah Kaivan, jika sekarang Naya bukan hanya salah tingkah—tapi separuh hatinya mulai berharap lebih. Berharap, jika apa yang ia dia lihat dari Kaivan adalah perasaan lebih bukan hanya sebagai pengasuh, tapi perasaan seperti seorang laki-laki kepada perempuan.
Berpikir hal itu, Naya menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana mungkin dia berpikir jika Kaivan memiliki perasaan padanya? Statusnya sebagai seorang pengasuh saja sudah membuat pria itu jauh dari kata suka, apalagi dengan penampilan Naya yang tidak seperti perempuan di sekeliling Kaivan.
"Mama Naya kok ngomongnya begitu? Papa juga boleh ikutan peluk 'kan, Nayra?" tanya Kaivan sambil memangkas jarak yang ada. Pria itu tersenyum menggoda pada Naya yang sekarang melipat bibirnya ke dalam.
"Iya deh, Papa boleh ikutan pelukan. Sini, Pa!" Nayra melambaikan tangannya, menyuruh Kaivan untuk ikut berpelukan.
Meski awalnya Naya menolak, pun dengan perasaannya yang mendadak berdesir. Gadis itu membiarkan Kaivan juga melingkarkan tangannya untuk memeluk kedua perempuan berbeda usia itu.