When I Meet You

When I Meet You
24 : Belajar Berenang Katanya



"Saat bertemu dengan kamu, ada perasaan berdesir yang tak bisa saya jelaskan saat itu juga. Tapi satu yang saya sadari, hanya kamu yang bisa membuat perasaan saya berdesir begitu saja. Naya ... kalau saya bilang, saya suka sama kamu, apa kamu percaya?" Di detik saat Kaivan melontarkan pernyataan cinta, jantung Naya seolah sudah tidak ada di tempatnya.


Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin Kaivan bisa menyukainya? Naya yang tidak pernah terlihat cantik seperti perempuan-perempuan di sekitar Kaivan, Naya yang berasal dari keluarga tak punya, Naya yang sekarang berstatus sebagai pengasuh dari puterinya. Tidak bisa! Dirinya dan Kaivan sudah sangat jelas banyak perbedaannya.


"J-jangan jatuh cinta sama saya, Pak. Saya bagaikan langit dan bumi kalau sama Bapak." Naya menarik tangannya dari genggaman Kaivan, dia berusaha menjauh dengan sedikit beringsut dari tempat duduk asalnya.


Tapi bukan Kaivan jika tidak pandai membalikkan situasi. Dengan gerakan cepat, tangan Kaivan menarik lengannya hingga tubuhnya pun ikut tertarik dan sekarang malah menempel dengan tubuh Kaivan.


Belum selesai keterkejutan Naya, pria itu melingkari tangannya ke pinggang Naya. Semakin membuat keduanya merapat.


"Yakin, kamu tidak mau bersama saya?" Ucapan pria itu terdengar jelas di telinga Naya, bahkan saking dekatnya—sampai membuat Naya kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Darah Naya berdesir, degupan jantungnya sudah tidak berdetak dengan normal karena kulit lengan telanjangnya bersentuhan langsung dengan kulit lengan Kaivan. ,


"L-lepas, Pak. Bahaya kalau ada yang lihat. Orang bisa mikir kita lagi ngapa-ngapain," kata Naya berusaha melepaskan cengkraman tangan Kaivan di pinggangnya.


"Siapa yang berani memangnya? Di sini, saya yang berkuasa. Sekali pun ada yang melihat, mereka akan tunduk kepada saya." Di detik selanjutnya, Naya benar-benar terkejut saat Kaivan membawanya masuk ke dalam kolam renang.


Air yang dingin itu, terasa meresap masuk ke dalam kulit putih Naya. Pun saat kakinya tidak menapak ke lantai, Naya hanya bisa mengatur degupan jantung yang bukan hanya menggila karena Kaivan—tapi juga karena takut tenggelam lagi.


"P-pak, saya nggak mau berenang. Saya takut tenggelam," kata Naya sambil refleks melingkarkan tangannya pada Kaivan—memeluk pria itu dengan eratnya. Naya takut sekali, hari kemarin terulang untuk kedua kalinya.


"Justru malam ini saya akan ajarkan kamu berenang," ucap Kaivan sambil membawa Naya berenang ke tengah-tengah.


"Saya nggak mau, Pak. Nggak bisa," ucap Naya.


Kaivan berhenti berjalan kala keduanya benar-benar berada di tengah kolam renang, dengan keadaan Naya masih terus memeluk Kaivan.


"Lebih baik kamu belajar menyelam terlebih dahulu, apa kamu siap, Naya?" tanya Kaivan yang sontak saja mendapatkan jawaban gelengan kepala dari gadis yang nemplok di dadanya bak bayi koala.


"Saya mau ke darat, Pak. Jangan paksa saya berenang, saya nggak bisa."


"Tarik nafas dalam-dalam, Naya." Meski terkesan takut tenggelam, tapi Naya tetap menuruti perkataan Kaivan untuk menarik nafas dalam-dalam.


"Kita menyelam," kata Kaivan lalu pria itu benar-benar membawa Naya menyelam ke dalam kolam.


Di dalam kolam, Kaivan jelas melihat Naya yang berusaha menahan nafas namun baru detik kelima—gadis itu sudah naik ke permukaan.


"Nggak kuat," keluh Naya.


"Kamu baru tahan nafas selama 5 detik. Segitu aja kamu nggak kuat tahan nafas, apalagi kalau—"


"Kalau apa, Pak?" Pertanyaan Naya sebenarnya jebakan untuk Kaivan. Karena perkataan Kaivan yang tidak dia lanjutkan adalah tentang ciuman. Maksud Kaivan, bagaimana bisa Naya tahan nafas cukup lama jika baru 5 detik saja dia kerepotan. Lalu bagaimana dengan ciuman? Apa gadis itu juga akan kerepotan saat melakukan ciuman yang cukup lama?


Di malam ini, dirinya memang menyatakan cinta pada Naya. Meski belum ada jawaban yang pasti dari Naya, Kaivan akan berusaha membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Salah satu caranya adalah membuat Naya tidak canggung lagi saat berada di dekatnya.


"Ayo kita naik!" Dan selanjutnya, Kaivan membawa Naya untuk kembali ke daratan. Melihat bagaimana ketakutannya Naya saat dibawa ke dalam air, membuatnya tidak tega untuk terus mengerjai Naya.


"Karena kamu tidak jadi belajar berenang, sebagai imbalannya—malam ini kita tidur bersama di kamar Nayra."


"Hah? Tidur bersama?" tanya Naya.


"Kenapa? Kamu tidak ingin mengabulkan permintaan Nayra? Yang kata kamu sudah kamu anggap sebagai puteri kamu sendiri?" Mendengar jika Kaivan membawa-bawa perkataannya, Naya menyesal telah berkata seperti itu.


"Yaudah iya, ayo kita tidur bersama Nayra."


***


Keesokan harinya, Nayra baru terlebih dahulu. Anak perempuan berusia 5 tahun itu tersenyum melihat pemandangan di pagi ini. Di mana Naya dan Kaivan sama-sama mendekap dirinya dari dua sisi yang berbeda.


Sudah lama, sejak dia mengerti seorang ibu—Nayra ingin pemandangan di paginya seperti ini. Keluarga yang lengkap, dan orang tua yang benar-benar menyayanginya.


Dengan gerakan pelan, Nayra bangun dari baringnya. Dia kecup pipi Naya dan Kaivan bergantian, seolah dua-duanya sama-sama mempunyai tempat di hati Nayra.


"Biarin Mama Papa tidul beldua ah, siapa tau nanti aku bisa punya adek bayi. Kalau kata om Alsa sih," kata Nayra sembari senyum-senyum sendiri meninggalkan kamarnya.


Sepeninggal Nayra di kamar itu, Naya menggeliat dan beringsut. Namun dia tidak sadar, jika sekarang tubuhnya sudah menempel dengan Kaivan.


Begitu juga dengan Kaivan, dia refleks melingkarkan tangannya pada pinggang Naya seolah Naya adalah Nayra. Keduanya masih sama-sama tertidur nyenyak dengan posisi Kaivan memeluk Naya.


Posisi itu ternyata bertahan hingga satu jam kemudian, mereka baru tersadar saat Nayra membangunkan mereka dengan menepuk pipi masing-masing.


"Mama,"


"Papa,"


"Ayo bangun!"


"Apa dedek bayinya udah ada di pelut Mama Naya?" tanya gadis kecil itu sambil menyentuh perut Naya yang datar. Sontak saja, meski Naya masih harus mengumpulkan nyawa saat bangun tidur—tapi telinganya sudah cukup konek untuk mendengar lontaran kata dari Nayra.


"Dedek bayi apa maksud Nayra?" tanya Naya dengan suara parau.


"Dedek bayinya Mama Naya dan Papa dong, kan tadi udah tidul balengan selama satu jam tanpa ada aku." Di detik itu juga, Naya membelalakan matanya.