When I Meet You

When I Meet You
31 : Naya Hilang?



Matahari sekarang seolah sedang berada di atas kepala. Merasakan itu, Kaivan khawatir jika sinar matahari akan berpengaruh pada Nayra. Maka selepas mereka turun dari kincir angin, Kaivan menelepon Arsa untuk menyusulnya ke taman bermain.


Sambil menunggu Arsa datang, Kaivan membawa Naya dan Nayra ke kedai minuman.


"Kita beli minuman dulu. Papa haus," kata Kaivan sambil menggenggam tangan Nayra. Sedangkan Naya mengikuti ayah dan anak itu dari belakang. Perempuan itu tersenyum melihat kebersamaan antara Kaivan dan Nayra yang begitu erat hubungan ayah dan anaknya.


Tapi saat sedang berjalan, tali sepatu Naya yang memang tidak disadari sudah mengendur pun terlepas. Alhasil, dia harus berjongkok sejenak untuk membetulkan tali sepatunya yang lepas.


"Pake acara lepas segala sih," gerutu Naya sambil mengikat tali sepatu menjadi tali simpul.


"Udah deh beres." Namun saat Naya mendongakkan kepala sambil berdiri, presensi Kaivan dan Nayra tidak lagi berada di depannya.


Naya celingukan, mencari keberadaan Kaivan dan juga Nayra. Tadi, saat dia sedang membetulkan tali sepatu—memang cukup banyak orang yang menghalangi pandangannya. Alhasil, sekarang dia tertinggal oleh Kaivan dan Nayra.


"Beli minumannya ke kedai yang mana ya?" Naya kira Kaivan akan berhenti di kedai depannya, tapi ternyata tidak ada. Padahal kedai minuman itu sepertinya enak.


Naya berjalan terus menyusuri taman bermain, matanya terus berkeliling mencari


keberadaan Kaivan dan Nayra.


"Gue telpon aja sebentar," ucap Naya sambil merogoh saku celananya. Nihil! Ponselnya tidak ada. Saat ia ingat-ingat lagi, ternyata ponsel itu tersimpan di tas yang digendong oleh Nayra.


"Aduh! Gimana ini? Gimana caranya gue keluar dari sini tanpa pak Kaivan dan Nayra?" Naya mendesah berat, dia memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. Mencari dua orang di tempat seluas ini, tak mungkin dia bisa.


"Gue harus cari mereka ke mana? Pulang pun gue nggak tau jalanan sini," kata Naya sambil meloloskan nafas kasar. Niat hati ingin bersenang-senang di taman bermain, malah jadi tersesat begini.


Sementara di sisi lain, Kaivan berhenti di salah satu kedai minuman. Pria berusia 30 tahun itu lalu melirik ke samping, di mana puterinya berada.


"Nayra mau jus apa?" tanya Kaivan.


"Dan kamu Nay—" Saat Kaivan menoleh ke belakang, bermaksud untuk bertanya pada Naya. Namun perempuan itu tidak berada di belakangnya.


"Naya? Di mana Naya?" Kaivan mengedarkan pandangan ke sekitar, namun Naya tidak ada di sekitarnya.


"Nayra, lihat mama Naya nggak?" Kaivan bertanya pada Nayra.


"Bukannya tadi di belakang kita, Pa. Kok mama Naya nggak ada?" Nayra malah balik bertanya.


"Lo masuk dari gerbang, 8 meter dari gerbang belok ke kiri. Terus ada 5 meter lagi, nah gue sama Nayra di kedai minuman yang banyak balonnya." Kaivan menjelaskan pada Arsa di mana posisinya saat ini.


Ada jeda sekitar 5 menitan untuk Arsa sampai di tempat yang sudah dijelaskan oleh Kaivan. Namun keberadaan pria itu dengan Nayra, menjadikan Arsa memperhatikan tidak adanya Naya di sana.


"Di mana Naya? Bukannya ikut juga sama kalian?" tanya Arsa.


"Itu masalahnya! Naya hilang, Sa. Padahal tadi gue udah wanti-wanti buat suruh dia terus lihat ke arah gue, tapi kenapa Naya sekarang hilang?"


"Lo gimana sih, Van? Dia orang baru di sini lho, pasti dia tersesat nggak tau ke mana-mana." Itu juga yang sedang Kaivan pikirkan, apalagi Naya seringkali bertindak ceroboh.


"Lo bawa Nayra pulang sekarang juga, Sa. Naya biar jadi urusan gue di sini. Gue bakal minta pihak taman bermain ini kerahin orang-orangnya buat cari Naya," titah Kaivan pada Arsa.


"Yaudah, gue bawa Nayra pulang ke rumah nyokap bokap lo ya. Nanti lo jemput ke sana. Jangan lupa kabarin gue kalau Naya udah ketemu." Melihat betapa khawatirnya Arsa pada Naya yang hilang, Kaivan sempat tertegun. Mungkinkah Arsa juga menyukai Naya?


"Lo sekhawatir itu sama Naya, Sa?" tanya Kaivan.


"Ada orang hilang dan gue kenal sama orang itu, ya gimana nggak khawatir?"


Kaivan dibuat berdehem canggung atas jawaban Arsa.


"Jangan bilang kalau lo cemburu sama gue, Van?" selidik Arsa.


"Lo suka sama Naya, ya?" imbuh Arsa lagi.


Kaivan terdiam sebagai jawaban, dan Arsa bisa menyimpulkan itu semua. Sebagai dukungan, lelaki itu menepuk pundak Kaivan dua kali.


"Lo tenang aja, Van. Gue nggak mungkin ambil inceran lo, gue nggak suka sama Naya kok. Apalagi pas tau lo suka sama Naya, ya kali gue ambil dia dari lo." Arsa terkekeh pelan.


"Yaudah, sekarang lo cari dia. Kasian Naya di dalam sana pasti celingukan," kata Arsa sebelum pergi membawa Nayra pulang.


"Nayra sama Om Arsa dulu ya, Papa harus cari mama Naya sampai ketemu." Kaivan mengusap kepala Nayra dengan sayang.


"Iya, Pa." Nayra mengangguk paham.